
Fam langsung memeluk Rose ketika mendapati sahabatnya itu kembali. Beruntung James bisa menghentikan niat Rose untuk pulang kemudian membawa ia kembali ke rumah Alvino. Fam sungguh sangat merasa bersalah, selama ini ia selalu saja mengandalkan apapun kepada Rose. Berani berbuat namun tidak berani bertanggung jawab. Selalu saja melempar batu dan sembunyi tangan, Fam yang membuat masalah namun orang lain yang menyelesaikan masalah itu.
“Rose.. Maafkan aku.” Baru sampai di depan pintu utama, Rose langsung disuguhi hamburan Fam yang selalu saja mendadak. Membuat Rose yang tidak siap hampir saja terjatuh. “Kau pasti marah kepada ku yaaa.. Maafkan aku.”
“Faaaamm..” Rose yang hampir tercekik berusaha melepaskan diri dari dekapan yang Fam buat. Apalagi yang gadis manja namun menggemaskan itu inginkan.
“Maa aaaaf.” Fam akhirnya melepas pelukan itu, kemudian menekuk wajah sembari mengerucutkan bibirnya dengan otomatis.
“Kenapa bersedih seperti itu?” Rose menatap Fam yang sikapnya memang selalu manja.
“Siapa yang tidak sedih jika ditinggalkan tanpa permisi, aaaa aku tidak mau kau meninggalkan ku Rose.” Fam malah memeluk lagi. Setelah sekian lama selalu bersama. selalu bersama seperti kembaran dan melebihi sahabat, tentu tidak mudah jika tiba-tiba saja mereka harus berpisah.
“Fam, aku sangat lelah. Apa kau tidak mengizinkanku untuk masuk terlebih dahulu.” Setelah melakukan perjalanan menuju bandara, lalu tertinggal pesawat, lalu di ajak James makan siang, juga menemui Bianca ditempat asing itu membuat Rose benar-benar lelah. Rose ingin istirahat, bukan melulu mendapatkan pelukan seperti itu.
Hehe. Fam melepas pelukan itu lagi. Kemudian keduanya masuk.
Sudah menyegarkan diri dan duduk di atas sofa sebagai sepasang sahabat, dua gadis itu duduk di sofa sambil ditemani coklat panas dan juga film kesukaan mereka.
“Rose.. Kau memaafkan aku kan?” Fam kembali membuka obrolan mereka yang belum selesai. Masih merasa bersalah atas sikapnya yang tidak memikirkan Rose dan selalu merepotkan gadis itu.
“Maaf untuk apa?” Rose menyesap coklat itu sambil melirik Fam yang air mukanya memang menunjukan penyesalan.
“Untuk kesalahanku menyuruhmu menemui James, aku lupa jika dia adalah robot yang dingin. Kau pasti kesal ya? Sudah pasti James memperlakukanmu dengan sangat menyebalkan saat kau menemuinya. Itu juga pasti jadi penyebab kenapa kau ingin pulang? Iya kan?” Fam menebak lebih dulu. Karena kepergian Rose yang mendadak itu membuat Fam sadar bahwa selama ini ia selalu saja merepotkan Rose. Menyuruh Rose ini itu untuk menyelamatkan dirinya. Tanpa memikirkan perasaan Rose yang entah seperti apa. “Maafkan aku, kumohon. Aku berjanji tidak akan melibatkan orang lain lagi dalam setiap masalahku, aku tidak akan merepotkanmu lagi. Yang terpenting kau selalu ada disini, menjadi temanku. Lagipula aku sudah mengakhiri hubungan ku dengan Jacob.” Sadar. Fam benar-benar disadarkan oleh sikap Rose yang akan pergi tadi. Ia sadar bahwa jika tidak ingin terbakar maka ia tidak boleh main api. Jika ia tidak ingin di amuk oleh Ken atau Alvino, maka ia harus menuruti peraturan mereka. Toh mereka melakukan itu sudah jelas karena mereka sangat menyayangi dirinya. Karena dirinya adalah Tuan Putri satu-satunya.
Hihi. Rose malah tersenyum tipis mendengar Fam yang terus saja berbicara tanpa rem. Ternyata Fam menyangka Rose akan pulang karena dia mengira James bersikap menyebalkan saat ia temui, padahal kenyataanya tidak begitu. James justru sangat bersikap manis terhadapnya. Aaaaa~ Rose jadi senyum-senyum sendiri. Jadi kembali mengingat bagaimana waktu terlewati saat ia bersama James meskipun singkat.
“Kenapa kau malah senyum-senyum sendirian begitu sih? Kau pasti senang yaa sekarang.” Fam mendelik lagi, tidak menyangka pengakuan itu membuat Rose se-begitu senangnya.
Kring! Ponsel Rose berbunyi. Panggilan dari James.
Buru-buru Rose mengambil ponsel itu, tanpa menjawab dulu perkataan Fam yang sejak tadi berbicara. Saat ini James yang lebih penting menurutnya.
“Hallo.” Panggilan itu terhubung.
“Hallo, Nona. Mm maksudku Hallo Rose, apa aku mengganggumu?” Suara James terdengar malu-malu di seberang telpon itu.
“Tidak. Kami sedang bersantai. Mm maksudku aku dan Fam sedang bersantai. Ada apa?” Ah~ Mendengar James kenapa membuat ujung senyum Rose tidak bisa ditahan untuk ditarik. Membuat Fam jadi menatapnya dengan aneh karena terus saja tersenyum.
“Bianca? Ada apa lagi dengan dia?” Ujung senyum itu kembali ke tempat semula. Rose mengira James sengaja menghubunginya untuk menanyakan tentang dirinya. Tapi lagi-lagi malah Bianca yang menjadi bahasan. Gadis itu sepertinya sangat istimewa.
“Ceritanya panjang, bagaimana? Apa kau bersedia? Jika kau bersedia aku akan menceritakan saat kita dalam perjalanan nanti.” Kita? Berhenti menggombal James. Kau sedang dalam perjalanan menghadapi murka Tuan Muda mu. Jangan banyak tingkah.
“I-iya.. Tentu saja aku bersedia. Kau boleh menjemputku.”
“Aahh terimakasih. Sampai jumpa dalam 5 menit.” Panggilan terputus.
“Siapa?” Fam langsung melempar pertanyaan ketika Rose sudah melepaskan ponsel yang ditempelkan di telinganya. Pemandangan asing melihat Rose seperti itu, tersenyum saat mendapat panggilan dan sepertinya orang di seberang telpon itu adalah seorang pria. Apa Rose sedang jatuh cinta?
“James.” Jawab Rose singkat sambil bangkit dari sofa. Ia harus segera mengganti pakaian sebelum James tiba di halaman rumah.
“James? Maksudmu si robot itu?” Fam semakin menatap heran dan Rose hanya tersenyum kecil. Kenapa Rose sangat antusias sekali mendapat panggilan dari James. Terlebih lagi Rose langsung sibuk berganti pakaian. Mau kemana dia? Apa mereka akan berkencan?
“Dan siapa Bianca? Aku baru mendengar nama itu. Apa dia teman barumu? Kenapa tidak pernah bercerita?” Mode kepo Fam sedang on. Tapi Rose tidak pernah memberikan jawaban yang pasti. Dia malah sibuk.
“James akan tiba dalam 5 menit. Aku akan bercerita padamu nanti. Bye.” Rose langsung melambaikan tangan dan pergi. Sementara Fam yang ditinggal lagi hanya melongo tidak percaya.
“CURAAAAANG!! Aku putus cinta tapi kau malah jatuh cinta huaaaaaa.”
Slowly~ Mencapai titik paling bahagia itu tidak mudah.