
Alvino yang masih kehilangan kesadaran merasa dirinya jatuh ke lembah yang entah tidak diketahui kedalamannya. Lelaki itu seakan jatuh dari tebing yang tinggi, namun terhenti pada tumpukan gumpalan putih mirip awan. Dimana ini? Alvino berusaha mengumpulkan kesadarannya agar berpikir jernih.
Putih, semuanya serba putih. Surga kah ini?
Alvino yang masih terbaring hanya mengedarkan pandangannya dan melihat sekeliling tempat asing itu. Hingga tidak lama kemudian ada sebuah tangan yang menyentuh tangannya, menggenggam tangan Alvino dengan lembut dan menariknya untuk bangun.
Siapa?
Wajah yang menarik Alvino tidak nampak jelas, begitu bercahaya dan membuat Alvino kesulitan untuk mengenali siapa orang tersebut.
“Siapa kau?” akhirnya Alvino bertanya, namun tubuh yang ditarik itu ikut terbangun seiring tarikan tangan wanita yang menggenggam tangannya.
Gadis itu hanya tersenyum, kemudian memberikan setangkai bunga mawar ketika Alvino sudah benar-benar duduk. Sementara Alvino yang masih tidak mengerti hanya menerima bunga itu sambil masih memandangi gadis itu.
“Jangan berlarut-larut dalam kesedihan, Honey.” Gadis itu menempelkan telapak tangannya di wajah Alvino. Begitu lembut hingga Alvino bisa merasakan sentuhan hangat itu.
Honey? Apa ini? Apa dia Bianca?
“Tuhan sudah menyiapkan sesuatu yang sangat indah untukmu didepan sana. Jangan berhenti, kau harus terus melangkah.” Gadis itu tersenyum lagi.
“Bee..” Alvino tersadar. Bianca, itu benar-benar Bianca kekasihnya.
“Kau harus kuat.. Untukku. Buat aku tersenyum dengan melihatmu bahagia.” Bayangan samar itu tersenyum tulus, meskipun hanya ilusi tapi itu benar-benar Bianca. Gadis itu menemui kekasihnya sebagai obat kerinduan. Meyakinkan Alvino bahwa semuanya akan baik-baik saja.
“Aku merindukanmu.” Alvino segera memeluk bayangan itu. Sungguh, dia sangat bahagia bisa kembali melihat kekasihnya ada dihadapannya sekarang. Rindu dan kesakitan itu seperti langsung hancur lebur ketika melihat dan mendengar Bianca lagi.
“Aku harus pergi, tapi kau harus melanjutkan hidup. Aku mencintaimu.” Bianca juga membalas pelukan itu. Meskipun ilusi tapi itu semua nampak nyata. “Cintai seseorang dan berbahagialah.”
“Aku ingin ikut bersamamu.” Alvino melepas pelukan itu kemudian menatap sendu. Sementara Bianca hanya menggelengkan kepalanya sambil tersenyum.
“Tetaplah menjadi dirimu yang mempunyai hati lembut. Saat kau menemukan bahagia, kau akan membuat semua orang bahagia, termasuk aku dan ayah kita.” Pandangan mata Bianca memberi isyarat agar Alvino menoleh. Dan disana ada sesosok pria tengah berdiri sambil tersenyum dan melambaikan tangan.
Ayah kita? Maksudnya....
Gila. Ini gila! Ini ilusi namun semuanya tampak nyata. Alfian.. Bianca.. Dua orang yang menjadi alasan Alvino amat sangat sedih kini keduanya ada. Memberi senyuman dan semangat seolah melarang Alvino agar tidak berlarut-larut dalam duka kehilangannya.
“Papi..” Alvino menatap dari kejauhan. Dan bayangan itu hanya melambaikan tangan.
“Suatu hari, kau akan menemukan cinta sejati. Wanita itu akan membuatmu kuat lebih dari yang kau pikirkan. Wanita itu akan membuatmu bahagia seperti impianku membahagiakanmu. Berbahagialah..”
“Jangan meninggalkanku, Bee. Aku sangat mencintaimu.”
“Aku ada disini..” Tangan Bianca menyentuh dada Alvino, mengisyaratkan bahwa sampai kapanpun dirinya memang akan ada disana.
“Bee..”
“Bee..”
Aw! Mawar yang tadi digenggam Alvino membuat Alvino meringis. Duri mawar itu mengenai kulitnya. Dan saat Alvino menoleh lagi, sudah tidak ada siapapun disana. Hanya dirinya sendiri. Kemana Bianca dan juga Alfian?
“Tuan..” Suara seseorang menyeru. Tapi suara itu bukan suara milik Bianca. “Tuan..” Seseorang itu masih menyeru, sambil menyenterkan sebuah senter kecil di mata Alvino.
Ugh! Alvino benar-benar tersadar sekarang. Sudah kembali dari dunia ilusi yang begitu nyata. Tidak itu bukan sebuah mimpi, dia benar-benar melihat dan berbicara dengan Bianca. Melihat Alfian juga.
“Akhirnya anda sudah siuman.” Ternyata suara itu milik seorang perawat yang menanganinya saat pingsan tadi.
“Anda pingsan, Tuan. Tapi syukurnya sekarang anda sudah kembali sadar.” Perawat itu tersenyum.
“Bianca… kau kah itu?” Alvino menatap perawat yang berdiri dihadapannya. Bianca, itu Bianca kan?
“Tuan.. Nama saya Sofi, bukan Bianca.” Perawat itu tersenyum, kemudian membereskan kembali alat-alat yang tadi digunakan untuk menangani Alvino. “Tunggu sebentar, saya akan memberikan kabar kepada keluarga anda.” Sofi tersenyum lagi.
“Tunggu.. Tapi kaaaau…” Ah. Kenapa Alvino malah bersikukuh bahwa wanita itu adalah Bianca. Jelas-jelas dia adalah seorang perawat dan namanya Sofi, bukan Bianca.
Perawat itu menoleh, namun Alvino tidak melanjutkan kata-katanya. Lalu perawat itu kembali berbalik badan, menuju pintu untuk segera memberi kabar kepada orang-orang yang menunggu kabar tentang Alvino dibalik pintu itu.
Bianca.. Kenapa aku sangat ingin bahwa dia adalah Bianca.
~
Monica sudah tiba dirumah sakit. Wanita itu datang meskipun tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, karena James hanya mengatakan bahwa Ken memintanya datang kesana. Entah untuk apa. Mungkinkah untuk membahas tentang adik sambung Alvino yang bernama Eve itu? Monica tidak banyak bertanya, ia hanya mengikuti arahan kemudian menemui Ken yang memang sudah ada disana.
“Sayang, sedang apa kau disini?” Monica baru saja tiba, dilihatnya Ken masih dengan posisi yang sama, tengah duduk di kursi tunggu sembari mengepalkan tangan yang menjadi tumpuan kepalanya.
“Sayang..” Suara khas itu tertangkap di gendang telinga Ken, Lelaki itu langsung menoleh dan menyambut Monica meskipun dengan wajah lesu.
“Ada apa?” Monica duduk disamping Ken dengan wajah khawatir, kenapa air muka Ken tidak seperti biasanya. Pak tua terlihat sedang lelah dan memikirkan sesuatu. Apakah sudah terjadi sesuatu yang Monica tidak ketahui? Apa Ken sudah melakukan sesuatu kepada Eve hingga akhirnya Ken menyesal dan memasang air muka seperti itu. Entahlah, Ken belum menjawabnya.
“Entahlah. Akupun tidak mengerti apa yang terjadi.” Wajah Ken masih saja gusar. Dan jawaban yang dia berikan untuk Monica begitu ambigu, membuat istrinya itu semakin bertanya-tanya dan pikirannya jadi bercabang kesana kemari.
“Apa semuanya baik-baik saja?” Ayolah, Ken. Kau biasanya to the point. Jangan membuatku memikirkan hal yang tidak ingin ku pikirkan. “Apa kau melakukan sesuatu terhadap Eve?” Tidak. Jangan mengatakan iya, Ken. Alvino tidak akan menerima jika kau benar-benar sudah melakukan itu. Anak muda itu sudah sangat bersedih untuk hal-hal yang besar. Alvino bahkan belum mau keluar kamar semenjak pulang dari pemakaman kekasihnya, pikir Monica.
“Onty..” Rose tiba dan menghampiri Monica dan juga Ken yang sedang sama-sama duduk di kursi tunggu.
“Rose..” Monica semakin mengernyitkan dahi untuk teka-teki yang dia hadapi. Kenapa Rose ada disana juga, apa yang terjadi ini.
“Alvino sudah sadar, tapi dia tertidur sekarang.”
“Sadar? Maksudmu? Memangnya apa yang terjadi pada Alvino?” Monica menatap tajam kepada Rose, kemudian beralih kepada Ken dan meminta jawaban dari dua orang itu.
Eh.. Apa Onty belum tahu soal ini?
“Ken?” Monica masih meminta jawaban, tapi pak tua seolah kehilangan lidahnya untuk menjawab. “Dimana dia? Antar aku kesana Rose?” Monica bangkit dan menatap sebal kepada Ken. Kenapa hanya diam dan tidak menjawab pertanyaannya. Membuat bingung saja.
“Sayang, tunggu sebentar.” Tangan Ken menarik tangan Monica yang sudah akan beranjak meninggalkannya menuju ruangan Alvino. Membuat Monica semakin berdecak kesal karena tingkah suaminya itu. “Keely..”
“Keely?” Monica mengulang nama itu. Nama asing namun terasa sangat familiar.
“Dia dalang dari kekacauan ini. Dia masih hidup dan masih menjadi iblis yang ingin menghancurkanku.” Wajah Ken masih gusar, meminta Monica agar wanita itu mengerti dan mengusir kegundahan tentang apa yang harus dia lakukan sekarang.
“Maksudnya Keely ibumu?” Monica semakin bingung. Apa maksudnya semua ini? kenapa seolah hanya Monica yang tertinggal tentang segala yang terjadi disana.
“Monica..” Suara lirih memanggil Monica yang masih kebingungan. Membuat Monica spontan menoleh ke arah sumber suara.
Chyntia? Astaga! Mimpi kah ini?