
Ken membawa Alvino ke rumah kenangan Ken bersama ayahnya. Disana ia memang banyak menyimpan kenangan tentang masa lalu. Bahkan Ken sengaja membuat ruangan-ruangan khusus untuk mengenang hal-hal yang memang penting. Sejak puluh tahun lalu Ken bahkan sudah menyiapkan sebuah ruangan khusus untuk menunggu hari itu tiba, hari dimana putra sambungnya meminta kebenaran tentang ayah biologisnya.
Ken dan Monica sudah sepakat untuk memberitahukan segalanya, toh sekarang Alvino sudah dewasa dan pasti ia akan mengerti jika mereka menjelaskan semuanya dengan jelas dan terperinci.
“Ku harap kau sudah menyiapkan mental yang besar untuk mengetahui segalanya hari ini.” Suara Ken terdengar sangat dingin ketika membuka satu pintu yang tidak pernah Alvino masuki selama tinggal dirumah itu. Bahkan Alvino memang tidak mengetahui tentang keberadaan ruangan itu, entah ruangan apa yang jelas Ken mempersilahkan dirinya untuk masuk.
Alvino dan Ken sudah masuk. Memasuki ruangan yang sangat sunyi senyap tanpa ada pencahayaan sedikitpun.
“Sekali lagi aku bertanya, apa kau siap untuk mengetahui segalanya hari ini?” Ken bersuara lagi, hanya suara yang bisa Alvino dengar karena ruangan itu benar-benar gelap.
“Aku siap.” Sahutnya.
“Bagus! Tapi aku sangat berharap kau akan menyesal karena membuat ibumu menangis hari ini! Light ON!!” Cring. Lampu ruangan itu menyala. Membuat seisi ruangan yang tadinya gelap gulita jadi terang menderang.
“Ruangan apa ini?” Alvino menatap sekeliling. Ruangan yang sangat luas itu hanya berisi lemari-lemari besar yang sudah di design menempel ditembok. Mirip sebuah perpustakaan.
“Ruangan yang akan membuatmu menyesal ingin masuk ke dalam sini!” Kalimat itu terdengar seperti ancaman. Tidak mungkin Ken akan menyiksanya seperti Alfian disana kan? Oh tidak. Ken tidak akan melakukan itu. Cara yang ia lakukan untuk menaklukan sesuatu kini memiliki trik yang berbeda. Tidak ada kekerasan namun sudah dipastikan akan membuat siapapun kalah telak.
“Biar ku ceritakan segalanya dari awal. Cerita versi diriku saat ayahmu datang sebagai pelayan Lucatu.” Ujar Ken sambil duduk di ujung meja sambil menatap Alvino yang masih memandangi sekeliling ruangan disana.
“Sesungguhnya aku masih bingung untuk mengawali bagaimana kisah antara kami, semuanya penuh teka-teki. Dan terlalu rumit..” Huh~ Ken membuang nafas jengah dulu. Menguatkan hati lagi agar ia tidak mudah naik pitam ketika akan mengulang bagian masa lalu yang tidak ingin ia buka lagi. “Sesungguhnya aku tidak mengenal siapa Alfian, dia datang kepadaku sebagai Kevin. Kevin si b a d j i n g a n yang sangat berani menginjak kepalaku berulang-ulang! Dia adalah penjahat dan k e p a r a t seperti dia memang tidak pantas untuk hidup di dunia ini!”
Tuh kaaaaan, sabar daddy! Jangan pake esmosi yah, nanti author bikinin mpot ayam. Janji.
“Kevin? kenapa ayah bisa menjadi Kevin? dan kenapa dia menjadi pelayanmu sedangkan kau mempersunting Mamy?” Alvino yang masih bingung malah bertanya hal yang bodoh. Tentu saja membuat Ken rasanya kesulitan menahan amarahnya.
Sabar, daddy. Mpot ayam!
“Jangan pernah menyela sebelum aku selesai berbicara!!”
Gulp! Alvino menelan ludah. Kenapa sikapnya jadi seperti itu sih? Lebih dari anak kecil yang terlalu penasaran dengan mainan keluaran terbaru. “Maaf dad, aku hanya tidak sabar untuk mendengar segalanya.”
“Jika kau memang tidak sabar, biar aku jelaskan bagian inti saja. Ayahmu adalah pecundang, dia adalah tikus paling menjijikan di muka bumi ini! Siapapun akan bertindak sepertiku atau bahkan lebih untuk memberikan pelajaran untuk ayah mu itu!” Ken sudah kehilangan kesabaran. Semula ingin mengutarakan dengan angin santai, tapi tiba-tiba api itu berkobar begitu saja. “Dia juga seorang pembunuh, dia membunuh sekretaris paling setia di Lucatu! Benazio! mertuanya sendiri, ayah Monica dan itu adalah kakek mu. Aku yakin kau bahkan tidak ingin lagi menyebutnya ayah jika aku membuka segalanya!” Aaah~ Tidak bisa lagi mengendalikan diri. Perasaan marah itu tidak bisa dibendung lagi.
“Kevin meninggalkan ibumu saat kau masih berada di dalam kandungan, lalu membunuh Benazio dan membuat ibumu jatuh ke lembah hitam! Belum cukup sampai disitu bahkan Kevin juga menculik dan menyiksa ibumu seperti hewan disaat aku sedang berusaha menariknya dari jurang itu! Ia ingin kembali bersanding dengan Monica setelah membawa ribuan duka untuk ibumu. Ayahmu jahat Alvino! Ayahmu yang keji! Bahkan adik yang selama ini kau cari adalah hasil pengkhianatan terhadap ibumu!”
“Kenyataan buruk apalagi yang ingin kau tahu?” Ken menatap tajam ke arah Alvino. “Apa kau juga ingin tahu gara-gara b i a d a p nya ayahmu, Ibumu sampai harus menjadi pee---
Astaga!! Tahan Ken~
“Buka lemari itu, kau akan tahu segalanya!” Ken pergi. Sudah tidak sanggup lagi berada disana untuk menjelaskan lebih rinci lagi. Ken takut tidak bisa menahan diri menghadapi Alvino yang selalu menguji kesabarannya.
Salahkah aku ketika aku ingin mengetahui kebenaran tentang ayahku? tapi kenapa harus seburuk itu riwayat kehidupan ayahnya. Bukannya dulu Isabella__Nenek Alvino mengatakan bahwa Alfian dan Monica bercerai saat dirinya masih kecil? tapi kenapa sekarang ceritanya lain?
Alvino membiarkan Ken pergi, tahu bahwa lelaki yang ia hormati itu sudah dikuasai amarah. Alvino lalu lanjut menuju lemari yang Ken maksud. Berharap teka-teki itu segera berakhir.
Krekk!! Perlahan Alvino membukanya. Disana ia hanya melihat tumpukan beberapa berkas dan juga sebuah handycam dan flashdisk yang tertata rapi dalam sebuah dus. Satu persatu Alvino menatapnya dengan rinci. Mengeluarkan benda-benda itu satu persatu.
“James? Apa kau sudah menemukan orang yang mengatur rumah itu? Kau harus menemukannya sekarang juga!” Marah. Alvino juga marah. Meskipun belum bisa menarik benang merah, tapi ia bisa menyimpulkan bahwa orang yang membuatnya mengunjungi rumah dimana ia menyaksikan sebuah video ingin mengadu domba dirinya dengan ayah sambungnya. Ingin menghancurkan kekeluargaan yang selama ini mereka bangun.
“Temukan James!! Aku tidak mau tahu!!”
Ganggu aja deh bang, aku kan lagi pedekate! James*
Bersambung~