
“Malam ini kakak ipar tidur di kamar aku ya, aku pengen kenal lebih deket. Boleh kan kak?” Pinta Fam saat makan malam keluarga itu sudah usai.
“Kamu tanya Kay dong, Kay gak pa-pa tidur sama Fam?” Alvino melempar pertanyaan itu pada Kay. Sementara Kay lagi-lagi tidak bisa menolak.
“Ayolah Kak, kita girls talk, ada Rose juga.” Fam membujuk lagi. Dan detik berikutnya Kay hanya mengiyakan dengan senyuman terpaksa.
“Okey.”
'Abis ini elo ya yang nurutin permainan gue!' Mata Kay masih fokus pada lelaki jangkung yang sepertinya paling dicintai di keluarga itu.
Semua orang sudah bubar dan pergi ke kamar masing-masing. Fam membawa Kay dan juga Rose ke kamarnya. Mereka akan tidur bertiga malam ini.
“Kakak ipar, tunggu bentar ya. Kayaknya handphone ku ketinggalan di meja makan.”
“Santai Fam, aku nggak penakut. Lagian ada Rose juga.” Ujar Kay sambil memperhatikan gadis yang sejak tadi terlihat menatap tidak suka kepada dirinya. Rose, entah kenapa tatapannya tidak seramah saat pertama mereka berkenalan tadi.
“Oke. Aku segera kembali, daaaaaahh.”
Fam segera berlari kecil, bukan ke meja makan untuk mengambil handphone, itu hanya sebuah alasan. Gadis itu menuju kamar Alvino sekarang.
"Kak.." panggil Fam setelah mengetuk pintu tapi tidak ada jawaban. Namun karena kamar itu tidak dikunci Fam memberanikan diri untuk perlahan membuka pintu dan memanggil si empunya kamar.
"Kak. Kau belum tidur kan? Aku..."
"Aku tahu Fam.. Kau memintaku untuk membujuk daddy kan?" Alvino langsung menebak tanpa menunggu Fam selesai dengan kalimatnya. Sudah sejak lama gadis manja itu merengek soal ini. "Memangnya apa yang bikin kamu pengen hidup jauh dari Mami dan Daddy? Emangnya kamu nggak nyaman ada disamping mereka?" Alvino merebahkan diri diatas kasur yang sudah sejak lama tidak melelapkannya.
"Bukan gitu kak,, Tapi.." Hm Fam menimang-nimang jawaban. Tidak boleh salah berucap atau impiannya itu menguap tiada celah. "Kau tahu aku sangat manja kan? aku cuma pingin hidup mandiri.. nggak terus menerus sembunyi dibalik ketiak Mami. Please kak, aku mohon.. Aku ingin jadi gadis dewasa."
Hehehe.. Alvino hanya tertawa kecil. Jawaban itu sepertinya bukan jawaban sebenarnya. Alvino tahu Fam ingin hidup bebas tanpa diikuti para bodyguard yang setia mengikuti dirinya kemanapun dia pergi.
"Biar Mami dan Daddy juga banyak waktu berdua, Kak. Biar mereka kembali memutar kenangan saat mereka masih muda. Kau ingat bukan, dulu mereka sangat romantis sekali.."
"Nanti aku pikirkan Fam.. Sekarang aku mau istirahat." Alvino memejamkan mata, mengusir adik kecilnya secara halus.
"Baiklah.. tapi kau berjanji kan untuk ini?"
"Faaaaammm.."
Huh, Diminta untuk berjanji saja apa susahnya sih! tapi semoga kakak benar-benar memikirkannya dan benar-benar mau membujuk Mami dan Dady.
Famela sudah pergi. Kini Alvino tinggal sendiri dikamar itu. Lelaki itu tidak benar-benar mengantuk. Hatinya hanya sedang sedikit gusar. Alvino kemudian mengirim pesan kepada James untuk mencari Sam. Dan sejurus kemudian Alvino berjalan menuju sebuah lemari yang terkunci rapi.
Dibukanya lemari itu dan diambilnya sebuah kotak darisana. Alvino membawa kotak itu ke tepi ranjang. Membukanya kemudian mengambil sesuatu didalamnya.
"Kamu dimana sekarang, Eve.." ujar Alvino sambil memandang sebuah foto lawas saat dirinya masih kecil.
**
Monica sudah berada dikamar dan sedang berada diatas kasur. Ken sudah terlelap namun dirinya masih saja terjaga. Membuat Monica akhirnya keluar dari kamar itu untuk melihat anak-anak yang pasti sudah tidur dikamar masing-masing.
Detik pertama Monica menuju kamar Sam dan putra bungsunya itu terlihat sudah tidur. Lalu Monica menuju kamar Fam, Fam juga terlihat sudah tidur bersama Rose dan juga Kay. Dan yang terakhir Monica menuju kamar Alvino. Monica berjalan pelan-pelan sekali karna hari memang sudah sangat malam.
Kreekk!! Pintu dibuka.
Ternyata Alvino masih terjaga. Alvino sedang duduk diranjang sambil menatap sesuatu. Monica bisa melihat dengan jelas meskipun ruangan itu cukup gelap dan hanya lampu tidur yang menyala.
"Belum tidur Al?" Monica kemudian masuk dan menutup pintu kembali. Berjalan menghampiri Alvino kemudian ikut duduk diranjang. "Kamu lagi apa?"
"Mam.." Alvino menatap sang ibunda. Tidak bisa dipungkiri bahwa Alvino sedang tidak baik-baik saja. "A-ku..."
"Kamu masih cari Eve yaaa?" Monica dengan mudah menebak karena Alvino memang sedang memegang foto dirinya bersama Eve sewaktu kecil.
"Iya.. Aku belum bisa nemuin dimana Eve, Mam." Alvino membuang napas frustasi. Sudah berusaha semampunya mencari Eve namun belum juga berhasil.
"Mungkin Papi-mu membawa Eve dan istrinya pindah Al.. kalau kangen Eve kamu kan bisa memeluk Fam, dia juga sama adik perempuanmu.." Monica sebenarnya malas membahas bagian ini. Ia selalu kembali mengingat masa lalu yang menurutnya tidak patut untuk diingat. Tapi mau bagaimana lagi, Eve dan Alvino memang ada hubungan darah dan sampai kapanpun tidak akan bisa dilupakan atau dihilangkan.
"Aku cuma pingin mastiin Eve baik-baik aja.."
"Jangan berfikir terlaku keras Al.. Lebih baik sekarang kamu tidur.. Anak buah kamu nggak pernah berhenti mencari Eve kan? berdo'a saja.".
"Maaf selalu ngungkit soal ini, Mam.." Alvino meraih tangan Monica. Menatap wanita itu penuh ketulusan. Meskipun tidak tahu seluruhnya tentang masalalu Monica, tapi Alvino tahu bagaimana kisah Monica dan Alfian____Ayah Alvino dimasa lalu. Bagaimana kisah saat Alfian meninggalkan Monica sendirian. Alvino mengetahuinya sedikit banyaknya Isabella—Neneknya.
Monica hanya tersenyum simpul dan menganggukan kepala pelan. “Okey, Good night!"