
Bianca tersenyum begitu merekah ketika pagi telah tiba. Gadis itu berencana akan pulang dari rumah sakit lebih cepat sebelum James datang. Bianca akan mempersiapkan diri untuk bertemu dengan Alvino besok.
Rasanya sudah tidak sabar lagi~
Bianca kemudian segera menyelesaikan administrasi rumah sakit tersebut, merebus beberapa vitamin di apotek kemudian keluar dari gedung itu. dengan hati gembira Bianca menyetop taksi untuk menuju apartemennya.
Udara bahkan terasa lebih sejuk untuk seorang gadis yang sedang berbahagia, Belum bertemu saja sudah sebahagia ini apalagi jika Alvino sudah ada disampingnya. Aaaaa~ sulit sekali untuk membayangkan hal itu. Bianca tersenyum lagi.
Bianca sudah sampai, gadis itu kemudian segera masuk ke dalam gedung dan menuju unitnya. Namun suasana riang itu tiba-tiba saja berubah ketika ada seseorang yang menariknya sebelum ia bisa mencapai pintu.
Bugh!! "Disini kau rupanya!" Tubuh Bianca ditarik kemudian didorong cukup kuat ke dinding. Membuat gadis yang tidak siap itu langsung mengaduh kesakitan.
"Apa yang kau lakukan?" Bianca menatap wanita yang baru saja melakukan tindakan dadakan itu, meraba bagian tubuhnya yang terasa sakit.
"Apa yang aku lakukan? seharusnya aku yang bertanya! apa yang telah kau lakukan?" Wanita itu menaikkan volume suaranya. Menggertak Bianca dengan sinis.
"Tidak bisakah kau bicara dengan baik? ayo masuk." Bianca menghindari wanita berapi-api itu lalu mengajaknya untuk masuk ke dalam unit apartemen.
"Duduklah.. Baru saja bertemu sikapmu sudah seperti itu, apa kau tidak merindukan aku?" Bianca duduk di sofa, kemudian wanita itu mengikutinya.
"Tidak usah basa-basi Bianca! aku tahu apa yang sudah kau lakukan selama ini!"
"Apa? memangnya aku melakukan apa?" Bianca mengernyitkan dahinya, benar-benar tidak tahu duduk permasalahan yang wanita itu bahas.
"Kau bahkan menghancurkan sesuatu yang belum aku mulai. Kau benar-benar jahat!"
"Tenanglah Laura, ada apa sebenarnya? kenapa kau sangat marah sekali?" nada bicara Bianca masih terdengar lembut, mencoba menenangkan wanita yang sejak tadi berapi-api.
"Kau memacari kakakku kan? kau menjalin asmara dengan orang yang sangat aku benci. Apa-apaan ini! Aku tidak bisa menerima ini!" Laura bangkit dari sofa, menunjuk Bianca dengan jarinya karena merasa sangat marah kepada sepupunya itu.
"Kakakmu? Maksudmu Nino? memangnya kau sudah bertemu dengannya?" Bianca masih belum menguasai pembicaraan itu, masih bingung dengan apa yang dibicarakan oleh Laura.
"Alvino! Alvino yang menjadi kekasihmu adalah kakakku!"
"Apa untungnya aku membohongi mu!" Laura berkacak pinggang. Menatap Bianca dengan tatapan sangat kesal. "Jangan menghalangi aku Bianca! kau sendiri yang menghentikan percobaan bunuh diri yang akan aku lakukan dan menyarankan aku untuk mencari dia dan membalaskan dendam untuk Mendiang ayah ku! Dia orang jahat, kenapa kau bersekutu dengannya?"
Tidak. Ini semua tidak mungkin! Alvino tidak mungkin kakak Laura yang ia cari selama ini..
"Aku tidak akan membiarkanmu menyakiti dia, dia orang yang sangat baik Laura!" Bianca menatap ke arah Laura dengan tatapan yang sulit diartikan. Merasa gelagapan sendiri dengan kenyataan yang sering terjadi.
"Baik? Apakah kau menyebut dia orang baik hanya karena dia memberikan apartemen ini? memberikan fasilitas untuk mu? ingat apa yang dilakukan dia dan ibunya terhadap orang tuaku! mereka itu bukan manusia."
Namaku Laura. Tidak. Aku bukan Laura. Namaku Evelyn Mahendra. Aku terlahir sebagai putri Rapunzel yang diasingkan oleh kekejaman seseorang yang sangat berkuasa. Mereka membuang aku dan orang tuaku di tempat asing, menganggap kami tidak layak hidup seperti orang lain. Aku bertransformasi menjadi Laura karena aku tidak diizinkan keluar dari desa terpencil itu sampai mati, dan aku menjadi Laura untuk ayahku. Untuk membalas dendam. Masa lalu yang kelam membuat dendam di dalam diri ini mendarah daging, dan aku bersumpah akan membalas orang-orang yang menyakiti kami dimasa lalu. Mereka harus lebih menderita dari kami! Dan sekarang aku sudah lebih dekat untuk mencapai itu.
"Kenapa kau sangat yakin dia adalah Nino yang kau cari? bisa saja kan mereka hanya kebetulan memiliki nama yang sama?"
"Aku bukan gadis bodoh sepertimu! Tentu saja aku tahu. Lihat ini!" Laura memberikan ponselnya kepada Bianca menunjukkan sebuah foto di dalam galeri yang menunjukkan gambar keluarga Lucatu. "Aku sudah mendapatkannya dan aku baru akan memulai semuanya. Jadi ku harap kau tidak menghancurkan rencanaku!"
Tidak. Ini tidak boleh terjadi!
"Harusnya kau senang jika sudah menemukan kakak mu, kau jadi bisa memilih saudara. bukannya itu yang kau mau?" Bianca bersilat lidah. Meskipun dulu memang dia yang yang memberikan ide membalas dendam, tapi itu hanya untuk menghentikan Laura yang ingin bunuh diri karena merasa bosan dengan hidupnya. Apalagi yang akan dia sakiti adalah Alvino, lelaki yang ia cintai. Ini sama sekali tidak terjadi.
"Saudara apa yang kau maksud? dia bahkan tidak mencari ku setelah bertahun-tahun! Bukankah kau mendukungku? Atau... uang uang yang Alvino berikan sudah mencuci otak mu? rendah sekali! Apa dia membayar mu ketika kau menjadi penari murahan itu?" Laura tersenyum mengejek, kembali mengingat ketika Bianca memilih menjadi penari murahan hanya karena melampiaskan beban broken home yang dia alami.
"Jaga bicaramu Laura. Kau bukan aku, dan kau tidak tahu apa yang aku alami."
"Kau juga bukan aku! kita memiliki tujuan masing-masing dan kau tidak boleh mengusik!" Laura menyambar tasnya yang tergeletak di sofa, kemudian menatap Bianca dengan tajam, lalu keluar dari apartemen itu tanpa menunggu jawaban dari Bianca.
Bianca terhenyak sendirian. Mematung dan bahkan seperti tidak bisa bergerak sedikit pun. Lidahnya seperti tercekat ketika melihat Laura pergi begitu saja. Tiba-tiba otak Bianca berputar. Kembali memutar memori tentang dirinya dan Alvino.
"Akujuga memiliki kisah yang tidak pernah ku ceritakan pada siapapun. Sebenarnya aku bukan pewaris perusahaan Lucatu, Karena sesungguhnya Mister Ken bukan ayah kandungku. Aku hanya anak sambung Mister Ken, tapi dia sungguh baik hati memberikan aku posisi seperti ini. Aku punya adik perempuan dari ibu yang berbeda, tapi aku tidak tahu dimana keberadaan ayah dan adik tiriku itu. Aku berusaha mencari mereka namun sampai detik ini aku belum berhasil menemukan mereka."
Bianca kembali mengingat percakapannya bersama Alvino saat novel ini bercerita di bab "Kekasih". Jadi Adik yang Alvino maksud itu adalah Laura? dan kakak yang dicari oleh Laura adalah Alvino?
Astaga~