
Huh~ Ken membuang nafasnya. Bersiap untuk menjelaskan bagian masa lalu yang sebenarnya enggan untuk ia buka kembali. Hanya ada rasa marah dan benci yang tidak berkesudahan jika nama Alfian kembali terngiang dalam pendengarannya. Tapi Ken bukanlah orang yang selalu berapi-api dan mengedepankan egonya lagi, Ken sadar bahwa sampai kapanpun ia menutupi, Alvino akan semakin beranjak dewasa dan mencari tahu tentang itu.
“Apa yang ingin kau tahu anak muda, katakan.. Aku tidak akan menyangkal apapun.” Dengan pembawaan yang tenang Ken menatap putra sambungnya. Anak tiri yang tidak pernah ia singgung soal siapa ayahnya. Ken menyayangi Alvino sama seperti ia menyayangi putra putrinya yang lain.
“Aku menemukan sesuatu hari ini, dan aku harap daddy tidak akan menutupi soal apapun.” Alvino menyodorkan foto yang ia temukan di rumah itu, foto Alfian yang berada di sekitar Lucatu sambil mengenakan pakaian khusus berlogo Lucatu.
“Sayang.. Bisakah kau pergi dan biarkan aku berbicara sebagai sesama lelaki?” Ken menatap Monica, tidak ingin wanita yang sangat dicintainya itu kembali teringat luka masa lalu dalam pembahasan ini. Biar saja Ken yang menjelaskan segalanya.
“Tidak, mana mungkin aku pergi. Aku juga bagian dalam masa lalu itu, biar aku juga menjelaskan kepada Alvino.” Monica menatap lelakinya, tahu bahwa sebenarnya Ken tidak ingin membuatnya kembali mengingat dunia hitam yang dulu ia lewati. Tapi Monica tidak bisa menghindar, sampai kapanpun masa lalu itu akan mengikuti kemanapun ia pergi. jadi apapun itu, Monica harus menghadapinya
“Please, aku tidak ingin emosi mu terkuras. Aku tidak siap melihatmu meneteskan air mata lagi. Trust me, I’ll tell everything so softly. Alvino akan mengerti semuanya tanpa harus kau yang mengatakan.” Ken menatap Monica lagi, sudah pasti Alvino sudah menarik benang merah tentang ini. Ken tidak mau kesalahpahaman ini malah akan melukai hati Monica. Biar saja ia yang menghadapinya sendiri.
“Dad, aku hanya ingin jawaban. Memangnya kenapa Mamy harus pergi?” Alvino mulai bingung dengan drama di hadapannya itu, hanya ingin meminta jawaban tentang foto itu tapi kenapa mereka malah seperti itu.
“Aku sudah memprediksi bahwa kau akan menanyakan soal ayahmu, tapi apa kau siap mendengar segala kebenaran yang ada anak muda?” Ken menatap Alvino yang tidak sabaran mendapat jawaban dari dirinya. Andai saja bukan anak Monica, maksudnya anaknya juga. Maksudnya andai saja Alvino adalah orang lain, Ken pasti sudah menumpas bagaimana keangkuhan lelaki itu di hadapannya
“Kalian tahu bukan bahwa aku mencari keberadaan ayah dan Eve selama ini, tentu saja aku siap mendengar apapun tentang apa yang selama ini ku cari.”
Ken mengangguk-ngangguk samar. Menyesap minuman yang sudah ia pesan kemudian menatap Monica lagi sebagai isyarat meminta izin bahwa hari ini ia akan membuka segalanya tentang masa lalu puluhan tahun silam itu. “Baiklah.. Selama ini aku selalu mempersiapkan kalimat apa yang harus aku katakan untuk mulai membicarakan tentang hal ini, tapi sekarang.. sekarang kau bertanya maka aku akan menjawabnya.” Saling menatap. Saling menunggu kata apa yang akan terucap pertama kali. “Difoto itu, ayahmu bukanlah Alfian. Dia Kevin, kaki tanganku yang sangat handal. Posisi dia sama seperti Alex.” Jujur bukan, Ken sudah menjawab apa yang Alvino pertanyakan tentang foto itu.
“Kevin?” Alvino mengulang nama itu sambil mengernyitkan dahinya.
“Mamy yakin kau tidak akan percaya tentang masa lalu itu, memangnya apa yang kau tahu tentang ayahmu?” Monica bersuara, hatinya begitu bergetar jika harus mengatakan segalanya dari awal. Dari awal saat Alfian meninggalkan dirinya dan Alvino sejak masih di dalam kandungan.
“Jika dia adalah kaki tanganmu, lantas kenapa kau menyiksanya dengan begitu brutal? Kesalahan macam apa yang Ayahku lakukan?”
Hah~ Akhirnya sampai juga di titik pertanyaan yang paling menakutkan. Haruskah Alvino benar-benar tahu segalanya dengan rinci? Tentu. Jika dia hanya melihat dari satu sisi dia pasti sudah menyimpulkan bahwa Ken yang kejam disini.
“Bahkan aku tidak percaya bahwa kau yang membuat ayahku hidup di desa terpencil dan dilarang keluar dari sana sampai selamanya.”
“Itu hukuman, bahkan hukuman itu belum setimpal dengan apa yang telah ayahmu lakukan. Ayahmu sepantasnya mati waktu itu! Andai saja istriku tidak melarang dan memintaku untuk memaafkannya, sudah ku pastikan jiwa-jiwa tikus itu sudah melayang sejak puluhan tahun lalu!” Sifat sabar memang tidak dimiliki oleh Ken, Apalagi melihat bagaimana cara anak muda itu bertanya pada dirinya. Jika tidak memikirkan perasaan Monica, mungkin Ken akan lebih gamblang lagi membuka tabir masa lalu itu.
“Berkhianat. Dia berkhianat!!” Hanya itu yang mampu Ken katakan. Lidahnya kelu untuk mengatakan segala kejahatan Alfian di masa lalu. Lebih tepatnya, Ken masih menjaga perasaan Monica.
“Tidak bisakah kau memberikan hukuman sebagai manusia yang menghukum manusia? hukuman itu benar0benar diluar nalar! Jika memang ayahku seorang penjahat, kenapa tidak kau biarkan dia mendekam di penjara saja.”
“ALVINO!!” Benarkan. Mata Monica langsung berkaca-kaca. Sakit hati itu kembali muncul dan menyeruak dalam dirinya. Ditambah dengan Alvino yang sudah sangat tidak sopan. “Dia menyiksaku, menyiksa ibumu ini seperti hewan! Puas? Apa kau puas?” Hiks. Tumpah. Air mata itu benar-benar tumpah lagi. Rekaman jejak kehidupan memang tidak bisa dihilangkan, biarlah Alvino tahu segalanya dari pada mereka menjadi salah paham satu sama lain.
“Sayang.. Pulanglah.. Tenangkan hatimu. Biar aku yang membuat dia mengerti.” Ken mengelus Monica lembut. Aaaaah~ Air mata itu. Air mata Monica adalah kelemahan Ken. Ingin rasanya Ken segera mengibarkan kobaran api yang ada di dalam dadanya saat itu juga.
“Aku benar-benar tidak mengerti, lalu kenapa kau tidak pernah bercerita tentang apapun Mam? Kenapa kau selalu menutupi semua ini padahal aku selalu bertanya.” Ada rasa bersalah yang Alvino rasakan melihat ibunya menangis seperti itu. Selama hidup didunia ia tidak pernah melihat Monica menangis jika bukan karena Sam yang waktu itu kecelakaan.
“Ikut denganku sekarang juga!” Ken bangun dari kursinya. Sudah sangat kehilangan kesabaran. Selama hidup bersama Monica ia selalu berusaha tidak pernah membuat wanita itu menangis, tapi hari ini, hari ini ia harus kembali menyaksikan tangisan pilu istrinya. “ALEX!!”
Nah loh, daddy marah!
“Iya Mister.” Alex yang setia berdiri dibalik pintu segera masuk dan menundukkan kepalanya, bersiap untuk mendapatkan titah dari tuannya.
“Bawa Nyonya kembali, dan siapkan segalanya. Kita akan kembali ke kota asal hari ini juga!” Pergi. Ken pergi dari sana. Udara ruangan itu sudah sangat menyesakkan dada. Ken tidak mau hilang kendali dan malah akan semakin menyakiti Monica.
Bersambung~
NOTED:
Jangan hujat abang Alvino ya gais, dia gitu wajar aja. Siapasih yang nerima kalo ayahnya disiksa gitu apalagi abang Alvino bener-bener gak tau masa lalu dan masalahnya seperti apa. Just complicated buat lurusin masalah di masa lalu aja dan semoga aku gak bikin naskah yang lebih rumit biar ceritanya cepet kelar. Hahaha. Enjoy gengs!