
Alvino sudah kembali dari tugas pekerjaannya di luar negeri, namun kali ini lelaki itu pulang tanpa memberitahukan siapapun termasuk keluarganya. Alvino sengaja ingin diam-diam dan merahasiakannya, lelaki itu seperti ingin menyelidiki sesuatu.
"Tuan Sam mendatangi apartemennya." Sebuah laporan langsung masuk kedalam ponsel pribadi Alvino. Sebuah penelusuran rahasia itu kembali menunjukkan pergerakan setelah satu bulan sunyi senyap dan berjalan sebagaimana mestinya.
"Sam! untuk apa kau kembali ke apartemennya? apa kau menemui Alice dan merayu gadis itu lagi?" Alvino geram sendiri sambil meremat ponsel itu. Apapun yang menyangkut Alice selalu mencuri perhatian dirinya.
Kenapa kabar itu datang disaat Alvino sedang merasa gundah. Perasaan Lelaki itu sedang tidak tenang saat ini, selalu ada yang mengganjal dihatinya. Entah apa. Alvino sendiri tidak pernah bisa mendeskripsikan. "Rahasiakan kepulangan ku, termasuk kepada James!" Titah Alvino kepada para pengawal yang berdiri setia dibelakangnya. Dan sedetik kemudian para pengawal itu mengangguk patuh mengiyakan perintah Alvino. "Siapkan rumah lama, aku akan pulang kesana."
"Baik Tuan." Lagi-lagi pengawal itu mengangguk patuh.
Disaat gusar dan gelisah, Alvino memang selalu mendatangi rumah lama itu. Tempat itu adalah tempatnya merenung sambil kembali mengingat masa kecilnya dengan barang-barang dimasa lalu. Alvino yang tegas dan berkharisma akan menjadi Alvino yang tidak berdaya saat memasuki tempat itu, namun saat keluar dari sana, Alvino justru akan mendapatkan kekuatan lebih.
Sudah dirumah lama~
Alvino menatap potret-potret lama yang menempel di rumah lama itu, potret-potret saat dirinya masih kanak-kanak. Tidak ada yang pernah masuk kedalam sana, kecuali petugas kebersihan yang disewa khusus olehnya. Para pengawal sekalipun belum pernah memasuki rumah itu, mereka hanya bisa menjaga Alvino dari luar.
"Eve.." Alvino menatap gadis kecil yang sedang tertawa disampingnya, gadis itu terlihat sangat manis sekali. Gadis yang masih berusaha Alvino cari disetiap sudut dunia, entah hidup atau mati, entah dimana.. Alvino belum menemukan titik terang.
"Papi." Alvino juga mengusap potret Alfian___ayahnya. Lelaki yang hampir tidak pernah ia temui sejak beranjak dewasa, mereka tidak pernah bertemu atau bahkan berkomunikasi. Apalagi saat Ken mulai membatasi hubungan antara dirinya dengan sang ayah.
Alvino kemudian menatap potret Chyntia___Istri kedua Alfian___Ibu kandung Evelyn___Ibu tirinya. Meskipun tidak terlalu mengenalnya, tapi wanita itu yang mewariskan mata indah untuk Evelyn kecil.
Hah~ Dimana kalian semua?
"Kau pasti sudah sebesar Fam sekarang, aku harap kau baik-baik saja dimana pun kau berada. Semoga suatu saat kita bisa bertemu dan aku bisa menyayangi mu seperti aku menyayangi Fam dan Sam." Alvino memeluk foto itu dan tanpa sadar lelaki itu terlelap dengan rasa lelahnya melawan diri sendiri. Melawan rasa rindunya kepada sang ayah dan adik tirinya, melawan hati yang mendebatkan Alice dan juga Bianca.
Bianca..
Gadis manis yang Alvino kagumi semenjak ia dan Bianca memasuki fakultas yang sama. Gadis manis yang digilai para lelaki dan gadis yang dulu angkuh itu bahkan menyandang gelar wanita populer.
Alvino yang fokus pada studi nya tidak terlalu memperdalam rasa kagum itu, ia hanya menganggap hal semacam itu adalah wajar karena ia adalah lelaki normal. Lagipula saat ia masih menuntut ilmu, Alvino merahasiakan identitasnya sebagai putra Lucatu. Dan segalanya berjalan biasa saja, hingga tahun berikutnya mereka terpisah karena Bianca menghilang tanpa jejak.
Entah takdir atau suatu kebetulan, lalu mereka kembali bertemu saat pesta kecil yang diadakan oleh James untuknya. Alvino kembali menemui gadis yang ia kagumi selama di fakultas. Sebagai seorang tamu dan wanita penghibur. Rasa kagum itu kemudian dibalut rasa bersalah ketika ia mabuk dan merenggut mahkota Bianca, lalu tanpa persiapan Alvino meminta Bianca menjadi kekasihnya untuk permintaan maaf atas kejadian itu.
Sementara Alice..
Bagi Alvino gadis itu berbeda, Gadis berperawakan mungil dan masih sangat muda tapi sangatlah dewasa. Gaya Alice saat menuturkan dan menyikapi sesuatu sangat berbeda dengen wanita lain, atau dengan gadis seusia_nya. Makan malam tidak sengaja itu membuat hati Alvino berdebar untuk Alice, apalagi dengan frekuensi bertemu yang sangat intens setiap hari saat gadis itu selalu menemani Sam. Rasa itu muncul tanpa bisa ditahan, tanpa dipaksa dan hadir begitu saja. Meskipun ia tahu bahwa Alice adalah kekasih Sam, Meskipun ia tahu bahwa ia memiliki Bianca. Alvino tidak ingin menyakiti Bianca, namun tetap tidak bisa membohongi perasaannya terhadap Alice.
Satu jam kemudian~
"Tuan Sam masih didalam apartemen itu, tapi Nona Alice terlihat pergi dengan membawa koper." Sebuah laporan kembali masuk kedalam ponsel pribadi Alvino. Lelaki itu menatap layar ponselnya cukup lama, belum mengambil tindakan untuk memberikan perintah selanjutnya.
"Ikuti dan jangan sampai mencurigakan."
Huh~