
Alvino masih berada di kuburan ayahnya. Sangat berantakan dan belum mau beranjak dari sana. Lelaki itu mirip sekali seperti orang gila meskipun sedang menggunakan setelan jas mahal. Yaa. Menangis dan terus saja mengelus nisan. Hanya itu yang Alvino lakukan sejak tadi. Tidak ada yang mengganggunya atau membuatnya berhenti dari kekacauan itu.
“Nino..” Suara itu begitu lembut. Membuat Alvino menajamkan pendengarannya. Suara dari surga kah itu?
“Nino.. Ini aku. Masih ingatkah kau kepadaku?” Suara lembut itu berujar lagi, membuat Alvino langsung mengusap kasar wajahnya untuk menghapus air mata, kemudian menoleh untuk mencari arah sumber suara.
Eh.. Dia.. Itukan ibunya Eve.
“Kau terlihat sangat berantakan sekali, nak.” Cynthia berujar lagi sambil mengusap bahu Alvino yang masih berlutut dengan lembut. “Apa kabarmu?”
“Ibu..” Alvino menatap tidak percaya melihat wanita yang pernah berkali-kali menemani dirinya dan Eve kecil ketika mereka bermain dulu.
“Kau tidak melupakanku ternyata.” Cynthia tersenyum manis kepada lelaki muda yang baik hati itu. Tidak menyangka Alvino masih bisa berbuat baik, meskipun pasti Alvino sudah tahu tentang apa yang terjadi di masa lalu. Anak muda itu bahkan masih menyebutnya ibu. Sama seperti sebutan saat mereka sesekali bertemu saat Alvino masih menjadi Nino kecil.
Alvino kemudian merapikan diri meskipun jelas-jelas masih tidak bisa menyembunyikan dirinya yang sedang berantakan. Kemudian berbasa-basi dengan Cynthia dan akhirnya pergi dari kuburan Alfian. Cynthia mengajak Alvino untuk berbincang di tempat tinggalnya.
“Jadi selama ini kalian tinggal disini?” Alvino menatap sekeliling rumah yang katanya adalah tempat tinggal Cynthia sekarang. Artinya Evelyn dan Alfian juga tinggal disana kan.
“Kami tinggal disini hampir 5 tahun terakhir. Ayo masuk.” Cynthia mempersilahkan anak madunya itu untuk masuk. Sungguh tidak ada perasaan benci atau apapun lagi, Cynthia benar-benar sudah memaafkan masa lalu dan berdamai dengan hidupnya sendiri. Bagaimanapun melakukan pembelaan diri, tetap saja ia berperan besar dalam kesalahan yang mungkin tidak pernah terampuni.
Alvino masuk. Dan dilihatnya rumah sederhana namun begitu terasa hangat. Banyak sekali foto-foto yang terpajang di dinding ruang tamunya, termasuk foto dirinya dan Evelyn kecil. “Selama ini aku mencari keberadaan kalian, dan ternyata selama ini kalian disini.” Alvino mengusap foto-foto yang terpajang itu, kemudian menatap lama pada sebuah foto yang menunjukan Alfian, dirinya dan Evelyn dalam satu gambar. Kenangan saat mereka bersama.
“Waktu memang begitu cepat berlalu, buktinya kau sudah menjadi pria dewasa sekarang.” Cynthia tersenyum lagi sambil mengambilkan beberapa suguhan untuk tamu yang sangat tidak di sangka akan mau untuk di ajak menginjak gubug deritanya.
“Dimana Evelyn, Bu?” Alvino menoleh dan mendapati Cynthia sedang menuangkan teh hangat dalam dua cangkir.
“Duduklah.. Aku memang sangat ingin bertemu dan mengatakan padamu tentang ini. Ternyata dunia masih mau berbaik hati mempertemukan aku dan dirimu dengan ketidaksengajaan.”
Alvino kemudian duduk, menatap ke arah Cynthia yang sepertinya akan mengatakan hal yang serius.
“Entah darimana aku harus mulai menceritakan ini, yang jelas kau pasti mencari tahu dimana Evelyn bukan. Evelyn sebenarnya ada disekelilingmu, Nak. Ibu tidak bisa menahan dia untuk memuaskan ambisinya membalas penderitaan yang ayahmu derita. Dia begitu sulit dikendalikan.”
“Apa maksudnya? Apa dia memiliki dendam terhadapku?” Alvino semakin menatap intens. Inikah teka-teki terakhir yang harus didapatkan untuk mengakhiri peliknya pencarian Alvino selama ini. Mari kita dengar cerita macam apa yang akan diutarakan versi Cynthia.
“Iya.. Adikmu itu sangat berambisi menghancurkan Lucatu dan hubunganmu dengan mereka. Beban mental sangat memukul batin Evelyn, membuat dia menjadi sulit mengendalikan diri. Aku sudah kehabisan cara untuk mencegahnya.”
Cynthia kemudian mulai menceritakan segalanya. Menceritakan segalanya dari awal, menceritakan bagaimana keluarga kecil itu hidup menderita dengan segala keterbatasan yang mereka miliki di sebuah desa kecil dan juga terpencil. Mereka tidak bisa pergi atau merubah nasib mereka untuk keluar dari sana karena kuasa Ken. Hidup mereka benar-benar dipenuhi derita. Bahkan untuk memberikan kehidupan layak Evelyn pun mereka tidak mampu.
Cynthia juga menceritakan ketika ada seseorang yang mendatangi rumah mereka dan memberikan penawaran agar mereka bisa keluar dari desa terkutuk itu. Melangkahkan hidup untuk lebih baik namun memiliki persyaratan juga. Siapa yang akan melewatkan kesempatan emas seperti itu? Tentu saja mereka menerima. Mereka mau.
Alfian, Chyntia, dan Evelyn akhirnya bisa bernafas lega saat mereka tiba di kota setelah bertahun-tahun hidup di desa terkutuk. Mereka semua mengganti identitas agar kepergian dari desa itu tidak terendus siapapun apalagi Ken. Itu sebabnya nama Evelyn menjadi Laura.
Bertahun-tahun Laura diajarkan bagaimana cara menghadapi hidup di kota, menerapkan kebiasaan baru untuk melanjutkan hidup yang baru. Dan perlahan-lahan Eve mulai mengetahui kenapa hidup mereka bisa semenderita itu di pengasingan. Semua itu disebabkan oleh Monica dan Ken. Mereka yang membuat hidup Eve dan keluarganya jadi menderita. Mereka adalah orang yang tidak punya hati nurani.
Harusnya Alfian lebih mencintai Eve dan Cynthia yang jelas-jelas adalah keluarganya. Yang menemani dalam suka duka perjuangan mereka bertahan hidup. Bukannya malah mengingat para penjahat itu.
Saat Alfian pergi ke hadapan Tuhan disitulah Eve jadi menggila. Selain depresi karena ditinggal mati, tapi hatinya terluka atas apa yang Alfian perbuat di ujung hidupnya. Eve bahkan sudah berniat mengakhiri hidupnya yang penuh derita tiada akhir, tidak tahan untuk menerima derita-derita lain yang berikutnya akan menimpa dirinya dan juga Chyntia.
Hingga akhirnya Bianca dan tantenya menghentikan tindakan Eve, berusaha semaksimal mungkin agar gadis dengan ribuan beban mental itu mengurungkan niatnya. Disitulah semuanya bermula, Eve dan Bianca pergi menuju kota dimana Lucatu berada. Dua gadis yang sama-sama punya beban mental karena masalah yang diciptakan oleh orang tuanya mengadu nasib untuk meluruskan niatnya masing-masing. Eve ingin membalas dendam kepada Alvino dan Lucatu, sementara Bianca ingin membalas dendam kepada orang tuanya dengan menghancurkan hidupnya sendiri.
Cynthia menceritakan segalanya dengan gamblang. Dan alur cerita itu sama seperti apa yang didapatkan oleh Alvino dari Ken dan juga Monica.Yang artinya cerita itu masa lalu itu benar-benar faktanya seperti itu. Dari cerita yang Cynthia uraikan, Alvino bisa menarik benang merah bahwa selama ini Alfian sangat mencintainya. Bisa menyimpulkan juga bahwa Evelyn memiliki dendam dengan alasan yang kuat. Gadis kecil itu hanya perlu disadarkan agar dia bisa menerima garis takdir tuhan yang telah diberikan untuknya.
“Jadi kau benar-benar mengenal Bianca juga?”
“Iya, dia adalah putri kakakku.”
Ahaa.. Cerita itu juga sama seperti yang Bianca ucapkan. Yang artinya mereka semua mengatakan kejujuran.
“Aku harap kau mau memaafkan kelakuan Evelyn yang seperti itu. Juga memaafkan masa lalu kami.” Cynthia menunduk malu. Sudah sangat malu menghadapi Alvino. Melihat Alvino seolah melihat Monica dan kembali membuat Cynthia mengingat dosa-dosanya di masa lalu.
“Mamy dan daddy juga sudah memaafkan masa lalu itu, begitupun aku.” Alvino tersenyum ramah. Akhirnya konflik pelik itu mendapatkan titik terang. Tinggal satu langkah lagi yaitu menyadarkan Evelyn dan membawa gadis itu kembali kepada jalan kebaikan.
“Kalau begitu aku akan menghubungi Sam dulu, siapa tahu Laura sedang bersamanya.” Alvino merogoh saku untuk mengambil ponselnya yang sejak tadi diabaikan. Akan menelpon Sam untuk menanyakan keberadaan Laura. Astaga. Sebenarnya Alvino masih tidak menyangka bahwa adik yang selama ini ia cari adalah Laura. Laura kekasih Sam yang sangat ia benci. Laura gadis tidak baik yang membawa pengaruh buruk untuk Sam. Tapi Alvino bisa menyikapi dengan bijak, apa yang Laura lakukan adalah ada sebabnya. Dan beruntungnya mereka bisa mengetahui lebih dini sebelum Evelyn melakukan sesuatu yang lebih parah. “Astaga! Ternyata ponselku tertinggal di mobil.”
“Kau masih saja seperti Nino kecil yang terkadang lupa menaruh benda-benda penting.” Cynthia tersenyum juga, bagaimanapun mereka pernah menghabiskan waktu bersama saat Alvino kecil dibawa paksa oleh Alfian dulu.
“Biar aku ambil dulu.” Alvino bangun dari tempat duduknya. Namun sedetik kemudian ia duduk kembali. “Tunggu, sepertinya aku melewatkan sesuatu.” Alvino menatap intens ke arah Cynthia. “Siapa orang yang mendatangi rumah kalian dan memberikan penawaran agar kalian bisa keluar dari desa terkutuk itu? dan persyaratan seperti apa yang dimaksud disini?”
Jangan marahin aku dong gais, kalo langsung happy kan tamat ini novel. Sabar ya kalian para pembaca ku, aku berusaha memberikan yang terbaik!~