You Decided

You Decided
Pasrah



"Kenapa aku harus mempercayaimu lagi sih? lihat, kau menipuku lagi!" Sam menyalahkan Eve lagi. Susah payah dia membantu gadis itu, tapi yang dia dapat lagi-lagi adalah kekecewaan.


"Aku tidak menipumu, Sam! tadi kau dengar sendiri bukan gadis itu memang tinggal disini!" Hih, Eve sama kesalnya.


"Tapi Alice tidak ada disini!"


"Aku hanya bilang bahwa aku tahu dimana gadis itu tinggal, bukan urusanku sekarang dia ada di mana!"


"Tidak bisa! kau harus membuatku bertemu Alice dan setelah itu baru kita impas." Enak saja, Sam sudah mengeluarkan effort besar untuk membantu Eve mewujudkan apa yang dia mau. Mana mungkin balasannya hanya dengan jari telunjuk yang menunjukkan dimana Alice tinggal. Tidak sebanding.


"Yayaya, baiklah. Kau memang tidak pernah merasa puas! Ayo." Eve masuk lagi ke dalam mobil. Lebih baik dia segera menyelesaikan urusannya dengan Sam, agar apa yang dia rencanakan cepat berjalan juga.


"Kemana?" hanya bola mata Sam yang mengikuti Eve.


"Ikut saja!"


"Jangan main-main, Eve!" Sam ikut masuk ke dalam mobil.


"Bisa tidak sih emosimu tidak selalu menggebu-gebu, apa kau tidak ingat kau pernah sangat mencintaiku hahaha." Eve terkekeh sendiri. Mengingat bagaimana dulu lelaki itu sangat mencintainya.


"Sialan! jangan mengungkit bahwa aku pernah sangat bodoh!" Sam mendengus kesal merasa di ejek.


"Sudahlah, ayo kita pergi. Kau sudah tidak sabar untuk segera menemui perempuan itu, kan?" Biasanya, saat Eve menjadi Laura, Sam selalu tersenyum manis dan bergelayut manja ketika bersama dirinya. Tapi saat ini lelaki itu berbeda, menjadi mudah untuk marah.


"Tapi kita akan pergi kemana?"


"Rumah sakit. Gadis itu pasti disana mengurus ibunya."


"Bagaimana kau tau dia disana?"


"Kenapa kau seperti wanita yang sangat cerewet sih! ayo, kita pergi saja ke sana!"


"Bagaimana jika kau menipuku lagi! Eve.. jangan main-main! sejak kemarin kau hanya membuang waktuku saja!"


"Tentu aku tahu segalanya, Aku bahkan tahu segalanya sejak saat kau dan perempuan itu mulai menjalin hubungan. Jangan lupakan Laura, Sam."


Kemudian dua orang itu melanjutkan perjalanan tentang pencarian Alice. Kali ini mereka menuju rumah sakit tempat biasa ibu Alice mendapatkan perawatan. Mereka pasti disana, tidak akan salah lagi.


~


Tubuh Rose dan juga Bianca sama-sama gemetar hebat, orang yang sejak tadi mengetuk pintu ternyata adalah James. Panik bukan main, bagai maling yang tertangkap basah.


"Jelaskan padaku apa maksudnya semua ini?" suara James begitu menakutkan, mencekik leher dua wanita yang kini kebingungan harus menjawab apa. "Rose.." James menatap wanitanya. Meminta penjelasan tentang apa yang terjadi.


"James a-ku.." Rose merasa lehernya semakin tercekik, dia kehilangan kata-kata untuk ia ucapkan kepada James.


"Bagaimana bisa kau melakukan ini?" kali ini tatapannya berpindah kepada Bianca.


Bukannya wanita itu sudah mati? lalu siapa yang ada dihadapanku sekarang?


James tidak habis pikir. Dan Rose.. Kenapa Rose juga ada disana bersama Bianca?


Suara menggelarnya keluar, membuat dua wanita itu berjengkit kaget. Keringat dingin seolah deras mengalir, sungguh, mereka seperti kehilangan lidah untuk mengucapkan sepatah kata.


"Beraninya kau mempermainkan hal seperti ini Bianca! wanita macam apa dirimu sebenarnya? setelah kau membohongi Tuan Muda tentang hidupmu, kau masih berani mempermainkan hal yang lebih lagi!" Sakit. Kepala lelaki itu seperti mau pecah. Otaknya sama sekali tidak bisa mencerna apa yang sedang terjadi sekarang. Hatinya juga terasa dihantam benda tumpul karena wanita pujaannya ikut terlibat.


"Aku bisa menjelaskan semuanya, James. Aku.." Bianca berdiri untuk mengimbangi James. Suasananya begitu kacau, dia harus meluruskan sebelum semuanya benar-benar meledak.


"CUKUP!!! setelah apa yang kau lakukan, kau pikir aku akan mempercayai penjelasan?" Dada itu semakin bergemuruh, emosi James tidak bisa ditahan lagi. Dia marah, dia kecewa.


"Kau tau aku mengabdikan hidupku untuk Tuan Muda, dan hari ini kalian berhasil membuatku menyadari bahwa aku tidak berguna sama sekali."


Astaga! James pikir dirinya sudah melakukan yang terbaik untuk Alvino. Memastikan segalanya berjalan sebagaimana mestinya untuk Alvino.


Tapi segalanya seperti menguap terbawa angin. Bagaimana bisa dia terkecoh oleh permainan dua wanita itu.


"Maaf, James. Aku sudah berniat untuk menceritakan hal ini kepadamu setelah ini, tapi..." Bola mata Rose langsung memanas, melihat lelakinya yang dipenuhi raut kecewa.


"Kau tidak perlu menjelaskan apapun kepadaku, Rose. Kau bisa melakukan itu dihadapan Tuan Muda nanti." Kecewa. Bahkan lebih dari itu. Sepertinya tidak ada kata yang tepat untuk menggambarkan bagaimana perasaan lelaki itu sekarang.


"Rose tidak bersalah, James. Ini semua salahku.. Rose hanya.."


"Aku tidak ingin mendengar apapun dari mulutmu! kalian berdua bisa menjelaskan itu langsung kepada Tuan muda. Aku bahkan tidak akan melakukan pembelaan untuk diriku, perlindungan ku untuk Tuan Muda selama ini sia-sia." Pasrah. Hanya itu satu-satunya yang bisa dia lakukan. Jika dirinya se-marah dan se-kecewa itu, apalagi Alvino.


"Ikut denganku sekarang juga!" James memutar tubuhnya. Berharap dua wanita itu akan mengikutinya.


"Tidak. Aku tidak siap untuk menemui Alvino." Bianca mundur satu langkah, kemudian memegangi perutnya yang membuncit itu. Dia tidak yakin bisa menjelaskan segalanya kepada Alvino, dia juga merasa tidak siap untuk menerima tanggapan ayah dari anaknya itu.


Plak!! tiba-tiba Rose menampar Bianca. Gadis itu benar-benar sudah hilang kesabaran.


"Lalu apa yang kau mau hah? jika kau ingin menggali kuburan mu, gali untuk dirimu sendiri!"


Hiks.. "Aku tidak siap melihat kekecewaan, Alvino. Dia tidak akan menerima ini." Bianca malah menangis. Membuat James dan Rose semakin muak.


"Apa pedulimu tentang perasaan Tuan Muda? ia bahkan hampir gila menghadapi duka kematian mu!" sungguh, rasanya James ingin mencekik Bianca saat itu juga.


"Biarlah selamanya Alvino menganggap ku mati. Aku memang sudah mati." Bodoh. Bianca bodoh. Ia terjebak dalam permainannya sendiri. Niat hati hanya ingin menentramkan keadaan antara Alvino dan adiknya, dia malah membuat keadaan berada di luar kendali. Terlalu mengikuti perasaan sensitifnya dengan tameng kehamilan.


"Lalu kau akan membiarkan kami melanjutkan hidup dengan perasaan berdosa pada Alvino? aku tidak perduli kau hidup atau mati, tapi anak itu! anak itu berhak atas Alvino!"


Situasinya semakin panas dan juga kacau, tiba-tiba, anak yang dibicarakan oleh Rose menunjukkan eksistensinya. Anak yang berada di dalam perut itu bergerak cukup hebat, membuat Bianca meringis kesakitan.


"Awhh.." Bianca sedikit membungkukkan tubuhnya, bayi itu benar-benar bergerak sangat kencang.


"Sudahi sandiwara mu, Bianca! ikut denganku sekarang juga!" James yang sudah sangat kesal menarik tangan Bianca. Dia sudah sangat muak dengan semuanya.


"Awhh.." Meringis lagi. Gerakannya semakin kencang dan tiba-tiba kedua paha Bianca basah. Ada air yang mengalir dari inti tubuhnya seiring rasa sakit yang semakin kuat. "Perutku sakit.. ini sakit.."


To be continued~