You Decided

You Decided
Kebohongan



“Maafkan aku, Al. Demi Tuhan aku tidak pernah berniat untuk membohongimu.”


“Tapi nyatanya sudah, Bee. Kau sudah membohongiku. Kenapa kau tidak berterus terang sejak awal.”


Dua orang yang terikat sebagai sepasang kekasih itu saling berdebat setelah Bianca mengatakan kejujuran tentang siapa dirinya dan darimana sebenarnya ia berasal. Bianca menceritakan bahwa ia sangat mengenal siapa Alfian dan keluarganya karena memang Bianca dan Eve masih mempunyai ikatan saudara meskipun bukan saudara sedarah.


“Biarkan aku melakukan pengakuan dosa dihadapanmu, aku ingin kau mendengar kebenaran itu dari diriku sendiri.” Bianca menatap nanar kepada ayah calon bayinya. Sekecil apapun bentuknya, kebohongan pasti memang sangat menyakitkan. Tapi sejak awal Bianca tidak berniat untuk berbohong, ia hanya menutupi kebenaran tentang jati dirinya, cerita tentang orang tuanya. Itu saja.


“Siapa yang tahu jika ternyata kau berbohong lagi.” Ah~ Pikiran Alvino sudah sangat lelah sebenarnya. Belum selesai urusan yang satu dan kini malah bertambah lagi. Berpikir bahwa Bianca mampu meredam kegundahannya, tapi nyatanya gadis itu malah semakin memperunyam suasana.


“Apa kau tidak mau mendengarkan ku?” Bianca menggenggam tangan Alvino yang sudah berubah gelagatnya.


“Bisakah kau juga mendengarkanku, Bee.” Ayo Alvino, bijaklah. Dengarkan dia, mungkin dia seperti itu ada alasannya. Meskipun kebohongan seharusnya tidak memiliki alasan. Dengarkan lalu utarakan juga apa yang ingin kau utarakan. “Kau adalah wanita pertama dalam hidupku. Menjadi kekasihku, memberikan warna dalam hidupku. Meskipun aku baru memulai sebuah hubungan denganmu, mengenal apa itu cinta bersamamu, tapi kebohongan memang selalu akan menghancurkan.”


“Apa kau ingat bagaimana hubungan kita bermula? Semuanya terjadi begitu saja bukan. Aku juga tidak langsung menaruh hati, aku belum percaya bahwa kau menjadikan diriku sebagai kekasihmu dengan perasaan yang tulus. Kau menjadikan diriku sebagai kekasihmu hanya karena kau meminta maaf atas apa yang kau lakukan malam itu? Mana mungkin aku bisa langsung berterus terang soal segalanya.”


“Jika aku melakukan semuanya hanya karena sebatas permintaan maaf, aku pun tidak akan menceritakan tentang pribadiku, Bee. Aku betul-betul menganggap kau sebuah rumah tempat ku pulang.” Siapa yang bisa mengira hati akan jatuh kepada siapa bukan? Rasa itu benar-benar muncul seperti air yang mengalir. Hadir di tengah-tengah mereka sebagai rasa yang di sebut-sebut adalah cinta. “Bolehkah aku mengatakan bahwa hari ini aku kecewa padamu?”


“Tapi aku tidak pernah berkhianat Al. Aku tidak pernah menikam dirimu.”


“Masalah dalam suatu hubungan bukan hanya pengkhianatan, kita menjalin hubungan ini artinya kita menyepakati sebuah komitmen. dan kejujuran adalah poin paling penting.”


“Aku mengaku salah, aku tidak jujur tentang diriku yang sebenarnya. Aku hanya tidak siap berbagi masalahku. Aku hanya takut.“ Mata yang berkaca-kaca itu kini mengalir bulir-bulirnya tanpa permisi. Bibir Bianca rasanya sudah tidak sanggup untuk menjelaskan apapun lagi. Yang jelas saat ini ia sangat takut kehilangan Alvino.


“Jangan menangis..” Alvino menarik Bianca kedalam pelukannya. Meskipun kecewa tapi ia tidak tega melihat Bianca menangis. Apa lagi setelah gadis itu berani mengakui kesalahan.


“Apa setelah ini kau akan meninggalkanku? Apa hatimu jadi sakit gara-gara diriku?” Aaaa~ Bianca merasa sangat bersalah. Takut jika Alvino benar-benar pergi.


“Tidak apa.. Justru jika kau tidak mengatakan kejujuran kau jadi mengkhianatiku dua kali.” Alvino merengkuh Bianca. Membawa gadis itu kedalam dekapannya. “Aku juga akan melakukan pengakuan dosa, ada satu hal yang harus kau ketahui.” Cupp!! Alvino mengecup kening Bianca agar Bianca tenang dulu.


Deg!! Hati Bianca malah tertegun lagi. Kejujuran macam apa yang dimaksud Alvino? Apa dia akan…


“Biar ku ungkapkan.” Alvino melepas pelukan itu, membuat Bianca duduk dan pandangan mereka jadi bertemu. “Sama dengan kejujuranmu yang menyakiti hati, aku juga yakin kejujuranku akan melukai hatimu.”


“Aku pernah tertarik pada wanita selain dirimu.”


Wanita lain? Seketika Bianca terperangah. Tidak. Mana boleh seperti itu! Apa Alvino benar-benar akan meninggalkan dirinya? Lalu bagaimana nasib calon bayi itu.


“Jangan panik, aku hanya bilang aku pernah tertarik.” Setelah keadaan mendebarkan itu akhirnya senyuman itu muncul lagi, meskipun tipis tapi itu menandakan bahwa semuanya sudah mencair. “Akujuga pernah berfikir bahwa aku mencintaimu hanya karena perasaan bersalahku, untuk itu, saat aku tertarik pada wanita selain dirimu, aku membuktikannya.”


“Lalu? apa kini kau merasakan perasaan yang lain pada wanita itu?” Bianca sudah tegang bukan main. Bagaimana jika perasaan tertarik itu berubah menjadi perasaan yang lebih. Apalagi setelah ia mengaku bahwa ada kebohongan selama ini? Akankah Alvino benar-benar akan meninggalkan dirinya? Pikiran Bianca sudah berlarian kesana kemari.


“Tidak, Bee. Saat aku menemui wanita itu, hatiku tidak berdetak seperti saat aku bersamamu.” Aaaaa~ “Karena aku sudah berjanji tidak akan menyakiti hati wanita.”


“Aaa tapi hatiku sakit sekarang.” Bianca mencebik dengan perasaan kesal namun senang juga dengan kalimat manis diujung ucapan Alvino. Syukurlah, bukan suatu hal yang buruk.


Alvino kemudian benar-benar menceritakan itu, dan Bianca juga memberikan pengertian. Mungkin itu hanya sebuah petualangan Alvino dalam mencari cinta sejatinya. Yang terpenting Alvino tidak akan mengulangi kesalahan itu. Sama halnya dengan Alvino yang juga sudah memberikan pengertian tentang kebohongan yang dilakukan oleh Bianca. Mereka saling memaafkan satu sama lain.


“Apa kau benar-benar tidak akan meninggalkanku Al?” Bianca bertanya lagi. Meyakinkan apa yang masih membuatnya ragu.


“Buang pikiran itu. Kau hanya satu-satunya.” Alvino mengelus wajah Bianca lembut. Membuang keraguan yang menguasai Bianca.


Apakah sekarang adalah waktu yang tepat untuk mengatakan tentang kehamilanku?


Baru saja akan berujar, namun Alvino justru mendahului. “Jika kau tahu dimana Eve, apa kau tahu dimana ayahku sekarang?” Sudah sama-sama tenang dan memaafkan permasalahan yang baru muncul ke permukaan, kini Alvino kembali membahas tentang Eve dan ayahnya lagi. Sejak tadi mereka hanya fokus membicarakan soal kebohongan dan kejujuran saja.


“Tuan Alfian.. Dia..” Astaga! Sudah kembali membuat Alvino tenang kenpa harus masuk lagi ke lingkaran yang akan membuat dia bersedih sih. Bianca tidak tega, tapi mana mungkin dia berbohong.


Alvino menatap Bianca dan menatikan jawaban dari gadis itu.


“Dia sudah menghadap Tuhan tiga tahun yang lalu.”


KU MENAGIS 😭😭😭😭


Aaaaa fix gue gila!