
Hari demi hari kedekatan antara Alice dan Alvino mulai terendus. Dan kabarnya kedekatan mereka semakin hangat, mereka sering menghabiskan waktu untuk bersama.
Rose mulai resah karena dirinya terlibat dalam sebuah rahasia besar. Diamnya kini menjadi tidak nyaman.
Bagaimana jika Alvino marah karena dirinya ikut membantu tentang apa yang telah Bianca rencanakan? Bukan hanya Alvino, pasti James juga.
"Aku harus menemui, Bianca." dengan terburu-buru gadis itu bergegas untuk meninggalkan toko kue. Ini semua tidak bisa ditunda lagi, dia harus segera menuntaskan kegelisahannya.
Bugh!! Saking terburu-buru, Rose tidak sadar sampai menabrak seseorang. Dan orang itu ternyata adalah James.
"Maaf.."
"Rose.. Ada apa? apa kau baik-baik saja?"
"James, kau disini?" Tiba-tiba Rose gugup.
"Kau mau pergi kemana?" James bukan orang yang tidak memiliki pekerjaan. Tapi karena Alvino selalu meminta dirinya untuk tidak ikut, maka dari itu James lebih memilih untuk menghabiskan waktunya bersama Rose.
"A-aku harus pergi, James. Aku tidak bisa menceritakan masalahku sekarang. Kau bisa menemui ku nanti malam." Tanpa menunggu persetujuan, Rose segera melenggang meninggalkan toko kue dan juga James yang masih bertanya-tanya kemana wanitanya akan pergi.
Yang jelas Rose harus segera menemui Bianca. Setelah itu barulah dia akan menceritakan semuanya kepada James.
Namun tanpa sadar, ternyata James mengikuti Rose diam-diam.
"Tinggal beberapa Minggu lagi anak itu akan lahir, apa kau belum juga mau menemui Alvino? sebenarnya apa yang ada dalam pikiranmu, Bianca!" Sudah tiba ditempat tujuan dan dua gadis itu kembali terlibat adu mulut.
"Aku takut, Rose. Bagaimana jika Alvino tidak bisa menerima diriku lagi." Wanita berbadan dua itu menatap Rose seolah meminta pertolongan lagi. Padahal ini semua adalah kesalahannya.
Sebagai wanita hamil mungkin perasaannya lebih ingin dimengerti, tapi Bianca lupa untuk melibatkan logika juga.
"Takut? kenapa kau baru bilang takut sekarang! Kau tahu, berbulan-bulan aku menanggung dosa terhadap Alvino! Aku terlibat menjadi dalang kesedihan Alvino!" Wanita manis nan ramah itu kehilangan kesabarannya. Menghadapi Bianca seperti menghadapi orang yang kehilangan akal sehat.
"Kalimat apa yang harus aku ucapkan untuk memulai segalanya lagi, Rose? Aku sudah sangat keterlaluan."
"Jaga bicaramu!!"
Tok..tok..tok!!!
Tok..tok..tok!!!
Keduanya saling menatap mata dan pintu bergantian. Siapa disana? harusnya tidak ada yang mengunjungi Bianca selain Rose.
Bersambung..
~
Dear para pembaca..
Gue tau kekurangan gue dalam menulis disini. Sebenernya konsepnya gak kaya gini, cuman karena gue terlalu banyak dengerin para pembaca yang mengatur alur cerita, juga, karena gue yang jd gak fokus karena ada masalah di dunia nyata so novel ini jadi berantakan.
Gue gak maksa kalian buat baca apa yang gue tulis, gue gak maksa kalian harus memuji gue dan kasih apresiasi di karya gue.
Novel ini dapet kontrak dari MT/NT. Disini gue hanya menunaikan kewajiban supaya novel ini tamat. Gue cuma mau tuntasin tanggung jawab gue.
Intinya adalah, kalo Lo gak suka mending Lo leave. Gak usah baca lagi daripada ninggalin komentar yang bikin gue males lagi.
Gue bukan baper tapi gue minta kebijakan aja sebagai sesama MANUSIA. Pada dasarnya gue bukan penulis, gue cuma luangin waktu aja sebagai wadah imajinasi. Jadi semuanya pure gue ngarang. Dan gue yakin elo elo yang baca juga karena luangin waktu, cari hiburan. Daripada pusingin apa yang Lo gak suka, kenapa Lo gak cari hiburan yang sesuai dengan yang Lo suka? Novel atau komik disini banyak kok.
Mungkin karena disini gak terlalu banyak empot ayam kaya cerita Ken sama Monica, jd kalian pada ngedumel. Wkwkwk
Secepatnya gue tamat-in ini. Entah happy ending atau malah lebih kacau.
Intinya gitu deh yaaa, kalo Lo gak paham, gue juga gak paham. Zzzz....