You Decided

You Decided
Bantuan



Tidak butuh waktu lama, Sam sudah tiba ke tempat dimana Laura berada. Dengan menghela nafas berat, sam melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam. Menemui wanita yang amat sangat dia benci dalam hidupnya.


“Sam..” Eve menyambut kedatangan Sam dengan sumringah. Senang bukan main, ternyata Sam benar-benar datang menemuinya.


“Berhenti.” Dengan gaya khasnya, pemuda tampan itu mematahkan senyuman Eve. Melarang gadis itu untuk sekedar mendekat. “Katakan apa yang ingin kau katakan. Jangan membuang waktu.” Sam duduk dengan acuh. Jika bukan karena ingin mengetahui keberadaan Alice, dia tidak akan mungkin mau berhadapan dengan Eve.


“Tentu.” Eve tersenyum simpul. Dia lupa bahwa hubungannya dengan Sam sudah berakhir. Dan wajar saja pemuda itu bersikap demikian, dan itu semua adalah kesalahannya. “Pertama, aku ingin meminta maaf kepadamu. Aku..”


“Jangan membuang waktu, Laura! Evelyn, maksudku Evelyn! Evelyn atau siapapun namamu aku tidak peduli. Aku kemari bukan untuk membahas hal itu!” Tatapannya mencekam, mewarisi Ken yang sedang tidak menyukai sesuatu dengan sangat gamblang.


“Baiklah..” Menghela nafas lagi. Memang seharusnya kau tidak membahas soal itu Eve, dan biarkan dia bersikap seperti itu. kau harus menerimanya. “Aku tidak ingin mengganggumu, Sam. Aku hanya ingin mendapatkan bantuan darimu. Aku.. Aku ingin bertemu dengan kakakku, itu saja.”


“Kenapa kau tidak menemuinya saja, sih. Kenapa harus melibatkan aku.” Nada kesalnya masih terlihat jelas. Sam sama sekali tidak bisa bersikap baik.


“Bukan hanya dirimu yang membenciku, Sam. Ayahmu, keluargamu, semua orang membenciku. Orang-orang itu selalu saja menghalangiku.”


“Dan kau memang pantas menerima itu.” Skak mat.


Hening.


~~


Alice berteriak dan panik setengah mati ketika mendapati sang ibu terkulai lemas dan tidak sadarkan diri. Mulut wanita paruh baya itu juga mengeluarkan busa. Dan itu terjadi pasti karena cairan pembersih yang dia tenggak. Gila. Ibu Alice memang gila. Tapi baru kali ini dia melakukan hal demikian.


“Ku mohon, bertahanlah!” Alice tersadar hanya dengan menangis dan berteriak tidak akan membuat keadaan membaik. Dengan segera gadis itu menghubungi ambulan untuk memboyong sang ibu ke rumah sakit. Semoga ini belum terlambat dan ibu masih bisa diselamatkan.


Instalasi Gawat Darurat..


Dengan berlinang air mata, Alice duduk sendirian di lorong kursi tunggu. Berkali-kali gadis itu juga berdiri dan menuju pintu, berharap salah satu orang yang sedang memberikan penanganan terhadap ibunya membawa kabar baik.


Tidak. Alice tidak boleh kehilangan ibu, hanya ibu orang satu-satunya yang dia punya.


“Nona..” Setelah beberapa saat akhirnya salah satu perawat yang menangani ibu keluar. Dan dengan langkah gontai dan tubuh seperti melayang gadis itu buru-buru menghampiri. “Syukurlah.. anda membawa pasien tepat waktu. Kami berhasil memperjuangkan, hanya saja kondisi pasien belum stabil sepenuhnya.”


Lega. Meskipun kesedihan tidak sepenuhnya sirna, tapi mendengar ibu masih bisa diselamatkan setidaknya Alice lega.


“Anda bisa menyelesaikan administrasi terlebih dahulu sebelum pasien kami pindahkan ke ruang rawat intensif.” Tambah perawat itu.


“Alvino.. Haruskah aku meminta bantuannya?”


~~


“Percayalah, aku tidak mungkin melakukan hal yang tidak-tidak. Aku bersumpah, Sam. Aku melakukan ini hanya untuk melindungi kakakku. Aku sangat merasa bersalah dan aku tidak bisa jauh darinya.” Eve masih berusaha membujuk Sam agar mau membantunya, yang gadis itu inginkan adalah kembali ke kota dimana Alvino tinggal. Meskipun sudah tahu itu adalah larangan, Eve bersikeras untuk menerobos. “Aku akan menyamar dan aku tidak akan melibatkanmu.”


“Dan kau berharap aku akan mempercayaimu?”


“Ku mohon, Sam. Aku yakin masih banyak orang jahat yang berusaha melukai kakakku diluaran sana.”


“Dan kau adalah salah satunya.” Perdebatan itu belum juga selesai. Jika dulu mereka bertemu sebagai sepasang kekasih yang selalu memadu kasih, kini keadaannya berbeda. “Kau tidak perlu khawatir, banyak yang menjaga Alvino dan mereka pasti melakukan yang lebih baik darimu.”


“Aku meminta bantuan, bukan meminta ocehanmu!”


Hening lagi..


“Aku tahu dimana gadismu bersembunyi, apa kau tidak mau tahu dimana dia dan bagaimana keadaannya? dia tidak baik-baik saja, Sam.” Penawaran yang mengecoh. Eve tau Sam akan mau membantu jika Sam akan mendapatkan apa yang menguntungkan baginya.


“Bagaimana aku tahu jika kau tidak menipuku lagi?” Masih butuh diyakinkan.


“Oke, kita membuat kesepakatan. Aku akan memberitahu dirimu lebih dulu soal gadis itu, lalu kau membantuku. Setuju?”


.


.


.


Hello gais, aku mau minta pendapat kalian.


Ternyata cerita yang berjudul “Forbidden Love” udah terlalu banyak, kalian bisa lihat sendiri kalo kalian ketik judul ini dipencarian. Rencananya aku mau ubah judul, tapi belum nemu yang tepat.


So.. Can u guys help me to find it? coret-coret dikolom komentar ya.