You Decided

You Decided
Pingsan



Sudah beberapa bulan Alice dan sang ibu menetap di Kota lain, bermaksud untuk menciptakan suasana yang baru dan melupakan sesuatu yang menurutnya memang harus dilupakan. Sam. Ya, tentang Sam. Gadis itu masih bersusah payah untuk mengikis kehadiran Sam dihatinya.


"Aku pergi dulu." Pamit Alice kepada sang ibu seraya mengecup keningnya penuh kasih. Alice masih harus meninggalkan sang ibu sendirian demi untuk menyambung hidup mereka berdua. Bahkan sesekali Alice harus pergi ke kota dimana ia seharusnya tidak lagi kesana.


Bagaimana lagi, jika bukan karena obat-obatan ibu, aku tidak mau untuk menginjakan kakiku disana.


~


"Bisakah aku menebus setengah obat ini? M-maksudku, uangku tidak cukup. Jadi.. jadi.." Alice terbata-bata ketika dia berada di kasir untuk melakukan pembayaran obat yang harus dia tebus untuk ibu. Pendapatan gadis itu tidak sepadan dengan pengeluaran yang terus saja membengkak.


"Tentu nona, tapi anda akan menghabiskan waktu untuk kembali lagi minggu depan." Jawab kasir yang sudah sering berpapasan dengan Alice, sudah hafal apa yang gadis itu butuhkan. Bahkan kasir itu juga tahu bahwa Alice kini tinggal di kota yang cukup jauh, untuk sampai di rumah sakit itu saja dia harus membuang waktu dan juga tenaga ekstra.


"Tidak apa, jika nanti uangku cukup aku akan membeli dua kali lipat." Gadis itu tersenyum getir, perkataannya seolah mengejek dirinya sendiri. Bagaimana mungkin dia mampu untuk membeli dua kali lipat. Untuk sehari-hari saja masih terkatung-katung.


Selesai tentang obat, Alice segera bersiap untuk kembali ke kota dimana dia tinggal sekarang. Langkah kaki Alice sedikit melebar, sebisa mungkin menghemat waktu karena satu jam lagi dia harus masuk pekerjaan paruh waktu yang sedang ia lakoni. Ya, gadis itu kini memiliki beberapa pekerjaan selain menjadi karyawan sebuah kafe. Demi untuk mendapatkan penghasilan tambahan.


"Aku berjanji untuk selalu memenuhi kebutuhan mu, bu." Ujar Alice sambil memasukkan obat yang baru saja dia tebus kedalam tas. Sedikit merasa bersalah karena hanya bisa menebus setengah dari resep yang dianjurkan.


Bugh.. Tiba-tiba gadis itu menabrak seseorang. Berjalan terburu-buru dan masih sibuk memasukkan obat kedalam tas membuat gadis itu jadi ceroboh.


Astaga!


"Maa aaaff.." Sesegera mungkin Alice meminta maaf, entah siapa yang dia tabrak tapi itu jelas kesalahannya. Tapi, kalimat maaf itu menggantung. Tatkala Alice melihat siapa orang yang ada dihadapannya.


"Alice." Ah. Orang itu masih mengenali dirinya. Padahal Alice sudah mengubah gaya rambutnya. Berharap tidak ada yang mengenalinya.


"Kaaauu.. Maaf, aku buru-buru." Gadis itu melangkah kesamping, kemudian ingin melanjutkan langkahnya. Tapi tiba-tiba orang itu membuat tubuh Alice seolah mematung.


"Kenapa kau terlihat ketakutan? apa aku sangat menyeramkan?" Suara itu sukses membuat langkah Alice berhenti. Syaraf otak Alice seolah memerintahkan untuk menghentikan langkah dan menjawab pertanyaan itu.


"Ti-tidak, aku hanya.. memang sedang terburu-buru." Alice menjawab, namun tanpa memalingkan wajahnya. Entahlah, meskipun lelaki itu bukan Sam tapi dia juga bagian dari Sam. Alice harus menghindar dari apapun yang berkaitan dengan Sam jika ingin benar-benar melupakan pemuda tampan itu.


"Sudah lama kita tak berjumpa, bisakah kita sekedar menikmati kopi bersama?"


Jangan Alice, pekerjaan mu bisa melayang jika kau tinggalkan!


"Dokter sudah menunggu anda, Tuan." bagaimana mungkin Alvino akan membatalkan janji pemeriksaan bersama dokter hanya untuk menikmati secangkir kopi bersama gadis yang sepertinya tidak asing bagi James.


Tanpa sengaja Alice dan Alvino bertemu dan membuat mereka kini bersama-sama disebuah kafe. Alvino yang semula tidak mau menemui siapapun, entah kenapa rasanya ingin lebih lama dengan gadis yang sempat menjadi kekasih adiknya. Dan Alice yang tidak punya waktu selain mencari uang, kali ini dia tidak bisa menolak. Gadis itu seolah lupa bahwa konsekuensinya adalah dia akan kehilangan pekerjaan.


~


Seperti kawan lama yang baru saja bertemu kembali, dua orang itu saling duduk berhadapan dan menanyakan keadaan masing-masing. Sekedar bertegur sapa dan membuat obrolan obrolan kecil.


"Aku turut berduka tentang wanitamu." ujar Alice, gadis itu tahu bahwa Alvino baru saja kehilangan kekasihnya beberapa waktu lalu. Untuk pertama kalinya kehidupan Lucatu masuk kedalam media berita, menjadi trending topic yang sangat mencengangkan untuk publik.


"Terimakasih." Alvino segera menyesap kopi yang dihidangkan, lagi-lagi harus diingatkan bahwa dia memang masih dalam masa berkabung yang belum juga usai.


"Bagaimana hubungan antara dirimu dengan Sam? sudah lama aku tidak melihat kalian bersama." Alvino mengalihkan pembicaraan, masih mau mengobrol dan tidak ingin perbincangan yang menyinggung soal Bianca menjadi akhir percakapan itu.


"Jangan membahas itu, Sam sudah memiliki tambatan hati dan itu bukan aku." Tiba-tiba saling canggung namun saling melempar senyum simpul.


Sementara di seberang sana James berdiri mematung menyaksikan pemandangan itu. Untuk pertama kalinya dia melihat Tuan Muda sedikit menampilkan senyuman lagi, setelah apa yang terjadi beberapa waktu kebelakang. Dengan sigap, James kembali mengatur jadwal pertemuan Alvino dengan dokter itu. Meskipun tertunda tapi Alvino tetap harus melakukan pemeriksaan.


..


"Awh..." Monica meringis ketika merasakan sakit yang cukup hebat diperutnya. "Kenapa sakit sekali.." Lirih sambil berusaha menetralkan, belakangan ini sakit di bagian itu cukup sering terjadi.


"Awh.." tapi justru malah semakin kuat, Monica merekatkan giginya sambil memejamkan mata. Sakit itu tidak tertahankan.


Bugh.. wanita beranak tiga itu tiba-tiba kehilangan kendali. Kesadarannya sudah tiba bisa dikontrol lagi. Penglihatannya tiba-tiba menghitam, membuat tubuhnya limbung dan akhirnya pingsan.


~


TBC..