
Famela memasuki kamar Rose sambil menangis, gadis itu meraung tidak karuan sambil memeluk Rose yang sama sekali belum siap. Niat hati nanti malam ingin memberikan kejutan untuk saudara sekaligus sahbatnya itu, tapi justru malah Fam yang terkejut duluan gara-gara pertemuan tidak sengajanya dengan James.
Hiks~
"Hey ada apa?" Rose mencoba menahan dirinya sendiri ketika Fam memeluknya tiba-tiba. Rose sangat kaget dengan kedatangan Fam yang tanpa permisi, Rose bahkan sedikit kelimpungan ketika menyembunyikan foto yang sedang ia pandangi. "Kenapa menangis? Bukannya kau sudah menghabiskan waktu dengan Jackob?"
Huaaaa~ Fam malah semakin menangis. Fam jadi kembali mengingat bagaimana pertemuan tidak sengajanya bersama James, atau lebih tepatnya Fam membayangkan konsekuensi yang harus ia terima jika James melaporkan bahwa dirinya berkencan dengan seorang pria.
"Fam ada apa?" Rose mencoba mendorong tubuh Fam agar ia bisa menatapnya. Tapi gadis itu masih saja kukuh ingin memeluknya.
"Rose.. Tolong aku." Hiks~ Fam masih menangis.
"Ada apa? Bagaimana aku bisa membantu jika aku tidak tahu masalahmu?" Rose mencoba melepas pelukan itu lagi. "Tenanglah.. Katakan ada apa?"
"James.. hiks.." Fam sesenggukan.
"James?" Rose mengernyitkan dahi sambil mengulang nama yang disebut oleh Fam. Ada apa dengan James? Yang dimaksud Fam itu James asisten Alvino kan?
"Dia melihatku berpegangan tangan dengan Jackob. Huaaaa. Tolong aku! Aku takut dia memberitahukan hal ini kepada kakak, kepada mami daddy. Tamatlah riwayatku, Rose."
"Siapa suruh." Rose berujar pelan.
"Apa katamu?"
"Ti-tidak! Maksudku. Lalu apa yang harus aku bantu?"
"Tolong temui James dan bujuk dia agar tidak membocorkan rahasia ini Rose, Ku mohon! Aku tidak ingin kakak atau mami daddy tahu tentang hal ini. Akujuga tidak mau jika hubunganku dengan Jackob harus berakhir." Fam menatap Rose penuh harap sambil berlinang air mata.
"Kenapa tidak kau saja yang menemuinya? Ku rasa dia akan lebih mendengarkanmu dibanding aku. Kau tahu James seperti apa bukan?"
"Aku takut, Rose. Aku benar-benar takut!" Gadis manja itu masih menangis.
Siapa suruh berpacaran, sudah tahu orang-orang disekelilingnya seperti apa masih saja berani melanggar peraturan!~
"Sudahlah.. Jangan menangis lagi. Aku akan menemui James dan coba membicarakan tentang hal ini." huft~ Rose sebenarnya jengah, setiap masalah yang Fam buat dan hadapi harus saja selalu ia yang ikut andil dan berperan besar dalam masalah itu.
"Benarkah?" Fam sedikit berbinar dan tidak percaya. Dan sedetik kemudian Rose mengangguk malas.
Sabar Rose.. Temui saja, dengan menemui James siapa tahu kau akan bertemu Alvino. Kau merindukannya bukan? Apalagi hari ini adalah hari ulang tahunmu.
Eh.. Apa ini? Fam mengerjap ditengah rasa senangnya. Tiba-tiba tangannya menemukan sesuatu dibalik punggung Rose. Dan tanpa bertanya, Fam segera mengambil benda itu.
"Ini?" Fam menatap sebuah foto dengan bingkai kecil yang amat lucu. Selucu potret gambar yang ada didalam foto itu. Foto yang menampilkan Alvino dan Rose kecil. "Kau masih menyimpan ini?"
"Fam kembalikan!" Rose merebut benda kesayangannya. Kenapa Fam sangat lancang sekali.
"Tunggu, apaaa kaaaau.. kau memiliki perasaan lebih kepada kakak?" Fam menahan foto yang akan diambil oleh Rose.
"Apa yang kau katakan? jangan bicara omong kosong!" Rose merebut lagi.
Hihi. Kenapa Fam baru sadar sekarang jika Rose memiliki perasaan terhadap Alvino. Baru sadar bahwa selama ini hanya kepada Alvino, Rose memang selalu bersikap berbeda dibanding lawan jenis yang lain. Apa ini alasan dia mau menemaniku selama ini? Apa ini alasan Rose tidak maiu berkencan dengan lelaki manapun?
"Kembalikan Fam!!"
"Iya."
Rose mengambil foto itu kemudian menyimpannya kedalam laci nakas disamping tempat tidurnya. Ada rasa kesal ketika Fam selalu berbuat seenaknya seperti itu, tapi Rose malu juga karena ketahuan.
"Kenapa kau tidak mengatakan saja pada kakak bahwa kau menyukainya?" Fam yang sudah berhenti menangis menatap Rose sambil membetulkan posisi duduknya.
"Apa yang kau bicarakan Fam? Sudahlah. Aku mengantuk." Rose merebahkan diri membelakangi Fam, menyelimuti dirinya dengan selimut seolah ia benar-benar akan tidur siang. Padahal tidur siang sebenarnya bukan kebiasaan Rose.
"Ayolah Rose. Kau harus jujur kepada dirimu sendiri. Lebih baik kau katakan sebelum kakak memiliki kekasih. Siapa yang tahu kan jika kakak juga memiliki perasaan yang lebih dari sekedar teman kecil?" Fam berujar seolah ia tahu bahwa Rose memiliki perasaan yang lebih terhadap kakakknya. Meskipun itu kenyataan tapi sebenarnya Fam hanya menebak saja.
"Aku ingin tidur Fam, kembalilah kekamarmu. Bukannya nanti aku harus menemui James?" Rose menyahut dari tempat persembunyiannya.
"Ah iya. Baiklah.. Selamat beristirahat Rose." Fam mengelus lengan Rose naik turun. "Jangan lewatkan kesempatan, ungkapkan perasaanmu." Bisik Fam sebelum benar-benar berlalu dari kamar Rose.
Faaaaamm!! Rose menggerutu dalam hati. Meskipun yang diakatakan Fam ada benarnya juga, tapi masa iya Rose harus mengungkapkannya lebih dulu? Bagaimana jika ternyata Alvino sama sekali tidak memiliki perasaan lebih dari sekedar saudara dan teman kecil? yang ada mungkin nanti hubungan baik mereka jadi renggang~
Bersambung~