
Sam masih menyaksikan Laura yang duduk sendirian di meja yang berada di ujung kaca, berulang kali Laura mengecek ponselnya dan berusaha menghubungi seseorang. Siapa sebenarnya yang sedang Laura tunggu? Apa gadis itu juga berselingkuh seperti dirinya yang hobi bergonta-ganti wanita?
Benar, ternyata wanita itu benar-benar berselingkuh. Lihatlah siapa yang datang dan langsung disambut hangat oleh wanita yang sangat ia cintai. Seorang pria dengan setelan jas itu mencium pipi kanan dan kiri Laura. Seketika Sam naik pitam ketika melihat orang yang Laura tunggu adalah seorang pria. Apalagi dengan embel-embel cium-ciuman seperti itu. Jih, Sam tidak terima!
Tanpa menunggu lama, tanpa bersabar untuk menunggu apa yang sebenarnya akan mereka lakukan, langsung saja Sam menghampiri meja Laura dan menarik gadis itu agar berdiri. “Apa yang kau lakukan?” Sam mencengkram tangan Laura sambil menatapnya.
“Saamm.. Kaaau?” Laura menatap tidak percaya. Sejak kapan dia ada disini? Apa yang sedang dia lakukan.
“Kenapa kau begitu kaget? Siapa lelaki ini? Kekasihmu?” Masih mencengkram dan menatap tajam. Laura nampak gugup sekaligus kesakitan karena tangannya dicengkram seperti itu.
“Maaf Tuan, jangan salah paham. Aku bukan kekasihnya. Kami sedang melakukan bisnis. Kau pasti tahu bukan jika Nona adalah perwakilan dari---”
“Kita harus bicara berdua!” Laura segera bangkit, menghentikan pria yang ia temui untuk mengatakan maksud dari pertemuan mereka. Tidak. rencana itu tidak boleh kacau. Sam belum boleh tahu sebelum rencananya itu berhasil.
“Perwakilan apa?” Sam tidak mengerti, menatap Laura dan pria itu bergantian.
“Ayoo Sam!” Laura menggiring Sam untuk pergi dari tempat itu. Sebelum pria yang ia temui itu kembali membuka mulut dan menghancurkan segalanya.
Dengan perasaan yang berapi-api Sam dibawa Laura menjauh, mencari tempat untuk mereka bisa bicara berdua. Secepat mungkin Laura berusaha memikirkan jawaban apa yang harus ia berikan kepada Sam sekarang. Tidak mungkin Laura akan mengatakan bahwa ia akan membiarkan pria asing itu membeli saham Lucatu dan membuat Lucatu rugi besar. Tidak. Ini tidak boleh terjadi. Rencana itu tidak boleh hancur sebelum dilakukan. Laura harus membuat Alvino dan Lucatu berantakan sebelum Sam si anjing kecilnya mengetahui segalanya.
“Berhenti!” Sam melepaskan tangan yang ditarik oleh Laura. Kenapa malah seperti wanita itu yang marah. “Katakan saja apa yang ingin kau katakan! Ternyata kau berkhianat Laura!” Sam menatap Laura penuh amarah. Tidak menyangka jika Laura berani bermain gila dibelakangnya. Apa kabarmu Sam bersama wanita-wanita yang menghangatkan ranjangmu?
Berkhianat? Laura terhenyak sebentar. Berkhianat yang dimaksud Sam adalah mengira ia berselingkuh kan? bukan berarti bahwa Sam mengetahui segala kebusukannya selama ini?
“Jawab!!” Sam berteriak. Belum pernah ia semarah itu kepada Laura.
“Siapa yang berkhianat?” Laura menatap takut-takut. Hampir tiga tahun membersamai Sam baru kali ini melihat Sam marah seperti itu.
“Siapa kau bilang? lalu apa yang sedang kau lakukan disini?”
“Apa kau marah soal lelaki tadi?” Lebih baik Laura meluruskan dulu titik permasalahan itu. Daripada terkecoh dan malah membongkar rahasianya sendiri.
“Memangnya apa lagi?” Sam terkekeh namun kesal. Jika bukan karena pria tadi lalu apa.
“Come on baby! Cemburu itu bukan dirimu.” Laura bernafas lega. Ternyata benar. Yang Sam permasalahkan adalah kehadiran pria asing tadi. Laura jadi bisa lebih mudah untuk memberikan alasan-alasan yang cukup masuk akal.
“Kenapa? Apa aku tidak boleh cemburu?” Sam menatap lagi Laura yang malah biasa saja meskipun ia marah. Tidak adakah rasa bersalah atau sekedar membuat hatinya reda dari amarah.
“Sam come on! Kau seperti anak kecil saja, aku pun tidak pernah melarangmu menemui wanita mana pun bukan?” Laura masih tersenyum santai. Tidak menanggapi masalah itu sebagai sesuatu yang serius.
“Tapi aku tidak pernah mau wanitaku dimiliki yang lain! Meskipun aku selalu membawa wanita lain ke atas ranjangku, cinta dan hatiku hanya untuk mu Laura! Dan kau yang membuatku bergonta-ganti wanita! Jangan pernah mempermasalahkan apa yang telah kau setujui sendiri!” Marah lagi. Bukannya meminta maaf dan meredam, Laura justru menyulut api itu agar semakin membesar. Tidak munafik, Sam pun memang bukan hanya memiliki Laura dalam hidupnya. Tapi seluruh cintanya sudah dimiliki wanita itu. Sam tidak pernah mengizinkan wanita manapun masuk dan menggantikan posisi Laura dihatinya. Egois memang. Namun selama Sam bergonta-ganti wanita, ia tidak menyakiti hati Laura kan? Justru gadis itu malah mendukungnya.
“Marah mu sungguh tidak lucu! Lagi pula dia bukan kekasihku, aku hanya menemui dia karena kami memiliki urusan.” Laura masih abai, mungkin karena tidak pernah melihat Sam marah membuat gadis itu merasa biasa saja.
“Aku bahkan melihat kau menciumnya dengan senyuman!” Tangan Sam mengepal. Langsung saja lelaki itu kembali menghampiri pria asing yang masih duduk di ujung ruangan sambil memperhatikan mereka.
Bugh!! Tanpa tedeng aling-aling langsung saja Sam memberikan bogem mentah untuk pria yang tadi bersama Laura. Menumpahkan kekesalannya kepada orang yang sebenarnya tidak bersalah. “Apa tidak ada wanita lain yang bisa kau ganggu selain kekasihku?” Bugh!! Memukul lagi. “Dasar sialan!”
Ouuuch.. Pria asing itu mengaduh. Satu pukulan saja sudah membuat ujung bibirnya robek dan mengeluarkan darah. Pukulan itu benar-benar sangat menyakitkan apalagi ia menerimanya tanpa persiapan. “Apa yang kau katakan Tuan? Siapa yang mengganggu kekasih anda. saya hanya---”
“Sam hentikan!!” Laura lagi-lagi memutus kalimat pria asing yang belum selesai berbicara. Seolah memisahkan pertengkaran itu agar lerai. Bagaimanapun tidak boleh sampai ketahuan. Ini adalah rencana besar dan sangat sulit didapatkan. Tidak boleh hancur dengan sia-sia.
“Apa?” Sam masih menarik baju pria itu dan siap untuk memberikan pukulan lagi.
“Lucatu?” Sam berujar pelan. Lucatu? Apa maksudnya. Memangnya ada urusan apa hingga pertemuan mereka harus membahas Lucatu?
“Nona Laura menawari saya---”
“Jangan membual! Kau dan aku hanya membicarakan vendor untuk kejutan ulang tahun kekasihku. Jangan menyangkal dasar orang gila!”
Gawat. Ini gawat. Kenapa ia membuka mulut seperti itu sih? Bisa-bisa semuanya hancur sebelum ia lancarkan.
“Ada urusan apa kau dengan Lucatu?” Sam kini kembali menatap Laura yang sedang menyaksikan Sam dan pria asing yang tidak berdaya itu.
“Dia menawari ku saham. tentu saja aku sangat tertarik. Sebuah kehormatan untukku bisa bekerja sama dengan Lucatu.” Ujar pria asing itu lagi. “Namaku Bryan, dari Brandon Group.”
“Lauraaaaaa!!!” Sam bangkit dan segera menerjang Laura yang menurutnya sudah sangat keterlaluan. Darimana dia bisa mendapatkan berkas-berkas Lucatu bahkan berani memberikan penawaran pada orang asing. “Siapa kau sebenarnya?” Tangan Sam menangkup wajah Laura dengan begitu kasar. Membuat dirinya menjadi pusat perhatian di kafe yang cukup ramai itu.
“Sam ini sakit! Lepaskan aku.” Laura meringis saat tangan yang selalu membelainya kini memberikan tekanan pada wajahnya dengan sangat kuat. Memberikan kesan sakit yang teramat.
“Siapa kau sebenarnya? Jawab sebelum aku bertindak semakin kasar!” Sam berteriak tepat didepan wajah Laura. Membuat gadis itu kini benar-benar menjengkit ketakutan.
Sialan! Ternyata dia benar-benar marah. Rencanaku bahkan sudah gagal sebelum aku mulai beraksi!
“Lepaskan gadis itu, Tuan! Anda dilarang membuat keributan disini.” Suara seorang security membuat Sam menoleh.
“Jangan ikut campur urusanku!”
“Tuan, dia seorang wanita! Kenapa kau sangat kasar sekali?” Pengunjung lain juga ikut-ikutan melerai. Merasa iba melihat wanita diperlakukan seperti itu.
Sam kemudian melepaskan tangannya dari Laura yang sudah mulai memerah dan ingin menangis. Lalu dengan segera menelpon Bidy untuk datang ke tempat itu. Sungguh. Sam tidak habis pikir dengan apa yang telah Laura lakukan. Dan Sam, Sam harus mengetahui lebih dulu siapa Laura sebelum masalah itu sampai di telinga keluarganya. Karena mau bagaimanapun, Sam pasti ikut-ikutan terseret, toh Laura adalah kekasihnya.
Selesai, aku bahkan sudah selesai sebelum memulai. Maafkan aku ayah, aku sudah berusaha.. Laura menangis. Sudah tahu bahwa rencananya selama ini akan gagal total. cerita balas dendam itu tidak akan berlanjut lagi. Dan Laura, ia harus menyiapkan diri karena telah bermain-main dengan Lucatu, entah hukuman macam apa yang akan ia terima.
“Kabur! Lebih baik aku lari!” Laura mengusap air matanya sambil menatap Sam yang masih menghubungi seseorang dengan ponsel pribadinya. Laura menarik nafas sambil mencuri waktu agar Sam lengah dan ia bisa berlari pergi dari sana.
Hyaaaa!!! Laura pergi dan menerobos para pengunjung yang berkerumun. Laura tidak boleh menyerahkan diri kepada Lucatu saat itu juga. Lebih baik ia pergi dan bersembunyi lagi seperti putri Rapunzel.
“Laura! Tunggu!” Sam akan mengejar. Namun sedetik kemudian para pengunjung rese itu malah menghalanginya.
“Biarkan dia pergi! Lelaki kasar sepertimu tidak pantas untuk gadis cantik itu!”
Pih, apasih!!
“Jangan menghalangiku!” Sam mendorong orang yang menghalanginya. Kemudian berlari dengan melangkahkan kakinya dengan lebar untuk mengejar Laura.
“Sialan! Kau tidak akan bisa pergi dariku Laura!” Sam menatap mobil yang terlanjur pergi itu. Biar saja Laura pergi, kemanapun dia pergi Sam pasti menemukannya. Lebih baik dia mengamankan dulu berkas Lucatu dan orang bernama Bryan tadi.
Bersambung~