
“Eve lihat apa yang ku bawa?” Bianca kecil membawakan dua set mainan boneka barbie lengkap dengan rumah impiannya. Hadiah sekaligus hiburan kecil untuk Evelyn yang terperangkap di desa terkutuk. Bianca sangat senang mengunjungi Evelyn meskipun rumahnya berada jauh dari rumah Evelyn. Lebih senang seperti itu dibanding bermain dirumahnya yang luas namun sepi.
“Waah.. bagus sekali.” Evelyn kecil terperangah dengan apa yang dibawa Bianca. Selalu seperti itu setiap Bianca mengunjungi dirinya yang tidak bisa keluar dari desa terkutuk.
“Ini untukmu, dan ini untukku. Ayo kita bermain bersama.”
“Sungguh?” Evelyn berbinar-binar karena senang. Segala mainan untuk mendukung keceriaan dimasa kecilnya memang selalu berasal dari Bianca, sepupunya.
Ketika mendengar Bianca sampai kehilangan bayinya gara-gara pertikaian itu, Evelyn langsung terperangah tidak percaya. Setelah apa yang Bianca lakukan dan berikan, setega itukah Evelyn kepada sepupu yang sudah menganggapnya sebagai adik? meskipun Evelyn tidak mau dan sangat membenci kakaknya, tapi dia mendapatkan figur itu melalui sosok Bianca.
“Dimana Bianca? Aku harus menemuinya sekarang.” Eve langsung turun dari brankarnya dengan mudah, toh tidak ada lagi selang atau apapun yang terhubung dengan tubuhnya. Hanya rasa sakit dikepalanya yang masih ada. Aaawh~ Gadis itu meringis. Ternyata berdiri dengan terburu-buru membuat kepalanya malah semakin sakit. Hampir saja dia terjatuh karena kecerobohan itu.
“Hati-hati.” Alvino segera membantu Eve untuk menopang tubuhnya, menggagalkan adiknya yang hampir saja terjatuh.
Ish. Eve masih risih. Melepaskan diri dari sentuhan Alvino yang padahal membantunya.
“Bianca sedang istirahat, kau juga sebaiknya istirahat.” Alvino kembali ke posisi semula dan lagi-lagi membiarkan Eve untuk melakukan apapun sesukanya.
“Tidak! Aku harus mengunjunginya sekarang juga.” Eve memang keras kepala. Selalu kukuh dan melakukan apapun sekehendaknya.
“Yasudah kalau kau memang memaksa. Tunggu sebentar. Biar perawat mengambilkan kursi roda.” Alvino menatap Eve kemudian mengalah lagi. “Bidy!” panggilnya setengah berteriak.
“Iya Tuan.” Menyahut tanpa menunggu lama.
“Bawakan kursi roda.” titah Alvino.
“Baik Tuan.” Menunduk patuh kemudian segera mencari apa yang Tuan Mudanya inginkan.
Sejurus kemudian kursi roda itu sudah ada, Alvino meminta Evelyn untuk duduk diatas kursi roda tersebut. Alvino juga meminta agar Evelyn mengizinkan dirinya untuk mendorong kursi roda itu sampai mereka tiba di ruangan Bianca. Dan entah kenapa Evelyn langsung menyetujui tanpa mendebat lagi.
Alvino mendorong kursi roda yang dinaiki oleh adiknya itu dengan senang hati. Meskipun sikap angkuh Eve masih mendominasi, setidaknya dia bisa tersenyum tipis sudah berada didekat adik yang di amanatkan ayahnya untuk dijaga.
“Tuan.” Seorang Bidy yang sedang menggantikan tugas James memanggil Alvino ketika mereka sudah hampir sampai di depan pintu ruangan Bianca. Membuat Alvino berhenti kemudian menoleh. “Panggilan dari perusahaan.”
“Kau tangani saja.” Alvino menatap malas. Sudah cukup dia dibuat lelah untuk memikirkan hal-hal besar yang membuat kepalanya hampir saja pecah. Biarlah dia beristirahat dulu dari masalah perusahaan, toh ada Bidy-Bidy senior yang di beri kuasa dan mampu menghandle jika Alvino memang sedang ada urusan lain.
“Tapi ini penting, Tuan.” Ujar Bidy itulagi.
“Sudahlah, kau urus saja pekerjaanmu. Biar aku masuk sendirian.” Eve yang jengah dengan situasi itu menyahut.
Alvino kemudian memanggil Bidy lain yang sedang berdiri di depan pintu Bianca. Bermaksud untuk meneruskan kegiatannya yang sedang mendorong Eve untuk menuju ruangan Bianca. “Antar Eve ke dalam.”
“Baik, Tuan.” Bidy itu sudah siap untuk mengambil alih.
Eve masuk sambil diikuti Bidy, sementara Alvino menerima panggilan yang katanya darurat. Lelah, Alvino sebetulnya sudah lelah. Ingin beristirahat dan meregangkan otot dan juga pikirannya yang sudah tegang bukan main. Tapi tanggung jawab membuat lelaki itu harus kuat, menuntut Alvino agar selalu profesional dalam mengemban tanggung jawab tersebut.
Evelyn sudah masuk ke dalam ruangan yang katanya Bianca sedang berada disana. Tapi saat Eve mengedarkan pandangannya disana, dia tidak menemukan Bianca dimanapun. Tidak ada di brankar atau di sudut yang lain. “Dimana Bianca? Apa dia keluar?” Tanya Eve kepada orang yang mengikutinya.
“Seharunya Nona Bianca ada disini, dia tidak mungkin keluar karna sejak tadi saya berdiri di depan pintu. Biar saya cek terlebih dahulu.” Ujar Bidy itu sambil melenggang masuk lebih dalam. Sejak tadi dia memang menjaga Bianca dari balik pintu, dia tidak melihat orang keluar dari ruangan itu kecuali Rose kemudian Alvino yang akan mengunjungi Eve tadi. Bidy itu kemudian menuju kamar mandi, hanya itu spot tertutup yang ada disana. Jika ketidak adaan itu karena tidak keluar ruangan, maka sudah jelas Bianca ada di dalam sana.
“Nona?” Memanggil.
“Nona?” Memanggil lagi namun tidak ada sahutan.
“Nona apa anda berada di dalam?” Masih tidak ada sahutan. Sementara Eve yang sudah tidak sabaran segera menghampiri dan menyuruh Bidy itu untuk langsung saja membuka pintu kamar mandi.
Aaaaaaaa~ Seketika Eve berteriak. Pintu kamar mandi yang dibuka itu menampakan Bianca yang terkulai lemah sambil berlumuran darah. Gadis itu memejamkan mata dengan tidak berdaya. “Bianca apa yang kau lakukan?” Eve segera turun dari kursi roda, menghampiri Bianca dan membawa gadis itu kedalam pelukanya. “Bianca.. Bangun… Maafkan aku. Bianca!!!!” Eve mengguncang-guncang tubuh Bianca, namun gadis itu tidak juga bergeming. Tubuh lemah itu malah semakin layu ketika diguncang seperti itu.
“C E P A T P A N G G I L D O K T E R, C E P A A A A A A * * * T !!!” Eve berteriak kepada Bidy dan Bidy itu segera berlari keluar.
Alvino sudah selesai menerima panggilan yang katanya darurat dari perusahaan. Tapi yang dia terima justru hanya panggilan dari anak perusahaan, dari Elena. Manager itu mengatakan bahwa Alice mengundurkan diri dari sana dan tidak ada siapapun yang bisa mencegah. “Gadis itu.” Alvino hanya bergumam.
Baru akan kembali untuk ikut masuk ke dalam ruangan dimana Eve mengunjungi Bianca, tiba-tiba Alvino dikagetkan dengan seorang Bidy yang berlari seperti sudah melihat hantu. “Ada apa?” Alvino segera mendekat. Menghentikan Bidy itu.
“Nona.. No-na Bianca bu-n-uh di-ri.” Ujar Bidy itu dengan nafas terengah-engah.
“A P A?” Tanpa menunggu jawaban Alvino segera melebarkan langkahnya untuk menuju ruangan Bianca. Omong kosong macam apa yang dia dengar. Tidak mungkin Bianca bunuh diri. “Bee….” Seketika lutut Alvino bergetar, Menyaksikan pemandangan yang seharusnya tidak pernah dia lihat. Gadis yang sama-sama menggunaka pakaian pasien itu berdarah-darah di dalam kamar mandi. Bedanya Eve menangis dan Bianca terkulai lemah. “Apa yang terjadi?” Alvino segera masuk dan mengambil alih Bianca kedalam pelukannya. “Bee bangun..” Alvino menahan tubuh Bianca dengan tangan satunya, semn=entar tangan yang lain ia gunakan untuk menanhgkup wajah Bianca yang sudah sangat pucat karena kehilangan banyak darah. Gadis itu memotong urat nadinya sendiri.
“Selamatkan Bianca, kak. Cepat berikan tindakan untuknya.” Eve yang sangat angkuh itu ternyata bisa menangis juga. Setelah kepergian Alfian sekian tahun yang lalu, baru kali ini Eve menangis lagi. Dia sungguh bersedih melihat Bianca seperti itu, dan itu semua terjadi karena ulahnya. Bianca pasti sangat terpukul hingga hilang harapan seperti itu.
Kak?
Hyaaa.. Dengan tenaga yang masih tersisa Alvino membopong tubuh Bianca untuk keluar dari kamar mandi. Membawa gadis itu agar cepat mendapatkan penanganan. “Bee.. bertahanlah..” Lirih Alvino yang berusaha melebarkan kakinya agar berjalan cepat dengan bobot yang sedang dia bawa.
Kemalangan macam apa lagi ini?
Hiks..
Bersambung~
Tahan pemirsa,sebelumnya aku udah kasih clue kalo cerita ini bakal memakan waktu berabad-abad. Peace