You Decided

You Decided
Siapa Kau



 Bianca sudah berada di dalam apartemennya. Bianca berulang kali menghubungi Alvino agar lelaki itu datang. Agar mereka bisa bertemu, agar Bianca bisa mengutarakan hal yang tentunya sangat penting. Siap. Bianca sudah menyiapkan hati dan mental yang besar untuk mengatakan soal kebenaran. Meskipun tidak untuk mengatakan soal kehamilannya terlebih dahulu. Bianca akan mengatakan dulu soal siapa Laura sebenarnya, lalu mengatakan juga siapa dirinya sebetulnya.


“Al.. Tolong angkat teleponnya.” Bianca masih mondar mandir sambil menempelkan ponselnya di telinga. Berharap panggilan yang sudah berulang kali ia lakukan bisa terhubung. Sesegera mungkin Bianca harus mengatakan apa yang ia ketahui kepada Alvino.


“Halo, Bee.” Akhirnya panggilan itu terhubung. Membuat Bianca langsung berbinar senang.


“Sayang.. Akhirnya aku mendengar suaramu.” Dengan sisa isakan tangis Bianca mengutarakan rasa senangnya karena berhasil menghubungi Alvino.


“Bee.. Apa kau baik-baik saja?” Sebagai seorang kekasih Alvino hafal betul suara gadisnya. Meskipun berbinar tapi suara Bianca mengandung isakan yang tidak bisa disembunyikan.


“Baik.. Tentu aku baik-baik saja, sayang.” Bianca berusaha menutupi suaranya yang jelas-jelas serak juga. Bagaimanapun Alvino tidak boleh tahu dulu soal keadaannya saat ini. “Tapi.. Aku sedang menginginkanmu untuk ada disini. Apa kau sedang sibuk?”


Ah~ Alvino malah mendesah gusar dibalik telepon. Keadaanya juga sekarang sebenarnya belum benar-benar baik. Masih ada urusan lain yang harus ia pikirkan terlebih dahulu. Yaitu mencari Eve dan mencari tahu tentang orang yang memanipulasi rumah sebagai alamat Alfian.


“Sayang.. Ku mohon. Aku benar-benar sangat membutuhkanmu saat ini.” Bianca yang sudah berbinar kembali murung saat Alvino menanggapi dirinya seperti itu. Waktu untuk mereka bertemu memang sulit dan langka sekali.


“Baiklah.. Aku akan kesana sekarang.” jawab Alvino. Meskipun kesalahpahaman itu sudah berakhir, namun hatinya belum juga merasa lega. Masih ada yang mengganjal. Dan kegundahan itu, kegundahan itu selalu bisa dihilangkan saat ia berada disamping Bianca. Untuk itu biarlah Alvino mengesampingkan dulu hal lain da  menemui Bianca saat itu juga. Toh segala yang ia cari sedang dikerjakan oleh para bodyguardnya. Apalagi Bianca mengatakan bahwa dia sedang sangat membutuhkan dirinya untuk berada disampingnya.


“Sungguh?”


“Aku akan tiba dalam 10 menit.”


“Baiklah.. Aku akan menunggumu.” Bianca tersenyum lagi. Dia kira untuk bertemu dengan Alvino hari itu akan cukup menyulitkan. Apalagi James sudah memberi tahu kepada dirinya bahwa Alvino memang sedang memiliki banyak urusan akhir-akhir ini. Selain melaksanakan tugas soal perusahaan tapi Alvino juga harus menyelesaikan urusan pribadinya tentang mencari keberadaan Eve.


Bianca lalu bersiap. Sedikit merapikan diri agar tidak terlihat begitu berantakan saat berada di hadapan Alvino nanti. Berulang kali juga Bianca mengulang-ngulang kalimat apa yang nanti akan ia ucapkan kepada Alvino nanti. Saat ia akan membuka kejujuran tentang apa yang ia ketahui.


“Just rileks. Bee. Everything gonna Bee okay.” Bianca menghembus dan menarik nafas teratur. Agar ia bisa tenang dan mengatakan itu dengan mudah nanti.


10 menit kemudian..


Selalu sesuai ucapnya. Alvino mengatakan akan tiba dalam 10 menit dan benar saja dalam waktu 10 menit lelaki itu benar-benar tiba. Meskipun malu mendatangi Bianca dengan keadaan yang tidak baik-baik saja, meskipun lelah sudah menjalani perjalanan yang cukup padat hari itu, tapi Alvino datang juga. Selain karena Bianca yang membutuhkannya, tapi Alvino juga tidak menutupi kenyataan bahwa dia juga sedang membutuhkan Bianca untuk meredam kegundahannya.


“Bee..” Alvino tiba dan segera memanggil Bianca sedetik setelah ia memasuki apartemen itu. Mencari keberadaan Bianca yang ternyata sudah menunggunya di ruang tamu.


“Sayaaang..” Bianca langsung berdiri dan menghampiri Alvino sambil merentangkan tangannya. Meminta sebuah pelukan kepada ayah dari janin yang sedang bersemai dalam rahimnya. Bianca meruntuhkan dahulu kegugupannya dengan pelukan itu.


“R u okay, Bee..” Alvino juga merentangkan tangan. Mempersilahkan Bianca memeluknya kemudian ikut melingkarkan tangan untuk mendekap Bianca dalam pelukannya. Cupp!! Alvino mengecup pucuk kepala Bianca.


“Bagaimana mungkin aku tidak baik-baik saja jika kau ada disini.” Bianca merengkuh tubuh Alvino lebih erat lagi. Menghirup aroma khas yang selalu ia rindukan. Akankah ia bisa tetap mendapatkan pelukan dan mencium wangi itu jika ia sudah mengutarakan kebenaran?


Buang jauh-jauh pikiran jelekmu, Bianca. Jangan lagi mengurungkan niatmu untuk membuka tabir kebenaran itu~


Alvino melepas pelukannya, menangkup wajah Bianca agar pandangan mereka saling bertemu. “Kenapa kau menangis? Sepertinya kau sedang sangat berantakan? apa James melakukan hal yang tidak-tidak terhadapmu?” Bola mata yang selalu mendamaikan itu masih terlihat sembab, jelas sekali jika Bianca sudah kehilangan banyak air mata. Rambut yang biasanya harum dan selalu dimainkan Alvino juga terasa sedikit lengket, tidak selembut biasanya.


“Tidak, sayang. James tidak melakukan apapun terhadapku. Aku baik-baik saja.” Bianca menyunggingkan senyum manis. Meskipun James memang selalu sangat keterlaluan saat bersikap kepada dirinya, tapi ini bukanlah hal yang tepat untuk mengatakan soal itu. Bianca hanya akan mengatakan siapa Laura dan siapa dirinya. Bukan yang lain.


“James mengira kau mengetahui sesuatu saat kita pergi ke rumah itu. Dan aku tidak bisa melarang saat dia meminta izin untuk mempertanyakan itu kepadamu.”


Bianca tersenyum simpul. Sejak tadi ia menerka-nerka kalimat apa yang akan jadi pembuka obrolan menuju titik masalahnya. Dan saat ini, saat ini sepertinya adalah waktu yang tepat. Insting James mengenai sesuatu yang janggal untuk Tuan Mudanya memang tidak pernah salah. Untuk itu Bianca harus dengan segera meluruskan sebelum jalan ceritanya malah akan semakin rumit.


“Duduklah..” Bianca menggenggam tangan Alvino, kemudian membawa lelaki itu untuk duduk bersamanya. Sementara Alvino hanya menatap tidak mengerti dengan sikap Bianca yang sepertinya akan mengatakan sesuatu yang serius. “Sayang..” Bianca menarik nafas panjang sambil menatap Alvino. “Aku tahu kau sedang mencari keberadaan adikmu, dan aku sebenarnya tahu dimana adikmu. Entah dari mana aku harus memulainya, yang jelas aku ingin kau mendengar segala kebenaran itu dariku.” Akhirnya Bianca mampu berucap.


“Bukankah kau pernah bercerita kepadaku tentang dirimu? tentang kau yang sebenarnya adalah putra sambung Tuan Alfian?” Saling menatap.


Alvino sama sekali tidak percaya. Kebenaran tentang apa lagi yang harus ia ketahui di hari yang sama? Dan kenapa Bianca bisa tahu. Alvino jadi menatap Bianca dengan heran dan perasaan bingung.


“Aku harap kau tidak salah memahami diriku, memahami apa yang akan aku katakan hari ini.” Bianca takut-takut menatap Alvino yang jelas-jelas sudah berubah air mukanya. “Adik yang selama ini kau cari sebenarnya ada disekitarmu, Al. Dia adalah Laura dan Laura adalah Evelyn.”


“Laura? Laura siapa maksudmu?”


“Kekasih adikmu Samuel.”


Haha. Alvino malah tertawa kecil. Kebenaran macam apa itu? Tidak mungkin jika Laura kekasih Sam adalah Evelyn, adiknya.


“Dan orang yang membuatmu datang ke rumah itu adalah Laura. Dia ingin membalas dendam dengan menghancurkan hubungan antara kau dan keluargamu. Kau pasti tahu betul bukan tentang masa lalu Ayahmu? Maaf aku lancang.”


“Bianca!!!! Hentikan!! Apa yang sebenarnya kau bicarakan?”


“Aku tahu kau pasti marah dan tidak menyangka, bahkan mungkin kau juga jadi bertanya-tanya dari mana asalnya aku mengetahui tentang itu semua.”


“Cukup Bee, jangan mengada-ngada dan membuat harapan palsu seakan aku sudah menemukan adikku.” Alvino menumpahkan dirinya di sofa. Soal teka-tekinya mencari Evelyn memang sangat menguras tenaga dan juga emosi. Lelah. Alvino sangat lelah untuk memikirkan soal itu lagi. Biarlah ia mendapatkan sedikit ketenangan dalam hati dan pikirannya. Kepala Alvino bahkan terasa akan pecah karena terus dipusingkan dengan hal-hal yang tidak ia duga sebelumnya.


“Tapi itulah kenyataannya. Apa yang aku katakan kepadamu benar adanya. Ini semua fakta. Aku mengetahui segalanya karena Eve datang ke kota ini bersamaku. Dia datang kemari untuk mencarimu, mencarimu untuk membalaskan dendam atas derita yang Eve dan keluarga kecilnya alami.” Bianca menatap Alvino dan masih berusaha meyakinkan Alvino bahwa apa yang ia katakan adalah benar adanya.


“Jika Laura adalah Evelyn, lalu siapa kau sebenarnya?”


 


 


Jeng..Jeng..Jeng..


 


 


 


 


 


 


 


 


Tirahat dulu gais, jari-jari aku udah keriting :(