
PEGANGIN JANTUNG, TAKUTNYA COPOT!
Bianca sedang beristirahat, bukan hanya Alvino yang melewati hari berat tapi dirinya juga. Sama halnya dengan Alvino, hari ini emosi Bianca pun dikuras habis. Tubuh yang kini berbadan dua itu minta diistirahatkan, menuntut Bianca merebahkan diri untuk memulihkan tenaganya.
Sudah merebahkan diri dan mencari posisi paling nyaman, tetapi mata itu tidak juga bisa terpejam. Pikiran dan hati Bianca masih tertuju kepada Alvino, jiwanya seakan pergi mengikuti kemana lelaki itu melangkah. “Aku harap kau bisa kuat menghadapi hari ini, aku harap keberadaan dia bisa mengobati luka yang aku ciptakan untukmu.” Gumamnya sendiri sambil menyentuh perut yang masih rata.
Rasa kantuk mulai menyeruak, membuat mata itu terasa berat dan mengandung lem. Ya. Akhirnya mata itu bisa diajak berkompromi, mau beristirahat bersama tubuh, hati dan juga pikiran yang sangat lelah. Bianca akhirnya bisa mengistirahatkan tubuhnya.
Satu Jam berlalu..
Gadis yang tengah berbadan dua itu masih terpejam, masih mengistirahatkan diri dan berharap mendapatkan tidur yang berkualitas. Berharap saat ia bangun dan membuka mata, energinya sudah kembali pulih dan tentunya Alvino juga sudah kembali kesana.
Ding!! pintu flatnya berbunyi.
Ding!! Ding!! ditekan lagi dengan tidak sabar.
Ding!! Berulang kali ditekan. Menimbulkan bunyi yang akhirnya menyadarkan Bianca dari tidurnya yang sama sekali belum cukup.
“Hoam.” Mata Bianca bahkan masih lengket, enggan untuk beranjak dari posisi nyaman. Namun lagi dan lagi pintu itu berbunyi. Menandakan ada orang di balik pintu. “Bangun Bee, siapa tahu itu Alvino.” Gumamnya menyemangati dirinya sendiri.
Terpaksa. Terpaksa Bianca bangun dan membawa tubuh yang masih lelah untuk menuju pintu. Melihat siapa sebenarnya yang datang kesana. Masih menggosok mata dan berjalan dengan malas dan gontai akhirnya Bianca sampai di depan pintu. Namun sebelum membuka nya Bianca menyempatkan diri dulu untuk mengintip siapa orang dibalik pintu yang masih saja menekan tombol.
“Eve.” Bianca tertegun. Bukan Alvino yang datang, tapi Eve. Seketika Bianca membulatkan mata dan berusaha membuat dirinya sadar sepenuhnya. Menyegarkan diri sebisa mungkin meskipun rasa kantuk masih menguasai.
Gulp! Bianca menelan ludahnya sendiri.
“Buka pintunya!” Laura berteriak sambil menekan-nekan tombol itu berulang kali. Semakin marah saat tahu Bianca jelas-jelas ada di dalam namun tidak membuka pintu untuknya.
“Apa yang kau inginkan?” Takut-takut Bianca menyahut. Tidak berani jika harus langsung membukanya. Takut jika gadis itu marah ketika tahu bahwa dia sudah membongkar rahasia kepada Alvino.
“Sialan. Dia malah ingin bermain-main.” ucap Laura dalam hati. Gadis itu benar-benar mewarisi gen ayahnya. Psycho, memiliki kepribadian ganda. Bahkan apa yang dia lalui sama seperti ayahnya. Alfian yang menjadi Kevin dan sekarang Evelyn yang menjadi Laura.
Siasat. Laura harus mengubah siasat. Setidaknya sampai Bianca membuka pintu dan membiarkan dirinya masuk kedalam. “Sam sudah tahu segalanya, aku gagal.” Hiks. Laura menangis dengan wajah sedih dan air mata yang di buat-buat. “Tolong aku, aku takut.”
Detik pertama Bianca terdiam, benarkah apa yang dikatakan Evelyn itu. Tapi mana mungkin dia berbohong, jelas-jelas dia menangis sama seperti saat dia akan mengakhiri hidupnya. Dilema. Antara kasihan dan takut juga.
“Yasudah jika kau tidak mau menerimaku, aku akan pulang ke rumah ibu.” Ah sialan. Kenapa sulit sekali. Ayo Bianca tahan aku. Biarkan aku masuk dan mencekikmu sekarang juga. Laura berakting seolah-olah ia memang akan pergi. Padahal dalam hatinya ia tidak ingin. Itu hanyalah sebuah trik.
Krek!! Pintu itu akhirnya dibuka. Bianca tidak mungkin membiarkan Evelyn pulang dan mengadu. Lebih baik dia meluruskan dulu semuanya, memberi arahan lagi kepada Evelyn agar gadis itu menyudahi niat balas dendamnya.
Sejurus kemudian Evelyn menarik ujung senyumnya. Senang karena Bianca dengan mudah tertipu olehnya. Membuat ia bisa masuk begitu saja. Evelyn merengkuh tubuh Bianca, membuat sandiwara itu agar semakin menjadi. Agar ia terlihat benar-benar sedang bersedih.
“Masuklah dulu, jangan menangis.” Bianca mengelus Evelyn seperti kebiasaanya. Sebagai seorang yang sebatang kara, Bianca memang menganggap Evelyn sebagai adiknya. Meskipun kenyataanya Evelyn tidak menganggapnya begitu apalagi setelah mengetahui Bianca bermain gila di belakangnya. Bermain gila dengan memacari kakaknya, bermain gila dengan hampir menghancurkan rencananya yang kini benar-benar hancur.
“Tenanglah.. Minum dulu.” Bianca melepaskan pelukan itu, kemudian berlalu menuju lemari pendingin untuk mengambilkan minum untuk Evelyn.
Laura yang masih dalam sandiwaranya menurut saja, gadis itu duduk di sofa seolah amarahnya sudah terkendali.
“Jangan berpura-pura baik!” Evelyn menepis tangan Bianca yang memberikannya air. Mode aslinya sudah keluar dan tidak bisa ditutupi lagi. “Kau adalah musuh dalam selimut. Apa yang sebenarnya kau inginkan?”
“Tenang Eve, tidak bisakah kau berbicara dengan baik?”
“Aku bukan orang baik, dan mana mungkin aku bisa baik kepada penghianat sepertimu!”
“Sudahlah, akhiri saja semuanya. Kakakmu sudah cukup terpukul mengetahui kematian ayahnya. Dia mencarimu Eve, dia sangat menyayangimu. Kau hanya tidak tahu bahwa selama ini dia mencarimu.” Bianca mencoba berujar agar gemuruh Evelyn mereda. Memang faktanya seperti itu kan. Alvino memang mencari Eve dan keberadaan ayahnya selama ini.
“Jangan membual! Apa kini harta Lucatu juga menggiurkan bagimu? Apa sekarang kau mirip Ny.Keely yang ingin memiliki harta itu? Jangan bermimpi Bianca! Sadarlah, mereka itu penjahat!”
“Kau salah mengerti Eve, Kakakmu itu orang baik.”
“Jangan mencuci otakku! Sebanyak apapun kau memuji dia, dia tetaplah seorang penjahat dimataku. Aku bahkan tidak ingin memanggilnya sebagai kakakku!”
Entahlah. Entah bagaimana lagi Bianca harus menyadarkan Evelyn. Hati gadis itu benar-benar sudah diselimuti dendam yang mendarah daging.
“Aku sudah menceritakan soal dirimu yang bertransformasi menjadi Laura, aku sudah mengatakan bahwa kau adalah adik yang selama ini Alvino cari. Percayalah Eve, kakakmu adalah orang baik.” Bianca menatap nanar. Berharap Evelyn akan mengerti dan percaya dengan apa yang ia ucapkan.
Plak!! Satu tamparan Bianca dapatkan. Membuat gadis itu meringis kesakitan.
“Apa kau puas sudah menghancurkan rencanaku?”
“Berhenti bersikap seolah kau bisa melakukan apapun sesukamu terhadap ku!” Bianca marah. Mendorong dengan refleks hingga Evelyn jatuh ke atas sofa. Sudah cukup selama ini ia ditindas dan selalu mengutamakan perasaan Evelyn. Padahal jika harus di ulas lagi, Bianca juga sama punya beban mental tersendiri.
“Kau yang sejak awal mengibarkan bendera peperangan, kau yang lebih dulu mengganggu ku!” Plak!! Satu tamparan lagi, kali ini lebih keras.
Dua orang gadis itu saling bertikai. Berkelahi dengan gaya khas wanita. Saling menjambak dan juga berteriak, saling menampar saat ada kesempatan. Bianca yang sedang lemah tentu saja kalah, gadis itu ditindih oleh Evelyn dan dipukul dengan membabi buta. Evelyn bahkan duduk tepat di atas perutnya. Menyebabkan rasa sakit yang cukup intens.
“Jangan harap aku akan membiarkanmu hidup dalam damai, kau menghancurkan ku dan tentu saja kau juga harus hancur!”
Aaaaaah~ Bianca sudah tidak tahan lagi. Tidak bisa mengelak dari serangan-serangan yang diluncurkan oleh Evelyn. Lalu sedetik kemudian tangan Bianca refleks mengambil sesuatu yang ada di sampingnya untuk memukul Evelyn agar dia berhenti.
Bugh!! Bianca menghantam Evelyn tepat di kepalanya. Membuat gadis itu tiba-tiba terdiam dan menjatuhkan diri ke atas tubuhnya dengan lunglai.
“Astaga! Apa yang telah aku lakukan? Eve?” Bianca mengguncang-guncang tubuh lawan tengkarnya yang kini malah menjatuhkan diri di atas tubuhnya. Apa pukulan itu begitu keras hingga menyebabkan Eve langsung pingsan. “Darah?”
Don’t judge me. Ikutin aja alurnya~