You Decided

You Decided
Tinju



Tengah malam Alvino tiba di rumah sakit yang katanya Bianca dirawat disana. Entah apa lagi yang terjadi, hal-hal besar begitu bertubi-tubi terjadi tanpa memberi jeda. Rasa lelah setelah melakukan perjalanan dan juga melewati hari penuh duka tidak menyurutkan niat Alvino untuk langsung menemui Bianca. Terlebih dia sangat kesal kepada James yang tidak langsung memberitahukan bagaimana keadaan Bianca yang sesungguhnya.


Sudah ada bidy yang menyambut kedatangan Alvino, langsung saja calon ayah yang sudah kehilangan bayinya itu diantar menuju ruangan dimana Bianca berada. Dan tepat di samping pintu ruangan Bianca dirawat, sudah ada James yang berdiri sambil menunduk disana. Orang menyebalkan itu bahkan tidak berani menatap Alvino saat lelaki itu datang.


“Dimana Bianca?” Tanya Alvino sambil menaruh kedua tangannya ke belakang. Sudah berada di hadapan Jawes yang masih saja menunduk tanpa berani mendongak kepalanya.


“Nona.. Nona Bianca ada di dalam Tuan.” Gugup James menjawab, dengan kepala yang masih tertunduk dalam. Andai saja Alvino adalah Ken, James yakin hari itu juga ia akan kehilangan kepalanya yang ia tundukan.


Masuk. Alvino masuk ke dalam ruangan itu. Dan sedetik kemudian Alvino menemukan Bianca sedang tertidur dengan wajah berantakan dan mata yang lebih sembab dari pertemuan terakhir mereka siang tadi.


“Bee?” Alvino segera menghampiri Bianca yang terkulai lemah di atas brankar. Mengusap wanita yang sedang terpejam namun air matanya masih mengalir. “Astaga. Ada apa denganmu?” Alvino masih menatap tidak mengerti.


“JAMES!” Alvino berteriak memanggil James. Sekarang juga James harus memberitahunya apa yang sebenarnya sedang terjadi. Kenapa keadaan Bianca bisa sampai seperti itu.


“I-iya Tuan.” James masuk masih dengan kepala menunduk, sama sekali tidak berani menatap Alvino. Ya Tuhan tolong aku:(


“Katakan apa yang terjadi kepada Bianca! Kenapa dia terlihat berantakan?”


“Mm Nona.. Nona Bianca.. Dia..” James begitu bergetar dan gugup sekali. Kalimatnya terus saja terbata-bata. Tidak sanggup untuk mengatakan yang sesungguhnya kepada Alvino.


“Apa lidahmu patah? Kenapa sejak tadi tidak berbicara dengan benar! Jangan menguji kesabaranku James.” Alvino sudah sangat kesal dengan bagaimana cara James bersikap. James sudah sangat menyebalkan bahkan sejak Alvino belum tiba disana.


“Permisi..” Seorang perawat datang. Membawa beberapa alat medis dan akan mengganti cairan infus yang sudah habis. Masuk kedalam ruangan dimana Alvino berada. Daripada menunggu James lebih baik ia bertanya kepada perawat itu. “Tuan, bisakah anda bangun dulu? Saya akan mengganti infus Nona.” ujar perawat itu lagi.


“Tentu saja.” Alvino menggerakkan tubuhnya untuk memberi ruang kepada perawat yang akan mengganti cairan untuk Bianca.


“Apa yang terjadi? Apa keadaan Bianca baik-baik saja?” Alvino memperhatikan bagaimana perawat itu bekerja, kemudian mulai bertanya tentang keadaan Bianca yang sama sekali tidak dia ketahui.


“Nona Bianca membutuhkan waktu yang lama untuk pulih, Selain fisiknya yang terluka tapi psikisnya juga. Polisi sudah memberikan pengertian untuk menunda waktu untuk Nona memberikan kesaksian.” Perawat itu menjawab sambil masih melanjutkan tugasnya.


“Polisi? Kesaksian? Apa maksudnya?” Alvino mengernyitkan dahi, kemudian menoleh ke arah James dengan tatapan yang siap menerkam. “James!! Tidak bisakah kau menjelaskan tentang ini kepadaku!”


“Owh.. Maaf Tuan, sepertinya anda baru tiba. Apa anda belum tahu tentang kejadian ini?” perawat itu menoleh.


“Jangan berkelit. Apa yang sebenarnya terjadi pada kekasihku?”


“Maaf untuk mengatakan ini, tapi perkelahian Nona Bianca dan juga Nona Laura membuat mereka sama-sama terluka. Nona Laura harus berjuang karena luka di kepalanya sedangkan Nona Bianca harus berjuang karena dia harus kehilangan bayinya.”


“Perkelahian? Laura, Bianca? Apa maksudnya ini? Bayi apa yang kau maksud!”


“Saya ikut bersedih untukmu, Tuan. Kalian harus kehilangan bayi itu hari ini.” Perawat itu berujar lagi, membuat Alvino masih bingung dan tidak mengerti. Kehilangan bayi apa maksudnya, memangnya siapa yang hamil?


“Apa maksudmu Bianca hamil?”


“Iya. Tapi sayang, kami tidak bisa menyelamatkan janin itu.”


“BUGH!!” Alvino mendorong James hingga merapat ke dinding. Kemudian meninju James karena merasa sangat marah. Bagaimana tidak marah, saat Alvino tiba di rumah sakit ternyata ia mendapati keadaan Bianca yang begitu menyedihkan. Ditambah ia juga diberi tahu bahwa Bianca baru saja kehilangan calon bayinya. “Beraninya kau menyembunyikan hal besar seperti ini! BUGH!” Memukul lagi.


James hanya bisa diam, dia mengaku salah disini. Menurut kepada Bianca agar tidak memberitahukan dulu kabar kehamilan itu kepada Alvino. Dan akhirnya kini Alvino tahu soal kehamilan itu namun sudah kehilangan bayinya.


“Beginikah caramu menjaga wanitaku?!” BUGH!! Memukul lagi.


Kecewa. Tidak bisa dipungkiri bahwa Alvino merasa sangat kecewa. Bukan hanya kepada James, tapi kepada Bianca juga. Harusnya James tidak menyembunyikan soal itu meskipun Bianca memintanya, dan seharusnya Bianca juga mengatakan soal itu apalagi setelah kemarin mereka melakukan pengakuan dosa dan saling berkata jujur.


“Al.. Hentikan! Jangan memukul James seperti itu.” Rose hadir di tengah kegaduhan itu, Teman kecil Alvino itu baru saja kembali setelah melihat keadaan Evelyn.


“Kau? Sedang apa kau disini?” Alvino menatap tidak suka. Kenapa James dan Rose sudah ada disana sementara dirinya baru saja datang. Apa Rose juga tahu tentang ini? Kenapa dia ada disini?


“James tidak bersalah, dia tidak memberitahu kepadamu karena Bianca yang meminta seperti itu. Bianca yang memohon agar dia sendiri yang mengatakan soal kehamilan itu kepadamu.” Rose melakukan pembelaan. Kasihan kepada James yang kini tengah mengatur nafas menahan rasa sakit karena pukulan-pukulan Alvino.


“Kau lihat itu James? Bahkan Rose tahu soal kehamilan Bianca, lalu mengapa aku tidak?” Alvino semakin menatap marah kepada James.Tidak habis pikir dengan kejadian ini. Setelah meratapi kesedihan tentang kematian ayahnya, Alvino juga harus mendapatkan kekecewaan di hari yang sama.


“Lebih baik kau temani dulu Bianca. Dia sangat rapuh dan tentunya sangat membutuhkanmu.” Rose berujar lagi, ingin menyelamatkan James dari pukulan-pukulan berikutnya. Lagipula Bianca yang sedang sangat membutuhkan Alvino memang benar adanya. “Simpan dulu amarahmu, Al. Lebih baik kau temani Bianca.” Sedih. Rose merasa sangat sedih. Bukan hanya karena melihat James yang di amuk oleh Alvino. Tapi karena keadaan Bianca juga. Tidak menyangka bahwa ternyata hubungan Alvino dan gadis itu memiliki jejak yang sangat rumit.


“Pergi dan jangan pernah tunjukkan batang hidungmu lagi!” Push! Alvino mendorong James dengan kuat. Alvino kemudian meninggalkan James dan juga Rose, kembali menghampiri Bianca yang masih terpejam.


“Kenapa kau menyembunyikan ini dariku Bee?” Alvino mengelus lembut wajah Bianca. Hatinya sangat sakit melihat Bianca tidak berdaya seperti itu. Gadis itu terluka karena kehilangan calon bayi mereka. Meskipun ada rasa marah, tapi semua itu tertutupi oleh rasa khawatir yang amat besar. “Bangun, Bee. Aku disini.” Alvino mengambil satu tangan Bianca yang lemas, kemudian menaruh telapak tangan gadis itu di wajahnya. “Apa aku yang selalu terlalu sibuk sampai tidak mengetahui tentang kehadiran bayi itu? Maafkan aku. Bangunlah..”


“James lebih baik kau pergi. Biarkan Alvino tenang dulu. Biarkan mereka berbicara berdua, percuma juga kau menjelaskan kebenaran itu sekarang. Alvino tidak akan menyerap dengan baik, dia sedang marah.” Rose masih menemani James duduk di ruang tunggu, sudah selesai membantu James meredakan rasa sakit yang timbul karena pukulan dari Alvino.


“Aku bahkan tidak punya keberanian untuk menghadap Tuan Muda lagi.” Alvino memanglah seperti pawang bagi James, hanya kepada Alvino dia bisa amat sangat takut. Sekian tahun membersamai Tuan Mudanya, belum pernah sekalipun James membuatnya kecewa apalagi sampai marah seperti itu. Baru kali ini Alvino sangat marah, bahkan sampai melayangkan tinjuan kepadanya.


“Lebih baik kau temui para polisi, pelajari dengan baik masalah ini agar kau lebih mudah menjelaskan kepada Alvino nanti.”


Benar.. Rose benar. Lebih baik dia mendalami masalah yang menurutnya masih ambigu itu!


“Terimakasih, Rose. Kau memang yang terbaik.” James menggenggam tangan Rose kemudian tersenyum dengan bibir yang ujung senyumnya robek. Dan Rose membalas senyuman itu dengan senyuman manis tentunya.


 


 


 


 


Sabar bambank. Gue nulis berebu-rebu kata per bab. Gak sabaran bingit sih! Kalo gak mau nunggu, ngayal masing-masing ajadah. Serah kelen endingnya mo begimana. Peace.