
“Sialan!” pemuda itu terus saja mengutuk gadis telanjang yang sedang dia hujam dengan penuh nafsu yang membabi buta. Namun tetap saja, dia menolak untuk menikmati. Dia menganggap ini hanyalah penyaluran hasrat semata.
“Aaah..” Suara gadis itu terus saja mengalun seiring tusukan yang dia terima. Meskipun pria dihadapannya tidak menatapnya dengan cinta, tapi demi apapun gadis itu sangat menikmati. Karena bisa tidur dengan seorang lelaki gagah seperti Sam adalah suatu kebanggaan. Andai saja diizinkan, mungkin dia akan dengan sengaja menaruh kamera untuk merekam kejadian menyenangkan itu.
“Aaawh.” Tanpa tahu malu suara serupa lolos juga dari mulut Sam. Meskipun berulang kali menolak untuk menikmati kenikmatan itu, namun akhirnya dia tidak bisa menjadi munafik atas hal yang menjadi candu baginya.
“Yes, baby. Aaahh..” Gadis itu tidak melewatkan kesempatan emas. Menggigit bibir bawah dengan paras yang dibuat se-sexy dan se-hot versi dirinya. Sebisa mungkin tampil menjadi yang terbaik dan berharap Sam tidak akan mudah melupakan apa yang kini sedang mereka berdua lakukan.
Menjijikan! Kenapa memasang wajah seperti itu! Aku tidak kan tergoda sedikitpun.
Cih! Lalu untuk apa kau melakukannya Sam! Dasar egois!
Sam buru-buru membuat gerakan cepat, dengan segera ingin mengakhiri pergulatan tersebut. Entah kenapa setelah berbulan-bulan kejadian itu, dia belum juga bisa sepenuhnya melupakan. Harusnya dengan puluhan wanita yang rela memberikan ************ untuknya, sudah cukup menjadi obat untuk kesenangan. Tapi tidak. Pikiran dan hatinya malah terus resah dan gelisah.
Apa itu karena cinta?
TIDAK! Persetan dengan cinta. Harga diri Sam rasanya sudah diinjak dengan sangat memalukan ketika dunia tahu bahwa dia menjalin hubungan bertahun-tahun dengan saudara tirinya. Laura. Laura yang ternyata Evelyn adik satu ayah dengan Alvino.
Dan satu lagi, Sam tidak bisa memungkiri bahwa seringkali dia merindukan satu wanita. Wanita yang hanya dia yang bisa membuatnya benar-benar hidup. Wanita yang bisa mengimbangi candunya dengan rasa, memainkan peran dengan sangat sempurna.
Kau merindukan Alice, Sam!
“AAaaaahh..” pemuda tampan itu mengerang panjang menyudahi aktivitasnya. Berada diatas wanita telanjang yang sedang memberinya kenikmatan ternyata tak lantas membuat ingatan dan hatinya baik-baik saja. “Kau boleh pergi.” Tambahnya dengan nafas yang masih terengah.
“Hah?” wanita itu menoleh, memastikan bahwa dia hanya salah dengar. Harusnya Sam memeluknya dan mengecup lembut, juga memberikan ucapan terimakasih dan kata-kata manis lainnya. Bukan malah mengusirnya!
“Kau tidak mendengarnya? Aku bilang kau boleh keluar.” Ucap Sam tanpa pamrih, lelaki itu bahkan menunjuk pintu dengan sorotan matanya tanpa menatap lagi gadis di sampingnya.
“Sam.. kaaau..”
“Keluar!” Cih, bahkan tidak memberikan kesempatan kepada wanita itu untuk menyelesaikan kalimatnya.
Dengan kesal dan tangan mengepal gadis itu memungut pakaian miliknya yang berhamburan dilantai. Mengenakannya dan menatap Sam, masih berharap lelaki itu menahannya untuk pergi dari sana.
Tapi tidak, Sam justru memejamkan matranya.
SIALAN!!!
\~\~\~\~
Di Sebuah kafe..
“Halo.. Akhirnya kau mengangkat telponku. Kenapa kau…”
“Ada apa nona?” Buru-buru James memotong kalimat seorang gadis di seberang sana. Sudah beberapa hari dia terus saja mengganggu notifikasi dipanggilan milik James.
“James aku hanya ingin bertemu kakakku, itu saja. Kenapa kau terkesan menghalangiku? bukankah mister Ken juga mengizinkan kami untuk sesekali bertemu?” Eve membuang nafas berat, berharap kali ini James mau mendengar permintaanya. Sejak kejadian itu, Eve jadi sering merindukan kakaknya. Lebih tepatnya sangat merasa bersalah dan merasa memiliki banyak hutang untuk melindungi kakaknya.
“Nona, kau akan bertemu dengan Tuan Muda jika dia sedang memiliki waktu luang. Selama aku belum menelponmu, artinya Tuan Muda masih sangat sibuk.” Ayolah, sesekali lepaskan aku dari urusan yang tidak terlalu penting untuk Tuan Muda. Apalagi kali ini aku sedang menunggu Rose. Tambahnya dalam hati.
Ken memang mengampuni hidup gadis itu. Namun tentu dengan syarat dan peraturan yang dia buat sedemikian rupa. Masih tetap menerapkan perlindungan untuk keluarganya agar tidak ada lagi celah bagi orang-orang jahat masuk kedalam keluarganya. Selain hidup jauh dari Alvino, gadis itu tidak bisa terhubung dengan Alvino kecuali lewat James. Eve juga tidak bisa datang semena-mena ke tempat Alvino, karena Ken sudah mengerahkan orang-orang untuk memblack list Eve dan ibunya untuk datang ke beberapa tempat.
“Tunggu saja, nona.” James mematikan telpon itu. Akan sangat panjang jika diteruskan. Terlebih Rose yang dia tunggu sudah datang.
“Sayang..” Saling memberikan tangan untuk menggenggam kemudian memberikan sedikit kecupan dipipi. Setelah beberapa waktu menjalin kedekatan, akhirnya mereka sudah mengakui perasaan satu sama lain.
“Apa kau terlalu lama menunggu?” Rose memberi jarak antara mereka, kemudian menatap lelaki yang menghangatkan hatinya itu.
“Tidak, itu hanya perjuangan kecil untukku menemui bunga mawarku.”
Aaaaa.. manis sekali.
James tersenyum, meskipun terkadang bertanya-tanya karena Rose seringkali menghilang entah kemana. Tapi bagaimanapun itu, tidak terbesit bahwa Rose memiliki pria lain dalam hidupnya. Mungkin Rose begitu karena tugas kuliahnya dan juga kesibukan di toko kue milik Bianca.
“Jadi kau belum memesan apapun?” Mengalihkan sambil duduk. Tapi wajahnya masih berseri-seri. James yang terkenal dingin dan garang nyatanya selalu manis bagi Rose.
“Aku menunggumu, sayang.”
“Kalau begitu ayo kita mulai. Aku sudah sangat lapar.”
Dua orang itu kemudian memulai acara kencan mereka. Meskipun tidak terlalu romantis dan melakukannya hanya di sela-sela waktu luang, tapi mereka sudah saling memahami satu sama lain. Mereka berdua menikmati itu dan menjaga agar cinta mereka bisa tetap tumbuh. Dan layaknya orang berpacaran, mereka berdua menjadi diri mereka masing-masing saat sedang bersama.
Kring..
Di Sela acara makan yang belum selesai, lagi-lagi ponsel James berbunyi. Sebuah keajaiban dunia jika satu hari bisa terlewat tanpa panggilan.
Untuk pertama James abai, dia masih ingin menikmati makanan dan obrolannya dengan Rose. Namun sekali lagi ponsel itu berdering.
Kring..
Awas saja jika panggilan itu berasal dari Evelyn! James bersumpah akan memblokir nomor Eve sebagai pelajaran!
“Kenapa kau diam saja? Ponselmu berdering sejak tadi.” Ujar Rose sambil menatap James dan memasukan satu suapan ke mulutnya.
“Ah iya.. aku hanya…
Awas kau, Eve!
James merogoh saku miliknya, kemudian mengeluarkan benda pipih yang sejak tadi mengganggunya.
“Astaga Tuan Muda!”
Maaf sudah mengutukmu, Tuan.
Bersambung...