
Alvino Mahendra..
Tuhan begitu menguji Alvino, menempa Alvino dengan berbagai kesedihan dan masalah dari berbagai arah. Banyak orang menyia-nyiakan tindakannya karena terlalu berlebihan meratapi kematian ayahnya yang b i a d a p. Ayahnya yang b a d j i n g an, Ayahnya yang tidak memiliki hati. Tapi Ayah tetap ayah, seburuk apapun mereka yang mengalirkan darah di nadi yang sama. Mereka menjadi bagian hidup entah baik ataupun buruk.
Selama ini Alvino tidak melakukan apapun untuk ayahnya, pun diberikan sesuatu oleh ayahnya, bahkan hanya untuk secuil kasih sayang. Alvino hanya mengetahui sang ayah pasti menyayanginya jauh di lubuk hati, tanpa bisa merasakannya.
Sebagai baktinya, Alvino tentu menjalankan yang diamanatkan Alfian. Amanat Alfian yang meminta dirinya untuk menjaga dan menyayangi Evelyn. Meskipun Evelyn ternyata sudah melakukan banyak hal untuk menghancurkan hidupnya.
Hancur, Alvino sebetulnya sudah hancur. Untung saja dia tidak gila karena terlalu keras membuat otaknya berfikir hal-hal di luar nalar. Duka kehilangan begitu bertubi-tubi dia terima, kehilangan ayah, kehilangan calon bayi dan sekarang harus kehilangan wanitanya. Bianca.
“Apa dendammu sudah terbalaskan Eve? Aku sudah hancur sekarang.” Alvino menatap kosong sambil duduk di kursi tunggu. Tidak berdaya ketika dokter mengatakan bahwa mereka tidak bisa menyelamatkan nyawa Bianca untuknya.
Evelyn terdiam, bukan hanya Alvino yang bersedih karena kehilangan Bianca. Tapi dirinya juga. Dendam begitu menyesatkan Eve sampai-sampai buta dan menerobos segala sesuatu. Bertindak tega dan begitu jauh sampai-sampai harus ada korban yang seharusnya tidak menjadi korban. “Hiks.. Aku pembunuh.” Eve luruh ke atas lantai. Sama-sama tercengang dengan kabar yang dibawa dokter. Sudah terlalu jauh Eve melangkah berada di titik yang seharusnya dia tidak ada disana.
“Katakan kau sudah bahagia, Eve. Aku sudah berjanji kepada Ayah bahwa aku akan menjagamu dan membuatmu bahagia. Menyayangimu seperti adik-adikku yang lain. Katakan bahwa ini sudah cukup membuatmu bahagia. Aku sudah cukup sangat hancur.”
Apa? Setelah apa yang aku lakukan dia bahkan masih menyebutku sebagai adiknya..
Alvino bangkit dari kursi tunggu, masuk kedalam kamar dimana jasad Bianca sudah terbujur kaku. Meninggalkan Eve yang sedang menangis meratapi apa yang terjadi. “Bee..” Alvino menarik penutup wajah yang menutupi wajah pucat Bianca, wanita itu terdiam seribu bahasa. Tidak lagi menatapnya atau memberikan Alvino senyuman. “Kenapa kau meninggalkanku?” Alvino membelai wajah wanita yang selalu mendamaikan baginya, wanita pertama yang mengisi hatinya dan membuat hidup Alvino terasa lebih berwarna.
Bianca Sapphira Anderson..
Gadis malang yang ditempa mentalnya dari berbagai arah. Psikis yang selalu dihantam sejak Bianca masih kecil membuatnya sangat terpukul ketika mendapatkan kesedihan yang teramat setelah dia dewasa. Duka kehilangan bayi yang dia alami membuat Bianca tidak sanggup untuk berdiri. Duka itu membuat Bianca memilih untuk mengakhiri hidupnya. Dunia sudah begitu kejam terhadapnya, meskipun Alvino masih memeluknya dan menyalurkan rasa cinta meskipun sudah dia kecewakan, tapi Bianca malah merasa tidak pantas untuk mendapatkan itu semua setelah apa yang terjadi. Alvino terlalu baik baginya, lelaki itu pantas untuk mendapatkan yang lebih, lelaki itu pantas bahagia. Bianca tidak mampu memberikan Alvino bahagia.
Alvino Mahendra..
Lelaki yang katanya mengagumi Bianca sejak mereka berada di Universitas yang sama. Lelaki yang menjadikan dirinya sebagai kekasih karena ketidaksengajaan yang mereka lakukan di suatu malam. Tidak. Tapi Bianca tidak menganggap hubungan mereka dilandasi seperti itu. Buktinya Bianca bisa menerima dan merasakan kasih sayang dari Alvino, sebuah perasaan yang amat sangat dia dambakan. Setidaknya Bianca sudah merasa dicintai, merasa disayangi, mendapatkan apa yang tidak dia dapatkan bahkan dari orang tuanya sendiri.
Bianca tahu dia menjadi korban, korban keegoisan Eve dan dendamnya yang tidak bertuan itu. tapi biarlah, biar apa yang terjadi pada dirinya menjadi sebuah pengorbanan untuk Alvino. Agar hubungan kakak adik itu lekas membaik. Bianca tahu kejadian di apartemen itu akan menimbulkan konflik yang pelik, meskipun Alvino akan menyelamatkan dirinya tapi Bianca memilih mundur. Biarlah Alvino mendapatkan bahagia yang tidak pernah bisa dia berikan.
~
Kekacauan itu tidak dapat diatasi hanya oleh Alvino, tentu saja berita kacau itu langsung terdengar oleh keluarganya yang kebetulan memang sedang berkunjung. Ken mengunjungi Alvino, tapi lelaki muda itu tidak ada di rumah maupun di perusahaan. Lelaki itu katanya berada di rumah sakit dalam beberapa hari, entah apa yang terjadi.
“Alvino berada dirumah sakit, aku akan kesana.” Ken menelpon Monica yang sedang berada dirumah melepas rindu dengan putri mereka Famela. Ken memberikan kabar itu sekaligus untuk mengajak Monica untuk pergi kesana bersama-sama.
“Di rumah sakit? Sedang apa? Fam apa kakak sakit?” Monica malah menatap Fam yang berada di sampingnya. Kenapa malah Ken yang memberi kabar itu, bukan Fam atau Rose yang padahal tinggal bersama.
“Baiklah, aku akan bersiap.” Panggilan terputus.
Monica menatap Rose dan juga Fam dengan tatapan menyelidik. Bukannya mereka mengatakan Alvino pergi bekerja. Tapi kenapa Ken bilang Alvino berada dirumah sakit, bahkan lelaki muda itu sudah berhari-hari tidak masuk kantor. “Apa ada yang kalian sembunyikan?”
“Menyembunyikan apa Mam?” Fam yang memang tidak mengetahui apapun hanya bisa mengernyitkan dahi sebagai jawaban untuk Monica.
Sementara Rose hanya menelan ludah. Kekacauan ini akan sampai kepada Ken dan Monica. Lebih baik dia menceritakan bagaimana keadaan yang sesungguhnya. “Onty, Alvino berada dirumah sakit karena menemani kekasihnya.” Takut-takut Rose menjawab, meskipun dia ingin memberitahu tapi tidak mungkin memberitahu secara detail duduk permasalahan kenapa alvino berada di rumah sakit. Tidak mungkin Rose mengatakan tentang duka Alvino yang kehilangan bayinya.
“Kekasih?” Monica tersenyum simpul. Putranya sudah benar-benar dewasa ternyata. Sudah memiliki kekasih.
“Masalah?” Monica hanya bisa mengulang-ulang point-point yang dikatakan Rose.
“Ada benang rumit yang terjadi, Alvino sudah menemukan siapa adiknya.” Rose bercerita lagi.
“Adiknya? Maksudmu Evelyn?” Monica terus saja bertanya.
“Hal yang lebih mencengangkan, Evelyn ternyata menyamar. Selama ini dia ada disekeliling kita.”
“Rose tidak bisakah kau bercerita dengan gamblang? Kenapa sedikit-sedikit begitu sih! Aku sudah sangat penasaran.” Fam yang tidak mengetahui apapun sama penasaran seperti Monica.
“Kalian tahu bukan kekasih Sam? ya. Kekasih Sam adalah Evelyn yang menyamar.”
“Mm-maksudmu Alice?” Monica semakin mengernyitkan dahinya. Belum paham dengan apa yang Rose ceritakan.
“Laura. Laura adalah Evelyn. Dan ternyata Laura adalah saudara kekasih Alvino, mereka terlibat pertikaian dan membuat mereka sama-sama terluka.”
Hah? Semuanya tercengang.
Rose kemudian bercerita point-point tentang masalah yang menimpa Alvino. Apa saja yang terjadi kepada lelaki itu dimulai dari Alvino yang menemukan bahwa Alfian ayahnya sudah menghadap Tuhan. Semuanya kaget, kaget bukan main. Mereka sama sekali tidak mengetahui soal hal besar itu. Alvino tidak pernah bercerita atau berbagi tentang apapun lagi, yamg Monica dan Ken tahu hanya Alvino memang masih mencari keberadaan adik sambungnya Eve.
Buru-buru mereka bersiap menuju rumah sakit.
~
“Permisi Tuan, kami akan segera menyiapkan jasad Nona untuk dibawa ke rumah duka.” Seorang dokter menghampiri Alvino yang masih sibuk menatap dan meratapi kepergian kekasihnya.
Alvino terdiam. Masih menatap Bianca yang sudah tidak bernyawa.
“Ini.. Kami menemukan surat ini dibawah bantal Nona.” Perawat itu menyodorkan dua lembar kertas kepada Alvino. Secarik kertas tulisan tangan yang sepertinya ditulis Bianca untuknya. Alvino menatap kertas itu kemudian menerimanya.
“Dear Alvino.”
“Dear Evelyn.”
Dua surat itu ternyata bukan hanya untuk Alvino, salah satu surat itu ternyata untuk Evelyn. Alvino kemudian membiarkan perawat melakukan tugasnya dan mulai membaca surat itu.
“Bee..” Alvino menatap nanar surat yang dia terima. Surat itu berisi kalimat Bianca yang berpamitan dan mencurahkan keluh kesahnya. Dalam surat itu Bianca meminta maaf dan juga berterima kasih atas apa yang sudah Alvino berikan, berterima kasih atas cinta yang begitu besar yang dia dapatkan.
“Alvino sayang.. Malam-malam sebelumnya selalu aku lalui dengan gelap, sebelum kau muncul dan memberikan penerangan dan menyinari diriku dengan senyuman yang manis. Jangan meratapi kepergianku, bangunlah dari kesedihanmu. Perpisahan kita hanyalah babak baru untukmu mendapat kebahagiaan yang sesungguhnya. Terimakasih sudah mencintaiku. Bee yang mencintai madu.”
Alvino kemudian berbalik badan. Kembali merengkuh tubuh kaku Bianca untuk dipeluknya. "Aku mencintaimu.." Hiks.
Bersambung~