
Bianca terbangun dan mendapati dirinya berada dirumah sakit. Beberapa hari ini tubuhnya memang terasa kurang fit, terlalu memaksakan diri untuk sibuk meskipun tidak sesibuk itu. Bianca mengedarkan pandangannya diruangan itu, suasananya begitu sunyi tanpa ada satu orangpun disana. Tiba-tiba saja matanya terasa perih, saat itu ia benar-benar merasa sendirian. Tidak punya siapapun. Bahkan dalam keadaan sakitpun ia harus bisa merawat dirinya sendiri.
"Andai nenek masih ada. Pluk!!" Bulir air mata mencelos dari sudut matanya. Menjadi sendirian ternyata rasanya tidak enak. Tidak ada yang menemaninya atau bisa sekedar menjadi tumpuan, Bianca kira setelah dirinya menjadi kekasih Alvino, kesendirian itu akan berakhir. Hidupnya yang hampa akan kembali berwarna.
Flashback on!
Bianca.
Seorang gadis yang harus menanggung beban yang lumayan berat dibahunya. Mungkin bisa dibilang Bianca adalah anak yang broken home. Karena gadis itu ditinggal sendirian oleh kedua orang tuanya. Bianca hanya tinggal bersama sang nenek sekarang.
Semula hidup Bianca normal dengan keluarga yang utuh. Bergelimang harta dan bahkan menjadikannya orang yang sangat angkuh. Namun semuanya berubah setelah ayah Bianca selingkuh, meninggalkan Bianca dan sang ibu begitu saja. Belum cukup sampai disitu, ternyata ibu Bianca juga ikut-ikutan pergi bersama lelaki lain yang menjadi pilihannya. Bianca terpaksa menjadi penari untuk manfkahi dirinya sendiri. Untuk menyambung hidup dan menanggung biaya sang nenek yang sekarang sedang sakit-sakitan.
Hiks! sakit rasanya jika mengingat masa lalu~ Bianca semakin menitikkan air matanya. Kembali mengingat masa-masa kelam dalam hidupnya.
"Bee.."
"Kenapa memanggilku Bee? Namaku Bianca!"
"Aku minta maaf untuk kejadian semalam.. Aku mabuk."
"Heh.. Orang ber-uang sepertimu memang selalu semena-mena. Kau bebas melakukan apapun tanpa memikirkan perasaan orang lain! Lihat.. kau bahkan dengan mudah membawaku ke tempat ini."
"Apa maksutnya Bee? aku benar-benar tidak berniat untuk melakukan itu kepadamu. Lagipula bukan aku yang menginginkan pesta itu."
"Sudahlah Al. Semuanya sudah terjadi.. kalo kau sudah selesai, sekarang aku mau pulang."
"Aku minta maaf.. ku mohon.. Aku tidak bisa hidup dengan rasa bersalahku terhadapmu."
"Tidak perlu meminta maaf.. Harga diriku lebih rendah dari kata maaf mu itu. Untuk sekian tahun aku dicemooh sebagai pel*cur yang menjual diri dan aku selalu berusaha menepis tudingan itu. Tapi sekarang... lihatlah.. kau membayarku dan kita sudah melakukan hal itu. Aku benar-benar pel*cur sekarang."
"Aku akan menebus kesalahanku Bee. Kau akan disebut pel*cur jika berganti-ganti pria.. Sex bersama kekasih bukan melacur bukan*?"
Kekasih?
Dan seharusnya Bianca tidak terlalu menaruh harapan kepada Alvino, kepada lelaki yang menjadikannya kekasih hanya karena Alvino merenggut mahkotanya saat ia sedang mabuk. Seharusnya Bianca juga melawan James saat lelaki itu mengancamnya saat itu.
(Baca ulang part "Ancaman".)
Flashback off!
Beruntungnya tidak ada sesuatu yang serius terjadi pada Bianca. Gadis itu hanya kelelahan dan kurang vitamin saja. James cukup bisa bernafas lega saat mendengar hasil pemeriksaan dokter. Padahal tadi jantungnya hampir saja copot, membayangkan reaksi Alvino jika tahu tentang hal itu.
"Hiks.." samar-samar James mendengar isak tangis dari balik ruangan dimana Bianca dirawat. Suara itu terdengar rintih sekali.
Krekk!! James membuka pintu. Dan benar saja Bianca sedang menangis diatas brankar. Namun saat James masuk kedalam sana, Bianca buru-buru menghapus air matanya. Mencoba menyembunyikan bahwa ia habis menangis, meskipun jelas-jelas James sudah melihatnya.
"Dasar cengeng, sakit segini saja menangis!" James menatap Bianca dengan tatapan yang biasa ia berikan untuk gadis itu. "Makanlah, setelah itu habiskan vitamin ini." James menghampiri Bianca dan menaruh obat-obatan yang baru saja ia tebus disamping makanan. Kemudian duduk disofa tanpa tenaga.
"Siapa yang menangis?" Bianca mengusap air matanya cukup kasar. Meskipun sudah terbiasa, tapi ia masih selalu tidak terima jika James mengatainya seperti itu.
"Lalu kenapa hidungmu merah? Apa kau sengaja menekannya agar kau tidak bisa bernafas lagi?"
Astaga James! Bianca mengepalkan tangannya sendiri. Tidak tahukah bahwa Bianca sedang melow saat itu? Dasar laki-laki tidak punya hati!
"Aku ingin pulang!"
"Aku bisa merawat diriku sendiri. Aku tidak butuh dokter!"
"Dasar gadis pembangkang! Lebih baik cepat habiskan makananmu dan minum vitamin itu. Agar kau bisa cepat pulang." Meskipun dingin dan datar, tapi disini James selalu menyahut seruan Bianca. Lelaki itu bisa dibilang lebih baik ketimbang sikapnya di toko.
"Aku tidak mau makan, aku mau pulang!" Bianca bersikukuh dengan keinginannya. Sebagai gadis sebatang kara ia biasa merawat dirinya sendiri. Ia tidak memerlukan dokter, pikirnya.
"Apa harus aku masukan mangkuk itu kedalam mulutmu?"
James benar-benar lelaki yang tidak punya hati. Disaat Bianca sedang sakitpun tetap saja sikapnya seperti itu. Menyesal tadi memujinya lebih baik ketimbang ditoko. Dimanapun dan kapanpun James akan tetap menjadi James yang menyebalkan!
"Tidak bisakah kau bersikap baik kepadaku James? Memangnya apa salahku hingga kau sangat membenciku?" Argumen yang tidak pernah usai itu kembali muncul kepermukaan. Menjadi bahasan yang tidak pernah menemukan titik temu.
"Aku memang seperti ini! Memangnya harus bagaimana?" Mereka saling menatap satu sama lain.
"Sepertinya kau adalah robot buatan Alvino? Iya kan?" Bianca menatap James dengan tatapan menyelidik. Benar. Lelaki itu sepertinya betul-betul robot buatan Alvino. Terlihat dari bagaimana ia sangat kaku dan sangat menuruti perintah Alvino.
"Robot apa?!" James menjawab dengan nada tidak suka.
"Kau bahkan tidak tahu bagaimana bersikap kepada wanita. Kau tidak bisa mengontrol mulutmu dan bahkan tidak bisa tersenyum."
"Begini?" James menarik kedua ujung senyumnya. Menunjukan bahwa ia bisa tersenyum meskipun sekilas.
Eh.. apa yang ku lakukan? *James
Haha.. Bianca tertawa kecil. Jadi seperti itu yaa jika James tersenyum?
Eh... Kenapa aku tertawa? *Bianca
"Cepatlah makan. Aku harus pergi. Nanti malam aku akan membawa pelayan wanita untuk menemanimu." James bangkit dan berniat meninggalkan Bianca.
"Tidak perlu. Aku akan pulang sekarang!"
"Jangan membangkang, Bianca!" James kembali menatap gadis itu.
"Aku akan menurut asal kau mau menjawab pertanyaan ky." Bianca memberikan penawaran.
Apalagi yang dia mau? James geram sendiri. "Apa?"
"Dimana Alvino?"
"Sudahlah.. Jangan terus menerus menanyakan Tuan Muda. Akujuga tidak tahu. Lebih baik kau memikirkan dirimu sendiri."
"Apa maksudmu tidak tau? bukannya kemarin kau menjemputnya? tapi sampai saat ini dia belum menemui aku."
"Jangan terlalu berharap lebih. Tuan Muda tidak pernah mengenal cinta atau wanita sebelumnya."
Dasar si robot menyebalkan!!
Note :
Novel ini dibuat karena melanjutkan cerita dari "Wanita Pekerja Malam". Sequel tentang anak-anak Monica dan Ken. Jadi wajar kalo banyak pemeran disini, orang anak mereka tiga. Dan pemeran utama disini adalah Alvino. Kalo yang kesel atau selalu ngedumel, aku saranin bacanya nanti kalo udah tamat ajadeh. Belajar dari novel WPM aja, disana juga banyak teka-teki. Bedanya disana pemerannya sedikit dan gak ditulis dengan detail orang-orangnya. Dan itu salah satu alasan kenapa WPM tamat sebelum episode 100, pada ngamuk gegara hasil DNA salah, readers selalu gak terima dengan cara gue ngasih feel di cerita yang gue bikin. Kalo setiap cerita datar dan gada konflik, emang seru? kalo langsung happy ya tamat dong. Ngapain lagi? Sekian!