
James sedang menyiapkan sebuah jet pribadi untuk Alvino pergi menemui mister Ken yang sedang ada urusan di luar kota, entah apa yang sedang dipikirkan oleh Tuan mudanya hingga berani menemui penguasa Lucatu dengan sikap tergesa-gesa. Padahal saat tadi James menelpon Alex, ia mengatakan bahwa mister Ken akan kembali lusa namun Alvino tetap memaksakan kehendaknya untuk menemui Mister ken hari ini juga.
“Tuan apa anda tidak menunggu Mister pulang saja? Tuan tahu betul bukan jika Mister tidak senang diganggu saat sedang ada urusan seperti itu.”
“Ini darurat, aku harus pergi sekarang juga!” Alvino tidak bergeming. Menurutnya ini adalah hal yang sangat penting dan tidak bisa ditunda lagi. Alvino harus segera menemui Ken dan juga Monica untuk meminta penjelasan tentang apa yang ia temukan hari ini.
“Aku harap bukan sesuatu yang serius.” James menatap Alvino yang selalu bersikap tidak biasanya. Lelaki dengan pembawaan kalem dan berkharisma itu lebih sering marah dan berapi-api belakangan ini. Pasti ini semua berhubungan dengan Tuan Alfian yang memakai baju pengawal Lucatu, Tuan Muda pasti sangat ingin tahu tentang itu. Karena selama ini memang minim informasi yang diketahui Alvino tentang ayahnya sendiri.
“Aku harus memecahkan teka-teki tentang adik dan ayahku, aku yakin daddy tau segalanya. Hanya saja mereka menutupi semuanya. Aku harus pergi sekarang juga, dan kau, kau tetaplah disini. Jangan lupa beritahu Bianca bahwa aku pergi.” Alvino menatap James dengan tatapan penuh kebingungan. Sebenarnya Alvino tidak ingin mempertanyakan tentang Alfian dengan cara seperti itu, seumur hidup meskipun tahu bahwa Ken hanyalah ayah sambung, tapi sekalipun Alvino tidak pernah berbuat tidak sopan. Ia sangat menghormati Ken dan menganggap lelaki itu memang ayahnya karena mereka bersama-sama sejak kecil dan Ken pun selalu memperlakukan dirinya sama dengan Fam dan juga Sam.
“Tuan.. Bolehkah saya mengutarakan pendapat saya?” Atasan dan boss yang sudah seperti teman itu saling menatap. Dan Alvino pun mengangguk samar. “Bianca.. Maksud saya Nona Bianca, sepertinya dia tahu sesuatu tentang hal ini. Terlihat saat anda menanyakan sesuatu tentang foto tuan Alfian, dia menyahut seperti ingin menjelaskan sesuatu. Sejak awal saya menaruh kecurigaan terhadap gadis itu dan saya harap anda mengizinkan saya untuk mengintrogasi gadis itu.”
“Bianca..” Alvino mengulang nama gadis itu, dan sejurus kemudian ia pun mengingat saat kejadian yang James ceritakan itu. Benar. Gadis itu sepertinya mengetahui sesuatu. “Lakukan saja, tapi jangan sampai kau menyakiti dia James!”
“Sesuai perintah anda Tuan.” James menunduk patuh.
“Satu lagi, cari tahu juga siapa yang datang ke rumah itu sebelum kita. Aku yakin ada orang yang ingin aku datang kesana dan memberitahukan sebuah clue. Aku mengandalkanmu James.” Alvino menepuk bahu James berulang.
Lalu Alvino pun pergi, meninggalkan James di landasan sendirian. James sangat berharap apapun yang terjadi, itu adalah hal baik untuk Tuan mudanya.
James kemudian mengundurkan diri juga dari tempat itu, ia berniat untuk menemukan Bianca yang sudah ia bawa ke ruang bawah tanah. Setelah mendapat izin dari Alvino, rasanya James tidak punya rasa takut untuk benar-benar mengintrogasi wanita itu.
Di perjalan~
James sudah berada di dalam mobil, namun saat sedang mengemudi tiba-tiba pikirannya berlabuh tentang Rose. Tiba-tiba wajah muram Rose hadir dalam pandangannya, membuat James kebingungan sendiri. Antara menemui Bianca atau Rose terlebih dahulu.
Sepertinya aku harus menemui Nona Rose terlebih dahulu, dia sangat membutuhkan pertolonganku bukan? Tapi… Aku juga harus menemui Bianca untuk meluruskan tentang Alvinio. Astaga!! Kenapa aku jadi bingung seperti ini.
James dilema sendirian.
~
Alvino berkali-kali menatap arloji di tangannya, perjalanan yang hanya memakan waktu lima belas menit itu terasa berjalan sangat lambat sekali. Alvino benar-benar tidak sabar untuk segera bertemu dengan Daddy dan Mamynya.
“Kenapa sangat lama sekali?” Alvino mendesah gundah. Pikiran lelaki muda itu bercabang kesana kemari. Apa yang akan ia katakan untuk memulai pertanyaan tentang ayah kandungnya? dan apa dirinya siap untuk mendengar segala jawaban dari Ken dan Monica nanti? Apapun itu yang jelas Alvino harus menemui dua orang itu. Alvino sangat membutuhkan kejujuran tentang masa lalu orang tuanya. Mengapa mereka begitu kejam memperlakukan Alfian di video itu.
Sudah sampai..
“Beritahu Alex bahwa aku menunggu mereka.” Titah ALvino kepada pengawal yang mengikuti dirinya. Dan sedetik kemudian pengawal itu langsung melakukannya tanpa membantah.
Sepuluh menit kemudian..
“Ninooo…” Monica merentangkan tangannya tatkala mendapati putra sulungnya ada dihadapannya. Sudah sangat rindu setelah hampir dua bulan tidak bertemu. Yaa. Kesibukan dan semenjak Alvino tinggal di kota A memang membuat pertemuan mereka jarang sekali terjadi. Hanya komunikasi yang tidak pernah luput mereka lakukan setiap hari.
“Mamy.” Alvino menerima pelukan itu kemudian mencium pipi kiri dan kanan Monica secara bergantian. Rasa marah itu masih bisa ia redam untuk sementara waktu. “Dimana daddy..” Pertanyaan pertama yang keluar dari lidah yang sebenarnya kelu. Alvino tidak ingin menanyakan hal inti kepada Monica saja, Ken juga harus ada disana.
“Sebentar, daddy akan menyusul. Dia sedang melakukan pertemuan dengan kolega.” Monica tersenyum manis. Meskipun hatinya bertanya-tanya tentang kedatangan Alvino yang tidak seperti biasanya. “Ada apa sayang? Sepertinya kau akan mengatakan sesuatu yang sangat penting.”
“Duduklah.. Kita tunggu daddy terlebih dahulu.”
Di restoran yang sudah dipesan secara privat itu Monica dan Alvino berbasa-basi seputar keseharian mereka sambil menunggu kedatangan Ken disana. Monica juga terlihat santai, ia sibuk menanyakan bagaimana putra-putrinya hidup jauh darinya.
“Dimana Daddy?” Alvino jengah juga berbasa-basi, Ia ingin ayah sambungnya itu segera hadir di tengah-tengah mereka. Alvino sudah tidak bisa bersabar lagi untuk menunggu dan mengetahui segala kebenaran yang selama ini ditutup-tutupi.
“Bersabarlah, daddy pasti kemari dan menemuimu.” Monica menatap putra sulungnya yang cukup gusar. Anak muda itu seperti tidak tenang. “Ada apa Al, kau ingin mengatakan apa kepada daddy?” Setelah cukup berbasa-basi, air muka Monica kini menjadi serius. Tahu bahwa ada sesuatu yang penting yang akan Alvino katakan.
“Baiklah, sebelum daddy datang aku ingin mengajukan pertanyaan untukmu, dan aku harap kau mau jujur untuk menjawabnya.” Alvino menatap Monica dengan air muka serius juga. Satu sama lain sudah saling mengerti bahwa ini bukanlah hal yang main-main. “Apa hubungan papi dengan Lucatu?” Alvino bertanya tanpa mengedipkan matanya. Menatap Monica dengan intens untuk melihat bagaimana ekspresi ibunya.
“Papi..” Monica gugup. Dari mana asal-usul pertanyaan itu. Kenapa tiba-tiba Alvino bertanya hal demikian,
“Alfian Mahendra. Ayahku.. Mamy pasti tahu betul bukan?”
“Ada apa dengan ayahmu Alfian Mahendra?” Suara seorang lelaki tiba-tiba menyahut, dan siapa lagi kalau bukan Ken. Orang yang ditunggu-tunggu itu akhirnya datang juga. Membuat Monica dan Alvino berbarengan menatap Ken. “Apa yang ingin kau tanyakan? Kenapa hanya bertanya kepada Mamy-mu?” Ken duduk disebelah Monica, menatap Alvino yang tadi tatapannya menghardik istrinya.
“Daddy tahu betul bukan apa yang akan ku pertanyakan?”
“Kenapa? Bukankah aku ayahmu?” Ken dan Alvino saling menatap. Setelah puluhan tahun tidak pernah menyinggung soal ini, akhirnya masalah itu muncul juga ke permukaan.
“Mister Ken yang terhormat, Kau memang ayahku juga, Tapi apakah aku boleh mengetahui sejarah tentang Ayahku? Aku sudah tahu bahwa Ayahku bukan menghilang, tapi sebenarnya kau yang mengasingkan dia! Kesalahan seperti apa yang dia lakukan sehingga kau menyiksanya dengan begitu tega?” Kegundahan itu akhirnya diutarakan dengan satu tarikan nafas, meskipun tahu Ken akan marah dengan bagaimana cara ia bertanya, tapi rasa marah karena pemutaran video itu juga tidak bisa Alvino bendung lagi.
“ALVINO!!” Monica menatap putra sulungnya, kenapa dia berbicara lantang dengan tidak sopan seperti itu. “Tidak bisakah kau bertanya dengan baik? Mamy tidak pernah mengajarkan mu untuk menjadi tidak sopan seperti itu!”
Darah memang lebih kental daripada air, sebesar apapun memupuk kekeluargaan tapi tetap saja, ayah biologis Alvino adalah Alfian.
Bersambung~