
Entah hukum alam atau apa, yang jelas hubungan putra-putri Lucatu jadi memiliki hubungan pelik. Meskipun tidak sekelam dan sehitam masa lalu Ken dan Monica, tapi yang dialami anak-anak mereka sama-sama diluar dugaan. Terutama untuk Sam. Siapa yang menyangka bahwa lelaki muda itu menjalin kasih dengan saudara kakaknya sendiri. Bagaimana bisa dia mencintai orang yang seharusnya tidak dicintai? tapi apa Sam masih bisa terang-terangan mengatakan bahwa dia mencintai Laura setelah apa yang dia lakukan terlebih sudah mengetahui siapa gadis itu? Tidak. Tidak mungkin hubungan itu akan berlanjut. Apa kata dunia? Apa tidak ada wanita lain yang mau dengan Sam sampai dia harus mencintai saudara kakaknya. Bwah! Lagi pula orang tuanya jelas akan melarang.
Beruntungnya Famela, tuan putri kerajaan Lucatu tidak ditimpa hal yang sama. Tidak ditimpa hal yang mengerikan. Meskipun memiliki sifat pembangkang dan selalu mau dituruti kemauannya, setidaknya Ken dan Monica berhasil menerapkan rasa takut kepada gadis itu. Meskipun sempat melanggar peraturan dengan berpacaran, tapi gadis itu masih memiliki batasan.
Dan Alvino, entah bagaimana kini nasib cintanya bersama Bianca. Apakah Ken dan Monica juga akan merestui hubungan itu? Membiarkan Alvino bersanding dengan wanita yang adalah masih juga memiliki hubungan keluarga dengan Evelyn, dengan Cynthia, dengan ibunya Ken?
Hari-hari belakangan ini memang selalu mendebarkan. Begitu banyak hal besar terjadi dalam waktu bersamaan. Tidak memberi jeda untuk bernafas dan menyelesaikan masalah satu persatu.
Setelah perbincangan panjang bersama Alvino yang memakan waktu cukup lama, kini mentari benar-benar menampakan diri. Dunia sudah siap untuk memberikan ujian untuk menempa hidup mereka. Menempa mereka dengan rasa sakit, memberikan mereka pengalaman baru.
Alvino kembali ke ruangan Bianca sementara Sam mendatangi ruangan dimana Laura sedang dirawat. Dia memasuki ruangan itu sendirian, tidak mau ditemani siapapun. Melihat gadis yang biasanya dia tatap dengan kasih, dibelai dengan lembut, dipersembahkan cinta yang teramat besar, tapi sekarang semuanya seperti mengembun begitu saja. Seketika Sam akan menutup rapat hatinya untuk Laura. Tidak akan Sam memberikan ruang besar lagi untuk Laura, gadis itu sudah terang-terangan menipunya, membuatnya kecewa.
“Huh~” Sam membuang nafas lelah. Entah apa yang harus dia lakukan ketika melihat Laura terbaring di atas brankar. Seketika hatinya mati untuk sekedar menunjukan rasa iba. “Kau begitu hebat menipuku.” Ujarnya pelan. Tepat di samping Laura. Andai saja Laura tidak sedang terluka, Sam sangat ingin melampiaskan kemarahannya.
Laura perlahan membuka mata. Sudah kembali dari tidur panjangnya yang melelahkan. Rasa sakit tiba-tiba menyeruak terutama di bagian kepalanya yang terluka. Laura belum sepenuhnya menyadari apa yang sudah terjadi, kepalanya sungguh terasa sakit.
“Masih berani membuka mata ternyata.” Suara Sam terdengar dingin sekali. Menyindir Laura yang masih mengaduh menetralkan apa yang dia rasakan ketika membuka mata.
Eh.. Laura menoleh. “Sam?”
“Berani juga kau menyebut namaku lagi.” Cinta dan benci selalu memiliki bagian yang sangat tipis. Dan seringkali orang yang kita benci adalah orang yang sempat sangat cintai. Mungkin begitulah yang Sam rasa saat ini. Sudah tidak ada cinta, cinta itu sudah dihancurkan.
“Saaam.. Kaaaau?” Laura masih tertatih. Harusnya ketika dia sadar, dia disambut orang-orang terkasih karena berhasil survive untuk hidupnya lagi. Tapi tidak, saat membuka mata Laura justru disuguhi pemandangan yang seperti itu. Siapa orang yang mau menyambutnya setelah apa yang dilakukan? Mungkin justru mereka berharap Laura tidak membuka mata lagi.
“Aku tidak menyangka kau melakukan ini.”
Ah~ Laura hanya mengaduh. Sudah kembali ke tempatnya dan mengingat apa yang terjadi sebelum dia tertidur itu. Semuanya sudah hancur bukan? Sam sudah tahu bahwa dia melakukan pengkhianatan yang amat besar. Laura menarik napas panjang, semuanya pasti sudah sangat rumit. Bahkan mungkin permasalahan ini sudah sampai kepada Ken. Laura hanya harus siap menerima hukuman dari Lucatu untuknya.
“Pergilah.. Aku tidak mau melihatmu.” Laura justru bersikap angkuh.
“Percaya diri sekali. Memangnya siapa yang mau melihatmu?” Sam mendekat. Namun dengan seringai menakutkan. “Apa kau pikir kau bisa bebas begitu saja?” Sedekat itu Sam mengancam, bahkan nafas mencekat itu terasa mencekik saat menghembus di kulit Laura.
“Aku tidak takut.” Laura sudah bergetar, namun masih berani besar kepala. “Bunuh saja aku, aku tidak takut mati.”
“Apa kau pikir kau akan mati dengan semudah itu?” Sam berbisik lagi, mirip seorang psycho yang selalu Laura lakukan. Atau entah mirip daddynya jika sedang mengancam seperti itu. “Ada harga mahal yang harus kau bayar.”
Gulp! Laura menelan ludah. Apalagi yang akan dia terima selain penderitaan? jangan takut Laura, kau sudah bersahabat dengan penderitaan bukan? Akankah nasibmu sama seperti ayahmu Alfian?
“Kau berusaha sangat keras untuk menghancurkan Lucatu, tapi Lucatu akan menghancurkanmu dengan sangat mudah.” Kesombongan itu akhirnya tahu tempat. Keluar disaat yang tepat.
“Hahaha..” Laura tertawa mengejek, ego nya lebih besar ketimbang rasa takut. “Apa hatimu sakit Sam? Apa kau marah karena permainan yang aku mainkan begitu halus menipumu?” Benar-benar copy-an Alfian! Masih bisa berujar angkuh dan menggali neraka semakin dalam untuk mereka sendiri.
Sialan! Tangan Sam langsung mengepal. “Hati? Apa kau begitu percaya diri? apa kau mengira aku sungguh-sungguh mencintaimu? Haha! Bahkan aku bisa mendapatkan seribu wanita yang lebih darimu. Jangan terlalu percaya diri!” Dua orang itu berakting seperti seorang psycho, saling terkekeh dan bersandiwara menutupi kata hati yang sebenarnya.
~
Terluka dalam waktu bersamaan, dan sadar dalam waktu bersamaan juga. Laura membuka mata begitupun Bianca. Laura mendapati Sam dihadapannya, dan Bianca mendapati Alvino. Baru juga mata itu terbuka, rasa perih langsung menyeruak lagi. Mata yang sudah sangat lelah itu kembali memanas ketika mendapati Alvino tertidur sambil duduk dan menggenggam tangannya. Sejak kapan Alvino ada disana? Dan bagaimana tanggapan lelaki itu ketika mengetahui segalanya? Entahlah. Yang jelas Bianca hanya bisa menangis lagi.
Mmh~ Alvino bergumam di dalam tidurnya yang hanya memakan waktu beberapa menit. Kalian pasti tahu bukan bagaimana berat dan lengketnya mata lelah yang seharian menangis. Memaksa untuk tetap terjaga membuat kepala Alvino sangat sakit. Untuk itu dia mempersilahkan diri untuk beristirahat sejenak. Sambil menunggu Bianca tersadar.
Tangan Bianca spontan meraih kepala Alvino. Diusapnya rambut itu dengan lembut sambil menahan isakan tangis agar lelakinya tidak terganggu. “Maaf telah mengecewakanmu.” Isaknya lirih.
Sepersekian menit keadaan itu berlangsung, namun isakan tertahan yang malah semakin menyakitkan itu berhasil membangunkan Alvino. Apalagi yang lebih menyakitkan dari tangisan tanpa suara?
“Bee?” Buru-buru Alvino bangun dan duduk. Diusapnya wajah yang muram dan masih mengantuk itu untuk segera menghampiri wanitanya.
Hiks~ Tangisan Bianca pecah lagi. Lebih deras meskipun coba untuk ditahan.
“Sssstt..” Alvino menempatkan telapak tangannya di wajah Bianca, memberikan sentuhan halus agar wanitanya tenang. “Jangan menangis lagi, kau sudah sangat lelah.” Sedang menangis pilu namun diminta untuk berhenti justru malah semakin pecah tangisan itu. Alvino kemudian merengkuh Bianca ke dalam pelukannya. “Semuanya akan baik-baik saja, tenanglah.”
“Aku sudah sangat mengecewakanmu, Al.”
“Aku akan lebih kecewa jika kau terus bersedih seperti ini, tenanglah. Ada aku disampingmu.” Alvino merengkuh lebih dalam lagi, memberikan belaian lembut agar Bianca tenang. Alvino membiarkan Bianca menangis sebentar dipelukannya, hingga akhirnya tangisan itu mereda.
“Bagaimana keadaan Laura?” BIanca mengajukan pertanyaan itu. Di Keadaan seperti itu dia masih sempat bisa menanyakan keadaan orang yang sudah membuatnya kacau begitu. Membuat dirinya harus kehilangan bayi dan membuat dirinya mengecewakan Alvino.
“Pikirkan tentang dirimu, jangan memikirkan yang lain.”
“Tapi aku yang membuatnya celaka.”
“Dia juga sama membuatmu celaka!”
Malah terjadi ketegangan. Alvino melepas pelukan itu kemudian duduk di brankar tempat Bianca berbaring. Alvino sebenarnya bingung untuk bersikap. Kepada Bianca ataupun kepada Laura nantinya. Tapi lagi-lagi Alvino dituntut untuk bijaksana. Jangan memikirkan ego dan perasaan dirinya sendiri. Harus mengedepankan perasaan wanita-wanita yang jelas-jelas membuatnya sangat kecewa.
“Jangan menatapku Al, aku malu. Aku sangat merasa bersalah atas apa yang terjadi.”
“Tatap aku.” Pinta Alvino. Biarkan pandangan mereka bertemu dan mata itu yang berbicara soal perasaan yang sebenarnya. “Apa kau sungguh-sungguh mencintaiku?” Alvino memberikan tatapan yang dalam, meskipun mengerti apa yang telah terjadi tapi keraguan soal perasaan Bianca masih ada. Dua kali dia berbohong, dan siapa yang tahu jika dia juga melakukan hal yang sama seperti Laura yang menipu perasaan Sam.
“Jika aku mencintaimu apa kau juga akan memberikan yang sama?” Jawaban dan pertanyaan macam apa itu. Malah sama-sama meragukan.
“Apa kau sungguh meragukan cintaku?” bukankah Alvino sudah mengatakan bahwa dia menganggap Bianca sebagai rumah tempat ia pulang? apa Bianca masih tidak percaya bahwa perasaan yang muncul dengan sendirinya itu nyata adanya.
“Kau juga bertanya dan kau juga meragukan cintaku bukan?” Wanita memang selalu benar. Mereka selalu menuntut untuk dimengerti tanpa mau mengerti perasaan pasangannya. Haruskah kalimat seperti itu keluar dari mulut Bianca.
“Apa kau lupa sebelum aku pergi ke kuburan ayahku, aku mengatakan bahwa hari itu aku kecewa padamu? dua kali kau berbohong dan dua kali kau mengedepankan perasaan orang lain, perasaan Laura. Apa kau tahu sejak semalam aku menunggu mu membuka mata? tapi apa yang aku dapatkan setelah itu? kau justru memikirkan keadaan orang lain. Apa sekalipun kau tidak pernah memikirkan perasaanku? sejak awal kau hanya memikirkan Laura dan menjaga perasaan Laura, tapi apa kau memberikan hal yang seperti itu juga untukku?” Bolehkan Alvino egois dan mengutarakan apa sebenarnya yang dia rasakan. Patut saja dia meragukan cinta Bianca, sebelum kejadian kehilangan bayi itu Alvino sudah memberikan warning bahwa dia kecewa. Alvino bahkan masih bisa menyembunyikan dirinya yang sebenarnya sangat berantakan. Masih berusaha bijak dan mengerti Bianca meskipun dia sendiri juga sedang ingin dimengerti.
"Bahkan bibirku masih basah ketika aku mengatakan 'Kau adalah wanita pertama dalam hidupku. Menjadi kekasihku, memberikan warna dalam hidupku. Meskipun aku baru memulai sebuah hubungan denganmu, mengenal apa itu cinta bersamamu, tapi kebohongan memang selalu akan menghancurkan.'."
Bianca hanya bisa terdiam. Untuk ke sekian kali harus malu terhadap Alvino. Kenapa Bianca ikut-ikutan meragukan Alvino tentang cintanya? Bahkan Alvino sudah terang-terangan memilih dirinya saat lelaki itu sempat tertarik pada wanita lain.
“Aku tidak menyangka saat kau membuka mata kita justru malah seperti ini, tadinya aku ingin kita menjadi obat untuk kita. Duka kehilangan bayi itu bukan hanya menjadi bebanmu, tapi untukku juga. Bayi itu juga bayiku.”
Huh~