
“Tempat apa ini James?” Rose menatap sekeliling saat mereka baru saja tiba di sebuah tempat. Belum masuk saja rasanya tempat itu sudah dingin dan mencekam. Rasanya menakutkan sekali.
“Maaf Nona, maksudku maaf Rose sudah membawamu ke tempat ini. Tapi tidak ada pilihan lain, aku tidak bisa meninggalkanmu sendirian. Untuk itu aku mengajakmu kesini, ada urusan penting yang harus aku lakukan saat ini juga.” Mereka masih berada dalam mobil dan saling menatap.
“Urusan penting? urusan apa?” Rose semakin memandang James. Penasaran dengan tempat seperti apa yang mereka datangi.
“Aku harus masuk ke dalam. Aku akan menemui Bianca, dia sedang pingsan.”
“Bianca? Maksudmu gadis yang tadi bersama Alvino?” Air muka Rose langsung berubah. Kenapa James harus membawanya kesana. Bukankah hari ini juga Rose akan menghindari Alvino? Kenapa justru mereka akan bertemu lagi di hari yang sama. Bodoh. Kau yang mau ikut!
“Kau tidak keberatan kan?” Tanya James sambil memandang Rose yang sudah mengalihkan pandangannya.
Tentu saja aku keberatan! Setidaknya kenapa tidak memberiku waktu untuk tidak bertemu Alvino dulu? Ini malah harus bertemu Alvino bersama Bianca lagi. Eh.. Tapi kenapa harus grumpy seperti itu? James kan tidak tahu menahu.
“Kau saja yang pergi, aku ingin pulang.”
“Rose.. Ku mohon! Tuan Muda akan marah jika tahu soal ini.” James memelas agar Rose mau ikut bersamanya. Sudah sangat pusing dengan segala himpitan yang author berikan untuknya. Maksudnya himpitan kesibukan yang ditugaskan oleh Alvino. Satu sisi James ingin segera menemui Bianca, tapi ia tidak mau membiarkan Rose sendirian.
“Tuan Muda? Maksudmu?”
“Tempat ini adalah ruangan bawah tanah, tempat rahasia. Dan Bianca sedang berada di bawah sana atas perintahku.” Biasa tidak banyak bicara, kini James malah menjadi pria yang banyak berbicara.
“Kenapa? Kenapa dia bisa berada disana? Apa Alvino juga ada disana?”
“Hanya Bianca. Aku janji akan menceritakan segalanya nanti. Tapi sekarang ku mohon kau mau ikut. Aku tidak bisa meninggalkanmu sendirian. Ini darurat.”
Tidak ingin meninggalkanku? Maksudnya?
Sepersekian detik Rose berpikir, namun selanjutnya ia setuju juga untuk mengikuti James lagi. Aaaaa~ Kenapa ia jadi sangat patuh sih. Selalu saja menurut. Mungkin karena James yang selalu terang-terangan bersikap manis terhadapnya. Rose benar-benar tidak menyangka bahwa ternyata James tidak sekaku itu.
Turun dari mobil..
Berjalan masuk berdua.
Perjalanan menuju ruang bawah tanah itu terasa sangat lama sekali. Selain mendapatkan beberapa pemeriksaan mereka juga harus melalui beberapa pintu untuk menuju tempat dimana Bianca berada. Tempat itu begitu menyeramkan, mirip sebuah penjara yang tidak pernah tersentuh oleh siapapun.
“Jangan takut, ada aku.” Ujar James yang berjalan didepan Rose. Sementara Rose hanya mengangguk samar sambil terus mengikuti kemana perginya James.
Bianca masih terkulai lemah meskipun dokter khusus telah memeriksanya. Gadis itu begitu berantakan dengan mata sembab yang masih berair meskipun sedang terpejam. Rose yang menyaksikan pemandangan itu langsung menghambur menghampiri Bianca.
“Astaga!! Apa yang sudah kalian lakukan?” Rose sungguh tidak percaya dengan apa yang dia lihat. Gadis manis yang tadinya bergelayut manja di lengan Alvino kini malah terlihat lemah tidak berdaya dengan penampilan yang berantakan. “Bianca? Apa kau baik-baik saja?” Rose mengusap lembut lengan Bianca. Tahu gadis tidak tertidur melainkan sedang menangis tanpa suara.
“Aku tidak menyangka kalian begitu kejam. Ayo! Kita keluar dari sini!” Rose sudah salah paham. Tidak tahu apa yang terjadi tapi ia sudah menyimpulkan bahwa Bianca mendapat siksaan di tempat itu.
“Rose..” James menatap Rose yang begitu spontan menyikapi apa yang ia lihat. Bukan hanya Rose, James juga merasa kasihan. Tapi membawa Bianca keluar saat itu bukanlah pilihan yang tepat. “Bagaimana keadaannya? Kenapa dia bisa sampai pingsan?” James beralih menatap dokter khusus yang tadi memeriksa Bianca.
“Apa?” Rose membulatkan matanya tidak percaya. Bianca hamil?
Hiks.. Bianca malah menangis semakin tersedu. Disaat keadaan yang harus ia hadapi tidak kondusif, ia justru mendapati dirinya tengah berbadan dua.
“Benarkah?” James juga menatap tidak percaya. Kenapa gadis rubah itu malah hamil disaat kebusukan tentangnya baru saja akan dibongkar. Tidak. Ini tidak mungkin.
Bianca bangun, mengusap air matanya dengan kasar kemudian menatap James dengan sangat menakutkan. “Tinggalkan aku dan James!” Ucapnya dengan nada lirih. Mengusir Rose dan juga sang dokter.
“Tidak! Aku tidak mau meninggalkanmu, Bianca. Ayo kita keluar dari sini. Aku akan membawamu ke rumah sakit agar segera mendapatkan penanganan yang lebih baik.”
“Terimakasih atas perhatianmu, Nona. Tapi aku dan James benar-benar memiliki urusan yang harus diselesaikan.” Tom and jerry itu saling menatap. Biasa saling bertengkar dengan nada mengancam, kini hanya netra mereka yang saling menikam dan menyalahkan.
“Kau saja yang pergi, biar Rose tetap disini.” Titah James kepada dokter yang masih berdiri disana. Dan sedetik kemudian dokter itu pun mengundurkan diri.
Kini di ruangan itu hanya ada mereka bertiga. Bianca, James dan juga Rose. Belum ada lagi satu patah kata yang terucap untuk memecah keheningan. Hanya isakan Bianca yang menjadi tabuh menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya.
“James.. Bukankah kau ingin tahu siapa aku sesungguhnya?” Bianca menatap sendu ke arah James, kepada lelaki yang selalu mengancam nya. Tapi apapun yang James lakukan, Bianca bisa memaklumi. Yang James lakukan hanya semata-mata untuk melindungi Alvino. Ia sangat tidak ingin ada hal buruk yang menimpa Tuan Mudanya. “Aku tahu dimana keberadaan Evelyn, adik kecil yang selama ini Alvino cari. Tapi sebelum aku memberitahukan ini semua kepadamu, tolong, aku mohon dengan sangat. Biarkan aku yang mengatakannya sendiri kepada Alvino. Aku harus menghadapi kekecewaan Alvino kepadaku sendiri. Aku tidak ingin melibatkan siapapun dalam pengakuan ini. Ku mohon James.”
“Apa yang kau tahu? Katakan!” Nada bicara James kembali seperti semula. Tidak semanis saat ia berbicara dengan Rose.
“Aku akan mengatakannya kepada Alvino. Ku mohon mengertilah.. Kenyataan ini pasti akan menyakiti Alvino, dan semuanya akan lebih menyakitkan jika Alvino tahu dari orang lain termasuk kau.” Bianca masih memelas, berharap James mau mengerti keadaan seperti apa yang harus ia hadapi. Karena permasalahan itu juga melibatkan hati.
“Tidak! Aku tidak akan membiarkanmu masuk lagi ke dalam hidup Tuan Muda! Siapa yang tahu jika kau memiliki rencana yang lebih busuk dari sebelumnya.” Bukan James bila tidak berburuk sangka kepada Bianca. Tidak semudah itu ia bisa menaruh kepercayaan apalagi setelah kenyataan apa yang terjadi.
“Aku bersumpah tidak memiliki niat jahat, James. Aku mencintai Tuan Muda mu dengan sepenuh hati.” Hiks.. Bianca menangis lagi. Sulit sekali rasanya ingin meluruskan semua permasalahan yang ada. Demi apapun Bianca rela mengkhianati Laura tentang rencana balas dendamnya. Yang terpenting Alvino tidak tersakiti dan hancur seperti apa yang diinginkan Laura.
“Memangnya kenapa jika Bianca ingin menemui Alvino? Biarkan saja James, mereka kan sepasang kekasih.” Rose yang tidak mengerti duduk permasalahannya ikut-ikutan bersuara. Yang jelas, melihat Bianca dengan keadaan seperti itu Rose sangat tidak tega.
“Tidak Rose, kau tidak mengerti.” James membantah Rose yang memberi saran.
“Kau yang tidak mengerti, urusan hati biar mereka yang selesaikan sendiri. Aku tahu kau hanya ingin melindungi Tuan Muda mu dari segala yang membahayakan, tapi sekarang dia hamil James. Dia mengandung benih cinta Alvino, mana mungkin ia bisa berbuat jahat kepada ayah calon bayinya?” Kata-kata Rose itu seperti sihir. Lihatlah James yang tadinya begitu angkuh dan sama sekali tidak ingin menuruti kemauan Bianca langsung luluh begitu saja. James mengalah dan lebih percaya kepada Rose bahwa Bianca memang tidak akan membahayakan Tuan Mudanya.
“Terimakasih Rose.” Bianca memeluk gadis yang katanya teman kecil Alvino itu. Meskipun baru mengenalnya tetapi hati gadis itu sangat baik dan bahkan membantunya meyakinkan James untuk mengizinkannya menemui Alvino lagi.
“Tidak usah sungkan. Alvino adalah sahabatku, dan artinya kau juga.” Rose balas memeluk Bianca dan mengusap punggung gadis yang sejak tadi tidak berhenti menangis. Sementara James hanya bisa menyaksikan dengan tatapan yang sulit diartikan.
Rose :)
“Boleh aku mengajukan satu permintaan lagi?” Dikasih jantung minta pisangnya. Bianca kembali meminta pertolongan lagi. “Tolong rahasiakan dulu kehamilanku pada Alvino.”
Bersambung~
3 episode nih! Komenan nyampe 100 aku up lagi😜