You Decided

You Decided
Ini Salah



Sam datang dengan wajah tertunduk. Tau jika panggilan dari sang daddy bukan pertemuan baik-baik saja. Meskipun lebih segan terhadap Alvino, tapi Sam takut juga jika sang daddy marah. Terlebih Sam memang memiliki kesalahan besar.


“Tinggalkan kami.” Pinta Ken kepada Alex. Dan sedetik kemudian Alex pun pergi meninggalkan ayah dan anak muda itu berduaan.


“Daddy.” Sam sudah gemetar duluan. Belum Ken mengutarakan maksud dari pertemuan itu, Sam sudah ingin meminta maaf. “Maafkan aku.. Aku…”


“Ssst!” Ken menaruh jari telunjuknya di bibir. Agar anaknya itu diam dan jangan memulai pembicaraan sebelum Ken yang memulainya. “Take it easy.” Ujar pak tua sambil menggerakan tubuhnya yang masih setia duduk di kursi putarnya.


Kau mungkin santai, tapi aku bergetar disini!


“Kau tahu kesalahanmu bukan? Anak muda.” Ken mulai membuka pembicaraan itu. Tanpa suara keras atau membentak, Ken sudah terlihat sangat tegas dengan sikap seperti itu. Tidak ada yang mau berada dalam posisi itu, karena meskipun pelan terkadang ultimatum Ken amatlah menyakitkan.


“I do. Aku bersalah, dad.” Jangan menyangkal, akui kesalahanmu. Daripada ayahmu semakin marah dan melakukan hal yang tidak terduga. Batin Sam.


“Samuel.. Aku tahu kau bukan anak kecil lagi. Dan aku mengerti kau sudah harus memiliki privasi sendiri.. Tapi apa yang kau lakukan benar-benar diluar batas.” Ken menatap Sam lagi. Sudah tahu apa saja yang selama ini dilakukan anak muda itu. Ken sudah tahu bahwa selama ini Sam tinggal sendirian di apartemen, Sering mengunjungi club malam, gaya hidup hedon dan urakan yang sama sekali tidak mencerminkan bahwa dia adalah putra Lucatu. Meskipun dulu Ken juga seperti itu, tapi siapa yang mau sang anak harus memiliki nasib dan riwayat yang sama. “Kau hampir saja meruntuhkan Lucatu, Sam.” Sedikit tapi langsung menyelinap ke dalam hati. Begitulah setiap makna kalimat dari Ken. Membuat leher Sam tercekat, seperti ada tali yang melingkar disana.


“Dad, soal Lucatu aku tidak tahu apapun. Demi tuhan aku tidak tahu jika wanita yang aku sebut kekasih adalah adik sambung kakak juga.” Setidaknya Sam masih bisa melakukan pembelaan untuk dirinya. Kenyataannya dia memang tidak tahu soal itu.


“Lalu tentang hidupmu setelah tinggal di kota ini? Apa kau tidak tahu menahu juga?”


Kalah telak. Sam hanya bisa menunduk. Bodoh sekali dia berani melakukan permainan kepada ayahnya sendiri. Tentu saja Ken akan dapat dengan mudah mengetahui itu semua. Meskipun Alvino selalu berusaha menuruti apa maunya dan berusaha untuk menutupi itu demi Sam.


Ken bangkit dari kursi putar, melangkahkan kaki untuk menghampiri putranya. “Kau bahkan mengabaikan anjuran untuk mulai mengenal soal bisnis dan bagaimana mengelola perusahaan. Kau melupakan jadwal magang juga bukan?”


Sam masih menunduk. Tidak berani untuk menyahut setiap kalimat-kalimat Ken. Dia tidak punya keberanian sama sekali. Toh memang semua adalah kesalahannya. Sam tidak bisa menyangkal lagi.


“Tatap aku. Kita berbicara sebagai ayah dan anak. Jangan menunjukan kau takut padaku. Aku tidak ingin ditakuti, aku hanya ingin kau mengerti bahwa apa yang selama ini aku lakukan adalah untuk kebaikan kalian semua.” Saling berdiri berhadapan. Takut-takut Sam menurut untuk menatap ayahnya.


“Aku hanya ingin berlaku adil, Sam. Aku tidak memaksamu jika kau memang tidak ingin masuk ke dalam dunia perusahaan. Tapi aku mau kau mempelajari itu. Aku hanya tidak ingin di kemudian hari, saat aku benar-benar melepas Lucatu, tidak akan ada pertikaian antara kau dan saudaramu.” Saling menatap. Bertemu dalam pandangan antara anak dan ayah. Waktu sudah mengikis kepolosan antara mereka. Waktu menuntut agar pandangan mereka kini lebih mendewasa.


Aaaaa~ Naluri anak bungsu Sam keluar. Se-bagaimanapun dia mengaku sebagai anak remaja yang sudah dewasa, tapi naluri manja dan sensitifnya masih kerap muncul. Mata Sam tiba-tiba rasanya perih.


“Aku hanya ingin yang terbaik untuk anak-anakku.” Ternyata menjadi sosok seorang ayah tidaklah mudah. Mungkin Mendiang Ayah Ken juga seperti itu saat menghadapi Ken muda. Dan sekarang Ken juga harus menghadapi hal seperti itu, bahkan lebih parah karena Ken memiliki tiga anak.


Ken menarik nafas panjang. Mungkin selama ini Ken terlalu memperketat ruang lingkup anak-anaknya dengan pengawasan dan penjagaan yang berlebihan. Terlalu mengekang mereka dengan segala aturan yang Ken buat. Tapi itu semua tentu saja memiliki alasan yang kuat. Ken hanya ingin melindungi anak-anaknya. Ken ingin menepati janjinya kepada Monica bahwa anak-anak mereka jangan sampai melalui hitam dan kelamnya kehidupan mereka di masa lalu.


“Daddy.. Aku minta maaf telah membuatmu kecewa. Apa yang telah aku lakukan memang sudah sangat keterlaluan.” Sam tidak menyangka bahwa daddynya ternyata bisa sebijak itu. Selama ini Sam mengira bahwa Ken adalah dingin dan hanya lurus mengikuti semua aturan. Tapi hari ini Sam sadar, bahwa lelaki di hadapannya itu sangat mencintai anak-anaknya. Apa yang selama ini dia lakukan adalah yang terbaik. “Aku tidak akan membangkang lagi, aku akan menurut mulai saat ini. Aku akan melanjutkan studi soal perusahaan. Dan aku melakukan ini tanpa paksaan.” Meskipun tidak memiliki minat dalam bidang perusahaan, tapi apa yang Ken katakan adalah benar. Setidaknya Sam harus mempunyai basic agar dia mengerti bagaimana Lucatu berjalan. Siapa yang tahu jika di kemudian hari dirinya akan berguna.


“Aku pernah muda sepertimu dan aku juga mengalami hal yang sama. Tapi apa yang ku lakukan di masa muda sepertimu ternyata berdampak buruk, Sam. Aku tidak ingin kau mengalaminya. Ini salah.”


“Dad.. I promise u. Aku tidak akan mengulangi kesalahanku.”


“Jangan berjanji, buktikan.” Ken menepuk pundak Sam yang matanya berkaca-kaca. Entah karena apa yang dia katakan menyentuh hati anak muda itu, atau Sam hanya ketakutan saat menghadapi dirinya.


“Tapi..”


“What?”


“Tapi aku ingin melanjutkan studi di Negara A. Aku ingin benar-benar memulai hidup sebagai Sam yang memperbaiki hidupnya.” Satu permintaan lagi. Sam berjanji akan menjadi lebih baik dari dirinya sebelumnya. Tapi Sam ingin pergi dari sana. Tidak mau dan sangat tidak ingin berbaur dengan Laura yang sudah pasti akan menjadi bagian dari Alvino.


“Sure.. Aku sudah menyiapkan Domi sebagai Alex_mu”


“Sungguh?”


Aaaaaa Daddy ({})