
Alvino meyakinkan diri bawa dirinya benar-benar mencintai Bianca. Dan sebuah rasa yang hadir untuk Alice hanya sekedar mengagumi, tidak lebih. Mungkin karena makan malam yang tidak sengaja itu, mungkin juga karena Alvino sedang penat dan wanita itulah yang sedikit menghibur.
Alvino masih diapartemen Bianca, lelaki itu menghabiskan waktu bersama wanita yang dicintainya. Berharap dengan we time, rasa cinta mereka akan tetap terjaga keutuhannya.
"Aku tidak bisa menginap, ibuku sedang berada dirumah." hari sudah larut dan tiba saatnya Alvino berpamitan. Lelaki itu tidak bisa menginap lantaran Monica ada dirumah. Lagipula keadaan belum stabil seperti sebelumnya.
"Aaa kenapa aku harus kehilanganmu lagi? baru saja kita menghabiskan waktu sebentar." Bianca bergelayut manja dilengan Alvino.
"Aku akan kembali, Bee.. Jangan khawatir, aku tidak akan mengabaikanmu lagi." Cupp!! Alvino mengecup kening Bianca cukup dalam. "James akan mengantarmu ke toko kue itu besok." ujarnya setelah membubuhkan kecupan.
"James?"
"Ya. James."
"Lebih baik aku menunggu kau memiliki waktu luang, Hon. Aku ingin pergi kesana bersamamu, bukan bersama James." Airmuka Bianca sedikit berubah. Wanita itu juga melepaskan diri dari Alvino. Tidak mau jika harus bersama James berdua lagi. Jelas-jelas James membencinya dan selalu mengancam.
"Mengertilah sayang, aku punya seribu kesibukan. Lagipula James adalah orang kepercayaanku, dia akan membantumu memeprsiapkan semuanya untuk toko itu." Alvino kemudian menatap gadis yang sepertinya tiba-tiba berubah menjadi cemas.
"Hon.. dia tidak menyukaiku! James... dia selalu menatapku dengan penuh ancaman, aku takut. lebih baik aku menunggumu saja." Bianca menatap nanar kearah Alvino. Apa yang dikatakannya itu benar bukan? James memang selalu mengancam dan menuduh bahwa Bianca adalah sesuatu yang berbahaya bagi Alvino.
Hehe.. Alvino Justru malah tertawa kecil. Tidak mungkin James bersikap seperti itu. Mungkin itu hanya alasan Bianca saja karena dia ingin selalu bersama Alvino. "James tidak akan pernah berani membantah perintahku.." Alvino kini menatap lekat kepada Bianca. Kembali membelai wajah gadis itu dan mencoba meyakinkan bahwa semuanya akan baik-baik saja.
Bianca terdiam sejenak, membiarkan Alvino membelai wajahnya dan meyakinkan diri bahwa James memang tidak akan mengancam nya lagi seperti sebelumnya.
"Aku harus pergi sekarang.. Jaga dirimu baik-baik. Aku akan menemuimu lagi nanti." Alvino kemudian membubuhkan beberapa kecupan di wajah Bianca sebelum akhirnya benar-benar pergi.
"Aku akan sangat merindukanmu." Bianca merengkuh tubuh Alvino sebagai tanda perpisahan. Sambil menyelipkan sebuah harapan bahwa mereka akan kembali bertemu dalam waktu dekat.
Alvino kemudian membalas pelukan itu dan pergi dari sana.~
James ternyata menguntit Alvino. Saat Alvino keluar dari gedung itu, ia mendapati James sudah berada di parkiran sambil menundukkan kepala. Alvino dan James memang seperti satu paket, dimana Alvino berada di situ pasti ada James juga.
"Selamat malam Tuan.." James menyapa lebih dulu walaupun lelaki itu berjalan dengan angkuh tanpa memperdulikan dirinya.
"Sejak kapan kau disini?" Alvino melirik sebentar ke arah James yang berdiri tegap dihadapannya.
"Sejaaaaak.. urusan dikantor selesai Tuan." James menjawab tanpa mengangkat kepalanya sedikitpun.
"Kita pulang." Alvino kemudian memberikan kunci mobil kepada James dan melenggang tanpa menunggu James menjawab lagi.
Sudah didalam mobil..
Perjalanan itu berlangsung dengan hening, tidak ada obrolan apapun antara James dan Alvino. James yang sedang mengemudi sesekali melirik kearah Alvino, Tuan mudanya itu terlihat kusut dan sedikit berantakan. Ada apa, pikirnya.
Jalanan malam itu cukup macet, membuat keheningan semakin pekat terasa. Lalu James pun memberanikan diri untuk memecah keheningan tersebut dengan mengajukan sebuah pertanyaan yang semoga saja Tuan mudanya itu mau untuk menjawab.
"Apa Anda baik-baik saja Tuan? apa anda menginginkan sesuatu?" James dengan takut-takut melihat ke arah Alvino yang sedang mengepalkan tangan dan menaruh tangan itu di tengah-tengah alisnya. Jelas sekali bahwa Tuan mudanya itu sedang memikirkan sesuatu.
"Tidak." Alvino menjawab ketus.
"Anda sepertinya lelah Tuan.. apa anda menginginkan liburan? saya bisa...
"D i a m!!!"
Eh.. James sedikit terhenyak. Sejak kapan Tuan mudanya itu membentak dirinya? bahkan berbicara dengan nada keras pun Alvino tidak pernah. "Maaf Tuan.."
"Entahlah James, aku pun tidak mengerti dengan apa yang terjadi pada diriku. Sejak tadi rsanya aku ingin selalu marah-marah."
"Besok tolong antarkan Bianca ke tempat toko kue yang aku beli itu. Bantu dia merancang semuanya."
"Ba-ik Tuan." James tidak berdaya untuk membantah lagi, meskipun sebenarnya dia enggan untuk bertemu dengan Bianca. Entah apa yang terjadi antara James dan Bianca, namun yang jelas James sangat tidak menyukai wanita itu.
"James.. Apakah kau pernah merasakan jatuh cinta?" Alvino melirik ke arah James saat mempertanyakan hal yang tidak biasanya.
Eh.. James kembali terhenyak. Apa yang dipertanyakan Tuan mudanya itu? ini semua benar-benar tidak masuk akal. Pasti ada sesuatu yang terjadi pada Alvino yang tidak James ketahui.
"Jatuh cinta?" James malah mengulang kalimat Alvino. Tidak mungkin James jatuh cinta. Kepada siapa ia harus jatuh cinta? selama ini yang ia pikirkan hanya tentang Alvino Alvino dan Alvino saja.
"Kau pasti pernah tertarik kepada seseorang kan? merasa berdebar saat di dekatnya atau kau menginginkan memiliki dia dan selalu berada di sampingnya?"
"Apa yang Anda katakan Tuhan saya tidak mengerti.."
"Haha. Lagi pula mana mungkin kau mengerti cinya, yang kau tahu hanyalah kertas dan bolpoin saja.. Sepertinya sudah saatnya kamu miliki wanita, James. Jangan melulu memikirkan tentang aku, pikirkan tentang dirimu juga."
Sebenarnya apa yang dimaksud oleh Tuan Muda? Apa dia sedang jatuh cinta kepada Bianca? tahu James tahu tentang itu.. Atau mungkin, cinta itu yang membuat Alvino berantakan sekarang. Apa Bianca melukai hati Alvino?
Pikiran James justru berburuk sangka kepada Bianca.
"Rasanya aku seperti orang serakah sekarang, sudah memiliki apa yang aku inginkan tapi masih menginginkan hal yang lain." Alvino menghela nafas dan kemudian seperti membuang nafas yang tertahan. Lelaki itu masih saja memikirkan tentang Alice.
Maksudnya? James tidak lagi menimpali kata-kata Alvino. Yang James lakukan hanya diam dan mencerna setiap kalimat yang Alvino katakan. Mencoba mengerti dan menarik benang merah dari obrolan itu. Namun sepanjang apapun Alvino berucap, James tetap tidak mengerti. Bodoh.
Hingga akhirnya mereka pun tiba di rumah milik Alvino. Keadaan rumah itu sudah sepi seperti biasa saat Alvino tinggal sendiri. Padahal di rumah itu kini terdapat beberapa orang dan juga para pengawal.
Mungkin orang-orang sudah tidur semua, pikirnya.
Alvino melangkahkan kaki untuk masuk ke dalam rumah itu, sementara James mengikutinya dari belakang. Mengantarkan Tuan mudanya menuju kamar utama dan memastikan bahwa Alvino aman sampai di kamarnya.
"Pergilah James tidak perlu mengikutiku aku bisa ke kamarku sendiri!" Alvino yang sadar diikuti menghentikan langkahnya dan berbalik badan untuk menyuruh James tidak mengikutinya.
"Tapi Tuan...."
"Apa harus aku ulangi lagi perkataanku? belakangan ini kau sepertinya senang ya membuat aku dua kali berucap?"
"Bukan seperti itu, Tuan, Saya hanya ingin memastikan bahwa anda selamat sampai kamar."
"Memangnya apa yang akan terjadi di rumahku? kau ini ada-ada saja!! Cepatlah sana!! Besok kau harus mengantar Bianca pagi-pagi sekali."
"Baiklah, Tuan.. Selamat beristirahat." James kemudian menunduk dan menganggukkan kepala sebentar.
"Kau juga."
Kemudian James pergi dari hadapan Alvino, dan Alvino melanjutkan langkah kakinya menuju kamar utama. Namun saat akan menuju kamar utama, Alvino harus melewati kamar Sam terlebih dahulu. Membuat Alvino tiba-tiba menghentikan langkah. Sejenak Alvino terdiam, dan sejurus kemudian tangan Alvino membuka pintu itu.
Krekk! Pintu terbuka.
Alvino mengedarkan pandangannya di ruangan itu, terlihat Sam sudah tertidur pulas di atas ranjang, sementara Alice, gadis Itu tampak tertidur di atas sofa besar yang ada disana.
Alvino kemudian berniat untuk masuk ke dalam ruangan itu, ingin melihat Sam dan juga Alice dari jarak dekat. Namun saat kakinya akan dilangkahkan tiba-tiba ada suara seseorang yang menghentikan Alvino.
"Al.. kau sudah pulang?"
"Mami.."