You Decided

You Decided
Berkemas



Hari ini Sam akan menemui Alice diapartemen miliknya. Apartemen miliknya yang kini sedang dihuni oleh Alice. Sam ingin langsung menemui gadis yang sudah hampir satu bulan menghindari dirinya, gadis itu tidak pernah menerima telepon atau membalas pesan dari Sam, apalagi mengunjungi dirinya seperti biasa sebelum Laura kembali. Entah kenapa rasanya Sam sangat gugup untuk menemui gadis itu, ada perasaan nerves yang membuncah dalam dirinya.


Huh~ Sam menarik nafas kemudian membuangnya dengan benar sebelum akhirnya ia menekan tombol pintu apartemen itu.


Satu kali~ tidak dibuka.


Dua kali~ belum juga dibuka.


Tiga kali~ belum juga dibuka.


Dan saat akan menekan bell yang ke empat kalinya, akhirnya pintu itu dibuka juga.


"Sam?" Alice yang baru saja bangun tidur sedikit kaget ketika mendapati Sam ada dihadapannya. Gadis itu bahkan masih mengucek matanya yang masih terasa lengket.


"Boleh aku masuk?"


Tanpa menjawab pertanyaannya Sam, Alice melebarkan pintu dan mempersilahkan lelaki itu untuk masuk. Lalu kemudian ia menuju kamar mandi untuk membasuh muka dan juga menggosok giginya.


"Astaga, kenapa dia kesini?" Alice menatap dirinya sendiri dipantulan cermin, menatap wajahnya yang masih sedikit membengkak karena baru bangun tidur. "Tentu saja Alice, ini apartemen miliknya. Kenapa kau bertanya kenapa dia datang kesini? bodoh!" Alice memijat pangkal hidungnya.


Sejurus kemudian Alice keluar dari kamar mandi, menuju kitchen set lalu membuka ka kulkas dan mengambil susu untuk dihangatkan. Kemudian ia menuangkannya kedalam dua gelas dan membawa gelas itu ke hadapan Sam yang sudah duduk menunggunya di sofa.


"Kau sudah sembuh rupanya." Kalimat Alice begitu sarkas dan datar, gadis yang sudah menyihir Sam dengan senyumannya menenggak susu itu dengan enggan menatap kearah Sam.


"How r u? kenapa kau pergi?" Sam mengambil gelas berisi susu yang diberikan untuknya, kemudian menenggaknya seperti Alice.


"Pergi?" Heh. Alice menarik ujung bibir kanannya, geli dengan pertanyaan yang Sam berikan. "Siapa yang pergi? aku memang seharusnya tidak ada di hidupmu kan?"


"Alice.." Sam menatap Alice yang sikapnya sudah berubah, gadis itu tidak lagi ramah dan memberikan senyuman sihirnya. Membuat Sam rasanya sangat kaku.


"Aku akan bersiap hari ini untuk kembali ke kamar kos, terimakasih untuk tumpangannya."


"Alice.. Kenapa kau jadi seperti ini?" Sam semakin menghadapkan wajahnya ke hadapan Alice, meraih tangan Alice untuk digenggamnya. "Maafkan aku, kau tau aku sudah menyakitimu karena meninggalkan mu di taman sendirian saat itu."


Alice menggeleng samar sambil menyimpulkan senyum tipis. Menarik tangannya yang digenggam tanpa permisi oleh Sam. Begitukah persepsi yang Sam simpulkan selama ia meninggalkannya? memangnya dia harus bagaimana, Alice? jangan berharap terlalu banyak!


"Aku tau.. Aku tau, justru aku tidak ingin mengganggu hubungan kalian. Nikmatilah, kau hanya mengagumiku saat kita bertemu dikafe waktu itu dan...


"Alice.. Come on baby! Tidak bisakah hubungan kita kembali seperti semula, saat aku belum mengalami kecelakaan itu, saat..


"Hubungan macam apa yang kau maksud hah? Kita hanya dua orang yang baru saling mengenal tapi sudah bertindak terlalu jauh." Alice bangkit dari sofa kemudian menuju kaca yang menjadi dinding apartemen itu, menatap ke luar dengan pemandangan kota yang sangat indah dari ketinggian.


"Aku hanya tidak ingin kau menjauh dariku, aku ingin kita masih bisa bersama seperti dulu."


"Maksudmu berada ditengah-tengah hubungan mu dengan Laura dan menjadi bom waktu yang akan meledak sewaktu-waktu?"


Astaga.. Kenapa serumit ini?


Sam bangkit dari sofa dan menghampiri Alice yang berdiri didepan sana. "Bukannya kau juga senang berada disampingku? kau bahkan pernah berkata 'Aku sama sekali tidak terbebani meskipun kau memiliki kekasih' Kita menikmati ini bukan?"


"Lalu bagaimana jika aku mencintaimu? Apa hatimu itu akan dibelah menjadi dua?" Alice berteriak tepat dihadapan wajah Sam. Membuat lekaki itu mematung tidak percaya.


Apa yang kau lakukan Alice?


"Jangan serakah Sam! Kau menginginkan Laura tapi kau mengingunkan aku juga!" Alice kembali membuang pandangannya keluar, tidak menyangka pertanyaan semacam itu bisa keluar dari mulutnya.


"Kau memang mencintaiku bukan? kau bahkan selalu memberikan kecupan saat aku terbaring koma, kau selalu mengatakan kalimat sayang yang terlampau banyak. Aku tauuuu.. Ada aku dihatimu.." Sam mendekat, ingin sekali memeluk gadis itu. Sam tahu bahwa Alice begitu hanya karena ia berontak dan ingin dipahami. Meskipun sulit, Sam akan mencoba membuat gadis itu luluh kembali.


"Ya.. Kau benar! Aku memang mencintaimu." Alice kembali menatap Sam dengan tatapan nanar, mata Alice bahkan sudah merah berair dan mengembun. "Tapi itu dulu! Dulu saat ku kira aku bisa menitipkan hatiku padamu, namun nyatanya.... nyatanya kau tidak pandai menjaganya, kau malah menghancurkannya Sam!" Butiran-butiran air mata mencelos disetiap sudut mata Alice, akhirnya ia bisa mengungkapkan apa yang selama ini ia pendam.


Uuuuu~ Sam memeluk tubuh Alice yang bergetar. Merasai betapa kalimat-kalimat yang gadis itu katakan menyiratkan luka yang teramat.


Untuk sementara Alice membiarkan tubuhnya direngkuh, biarkan ini menjadi pelukan Sam yang terakhir pikirnya. Lalu tidak lama kemudian Alice melepas pelukan itu dan mengusap air matanya. "Sejak kau meninggalkanku ditaman itu,,, aku mengambil seluruh kepingan hatiku yang kau hancurkan. Aku berusaha menyembuhkan luka itu sendirian. Dan sekarang, sekarang kau datang memintaku untuk berada disampingmu? Aku tidak bisa."


Sam rasanya tidak bisa berkata-kata lagi. Lehernya serasa sedang dicekik oleh sesuatu yang tidak kasat mata. Lidah Sam rasanya kelu untuk menimpali apa yang Alice utarakan.


"Beri aku waktu dua jam untuk berkemas!"