
“Rose.. Gawat.. tolong aku.” Fam masuk ke dalam kamar Rose dengan terburu-buru. Gadis itu merasa hidupnya sedang terancam. Jackob___kekasihnya\, mengirim sebuah buket bunga ukuran besar ke rumah sebagai peringatan beberapa bulan jalinan hubungan mereka. Tapi yang menerima adalah bidy\, parahnya bidy itu melapor kepada Ken.
Matilah kau Fam!
“Rose.. kenapa?” tapi saat masuk dan melihat si empunya kamar, gadis itu terdiam. Kamar Rose terlihat sangat berantakan, begitu pula dengan wajahnya. Rose seperti habis menangis.
Hiks.. Rose malah kembali menangis sambil merengkuh tubuh Fam tanpa aba-aba.
Fam diam, meskipun tidak mengerti tapi Fam membalas pelukan itu.
“Heeeey, ada apa?” Akhirnya bertanya setelah beberapa saat. Padahal niatnya kesana adalah untuk bercerita dan menemukan solusi, tapi sepertinya Rose juga sedang dalam masalah. “Apa ini ada hubungannya dengan James? Apa dia menyakitimu? katakan Rose!”
“Masalahku sangat berat Fam, aku bahkan tidak bisa mengatasinya.” Rose berucap masih dengan isak tangis yang tersiksa. Sejak semalam dia tidak berhenti seperti itu. Selain dengan James, gadis itu juga belum selesai dengan Alvino tentang keterlibatannya.
“Tenang.. tarik nafas dulu.” Pelukan mereka terlepas. Fam kemudian menyuruh Rose untuk duduk di sisi tempat tidur, kemudian mengambilkan segelas air agar wanita itu tenang. “Apapun masalahku, aku akan menumpahkannya kepadamu. Kau juga selalu membantuku untuk mengatasinya.” ujar Fam sambil sambil menaruh kembali gelas yang sudah kosong. “Lalu kenapa kau tidak melakukan hal demikian?”
“Fam.. bahkan jika aku bercerita kepadamu, kau pasti ikut membenciku seperti yang lain.”
“Membenci.. seperti yang lain?” Fam mengerutkan dahi. Sama sekali tidak mengerti jurus pembicaraan Rose.
“Alvino dan James memusuhiku.” Rose melempar pandangan ke sembarang arah. Tidak siap melihat reaksi Fam takut-takut gadis itu ikut memusuhinya juga.
“Maksudnya? Jangan bertele-tele, Rose. Semua pasti ada sebabnya.” Fam duduk di samping Rose. Memaksa Rose untuk menceritakan yang sesungguhnya.
Bukan Famela namanya jika dia tidak bisa mendapatkan apa yang dia inginkan. Perlahan namun pasti Rose kemudian menceritakan apa yang terjadi, apa yang menjadi penyebabnya seperti itu.
“Kau gila!”
Tuhkan, gadis itu marah.
Tentu saja, tentu saja Fam marah. Apalagi yang tersakiti adalah kakak yang paling dia sayangi.
“Bagaimana mungkin kau melakukan itu! Apa kau pura-pura buta ketika melihat kakak hampir sekarat gara-gara kehilangan wanita itu! Kenapa kau menyembunyikan hal sebesar ini Rose, bahkan dari diriku!” Fam berdiri dan berapi-api. Apa semua orang masih menganggapnya sama seperti mami daddy, menganggap Fam adalah gadis kecil yang tidak siap dengan masalah-masalah orang dewasa. Masalah sebesar itu dia bisa tidak tahu sama sekali.
“Bukan tanpa alasan Fam, dengar dulu..” Rose lanjut bercerita. Mengutarakan kenapa dan mengapa dia bisa membantu Bianca memalsukan kematiannya. Dia hanya kasihan waktu itu, lagi pula Rose tidak tahu bagaimana Bianca mengubah alur ceritanya sendiri.
“Lalu dimana keponakanku sekarang? Dan apa kakak menerima wanita itu kembali? jangan sampai! Wanita itu tidak berperasaan! Wanita itu sudah membawa duka amat besar bahkan saat kakak masih berduka kehilangan ayahnya!”
“Alvino membawanya, entah kemana. Mereka tidak mengatakan sepatah kata pun, mereka memusuhiku, Fam.”
“Aku tidak tahu apa yang bisa membantumu untuk mendapat kata maaf dari kakak, tapi cepat atau lambat dia pasti akan memaafkanmu. Dan soal James, mungkin aku bisa membantumu sekarang juga.”
“Maksudnya?”
“Kau merasa bersalah pada kakak bukan? ku rasa James juga begitu. Kita harus bekerja sama membuat kakak bahagia dan keluar dari masalah-masalahnya.”
“Tapi bagaimana?”
“Yang pertama, kau dan James harus akur dulu. Sebentar, biar ku hubungi.” Tanpa basa-basi lagi Fam merogoh ponsel di sakunya, mencari kontak Jame skemudian menelpon lelaki itu.
Panggilan terhubung, namun Fam berjalan beberapa langkah menjauh dari Rose. Ebtah apa yang mereka rencanakan Rose tidak tahu. Tapi biarlah, mungkin itu untuk kebaikan bersama.
“Bla..bla..bla.. Shut up James! Selain jelek kau juga berisik! Temui aku sore ini.” Panggilan di putus.
“Jangan khawatir, James-mu akan kembali.” Fam tersenyum centil.
Kring!! Panggilan masuk.
“Astaga! apa dia masih berani mendebat.” baru tersenyum manis sudah menggerutu lagi. Tapi ternyata ponselnya berdering bukan karna James\, panggilan itu dari adiknya___Samuel.
“Halo?”
“Untuk apa?”
“Bukannya kau tidak pernah membutuhkanku?”
“Haha sejak kapan kau memanggilku kakak.”
“Baiklah, aku akan memberi imbalan kepada adikku yang mulai mengakui bahwa dia punya kakak yang cantik. Hahaha. Ya ya ya.”
“Fam.. tapi tadi bukannya kau bilang keadaanmu gawat? apa kau sedang dalam masalah juga?” Rose mengalihkan Fam yang masih senyum-senyum setelah menelpon. Se-begitu senangnya dipanggil kakak dan merasa dibutuhkan oleh adiknya___Sam.
“Ya, Hari ini daddy pasti akan menggerutu. Dia tahu aku berhubungan dengan lelaki, Jackob mengirim bunga dan dia yang menerima.”
“Kau dalam masalah serius, Fam.”
“Sudahlah, biarkan saja. Daddy tidak akan sampai membunuhku. Aku sudah dewasa, sudah saatnya aku berperan dan menghadapi masalah. Aku lelah untuk selalu kabur.”
“Wow, suatu pencapaian seorang Famela bersikap dewasa. Hahaha.” Sejak kecil bersama Fam, Rose tahu watak manja gadis itu. Tapi sekarang sepertinya Fam sudah bermetamorfosis.
“Sudah sudah, kita harus segera bersiap. 30 menit lagi kita bertemu di bawah tangga. Oke.”
"Thx before, Fam." Rose tersenyum kemudian memeluk Fam sebentar.
Bersambung..