
Alvino segera menemui Monica, sang ibunda untuk meminta maaf atas apa yang telah ia lakukan. Menyesal telah membuat wanita yang sangat menyayanginya itu menangis hari ini. Harusnya Alvino bisa mengambil sikap lebih dewasa lagi. Meskipun yang menjadi permasalahan adalah tentang ayah kandungnya, tetapi ia hanyalah seorang anak. Seorang anak yang tidak akan pernah mengerti tentang masalah apa yang dilalui para orang tuanya.
Beruntung juga Alfian melakukan pengakuan dosa, kesalahpahaman antara mereka tidak perlu memakan waktu yang berkepanjangan. Meskipun belum jua menemukan dimana keberadaanya, namun teka-teki gara-gara Laura itu bisa dengan cepat terpecahkan.
Sudah tiba di kediaman Monica..
“Maaf telah mengecewakanmu, Mam. Aku tidak bermaksud untuk berlaku tidak sopan kepadamu dan daddy. Hanya saja..” Alvino menggenggam tangan Monica yang sedang murung diatas ranjang. Bahkan sepertinya wanita itu baru saja selesai menangis saat ia tiba disana.
“Mamy mengerti.. Hanya saja Mamy tidak menyangka kau bisa bersikap seperti itu di hadapan kami. Ataaau.. atau memang Mamy yang tidak pernah mengajarkanmu soal kebijakan saat menghadapi suatu masalah?” Sakit. Hati Monica sebenarnya kembali sakit. Selain harus kembali membuka luka masa lalu, tapi hari itu juga ia dikecewakan oleh sikap putra sulungnya.
“Jangan berkata seperti itu, Mam. Ini semua kesalahanku. Aku yang tidak bisa mengendalikan diriku.” Alvino menatap sendu. Batin antara ibu dan anak itu seolah saling mentransfer energi bahwa mereka sedang tidak baik-baik saja sekarang. “Kau tau aku sangat merindukan papi dan berusaha mencari keberadaanya selama ini bukan? Dan tiba-tiba saja ada seseorang yang menunjukan rekaman berisi adegan Papi dan istri barunya sedang disiksa oleh daddy dan juga Alex. Aku marah.. Aku tidak bisa mengontrol diriku sendiri setelah itu. Diriku sangat membutuhkan penjelasan.” Menatap lagi dengan sendu, sangat menyesal melihat ibunya berwajah muram.
“Rekaman? rekaman apa yang kau maksud?” Monica balik menatap dengan ekspresi tidak mengerti. Apa maksudnya melihat Alfian dan Chintya disiksa oleh Ken dan juga Alex? Bagaimana mungkin?
“Entahlah, aku bahkan menyesal sudah melihat tayangan itu.”
“Nino..” Monica menangkup wajah Alvino sambil menatapnya. Sebagai ibu ia bisa merasakan kegundahan seperti apa yang menerpa anaknya. “Wajar saja bila kau marah, Mamy mengerti apa yang kau rasakan. Meskipun daddy selalu berusaha menjadi ayah yang terbaik untukmu, tapi batin dirimu pasti menginginkan Papi juga.” Monica tersenyum disela isakannya yang masih ingin menangis. Hari yang sejak dulu selalu mengahntui dan tidak berani untuk Monica hadapi akhirnya datang juga. “Katakan, apa lagi yang ingin kau tahu tentang masa lalu itu? Mamy akan menceritakan segalanya agar hatimu tidak gundah lagi.” Monica mengelus wajah Alvino lembut. Berusaha selalu ada disituasi apapun untuk putranya.
“Aku tidak ingin menyakitimu lagi, aku sangat menyesal.” Lirih Alvino.
“Masa lalu Mamy sangat lah kelam, namun bagaimnapun kau harus tahu. Karena cepat atau lambat kau memang akan mengetahuinya.” Monica tersenyum tegar. Menguatkan hati untuk menceritakan bagaimana tentangnya yang seseungguhnya.
Dan mengobrol bersama ibu dari hati ke hati memang akan lebih mengenai palung hati, seketika Alvino langsung memeluk dan merangkul Monica dengan erat. Air mata juga jatuh begitu saja, ikut larut dalam kisah pilu yang dilalui ibunya sendiri. Alvino benar-benar tidak tahu tentang duka teramat menyakitkan yang dibawa Alfian untuk Monica, dan hari ini akhirnya ia mengetahui segalanya.
Monica mengisahkan bagaimana kisah antara dirinya dan Alfian dimulai. Saat monica menentang sang ayah demi untuk hidup bersama lelaki yang ternyata badjingan. Monica mengisahkan saat bagaimana Alfian meninggalkannya begitu saja saat ia sedang mengandung Alvino. Bagaimana perjuangan Monica untuk bertahan hidup setelah kepergian Alfian dan tidak lama di susul juga dengan kepergian ayahnya. Bertiga, tidak ingatkah Alvino saat mereka hidup penuh perjuangan bersama Isabella dulu? tentu tidak. Alvino masih sangat kecil waktu itu. Rekaman ingatannya tidak mungkin merekam segalanya dengan pengertian bocah berusia 2 tahun.
Dan bagian yang paling menyedihkan adalah saat Monica juga harus mengisahkan bagaimana kebedjadan Alfian yang lebih keji lagi setelah ia mengenal sosok Ken. Sosok pria misterius yang kini menjadi belahan jiwanya. Ken yang mati-matian menarik Monica dari lumpur hina, tapi justru Alfian yang lebih menghinakan Monica lebih buruk lagi. Tidak ada kalimat yang bisa mengibaratkan betapa luck nut nya Alfian.
Dan tahukah Alvino bahwa gadis kecil yang bernama Evelyn yang dia cari bisa dibilang adalah hasil pengkhianatan Alfian terhadap Monica? Tidak. Monica tidak akan menyebutnya begitu. Alvino tidak boleh sampai membenci Evelyn. Dia hanya gadis kecil yang sama-sama tidak mengetahui apapun seperti halnya Alvino.
“I’m so sorry to hear that, Mam. Aku sangat berdosa sudah bersikap seperti anak kecil. Maafkan aku.” Alvino memeluk lebih erat lagi. Tidak menyangka sepahit itu kehidupan Monica setelah kepergian Alfian yang meninggalkannya begitu saja. Betapa mulia hati Monica masih bisa memaafkan orang seperti ayahnya yang bahkan tega menjadi bagian dari kepergian Benazio_kakek Alvino. Bahkan sepertinya jika Alvino yang berada di posisi Monica, ia sudah menjadi gila atau bahkan memilih hilang dari muka bumi. “Maa aaaf yang teramat, Mam.”
“Jangan menangis, Nino. Apa yang membuatmu bersedih hm? Semua itu hanyalah masa lalu. Bagaimanapun kita mengutuk dan menguburnya, masa lalu tetaplah masa lalu. Tidak bisa dibuang atau pun pergi. Masa lalu aka tetap berada diantara kita, menjadi guru terbaik dan mengikuti kemanapun alur hidup kita berlangsung.” Monica mengusap kembut punggung Alvino. Meskipun selama ini Monica dan Ken selalu berusaha memberikan yang terbaik agar Alvino selalu bahagia, tapi buah hati korban perpisahan orang tua pastin selalu mempunyai luka bathin.
Biarlah Alvino menangis, agar ia tenang. Biar saja ia menangis, air mata itu akan membasuh luka yang menancap tak kasat mata. Meskipun seorang lelaki gagah berkharisma, tapi menangis adalah wajar. Manusiawi.
“Untuk itu juga aku selalu berpesan kepadamu dan juga Sam agar selalu mengharagai wanita, karena wanita adalah kaum ku, kaum ibumu. Perlakukan wanita seperti kau memperlakukan ibumu dengan penuh hormat dan kasih sayang.”
Mereka saling melepaskan pelukan, Alvino mengusap air matanya kemudian menatap Monica dengan tatapan yang dalam sekali.
“Aku sangat memohon ampunan atas nama Papi, Mam. Sungguh.. aku masih tidak menyangka.” Alvino berujar lirih. Seperti itu ternyata kenyataan yang selama ini menjadi teka-teki dalam kehidupan segitiga antara Ken, Monica dan juga Alfian. Andai saja bukan Ken yang menjadi suami Monica, dan andai saja bukan Ken yang menjadi ayah sambungnya, hidup mereka belum tentu ada di titik itu. Atau mungkin Alfian akan semakin membuat ibu dan dirinya menderita.
Aaah~ Alvino memeluk Monica lagi. Perasaan haru itu benar-benar menyayat hatinya. Saat itu juga Alvino langsung merasa sangat tidak berdaya dan kembali menjadi Nino kecil yang bersembunyi di balik ketiak Monica.
Kadang.. Kecewa memang sulit dipahami oleh hati, rasa itu datang begitu saja. Menikam hati dan menghancurkannya tanpa rasa iba. Namun, kitalah yang mengontrol diri dan emosi itu. Kita yang berhak menentukan. Jangan kalah dan membuat emosimu yang meledak itu menguasai diri, membuatmu dendam dan membebani diri sendiri.
“Menangislah jika memang ingin menangis, menangislah se-apa adanya. Luangkan waktu sejenak untuk memberi ruang kepada dirimu untuk merasakan segala rasa. Luka batin yang tidak kunjung pulih salah satunya karena sering tertawa berpura-pura, menahan tangis sampai se-begitunya. Belajarlah dari anak kecil yang tertawa dan menangis penuh kemerdekaan. Karena sampai kapanpun, bagiku kau tetap Nino kecil yang selalu merajuk ingin cokelat meskipun gigimu sudah habis.” Hihi. Disela adegan haru itu Monica juga menyelipkan kenangan manis saat Alvino kecil. Kembali mengenang masa lalu yang tidak sepenuhnya pahit. Buktinya dengan candaan sepe itu Alvino kembali menarik ujung senyumnya.
“Terima kasih untuk segalanya, Mam. Kau memang wanita terhebat. Aku menyayangimu lebih dari hidupku sendiri.”
“Tersenyumlah, kau lebih tampan jika tersenyum begitu.” Monica menyelipkan lagi sesautu yang pastinya akan membuat putra sulungnya kembali mengulum senyuman lebar. “Pergilah temui daddy, akui kesalahanmu dan tunjukan bahwa kau sudah dewasa. Tunjukan pada daddy mu bahwa selama ini ia sudah berhasil membuatmu menjadi pria hebat yang patut dibanggakan.” Monica tersenyum. Mengingatkan Alvino bahwa bukan hanya dirinya yang harus disayangi dan dicintai.
“Tentu.. Tentu saja aku akan menemui lelaki terhebatmu itu.”
Saling tersenyum.
Bersambung~
Ajib sih kelen diminta komenan ampe 100 ini malah dua kali lipat hahahah!! Warbyasah!! Gitu dong, kan eykeu jadi semangat. Melow dulu dikit, Lanjut besok yaa, see you ({})