
Sore hari~
Bianca baru saja selesai menyusun kue dan roti-roti kedalam etalase. Gadis itu sedikit kurang fokus karena terlalu lelah dan kurang istirahat. Kepalanya terasa sedikit pusing, namun tetap memaksakan diri untuk datang ke toko. Karena meskipun punya pegawai, ia ingin memiliki kesibukan daripada hanya berdiam diri di apartemennya.
"James, bukannya kemarin kau menjemput Alvino pulang? tapi ponsel dia belum aktif juga. Apa dia baik-baik saja?" Bianca menghampiri orang yang sebenarnya paling ingin ia hindari. Tapi keadaan selalu saja membuat dirinya membutuhkan lelaki culas itu.
"Bawakan aku pastry dan hot capuccino." James malah menyapa salah satu pelayan untuk membawakannya kudapan. Enggan menjawab pertanyaan Bianca karena membahas Alvino malah akan semakin membuatnya kesal.
"James apa kau tuli?" Bianca menekan kedua buah bibirnya kedalam, menahan rasa sebalnya yang selalu saja diabaikan.
"Apa? kau selalu saja menggangguku!" James menatap malas, kemudian mengalihkan pandangannya dan berjalan menuju meja sudut yang memandang ke arah jalanan. Dengan menghitung mobil yang berlalu lalang mungkin akan membuat harinya lebih berarti ketimbang meladeni Bianca, pikirnya. James bahkan sempat berpikir untuk membuat gadis itu jatuh cinta kepada lelaki lain, agar Bianca tidak lagi terikat dengan Alvino. Agar ia tidak lagi harus mengurusi Bianca. Sejak kehadiran Bianca, pekerjaan James jadi tidak ada artinya sama sekali.
"Aku bossnya disini, kalo kau tidak suka kepada ku kenapa tidak pergi saja?" Bianca menatap James yang sudah menjauh darinya, jengah dengan bagaimana cara lelaki itu bersikap. Padahal bisa dibilang James adalah bawahannya, karena ia berada disini karena ia diperintahkan oleh Alvino___Bos James___Kekasihnya.
Dari kejauhan James memandang Bianca cukup tajam. Gadis itu selalu saja mengusir dirinya, jika tidak mengusir yaaa mengancam melapor Alvino. James kemudian bangun dan menghampiri Bianca lagi, jarak mereka bahkan sampai sedekat itu. "Kau benar! lagi pula untuk apa aku disini? tuan Muda tidak akan tahu aku menjagamu atau tidak. Kenapa aku baru sadar hari ini yaaa?"
"Bagus. Pergilah! Lagipula kau tidak berguna disini!" Bianca menghardik James telak, tapi lelaki itu masih saja datar tanpa merubah airmukanya. Lelaki itu mengedikan sebelah bahunya dengan seringai menyebalkan, kemudian melangkah menuju pintu keluar tanpa permisi lagi.
Brugghh!! Baru lima langkah James mengayunkan kakinya, tiba-tiba saja terdengar sesuatu terjatuh. Untuk sejenak James tidak menoleh ataupun menghiraukan, hingga akhirnya beberapa orang pelayan berlarian menuju belakang punggungnya.
Bianca. Itu Bianca. Dia pingsan!!!
"Tuan, tolonglah.. Nona Bianca pingsan!!" Teriak salahseorang pelayan kepada James yang sama sekali tidak menghiraukan kejadian itu. "Tuan.." pelayan itu menghampiri James dan menghentikan James.
"Ada apa?" James menatap malas.
"Nona Bianca pingsan, tolong bawa dia kerumah sakit."
"Pingsan?" James menoleh dan benar saja Bianca sudah terkulai dilantai sambil dikerumuni oleh para pelayan yang berkerja disana. "Astaga! Apa lagi ini?" James kemudian setengah berlari menuju Bianca, mengusir orang-orang untuk menjauh kemudian mengecek nadi gadis itu.
Syukurlah.. Masih berdenyut. Artinya dia pingsan, bukan mati! James kemudian membopong tubuh Bianca. Membawanya kedalam mobil dengan gaya bridal style. Orang-orang yang melihat mereka pasti mengira mereka adalah sepasang kekasih yang romantis.
Sudah mengusirku tapi kau masih saja merepotkan! James meletakkan tubuh pingsan Bianca dikursi samping kemudi, memasang seat belt kemudian memposisikan gadis itu dengan benar. James lalu menutup pintu itu dan mengitari mobil untuk menuju kursi kemudinya. James akan membawa Bianca kerumah sakit.
~
Alvino tengah bersiap untuk menjemput Alice di anak perusahaan Lucatu, lelaki itu nampak sedikit bingung dan kesulitan untuk menemukan gaya baru sebagai seorang Pierce. Biasanya pakaian yang ia gunakan adalah setelah jas, atau kaus polos bermerk. Tapi kali ini, Alvino harus bergaya layaknya anak muda sungguhan. Alvino harus benar-benar berbeda dan menjadi Pierce sesungguhnya.
"Haha.. Kenapa aku jadi seperti ini?" Alvino menatap dirinya di pantulan cermin. Penampilannya kali ini sungguh-sungguh berbeda drastis dari Alvino yang yang gagah dan rupawan. Tapi lumayanlah, lelaki itu masih bisa dibilang cukup tampan. Hanya kacamata yang membuat ketampanannya sedikit berkurang.
📤 "Aku akan menjemputmu sekarang, apa kau sudah siap?" Sebelum berangkat Alvino menyempatkan diri untuk mengirim pesan singkat kepada Alice. Ancang-ancang takutnya gadis itu belum siap untuk pertemuan kedua mereka.
📥 "Tentu, 10 menit lagi aku keluar dari kantor."
📤 "Baiklah, aku berangkat kesana sekarang. Biar aku yang menunggu mu :)."
"Iya Tuan?" Pengawal itu menunduk patuh bahkan sebelum Alvino memberikan perintah.
"Dimana motor yang aku pinta?" Alvino mengedarkan pandangannya, tetapi ia tidak menemukan apa yang ia pinta sejak beberapa jam yang lalu.
"Apa Anda yakin akan mengendarai motor, Tuan? ini sangat berbahaya."
"Sudahlah, aku bukan pria manja yang harus selalu dikhawatirkan. Dimana motor itu?"
"Tapi Tuan." pengawal itu masih mecoba membantah keinginan Tuan Mudanya, mendebat hal berbahaya yang akan Tuan Mudanya lakukan.
Alvino kemudian membulatkan matanya, sebal dengan perintahnya yang selalu saja di debat.
Pengawal itu kemudian mengalah, tidak punya tenaga lagi untuk membantah dengan satu patah kata pun. Pengawal itu kemudian memberikan apa yang Alvino minta, sebuah motor Legendary British Vintage.
Seperti namanya, motor itu memang memiliki desain yang vintage atau klasik. Sebuah motor yang mahal bukan karena performa ataupun tekhnologi mesinnya yang luar biasa, sebuah motor mahal dengan history sebagai motor antik jaman dulu. Alvino kemudian menyalakan mesin motor tersebut, mengambil helm lalu menggunakannya. Ia juga tidak lupa membawa helm lain untuk Alice nantinya. Meskipun jarang menggunakan motor tapi ia pernah menggunakan kendaraan tersebut, dan Alvino ingin ada suasana lain saat bersama Alice di atas kuda besi itu.
Sudah berada diparkiran anak perusahaan Lucatu~
Alvino melirik ponsel khusus untuk menghubungi Alice sambil sesekali menatap pintu perusahaan yang tidak juga terbuka. Alvino menunggu Alice dengan sabar hingga akhirnya Alice keluar dari gedung itu.
"Alice.." Alvino memanggil Alice yang sepertinya tidak mengenali dirinya karena sedang menggunakan helm, Alvino melambaikan tangan dan meminta gadis itu untuk mendekat.
Alice kemudian mendekatkan diri kepada lelaki yang menyahut namanya sambil memicingkan matanya mencoba mengenali lelaki berhelm tersebut.
"Ini aku, Pierce." Alvino membuka helmnya dengan hati-hati, merapikan rambutnya menjadi gaya seorang Pierce.
"Owh.. Hai Pierce, maaf membuat mu menunggu." Alice langsung melemparkan senyumannya ketika mengetahui orang yang tadi menyahuti nya adalah Pierce.
"Bukan masalah." Alvino ikut-ikutan melempar senyuman. "Aku hanya bisa menjemputmu dengan motorku ini, apa kau keberatan?"
"Tentu tidak, Pierce. Justru aku ingin tahu bagaimana rasanya menaiki motor." Alice tersenyum manis lagi.
"Benarkah? apa kau belum pernah naik motor sebelumnya?" Alvino menatap Alice dan sedetik kemudian gadis itu menggelengkan kepalanya. "Ooo come' on! jangan melewatkan pengalaman pertama mu." Alvino kemudian memberikan helm cadangan kepada Alice, membantu gadis itu memakainya dengan hati-hati. Dan tanpa sengaja di adegan itu mereka saling menatap satu sama lain, cukup dalam dan sulit diartikan.
"Sudah, helm mu sudah terpasang dengan benar." Alvino melepaskan tangannya dari tali helm yang digunakan Alice. Canggung karena kedapatan menatap Alice cukup intens.
"Terimakasih, tapi sebelum ke rumah sakit aku ingin membeli sesuatu untuk temanku. Apa kau mau mengantar ku kesana?"
"Tentu saja. Ayo." Alvino kemudian mempersiapkan motornya untuk di dinaiki oleh Alice. Memberitahukan bagaimana caranya untuk naik dan dimana Alice harus memijakkan kakinya di atas kuda besi itu.
Wohoo~ Mereka berdua membelah jalanan kota di atas kuda besi itu. Saling tertawa kecil karena itu adalah pengalaman pertama mereka.