You Decided

You Decided
Merindukanmu



Alvino sudah sampai di apartemen Bianca, lelaki itu langsung saja masuk dan segera menemui Bianca. Gadis yang belakangan ini Alvino abaikan tanpa pernah diberi kabar atau apapun, Bianca terlihat tengah duduk sambil terpaku oleh kedatangan Alvino.


"Al? Kau kah itu?" Bianca berdiri dan menatap Alvino dengan lekat. Memastikan bahwa dia tidak sedang berhalusinasi, memastikan bahwa lelaki yang ada di hadapan itu benar-benar Alvino. "Astaga..Aku sangat merindukanmu." Gadis itu langsung menghambur memeluk Alvino meskipun Alvino masih diam dengan wajah yang datar.


"Maaf membuatmu menunggu, belakangan ini aku sangat sibuk." perlahan Alvino mulai membalas pelukan Bianca. Merengkuh gadis itu dan menghirup aroma tubuh Bianca yang sudah lama tidak ia lakukan. "Aku juga sangat merindukanmu." ujar Alvino sambil masih merangkum tubuh Bianca didalam pelukannya. Pasangan kekasih yang sudah lama tidak bertemu itu langsung mencairkan rasa rindu melalui sebuah pelukan yang erat.


"Aku hampir mati sendirian disini.. kau bahkan tidak memberiku pesan atau apapun." Bianca melepas pelukan itu, memberi jarak antara mereka dan menatap mata indah yang selalu memancarkan aura damai.


"Maaf.." Alvino langsung membungkam mulut Bianca dengan mulutnya. Memagut dan menghisap kecil bibir yang sudah lama tidak ia kecup.


Entahlah.. Alvino tidak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya sendiri. Dia menjadi seolah tidak bersemangat, Alvino bahkan enggan untuk berbasa-basi dan mengobrol bersama Bianca. Yang lelaki itu mau hanyalah melampiaskan rasa yang tidak ia ketahui apa namanya.


Rasanyas seperti..... Raga Alvino disana namun hati dan pikirannya berlarian..


Se-per-sekian detik mereka berpagutan. Bahkan beberapa kali sebuah lenguhan lolos dari bibir masing-masing. Namun entah kenapa tiba-tiba Alvino melepas ciuman itu.


Sial! Kenapa wanita ituuu~ Sudahah Alvino! kau mencintai Bianca dan dia adalah kekasih Sam! Kau mungkin hanya kagum, jangan berlebihan.


Alvino mengepalkan tangan. Kenapa bayangan Alice seolah memenuhi kepalanya. Bahkan saat ia akan bercumbu dengan Bianca. Sadar Al, dia adalah kekasih adikmu!


"Kenapa? kau sepertinya gelisah?" Bianca menatap Alvino lagi, dan raut wajah lelaki itu jelas menunjukan gurat kecemasan.


"Tidak.. Aku hanya sedikit lelah."


Alvino kemudian melangkahkan kaki menuju sofa besar, meninggalkan Bianca yang masih masih berdiri diam dengan seribu tanya. Bianca yang masih tidak mengerti dengan apa yang terjadi, hanya menyaksikan bagaimana punggung itu kian menjauh. Pikirannya menerka-nerka, lelaki itu nampak sedikit berubah, Alvino rasanya lebih dingin dan sepertinya sedang banyak pikiran. Bianca kemudian membiarkan lelaki itu namun sedetik kemudian ia pun mengekorinya.


"Ada apa? kau sepertinya sangat lelah.." Bianca duduk disamping Alvino, meraih tangan lelaki itu untuk digenggamnya. "Kau baik baik-baik saja bukan?" Bianca mencoba mencuri pandang agar tatapan mereka bertemu namun tatapan Alvino masih saja memandang tidak tentu arah.


"Aku tidak apa-apa, hanya sedikit lelah.. harusnya aku yang bertanya kepadamu, Apa kau baik-baik saja? Maaf aku mengabaikanmu berapa hari ini, aku sungguh sangat sibuk.. Kau pasti kesepian ya?" Alvino menatap gadis itu, kemudian membelai wajah Bianca dengan lembut dan penuh kasih seperti biasanya.


"Berada disampingmu, bagaimana aku bisa tidak baik-baik saja. Tentu aku baik-baik saja, Hon. Aku hanya merindukanmu." Bianca menatap nanar ke arah Alvino, Benar-benar merasai betapa lembutnya tangan itu membelai wajahnya. Uuuuwhhh,, Bianca sungguh merindukanmu hal seperti ini. "Bagaimana keadaan adikmu? apa dia sudah membaik?"


"Baik.. dia sudah sangat baik." Alvino menjawab datar, namun jari-jarinya masih menari membelai wajah Bianca.


"Syukurlah.." Bianca tersenyum simpul.


"Kau pasti ingin menjenguknya bukan? bertemu keluargaku juga?"


"Belum waktunya aku mempertemukanmu dengan mereka. Kita harus menunggu waktu yang pas untuk berkenalan." Tangan Alvino kini merambat menuju rambut, lagi-lagi jari itu menari dan bermain disana.


"I-iya.." Kenapa Bianca rasanya kembali gugup berada dihadapan Alvino. Lelaki itu sedikit berbeda. Entah karena mood yang jelek atau hal yang lain.


"Bagaimana hari-harimu? apa kau hanya menghabiskan waktu disini?"


"Apalagi yang bisa ku lakukan, kau yang memintaku tinggal dan jangan bekerja atau apapun kan?" Bianca semakin intens menatap Alvino. Seolah semakin gencar mencari jawaban dari pancaran mata lelaki itu.


"Hah.. Maafkan aku Bee, aku mengabaikanmu. Entahlah.. hatiku rasanya gusar, aku tidak tahu kenapa." Alvino merebahkan kepalanya disandaran kursi dan memejamkan mata.


"Kau bisa berbagi jika mempunyai keluh kesah, aku akan mendengarkanmu." Bianca kini menyentuh rambut Alvino. Mengelus lelaki itu agar tercipta rasa nyaman.


"Akujuga tidak mengerti apa yang terjadi." Alvino masih memejamkan mata, membiarkan wanita itu masih mengacak rambutnya.


"Mungkin kau sedang lelah, sayang. Beristirahatlah, kau mungkin butuh waktu tidur yang cukup. Ayo, aku akan menemanimu."


Mereka kemudian berpindah tempat menuju tempat tidur. Bianca memepersilahkan lelaki itu untuk menumpahkan diri dipelukannya. Bianca mencoba membuat lelaki itu nyaman agar terlelap. Namun saat berpelukan justru malah muncul perasaan yang lain.


"Aku mencintaimu." ujar Alvino dibalik pelukan Bianca. Wajah lelaki itu kini dibenamkan tepat di dada milik Bianca. "Aku sangat mencintaimu." Alvino mengulang kalimatnya. Ingin meluruskan bahwa hatinya itu milik Bianca. Meyakinkan diri bahwa hanya wanita itu yang dicintainya.


"Akujuga mencintaimu.. Tanpa perlu kau mengatakannya, aku tau kau mencintaiku." Cupp!! Bianca membubuhkan kecupan dikepala Alvino.


"Maaf aku mengabaikanmu, Bee." Lagi-lagi Alvino meminta maaf untuk kesalahan yang sudah berkali-kali ia akui. Alvino kemudian memberi jarak agar pandangan mereka bertemu. "Sebagai permintaan maaf karena telah mengabaikanmu, aku sudah membelikan sebuah toko kue untukmu."


"Toko kue?" Bianca tercengang dan mengulang kalimat itu. Menatap Alvino penuh rasa tidak percaya.


"Bukankah kau ingin memiliki toko seperti itu?"


"Aaaaaa~ kau selalu memberikan hal yang tidak terduga." Bianca tersenyum lebar diiringi mata yang mulai berembun. Memiliki toko kue memang salah satu cita-cita Bianca. Lihatlah bagaimana mudahnya lelaki itu mewujudkan keinginannya. "Terimakasih banyak, sayang. Aku sungguh sangat senang."


Cupp! Bukannya membalas ucapan Bianca Alvino justru langsung menyambar bibir gadis itu lagi. Menciumnya dengan cukup rakus diiringi tangan yang mulai merambat kesana kemari. Alvino benar-benar meresapi ciuman itu, berharap kembali merasai cinta antara dirinya dan Bianca.


Aku hanya mencintai, Bianca. Tidak ada yang lain~