You Decided

You Decided
Masa Lalu



Laura semakin mengulum senyuman lebar saat mengetahui ada pergerakan di rumah yang sudah ia setting. Gadis itu semakin bersemangat untuk melancarkan aksinya. Lihatlah bagaimana ekspresi Alvino yang mulai terlihat kesal dari kamera pengintai yang ia pasang. Hahaha. “Ini belum seberapa! Kau akan melihat lagi sesuatu yang ku yakin kau tidak akan bisa bernafas setelahnya!”. Menang. Dilangkah pertama yang ia jalankan Laura ternyata menang.


~


Belum sampai di ruangan dimana tadi Alvino berada, James dibuat menghentikan langkahnya saat tiba-tiba Alvino keluar dari rumah itu dengan berapi-api. Alvino tampak sekali sedang dikuasai amarah, ekspresi nya sangat berubah drastis aat mereka akan mendatangi tempat itu.


“Tuan… Apa andaaaa baik-baik saja?”


“Kabari Mister Ken bahwa aku akan menghadap dirinya hari ini!” Alvino berujar tanpa menghentikan langkahnya, membuat James  buru-buru mengimbangi langkahnya.


Ada apa ini? Kenapa Tuan muda sangat amat marah?


Tangan Alvino sudah langsung mengepal, nafas nya dibuat naik turun tidak karuan. Bagaimana tidak, jantungnya terasa dibuat berhenti berdetak ketika satu persatu mendapatkan kebenaran tentang masa lalu Alfian. Sedikit demi sedikit Alvino mulai tahu apa yang sebenarnya terjadi di masa lalu meskipun belum menyimpulkan benang merah.


Alvino dibuat sangat marah ketika ada sebuah layar yang tiba-tiba menunjukan pergerakan sebuah kolase film. Video beberapa menit saat Alfian sedang disiksa oleh Ken. Pantas saja di dalam surat itu Alfian mengatakan bahwa ia sangat bersyukur Alvino tidak diperlakukan seperti dirinya. Keji. Ini memang terlalu keji!


Divideo itu..


Alvino melihat Ken dan beberapa pengawalnya memasuki sebuah ruangan. Dengan pakaian serba hitam mirip algojo. Di Ruangan itu terlihat ada seorang wanita yang sedang duduk di kursi, menundukan kepalanya tanpa pergerakan. Sementara di ruangan lain, terlihat Alfian yang juga sedang duduk. Dengan penutup kepala juga tangan dan kaki yang diikat. Mirip seorang tahanan yang sedang diculik.


Detik selanjutnya Alvino juga melihat Ken yang mulai mendekati Alfian. Menarik penutup kepala Alfian sesukanya sambil menatap dengan tatapan bahwa Alfian lebih dari kotoran yang sangat menjijikan. Alfian memberontak, mengeluarkan seluruh tenaganya. Tapi apalah daya, tangan dan kakinya sedang diikat.


"Hallo, pecundang." Ken tersenyum smirk. Ken memainkan rambut Alfian, mengusapnya dengan acak. Hingga akhirnya rambut itu benar-benar ia jambak sampai kepala Alfian mendongkak ke arahnya.


"Sudah siap menerima awal hukuman kecilmu? hah." Ken menarik rambut itu semakin kencang, lalu menjatuhkannya begitu saja. "Sekarang!" tambahnya sambil meninggalkan Alfian, lalu diikuti dengan para pengawal yang berkerumun mendekati Alfian.


Lalu seorang pengawal terlihat membawa sebuah kotak dan kemudian membukanya. Terlihat sebuah suntikan tergeletak disana.


"Mau apa kalian?" teriak Alfian saat melihat jarum suntik yang teman satu profesinya bawa. "Max, tolong aku.. kita adalah teman, bukan?" Alfian mulai gelisah.


"Kau yang bermain api, dan aku tidak ingin ikut terbakar. Tanggung jawabkan kesalahanmu, kawan!" ucap pengawal yang katanya bernama Max dengan airmuka yang datar.


Detik selanjutnya, Alex mengambil suntikan itu. Menekannya sedikit hingga cairan itu sedikit memercik diujung jarum. Alex menganggukan kepalanya sambil menatap kedua pengawal lain, dan dua orang pengawal langsung sigap menanggapi kode itu.


Mereka mendekati Alfian, mencengkram dua belah pundak Alfian agar diam tidak berontak.


"Alex, hentikan! ku mohon!" Alfian meratap, memohon pertolongan kepada rekan-rekan yang dulu mengabdi pada satu Boss yang sama.


"Max, Alex, Diaz, Julian, Domi, hentikan... ku mohon.. jangan lakukan itu! Ku mohon lepaskan aku!" teriak Alfian sambil menyebut nama-nama pengawal yang ada disana, berharap ada yang iba terhadapnya. "Akan ku berikan semua hartaku jika kalian mau melepaskanku!" Alfian masih berteriak, namun itu semua tidak bisa menghentikan apapun. Alex semakin mendekat dan mulai bersiap menyuntikan cairan yang ada didalam suntikan tadi.


"Ku mohon... aku belum mau mati!" teriaknya lagi.


"Hey! memangnya kami pembunuh! diam atau kau akan benar-benar mati!" teriak salah satu pengawal dengan tegas, membungkam domba yang tidak berdaya itu.


Jlebb!! Suntikan pertama mendarat di paha Alfian. Membuatnya meraung semakin kencang.


Aaaaaaa... Alfian berteriak sangat kencang.


Jlebb!! Suntikan kedua mendarat di lengan.


“Astaga!! Suntikan apa itu?” Alvino dibuat melongo dengan apa yang ia saksikan. Alvino benar-benar merasa tidak percaya.


"Sialan! kalian akan mendapat balasan atas semua ini! terutama si b a d j i n g a n Ken! Keparat! kalian semua akan mati!"


"Berisik!!" Teriak Alex. "Beritahu, Mister." tambahnya pada Max.


Alvino sangat bergidik ngilu menyaksikan putaran rekaman itu, merinding dan bahkan ingin menangis saat ini juga. "Kenapa Papi bisa disiksa sampai seperti itu? memangnya apa kesalahan yang telah diperbuat? Tapi apapun itu aku tidak terima Papi diperlakukan seperti itu.!" gumam Monica.


Alvino kemudian lanjut menyaksikan adegan itu, menarik nafas menguatkan hatinya untuk menyaksikan tayangan itu sampai selesai. Entah siapa yang memutarkan dirinya adegan seperti itu, tapi Alvino yakin jika orang itu ingin membantu mengungkap sesuatu


Max terlihat kembali setelah melaporkan keadaan Alfian kepada Ken. Dan kemudian Alex membuka ikatan Alfian yang mengait pada kursi yang didudukinya, lalu setelah itu mereka membawa Alfian. Menyeretnya dengan tangan dan kaki yang masih terikat. Kejam!!


Mereka membawa Alfian keruangan sebelah dimana wanita tadi berada. Alvino meyakini bahwa wanita itu adalah Chyntia____istri baru Alfian. Mereka kemudian mendorong tubuh Alfian hingga tersungkur.


"Sial!" Alfian bersusah payah untuk bangun.


Ken muncul di ruangan itu. Dengan gaya khas nya yang penuh kharisma namun diam-diam menghanyutkan. Siapapun tidak akan menyangka bahwa pria tampan dan gagah itu bisa berbuat hal yang demikian.


Cuih..!! Alfian meludah.


"Jangan buang waktu, Ken. Bunuh aku sekarang juga." tantang Alfian.


Dan Ken, bukannya marah tapi ia malah tertawa renyah.


Hahaha..


"Aku tidak akan mengotori tanganku dengan darah pecundang hina seperti dirimu!" balas Ken. "Apa kau berharap aku membunuhmu? hahaha.. tidak semudah itu! Ada harga yang harus kau bayar mahal, keparat!!"


Heh.. Alfian menyunggingkan senyum sombongnya.


"Apa kau marah karna aku menyentuh wanitaku? apa kau bangga memiliki dan membela wanita bekas pakai ku?" ucap Alfian.


"Stop Al! jangan kurang ajar! mohon maaf lah, akui kesalahanmu." ujar Chyntia yang sudah berlinang air mata. "Maafkan kami, Mister. Ampuni kami..." ucap Chyntia berulang.


"Jangan berharap dan meminta apapun padanya, sayang. Bersikap cantik dan mari kita lihat apa yang bisa dia lakukan."


"Tutup mulutmu atau kau akan menyesal!" Alex membentak Alfian, mirip sikap James kepada siapapun yang mengganggu dirinya.


"Ayo.. Ken.. lakukan apa yang kau bisa.." tantang Alfian lagi.


Dan tidak lama kemudian Alfian memberontak, semakin kencang mengutuk Ken dan orang-orang disana. Mencoba melepaskan diri sekuat tenaga.


"Bagaimana anjing kecil?" ucap Ken dengan senyuman yang mengguratkan kebanggaan.


"B i a d a p!! bersainglah secara sehat. Monica mencintaiku dan dia adalah milikku. Bertarung secara jantan jika kau memang laki-laki." ucap Alfian, semakin sombong dan berani menantang.


“Monica? Apa maksudnya Mamy?”


Plakk!! satu tamparan keras Alfian dapatkan, begitu keras hingga menimbulkan bunyi dan juga sedikit robekan kecil di ujung bibir


Alfian beringsut, kembali menegakkan kepalanya yang dihantam. "Pihhh!! kau bahkan menggunakan kekuasaan mu untuk menghadapi orang sepertiku. Apa kau tidak bisa melakukannya sendiri? sampai-sampai kau butuh bantuan kacung-kacung yang tidak berguna ini?"


"Cukup Al! hentikan! jangan menggali neraka kita semakin dalam! pikirkan nasibku dan Eve di rumah!" teriak Chyntia. Ia mendekati suaminya yang terikat tidak berdaya. Mengusap ujung bibir yang robek dengan penuh kasih. "Minta ampun lah.. Setidaknya untuk nasibku dan anak kita." bisik Chyntia lirih.


"Tidak! aku tidak akan kalah. Dia tidak akan pernah bisa untuk memiliki Monica. Karena dia milikku!" balasnya setengah berteriak.


"Sial! kau bahkan tanpa malu menyebut j a l a n g itu di depanku! lalu aku ini apa? hah" ucap Chyntia emosi. Bagaimana mungkin suaminya itu mengatakan bahwa dia mencintai wanita lain dihadapannya, sedang ia adalah istrinya.


"Kau yang wanita j a l a n g! Monica istriku dan aku sangat mencintainya. Aku menikahimu hanya karena aku berterima kasih, kau mau membantuku untuk masuk kedalam perusahaan Ken. Hatiku hanya milik Monica. Sampai matipun!"


"Siapa yang kau bicarakan? siapa yang kau maksut wanita j a l a n g?"


Eh... keduanya menoleh.


Wanita itu merangkak, menuju Ken yang berdiri tidak jauh darinya. Bersujud dan berharap diizinkan untuk mencium kaki Ken, menghiba memohon ampunan. "Ampuni saya, Mister.. Maafkan kesalahan saya, Ampuni hidup saya untuk hidup putriku yang masih membutuhkan ibu.. hiks..hiks..hiks.. Saya akan melakukan apapun tapi saya mohon.. ampuni saya.. lepaskan saya, Mister."


"Apapun? termasuk memberikan tubuhmu?" tawar Ken.


"Tubuhku? eh maksutku.. Tentu mister.. saya akan melakukan apapun, termasuk melayani mister dengan tubuh saya."


Hahaha.. tawa Ken menggema.


"Lihat siapa wanita j a l a n g yang sesungguhnya anjing kecil! Wanita mu bahkan rela memberikan tubuhnya."


“Astagaaaa!!!” Alvino bahkan tidak sanggup lagi untuk meneruskan menonton video itu. Hatinya langsung mencelos merasakan sakit yang teramat untuk apa yang telah Ken lakukan kepada ayah kandungnya.


Alvino harus menemui Ken dan Monica saat inijuga!!


 


 


Bersambung~