
Anak perusahaan Lucatu~
Hari ini Alice datang lebih awal dikantor tempat dirinya bekerja. Kantor yang konon katanya seperti kisah dinegeri dongeng yang mengutuk kehadiran wanita, yaa, rumor mengatakan seperti itu. Dulu pemilik perusahaan raksasa itu sangat-sangat membenci wanita.
Hahaha.. apa dia penyuka sesama jenis? Alice selalu tertawa kecil jika orang-orang disekitarnya berbicara tentang kisah perjalanan perusahaan itu. Tapi masa bodoh, Alice berada ditempat itu hanya untuk bekerja. Tidak penting bagaiman kisah itu, yang terpenting ia bisa menghasilkan uang pikirnya.
"Alice.. Bisakah kau menemui klien dan menyerahkan dokumen ini? Jane sedang sakit. Aku harap kau bisa menggantikan posisi dia untuk beberapa hari." Elena, seorang menejer diperusahaan itu memberikan titah untuk Alice.
Aneh sekali, perusahaan ini selalu meng-anak emaskan anak baru ini. Mereka sampai memberi cuti untuk Jane hanya untuk membuat gadis itu menggantikan posisinya. Tapi yasudah lah. Peraturan kerja di Lucatu adalah jangan banyak bertanya tentang apa yang bukan urusanmu!
"Aku?" Alice menunjuk dirinya sendiri.
"Iya, kau." Elena mengiyakan.
"Owh.. Tentu saja, dengan senang hati." Alice menerima dokumen itu sambil tersenyum lebar. Akhirnya ia mendapat pekerjaan yang wajar untuk gaji yang ia terima, selama ini yang ia kerjakan hanyalah menyalin dan memindahkan data. Itu saja.
Alice kemudian bersiap-siap. Gadis itu berlatih bagaimana ia harus berbicara didepan klien nanti. Ternyata rasanya gugup. Jantungnya terasa berdebar cukup kencang untuk pengalaman pertamanya.
"Oke, kau pasti bisa Alice!" Gadis itu begitu percaya diri. Begitu antusias dan menghela nafasnya berulang kali.
Beberapa jam kemudian.
Sudah di restoran~
Alice segera mencari meja yang sudah dipesan oleh Elena, sambil sesekali melirik jam tangan memastikan bahwa ia tidak terlambat. Bisa kacau jika ternyata klien itu datang lebih dulu.
"Ini semua karena sopir itu yang berjalan lambat!" Alice menggerutu didalam hati. Dan benar saja, ketika Alice menyapu pandangannya, sudah ada sosok laki-laki yang duduk dimeja yang sudah di reservasi oleh Elena. "Gawat!" Alice buru-buru melangkahkan kakinya.
"Permisi, Tuan. Maaf membuat anda menunggu. Jalanan menuju kesini cukup macet." Alice mengucapkannya dengan sangat canggung, semoga klien itu tidak marah dan melaporkan nya kepada Elena.
Ayo, Alice! Jangan merusak pengalaman pertama mu. Atau kau akan kembali hanya berkutik didepan komputer lagi!
"Silahkan duduk." Lelaki itu mempersilahkan Alice untuk duduk dan sejurus kemudian Alice pun duduk sambil membereskan dokumen yang ia bawa.
"Perkenalkan, Nama saya Alice." Gadis itu mengulurkan tangannya sambil tersenyum.
"Pierce." Lelaki itu menerima uluran tangan Alice. Mereka berjabat tangan kemudian kembali ke topic utama. "Apa yang ditawarkan oleh perusahaan mu?"
Apa? Mana ku tahu! Aku kan hanya diminta memberikan dokumen ini!
"I-ini Tuan, saya diperintahkan untuk memberikan ini kepadamu." Gugup lagi. Alice tidak menyangka jika keadaannya seperti itu. Kenapa Elena tidak memberi tahu apa yang harus ia jelaskan tentang dokumen itu?
"Tidak usah canggung, panggil aku Pierce." Sungguh, Alvino tidak bisa menahan tawanya ketika melihat ekspresi Alice yang kebingungan. Skenario ini benar-benar mendadak dan belum matang sempurna. Alvino sedang belajar bagaimana menyamar menjadi orang lain.
"Pierce.. Hm iya, Pierce."
"Boleh aku lihat dokumennya?" Alvino menatap gadis itu, membuat pandangan mereka bertemu. Tapi sepertinya Alice benar-benar tidak mengenalnya. Artinya penyamaran itu berhasil, pikirnya. Padahal yang membedakan antara Pierce dan Alvino hanyalah potongan rambut dan kaca mata saja.
"Silahkan, Tuan. Eh maksudku Pierce." Alice menyerahkan dokumen itu kemudian meremat jari-jarinya sendiri.
Bodoh. Kenapa aku sangat antusias dibidang yang sebenarnya tidak aku kuasai? bekerja di kantor saja sudah sangat suatu keajaiban!
"Aku akan memikirkan dokumen ini, jangan takut, aku tidak akan membuatmu dimarahi Bossmu." Alvino meletakkan dokumen itu, kemudian memanggil seorang pelayan untuk membawakan menu.
"Pesanlah makananmu, kita makan siang bersama. Aku yang traktir." ujar Alvino setelah pelayan itu datang menghampiri meja mereka.
Siang itu Alvino makan siang bersama Alice sebagai Pierce. Lelaki itu mencoba mencairkan suasana, tahu jika Alice belum nyaman dengan suasana itu. Tapi sepertinya Alice memang berjiwa friendly, gadis itu sangat asik untuk diajak mengobrol.
"Kau sepertinya anak baru, aku belum perna melihat mu sebelumnya." Alvino mulai berbasa-basi, memperdalam keakraban mereka.
"Yaa, aku anak baru. Sebenarnya ini bukan pekerjaan ku, aku kesini hanya mengganti temanku yang sedang sakit untuk beberapa hari." Alice menjawab apa adanya, sambil sibuk dengan makanan yang ada dihadapannya.
"Kau senang bekerja di perusahaan itu?"
"Tentu saja, meskipun sedikit merasa aneh. Pekerjaan dan gajinya tidak seimbang."
"Tidak seimbang? apa gaji mu kurang?" Alvino menelan ludah sendiri, tentang pekerjaan dan gaji Alice kan ia yang mengatur.
"Tidak. Justru gajiku lebih dari cukup. Hanya saja terkadang aku tidak mengerti, hanya bekerja menyalin dan memindahkan data tapi gajiku seperti karyawan senior. Hihi. Maaf bercerita terlalu banyak, harusnya itu menjadi rahasia perusahaan." Aaa~ sudah lama tidak punya teman mengobrol, rasanya makan siang bersama Pierce seperti makan siang bersama teman lama. Pikir Alice. Ia bahkan sampai tidak bisa mengontrol mulutnya untuk berbicara.
"Tidak apa. Senang berkenalan denganmu, ku harap kita bisa menjadi teman." Alvino tersenyum tipis, sedikit lega bahwa gadis itu tidak kekurangan sedikit pun.
"Kita sudah menjadi teman saat berjabat tangan tadi, bukan begitu?" Alice tersenyum manis, begitu manis sampai membuat jantung Alvino berdebar kencang. Sampai-sampai Alvino tidak bisa menjawab lagi, yang bisa ia lakukan hanya mengangguk-angguk kecil. "Bagaimana denganmu Pierce, apa kau seorang karyawan juga?"
"Karyawan?" Alvino menatap Alice karena penuturan gadis itu. Tidak bisakah dia membedakan setelan karyawan dan seorang Boss?
"Eh.. Maaf, aku menebak tanpa bertanya." Alice tersenyum canggung. Kenapa so tahu seperti itusih.
"Ya.. Kau tidak salah. Aku memang seorang karyawan yang diminta memgambil dokumen ini." Alvino ikutan tersenyum canggung. Biarlah penyamaran itu semakin jauh, agar semakin jauh juga ia memasuki kehidupan Alice yang sejak kemarin takut-takut ia mulai. Sekaligus Alvino juga memperdalam bagaimana ia harus menyamar ditempat lain. Dihadapan yang lain termasuk anggota keluarganya. "Apa nanti malam kau ada acara? hm maksudku.. aku ingin mengajakmu jalan-jalan. Apa kau keberatan?"
"Aaahh.. Maaf Pierce. Tapi nanti malam aku akan menjenguk temanku, aku sudah berjanji kepadanya."
"Tidak masalah. Aku akan menemanimu." Alvino melemparkan senyuman lagi.
"Benarkah?"
"Tentu."
"Baiklah, kau boleh menemaniku nanti malam."
Benarkah? Alvino mematung tidak percaya. Ternyata menjadi dekat dengan Alice tidak se-sulit itu. Meskipun ia menjadi seorang Pierce, tapi rasa senang itu tidak bisa ditutupi.
"Kalo begitu aku harus kembali ke kantor sekarang, sampai jumpa nanti malam."
"Aku akan menjemputmu." Alice mengangguk sambil tersenyum. Kemudian melambaikan tangan dan bersiap pergi dari tempat itu.
Pierce sepertinya orang baik~
"Alice?"
"Ya?"
"Apa kau tidak akan memberikan nomor ponselmu?"
Eh? Alice kembali menoleh kemudian menghampiri Alvino dan memberikan nomor ponselnya kepada lelaki itu. "Sampai jumpa."