You Decided

You Decided
Apa itu CINTA?



Cinta tidak pernah salah..


Rasa itu datang tanpa diminta. datang tanpa paksaan, hadir begitu saja dalam ruang hati kecil yang paling dalam. Sebagai manusia biasa, kita tidak bisa menentukan kapan dan kepada siapa cinta itu berlabuh..


Disinilah Alvino..


Lelaki dengan sejuta kerisauan dalam hatinya. Berusaha sekuat tenaga meyakini bahwa dirinya sangat mencintai Bianca dan hanya semata-mata mengagumi Alice. Alvino sama sekali tidak menyadari bahwa kenyataanya berkata lain, hati berkata bahwa justru dia mencintai Alice dan hanya sebatas mengagumi Bianca.


Tapi Alvino sudah terlalu jauh melangkah bersama Bianca. Dia bahkan sudah merenggut mahkota gadis itu meskipun dalam keadaan mabuk. Dan bodohnya lagi dia pun pernah melakukan dalam keadaan sadar, dalam keadaan suka sama suka tanpa paksaan siapapun. Sebagai sepasang kekasih. Meskipun having s e x merupakan hal yang wajar di kota bebas itu, tapi rasanya Alvino tidak mau disebut sebagai lelaki badjingan.


Susah payah Alvino melawan dirinya sendiri..


Meskipun berulang kali Alvino menyangkal bahwa dia tidak mencintai Alice, namun hati kecilnya berkata seperti itu. Meskipun ia tahu itu adalah hal yang salah. Karena Alice adalah kekasih Sam, Adiknya sendiri.


Alvino merasa menyesal karena telah mengenal cinta. Cinta yang dulu Alvino sebut sebagai seuatu yang rumit ternyata benar adanya. Dan bodohnya adalah Alvino sekarang jatuh dalam lingkaran itu, dan ia tidak tahu bagaimana caranya keluar dari lingkaran cinta tersebut.


Namun bagaimanapun semuanya sudah terjadi. Alvino tidak bisa kembali ke masa dimana dia belum mengenal Bianca ataupun Alice. Yang bisa ia lakukan hanya menerima segalanya, membiarkan semuanya mengalir sebagaimana mestinya.


.


Hari sudah berganti..


Jika sebelumnya Alvino akan sarapan sendirian yang di sudah disediakan chef khusus dirumah itu, atau hanya sarapan bersama Fam dan juga Rose. Keadaan kali ini berbeda, anggota di rumah Alvino bertambah yaitu Monica dan juga Alice. Dua wanita itu ikut nimbrung untuk sarapan bersama di ruang makan.


"Selamat pagi semuanya.." Monica menyapa sambil membawa beberapa piring makanan yang sudah dihidangkan chef didapur. Ternyata wanita itu juga membantu chef untuk menghidangkan sarapan untuk anak-anaknya.


"Morning." semuanya serempak menjawab.


Lalu sarapan itu berlangsung dengan sebagaimana mestinya, masing-masing orang sedang menikmati santapan nya. Namun beberapa menit kemudian tiba-tiba Alice menyahut.


"Sepertinya Sam juga sudah bangun, lebih baik aku sarapan di kamar bersamanya." ujar gadis itu sambil berdiri dan berpamitan meminta izin untuk menuju kamar. Entah kenapa melihat Alvino yang duduk dihadapannya membuat Alice sedikit canggung. Padahal Alvino jauh didepan sana, tapi posisi mereka kebetulan berhadapan.


"Kau sangat perhatian sekali Alice, Makanlah dulu Sam akan mendapatkan pengecekan sebelum dia diperbolehkan makan." Monica menyahut sambil menatap gadis itu dan sejurus kemudian Alice kembali duduk.


Dan tanpa disadari Alvino sedang memperhatikan gerak-gerik Alice, pandangan yang seolah tidak bisa lepas dari gadis itu.


Sialan apa yang aku lakukan! Alvino kemudian mengerjapkan mata dan membuang pandangannya dari Alice.


"Aku sudah selesai dengan makananku, aku harus berangkat ke kantor sekarang. Have a nice day kalian semua." Alvino berdiri setelah mengelap mulutnya dengan sapu tangan. Kemudian beranjak dari tempat itu tanpa basa-basi lagi.


"Al..Kenapa kau tidak berpamitan kepada Mami? Mengapa pamitan mu jadi seperti itu." Monica menatap punggung anak lelakinya yang sudah akan meninggalkan ruang makan. dan sejurus kemudian Alvino mebalikkan kembali badannya. Menghampiri wanita itu kemudian mengecup keningnya.


"Maaf, aku buru-buru. Aku titip Sam dirumah."


"Seharusnya kau jangan mengatakannya kepadaku. Kau harus mengatakan itu kepada Alice. karena Alice lah yang menjaga Sam sepanjang waktu." Monica mengulum senyuman lebar kepada putra sulungnya itu.


Owh Mam.. jangan menyebut nama itu.. Alvino jadi salah tingkah.


"Kakak.. kenapa kau juga tidak berpamitan yang benar kepadaku?" Fam juga menyahut dengan seringai manja.


"Aku buru-buru, Fam. Lagipula aku berpamitan setiap hari, Masa harus selalu aku ulang adegan yang seperti itu. Sudah lah.. kau sudah besar sekarang."


Akujuga mau Al.. Rose~


Akujuga mau Al.. Author. Ayok yang mau dicum abang Al ngantre-ngantreeee. Apasih wkwk😂


"Minta pada Rose, dia disampingmu. Hehe." Alvino menyelipkan candaan agar suasana tegang baginya sedikit mencair.


"Aaaaaa kakak.." Semua orang tersenyum tipis sekarang.


"Alice.." Gugup Alvino menatap gadis itu. "Aku titip Sam."


"I-ya kak, aku akan selalu disampingnya. Jangan khawatir."Alice menyimpulkan sebuah senyuman untuk Alvino. Senyuman bagai sihir yang memikat Sam waktu itu, dan kini bukan hanya Sam yang terpikat, Alvino juga.


"Aku pergi dulu." Shit. Alvino mengumpat dalam hati. Senyum ituu~


"Hati-hati diperjalanan kak." Alice melambaikan tangan seolah memang melepas sang kakak. Padahal lelaki itu bukan siapa-siapa baginya.


Orang-orang diruangan itu hanya terdiam, menganggap percakapan itu hanyalah basa-basi semata. Namun tidak dengan Rose, Gadis itu justru menatap lain. Menurutnya pandangan Alvino kepada Alice sedikit berbeda.


"Hello, big brother. Mau kemana sudah tampan pagi-pagi begini?" Steve, adik Rose baru memasuki ruang makan itu.


"Hei, Steve. Kau pasti baru bangun tidur ya?" pandangan keluarga itu kini menatap drama antara Alvino dan Steve.


"Hehe.. Weekend memang harus dihabiskan dengan tidur bukan." Steve cengengesan sendiri.


"Dasar pemalas. Bisa-bisa kau tidak bisa jadi lelaki saat dewasa nanti." Alvino meninju bahu Steve pelan.


"Apa maksutmu? jelas-jelas aku seorang lelaki." Steve berakting seperti popeye yang menampilkan otot-otot ditangannya.


"Kau akan mengerti nanti. Waktuku sudah habis, aku benar-benar harus pergi sekarang. Have a nice day." Alvino melirik arloji ditangan kemudian meninggalkan ruangan itu.


~


Alvino sudah akan memasuki mobil, namun tiba-tiba Alvino menghentikan langkah ketika mendapati James malah berdiri disamping mobilnya. "James kenapa kau masih disini?"


"Saya akan mengantar anda terlebih dahulu Tuan. Baru setelah itu...


"James!!!! Urat leherku bisa putus jika terus berteriak. Apa kau tidak mengerti perintahku semalam?"


"Saya mengerti Tuan, tapi tugas asli saya adalah disamping Anda." James masih berani membantah.


Hyaaaaa!!! Alvino berulah seperti akan mencekik James. "Ampun Tuan!"


"Pergi sana!! Bianca pasti sudah menunggu. Jangan selalu mengkhawatirkan aku. Pengawalku bukan kau saja!" Aneh. Alvino tidak habis pikir kenapa James selalu saja menyebalkan akhir-akhir ini. James bahkan sudah membuatnya marah dua kali dalam seminggu.


"Saya permisi Tuan."


Hih!


#Nikmatin aja ya gaes, ini cuma cerita~