You Decided

You Decided
Apa



Bianca kaget bukan kepalang ketika mendapati kepala Evelyn berdarah-darah karena mendapatkan pukulan dari vas yang tadi dia ambil dengan sembarang. Lebih parah lagi saat ia juga tidak bisa bangun karena tubuh yang pingsan itu terasa berat. Ditambah perutnya juga sangat sakit sekali.


“Uwh.” Bianca mengaduh dan berusaha sekuat tenaga yang tersisa untuk melepaskan diri dari tumpukan tubuh Eve yang menindihnya. Kenapa rasanya sangat berat sekali. Tidak mungkin kan Eve mati hanya karena kepalanya ia hantam secara spontan.


“Eve..” Bianca mengguncang-guncang tubuh Eve ketika ia sudah berhasil melepaskan diri dan duduk di samping gadis yang langsung tidak bergerak sejak ia pukul itu. “Eve..” Mengguncang-guncang lagi. “Evelyn bangun!” Bianca terus mengguncang tubuh itu. Berharap Eve bangun. “Tidak. Aku tidak mungkin membunuhnya.” Bianca sudah berurai air mata menatap Evelyn yang bersimbah darah dihadapannya.


Sejurus kemudian Bianca segera mengecek denyut nadi Evelyn, dan syukurlah ternyata Eve masih hidup. Tapi luka itu. Luka itu. Bianca harus segera membawa Eve ke rumah sakit. “Aku harus segera menelpon ambulance.” Aaah~ Tapi saat Bianca akan bangun untuk membuat panggilan darurat tiba-tiba perutnya begitu sakit sekali. Sakit bukan main melebihi rasa sakit saat dia akan datang bulan. Tunggu. Tidak ada yang buruk terjadi pada kandungannya kan? Tapi kenapa rasanya sangat sakit sekali.


Aaahh~ Bianca semakin meringis kesakitan ketika rasa sakit itu semakin kuat. Mungkin karena tadi Eve yang menindihnya tanpa ampun. “Tuhan, jangan lakukan sesuatu yang buruk pada bayiku. Aku tidak mau kehilangan dia, terlebih Alvino belum mengetahui tentang ini.” Sakit. Itu benar-benar sakit. Tapi Bianca tidak menyerah, ia masih berusaha untuk mencapai telepon untuk menghubungi kontak darurat. Agar ambulance segera datang untuk membawa Eve dan juga dirinya ke rumah sakit.


Kegaduhan di Apartemen Bianca tentu saja langsung terdengar oleh James. Pihak security langsung mengabari lelaki itu bahwa ada ambulance datang juga para perawat yang bergegas menuju unit milik Bianca yang memang selalu diawasi. Bahkan sampai ada pihak kepolisian karena ternyata saat perawat sampai di unit Bianca, banyak sekali darah bersimbah. Ditambah juga seseorang yang bersimbah darah itu tengah tergeletak tidak berdaya.


“Astaga! Apa yang ku lakukan?” Bianca bergetar sambil menangis memeluk lututnya. Rasa sakit di perutnya sudah ia lupakan. Yang dia khawatirkan hanyalah Evelyn sekarang. Bagaimana keadaan gadis itu. Bianca takut jika luka yang terdapat di kepala Evelyn menjadi masalah yang serius. Bianca hanya bisa diam dan menyaksikan bagaimana orang-orang hilir mudik di dalam apartemennya.


“Apa yang terjadi?” James si manusia robot itu sudah tiba di unit Bianca. Segera menghampiri Bianca yang sedang menangis sambil memeluk lututnya. “Bianca jawab aku!”


“Dia menyerangku James. Dia adalah adik Alvino. Demi Tuhan aku tidak sengaja melakukan itu. Dia yang duluan menyerang dengan membabi buta.” Bibir yang bergetar itu begitu lirih berucap. Tidak kuasa untuk melakukan apapun selain menangis menyesali apa yang sudah terjadi.


“Adik Tuan Muda? Maksudmu dia Evelyn? Bukankah dia Nona Laura.”


“Alvino sudah tahu soal ini, tolong kabari---


“Nona, anda harus ikut kami ke kantor untuk memberikan penjelasan.” Seorang polisi menghampiri Bianca yang belum selesai mengucapkan kalimatnya kepada James.


“Jangan mengganggunya. Aku yang akan mengantar dia, membawa dia ke kantor nanti.” James menghentikan polisi yang ingin segera membawa Bianca saat itu juga.


“Tapi Tuan..”


“Dia sedang terluka. Harusnya dia ke rumah sakit dulu, bukan langsung kau bawa ke kantor!” Suara James mencekat. Meskipun yang dihadapi adalah polisi, tapi uang yang ia miliki tentu lebih berkuasa. Meskipun masih ambigu dengan apa yang sedang terjadi, tapi dia tahu keadaan Bianca sekarang sangat amatlah menyedihkan. Apalagi gadis itu kini tengah mengandung. Bagaimanapun James harus melindungi Bianca dulu, setidaknya sampai Alvino datang.


“Baiklah, kalau begitu mari kita ke rumah sakit sekarang.”


Dengan pengawalan polisi kemudian mereka semua pergi ke rumah sakit. Sedangkan James segera menghubungi Alvino untuk memberitahukan tentang keadaan saat ini. Entah dimana Tuan Mudanya itu berada, bukankah harusnya dia ada di apartemen Bianca. Kenapa pergi tanpa memberitahu apapun kepadanya, apa kini James benar-benar sudah kehilangan posisinya untuk selalu berada disamping Tuan Mudanya. Entahlah. Terkadang James sudah jengah, namun ia tidak akan melanggar sumpah untuk mengabdikan diri mengabdikan diri kepada Lucatu, terutama kepada Alvino yang sudah ia temani sejak remaja.


James mulai menyadari perbedaan sikap Alvinon adalah ketika ia mulai mengenal kehidupan wanita, dan itu semua adalah ulahnya. James yang mengatur itu semua bukan. Meskipun sebenarnya bukan seperti itu yang dia inginkan.


Sudah di rumah sakit..


Evelyn di larikan ke unit gawat darurat untuk mendapatkan perawatan intensif, begitupun Bianca. Gadis itu tiba-tiba sangat lemah ketika masih di dalam perjalanan. Darah segar tiba-tiba saja mengalir di kakinya. Entah apa yang terjadi.


Dua orang wanita itu masih mendapatkan perawatan, sementara James masih saja sibuk menghubungi Alvino. Lelaki itu tidak bisa dihubungi padahal James menghubunginya puluhan kali. Tidak ada bidy yang tahu kemana Tuan Muda itu pergi, membuat James jadi sangat khawatir di tengah kondisi mendebarkan ini. “Tuan Muda, dimana dirimu berada? Kenapa sulit sekali dihubungi!” James masih sabar menempelkan ponsel di telinganya. Berharap panggilan yang ia lakukan berulang kali itu bisa terhubung.


Sudah lebih dari 30 menit sejak dua wanita itu mendapatkan pemeriksaan dan perawatan intensive, namun tidak ada perkembangan juga. Entah soal hasil pemeriksaan itu sendiri atau tentang Alvino yang masih sulit sekali dihubungi.


“Tuan, Nona Bianca berteriak dan menggila di dalam!” Seorang perawat menghampiri James dengan tergesa-gesa. Memberitahukan situasi kacau yang terjadi di dalam ruangan.


“Aaaaaaaaa!!!” Bianca berteriak sekencang mungkin sambil meremas besi brankar disampingnya. Berderai air mata sambil menahan rasa sakit yang teramat. bukan hanya fisiknya yang terluka tapi hatinya juga.


“Apa yang terjadi?” James yang sudah sampai ditempat Bianca segera menghampiri, menatap tegas ketika pemandangan yang ia saksikan begitu kacau. Ada apa dengan Bianca?


“Tuan, Gadis itu hamil. tapi hari ini dia kehilangan bayinya.”


A P A ?!


“Aaaaaaa!! Kenapa harus bayiku yang terluka!!” Bianca semakin berteriak dan menangis tidak karuan. Kenapa harus seperti ini, kenapa harus kehilangan bayi itu padahal Alvino belum mengetahui keberadaan benih cinta itu. “Aaaaa!!! Lebih baik aku mati bersama bayiku!”


“Bianca! Tenanglah..” James salah tingkah dan tidak tahu harus bagaimana menghadapi situasi itu. Benar-benar gusar dan kehilangan akal untuk berpikir. Keadaan itu begitu mendadak dan sangat mengejutkan. Diluar dugaan.


“Tenang? Kau bilang aku harus tenang? James!! Aku kehilangan bayiku, bagaimana aku bisa tenang hiks..hiks..” Bianca menangis pilu.


“Sebenarnya apa yang terjadi saat di apartemen itu? Kenapa bisa sampai seperti ini?” James menatap bingung. Sangat pusing dengan kejadian yang masih ambigu untuk ia tahu dimana titik masalahnya. James merasa sangat tidak berdaya. Tidak bisa melakukan banyak hal.


“Wanita iblis itu yang merenggutnya. Aaaaa Tolong aku James.. Bagaimana aku mengatakan ini kepada Alvino?” Hiks. Gila. Bianca rasanya menjadi gila. Lebih baik ia ikut gugur bersama bayik itu dari pada harus berdiri menghadapi luka dan bencana besar di depan sana.


“Permisi Tuan.” Seorang perawat datang dengan membawa suntikan penenang untuk Bianca, luka kehilangan calon bayik memang pasti sangat memilukan. tapi mereka tidak mungkin membiarkan Bianca terus-terusan berteriak dan menangis seperti itu.


“Astaga! Apa lagi ini!” James mengacak rambutnya frustasi. Menghubungi Alvino lagi dan lagi meskipun dia tidak tahu apa yang harus dikatakan jika Alvino berada disana. Murka kah? ataaaaau aaaah~ Bahkan James tidak berani membayangkan.


“Tuan, gadis yang tadi tidak sadarkan diri sekarang sudah siuman.” Perawat menghampiri James lagi. Bukankah memang James yang tadi mengatakan jadi penanggung jawab, wajar saja jika ia yang dipusingkan.


 


 


 


 


 


 


KU MENANGIS :’(


 


 


Jangan marahin akuuuuuuuuu~ :(