
Alvino dan Rose segera bergegas menuju rumah sakit setelah mendapat kabar bahwa Ken memberikan perintah untuk segera mengasingkan kembali Eve dan juga Chyntia. Buru-buru Alvino pergi untuk menemui ibu dan adik sambungnya, sementara mengesampingkan rasa lelah dan sedihnya yang sebenarnya tidak mampu dimaklumi oleh hati.
Kabarnya, Ken marah setelah dia mengetahui bahwa Eve hampir saja menjual beberapa aset kepada Brandon group. Meskipun itu sudah berhasil digagalkan oleh Sam, tapi tetap saja Ken benar-benar tidak bisa menerima.
“Nino.. Tolong kami..” Cynthia langsung berlutut di hadapan lelaki muda itu tatkala dia baru saja masuk ke dalam ruangan dimana Eve masih dirawat. “Jangan biarkan kami kembali tinggal di desa terkutuk itu. Ku mohon.” Cynthia menghiba. Kepada siapa lagi dia meminta pertolongan selain kepada Alvino. Wanita yang pernah sangat jahat itu meraung tidak berdaya.
“Bangun, bu. Jangan seperti ini.. Mana mungkin aku akan membiarkan kalian kembali ke desa terpencil itu. Bangunlah..” Alvino setengah berlutut untuk membantu Chyntia agar bangun. Sedikit risih dengan adegan seperti itu.
Sementara Eve yang menyaksikan pemandangan itu, matanya tiba-tiba terasa panas, hatinya mencelos dan merasakan rasa sedih yang teramat. Ternyata Alvino yang selama ini dia benci, yang selama ini sangat ingin dia hancurkan memiliki hati yang baik bak malaikat. Bahkan dia masih bersikap baik setelah apa yang dirinya perbuat.
“Daddy hanya sedang marah, kalian akan baik-baik saja. aku jamin itu.” Alvino kembali meyakinkan. Meskipun mereka pernah berbuat jahat, tapi tidak sama sekali Alvino berpikiran untuk membalas apa yang telah mereka lakukan. Karna disakiti itu amat sangat menyakitkan, maka Alvino tidak ingin menyakiti siapapun.
“Kak..” Suara sendu dengan isakan tangis tertangkap di gendang telinga Alvino. Membuat Alvino perlahan menoleh dan menyaksikan seorang gadis kini tengah menangis di atas brankar sambil memandangnya.
Eve menangis dan memanggilku kakak..
“Aku ingin berbicara berdua denganmu.” lirih Evelyn dengan mata yang sama-sama menghiba. Bukan sandiwara bahwa Eve benar-benar menyesal atas apa yang telah terjadi. Bukan hanya Alvino yang kehilangan sosok Bianca, tapi dirinya juga. Eve kehilangan Bianca sebagai kakaknya, dan parahnya itu semua adalah ulah dendamnya yang seharusnya tidak bertuan.
Alvino tidak menjawab. Lehernya masih terasa tercekat untuk mengucapkan satu patah kata kepada orang yang telah menghancurkan separuh jiwanya. Tapi apa mau dikata, Alvino harus melawan rasa itu dan memberi ruang kepada Eve sebagai adiknya. Alvino hanya mengangguk samar kemudian memberi isyarat kepada Rose dan juga Chyntia untuk meninggal kan mereka berdua.
Rose memapah Cynthia untuk keluar ruangan itu, menutup kembali pintu dan membiarkan Eve dan Alvino berdua di dalam sana.
Detik pertama Alvino dan Eve hanya saling menatap. Keduanya masih diam dalam batin yang masing-masing berkecamuk.
“Kak..” Lidah Eve tiba-tiba kelu. Tidak bisa mengutarakan apa yang sebenarnya sangat ingin dia utarakan. Ingin sekali dia meminta maaf, memohon ampunan meskipun apa yang sudah dia lakukan sebenarnya tidak bisa untuk dimaafkan. Semua yang Eve lakukan terlalu jahat.
Alvino hanya menatap, namun samar-samar kakinya melangkah mendekati brankar Eve.
“Maafkan aku..” Hiks. Eve langsung tertunduk dalam. Air matanya sudah tidak dapat dibendung lagi. Perasaan macam apa itu. Hati yang keras karena dendam itu kini malah merasakan pedih yang teramat. Sudahkah Eve kembali dari jalan yang selama ini menyesatkan hati dan pikirannya?
“Sssshhh..” Alvino melebarkan tangannya. Spontan membawa gadis kecil itu ke dalam pelukannya. Mungkin dengan pelukan tulus sebagai kakak adik, bisa menghancurkan perasaan bersalah dan bersedih masing-masing. Menghancurkan permusuhan itu.
“Aku sudah sangat jahat kepadamu. Aku pantas dihukum..” Rasa sedih dan bersalah itu malah bertambah levelnya ketika Alvino memeluk dirinya. Inikah orang yang selama ini dia benci? Dia bahkan masih bisa memeluk Eve setelah apa yang Eve lakukan terhadapnya.
“Apa kau masih membenciku? Menaruh dendam itu untukku? Apa ini sudah cukup?” Alvino memejamkan matanya. Mata itu benar-benar terasa perih, dan anehnya Alfian juga seperti hadir disana. Padahal di ruangan itu jelas-jelas hanya ada dirinya dan Eve saja.
“Aku sudah sangat kejam, aku sudah sangat tega. Apalagi yang ku mau? Aku sudah membuatmu kehilangan hal terbesar. Maafkan aku.. Aku benar-benar menyesal..” Hiks. Eve menangis lagi. Lebih dalam dan pilu. Karena yang dimaksud kehilangan bagi Alvino adalah kehilangan juga baginya. Bagaimanapun Bianca sudah berjasa banyak untuk hidupnya.
“Percuma kau menyesal, itu tak kan merubah apapun. Berjanji lah.. berjanji kau tidak mempunyai dendam apapun lagi. Aku menyayangimu.” Cukupkah Alvino bersikap dewasa disini, mengesampingkan segalanya demi bakti terakhir kepada mendiang ayahnya yang menginginkan seperti itu.
Ya Tuhan, Manusia jenis apa diriku ini?
“Mister Ken benar, aku memang seharusnya di hukum kak. Aku tidak pantas berada di muka bumi ini setelah apa yang aku lakukan. Ini semua benar-benar tidak bisa dimaafkan.” Eve melepaskan dirinya dari pelukan Alvino. Sadar diri bahwa dia tidak pantas menerima kemurahan hati sang kakak. Bagaimana mungkin Alvino masih bisa berujar bahwa dia menyayangi Eve setelah Eve membuat kekacauan yang amat kacau.
“Mungkin ini juga adalah dosaku karena tidak bisa mengeluarkan kalian dari penderitaan selama bertahun-tahun. Sudahlah.. Semuanya sudah terjadi. Anything happen for a reason. Mungkin akan ada hikmah besar setelah ini semua berlalu. Dalam nadi kita mengalir darah ayah, dan aku harap mulai sekarang kita bisa memulai hidup baru sebagai kakak beradik.” Alvino mengusap rambut Eve yang berantakan. Jiwa sang ayah yang sudah menghadap Tuhan memang seperti hidup dalam diri Eve, jadi Alvino bisa begitu mudah mengurai kata maaf dan sayang meskipun aslinya hati itu masih terluka.
“Aku malu.. Aku…”
“Jangan Mister!!! Ku mohon ampuni Putriku, jika kau ingin menghukum, hukum saja aku!” Belum selesai Eve berujar tiba-tiba terdengar suara kegaduhan di balik pintu.Dan suara teriakan itu adalah suara milik Chyntia.
Apa maksudnya? Mister? Apa Ken ada disana?
“Putriku tidak bersalah, akulah yang seharusnya dihukum!” Suara teriakan itu masih nyaring terdengar ke dalam ruangan. Membuat Eve dan Nino sama-sama menatap pintu dan menajamkan pendengaran mereka.
“Ibu…” Lirih Eve setelah memastikan bahwa suara yang dia dengar memanglah suara Cynthia.
“Kau seharusnya tahu bahwa ini semua adalah ulah ibumu, Ken! Kekacauan ini terjadi karena ambisi ibumu yang keji! Kau masih ingat bukan bahwa ibumu masih hidup di dunia ini?”
Alvino segera melangkah cepat ketika argumen itu semakin intens. Suara Chyntia bahkan terdengar keras menyebut nama Ken. Dan apa, apa maksudnya ini semua terjadi karena ulah ibu Ken?
Buru-buru Alvino membuka pintu. Dan benar saja, diluar sana ada Ken dan juga Alex. James juga ada disana sambil menundukkan kepala. Sementara Chyntia sudah menangis sambil dipegangi oleh Rose.
“Daddy? Ada apa ini?”
#
Hai.. A-aku.. Akutuh.... *Author;)