
ASTAGA! Nyata kah ini?
Ken benar-benar tertegun tatkala melihat ternyata Keely benar-benar masih hidup dan berada di hadapannya sekarang. Wanita angkuh meskipun sudah tua itu masih berpenampilan modis dan bersikap seolah dia bisa melakukan apapun. Memasang gelagat seolah-olah dia berani menantang Ken yang sepertinya sedang terkejut.
Bukan hanya Ken yang terkejut dengan kedatangan Keely disana, tapi yang lain juga. Termasuk Chyntia yang masih bersimpuh dihadapan Alvino, termasuk Rose kecil yang dulu pernah hidup bersama wanita tua itu, termasuk Alvino yang sama sekali tidak mengenal wanita tua itu, termasuk Alex dan juga James yang sejak tadi setia berdiri di belakang Ken. Semua orang saling melempar pandangan dan seolah bertanya-tanya tentang siapa wanita angkuh itu.
“Kaaau…” Hanya itu kalimat yang bisa Ken katakan sambil memicingkan matanya, juga menajamkan alis mata. Bukan hanya terkejut, tapi Ken terang-terangan tidak menyukai kehadiran dia disana. Semenjak Ken berhasil membawa Emily bangkit dari neraka yang diciptakan ibunya sendiri, Ken benar-benar menganggap Keely sudah mati.
“Kenapa kau sangat kaget anak muda?” Wanita tua itu masih bisa tersenyum smirk, entah apa yang dia pikirkan. Masih membenci dan tidak ada sedikitpun rasa rindu dan kasih untuk putra yang selama ini hidup sendirian tanpa cinta seorang ibu.
Pepatah selalu mengatakan bahwa ‘Orang julid memang selalu panjang umur’. Mungkin itu semua terjadi karena Tuhan masih berbaik hati untuk memberi kesempatan agar orang itu mengakui dosa dan meminta pengampunan, tapi tidak untuk Keely, wanita tua itu masih saja seperti iblis yang matrealistis tanpa kasih sayang. Dia masih menggilai harta mendiang suaminya yang sampai kini belum bisa dia kuasai.
“Pergi atau aku…”
“Apa? Apa kau mengancamku? Apa kau ingin menghancurkan aku seperti kau menghancurkan hidup gadis-gadis yang tidak berdosa?”
Gadis-gadis tidak berdosa? apa maksudnya? memangnya Ken salah apa?
“Ibu..” Eve keluar dari ruangan. Menemui sang ibu yang masih mematung dengan posisi menghiba. Eve ikut-ikutan tercengang melihat kedatangan orang yang selama ini mendoktrin dirinya agar memiliki dendam yang teramat untuk keluarga Lucatu.
“Kau tidak pantas menjadi raja di Lucatu. Lihatlah.. Apa yang kau lakukan bahkan membuat saudaramu menderita, Ken.” Cih, tidak sadar jika ultimatum itu sebenarnya lebih pantas untuk dirinya. Apa kabar saat Keely membuat hidup putra putrinya sendiri lebih dari kata menderita.
“Siapa dirimu berani menilai diriku pantas atau tidak!” Suara Ken sudah terdengar sangat mencekam. Tatapan Ken benar-benar menerkam Keely yang sebenarnya adalah ibunya sendiri.
Benci. Kebencian itu masih tersemat untuk wanita yang seharusnya menjadi orang yang paling dicintai oleh Ken. Keely benar-benar tidak bisa didefinisikan bahwa dia adalah seorang manusia. Bahkan seekor macan pun masih menyayangi anak-anaknya dan menjaga mereka dengan segenap jiwa, tapi Keely? Apa yang sebenarnya wanita itu inginkan? Tidak inginkah dia hidup damai dan penuh kasih di sisa hidupnya. Kenapa masih saja membuat kekacauan dan membuat luka masa lalu kembali muncul ke permukaan. Ken benar-benar membenci wanita yang membawa duka teramat dalam dihidupnya itu. Wanita yang menyebabkan Ken pernah amat sangat membenci kaum wanita sebelum Ken bertemu dengan Monica.
“Lucatu adalah milikku, Milik suamiku!” Wanita tua itu berteriak cukup lantang. Membuat rahang Ken langsung mengeras dan ingin sekali membungkam mulut itu dengan tangannya sendiri.
Suami? Pantaskah Keely menganggap mendiang ayah Ken sebagai suaminya setelah apa yang dia lakukan selama ini. Keterlaluan. Keely memang sudah sangat keterlaluan.
“Kau tidak lebih dari pencuri yang hanya mementing kan egomu! Kau bahkan tega membuang ibumu menjadi sebatang kara!”
“Jaga mulutmu atau….”
Memangnya siapa yang penjahat disini? Hilang ingatan kah Keely atas apa yang telah dia lakukan selama ini?
“Atau apa?”
Ya Tuhan, andai saja Keely bukan kaum Monica dan Monica tidak menanamkan bagaimana cara menghargai wanita, mungkin saat itu juga Ken akan mencekik Keely tanpa berpikir panjang lagi.
Sementara Alvino, Alvino sudah sangat lelah dengan semua yang terjadi secara bertubi-tubi. Otaknya selalu dipaksa untuk berpikir, perasaannya selalu digonjang-ganjing dalam waktu bersamaan . Membuat lelaki itu tiba-tiba pudar kesadarannya. Dunia tiba-tiba menjadi hitam dan Alvino kehilangan kesadarannya ketika melihat argumentasi antara Ken dan juga wanita yang katanya adalah ibunya.
“Kakak…” Eve yang pertama kali berteriak.
“Tuan Muda..”
“Alvino!”
Semua orang buru-buru menghampiri Alvino. Semuanya panik ketika tubuh Alvino lunglai dan terjatuh di lantai begitu saja.
Ken meraup tubuh pingsan Alvino kedalam pangkuannya, menepuk pelan wajah anak muda itu berharap agar dia kembali tersadar. Tapi tidak, tubuh itu tidak bergeming. Lelaki yang ditempa ujian bertubi-tubi itu benar-benar kehilangan kesadarannya.
“Panggil dokter!” Seru Ken sambil berusaha bangkit dan membopong tubuh anak sambungnya. Ken tidak lagi menghiraukan Keely yang sudah ingin ia akhiri hidupnya. Alvino lebih penting ketimbang mengurusi wanita tua yang dirasuki iblis.
Semua orang langsung hilir mudik memanggil bantuan, berharap Alvino segera ditangani dan tidak terjadi sesuatu yang buruk terhadapnya. Baru kali ini mereka mendapati Alvino seperti itu, mungkin itu karena bukan hanya fisik Alvino yang dihantam, tapi batinnya juga.
“Singkirkan wanita tua itu dari pandanganku!” Bisik Ken kepada Alex setelah menempatkan Alvino agar segera mendapatkan tindakan.
“Baik Mister...” Alex menunduk patuh dan segera melaksanakan perintah Ken.
“James, beritahu istriku agar dia datang kemari.” Ah~ Ken memijat pangkal hidungnya. Apa yang terjadi dalam waktu singkat itu benar-benar membuat kepalanya berputar.
“Baik Mister.” sama halnya dengan Alex, James mengangguk patuh dan segera melaksanakan perintah dari Ken. Mengangguk kemudian mundur satu langkah dan berbalik badan untuk segera menuju Monica yang berada dirumah Alvino.
“James! jangan katakan keadaan Alvino. Jangan membuat wanita ku khawatir.” Ken menghentikan James yang sudah akan bergegas, meskipun pening tapi ternyata pak tua masih mengkhawatirkan istrinya, Monica.
James mengangguk lagi, tanda dia mengerti apa yang dimaksud Ken, apa yang Misternya itu inginkan.
Astaga!
Ken menjatuhkan tubuhnya di kursi tunggu, menaruh tangannya yang terkepal sebagai tumpuan kepala yang rasanya seperti akan pecah. Berpikir dan menelaah semuanya. Setelah sekian tahun hidup dalam damai, baru kali ini kekacauan terjadi lagi. Dan ini semua melibatkan konflik yang pelik.
Sementara tiga wanita yang menyaksikan adegan tadi hanya berharap cemas dengan mata yang sudah sama-sama berair. Yaa., Rose, Eve, Chyntia. Tiga wanita itu sama gusarnya dengan Ken tentang kondisi Alvino.
Semoga Alvino baik-baik saja.. :’