
Hari bahkan sudah hampir pagi, namun semua orang belum juga mengetahui keberadaan Laura, dan kini Sam justru malah dikagetkan dengan kedatangan beberapa Bidy ke apartemennya. Orang-orang itu katanya diperintah oleh Alvino untuk membawa Sam sekarang juga. Entah apa sebabnya yang jelas Sam bahkan tidak diberi kesempatan untuk bersiap-siap dulu.
“Tunggu sebentar, aku harus bersiap-siap dulu.” Sam membantah bidy yang kurang ajar sekali. Dia ingin membawa Sam seperti membawa buronan seorang polisi. Keberanian macam apa yang dia punya hingga memperlakukan dirinya dengan sangat tidak sopan.
“Maaf Tuan, kami hanya menjalankan perintah.” Takut tapi harus berani. Begitulah kira-kira. Menjadi pelayan orang-orang berkuasa memang terkadang sulit untuk menempatkan diri. Terkadang kuasa satu orang dan satu orang lagi terasa menghimpit.
“Mana mungkin Kakak memerintahmu bertindak tidak sopan terhadapku!” Bwah! Sam mengedikan bahunya dengan kesal.Bisa-bisanya dia diperlakukan seperti itu.
“Maaf.” Minta maaf lagi.
“Aku akan menemui Kakakku sendirian. Kalian pergi saja.” Titah Sam yang sebenarnya sedang tidak mau diganggu. Alvino pasti sudah mengetahui kejahatan yang diperbuat Laura tentang dokumen itu, pikirnya. Dan Sam, Sam belum memiliki jawaban untuk itu. Sama sekali tidak punya keberanian menghadapi masalah yang belum dia kuasai.
“Tidak Tuan, Tuan Muda meminta anda datang bersama kami. Kami harus membawa anda ke rumah sakit sekarang juga.”
“Rumah sakit?” Sam mengulang kalimat itu. Untuk apa Alvino meminta dirinya datang ke rumah sakit? Apa ini bukan soal Laura?
“Iya, Tuan Muda berada di rumah sakit sekarang.”
“Baiklah, Ayo.” Bodoh. Dasar anak muda! Dilanda masalah sedikit saja sudah tidak bisa berpikir jernih. Sudah bernafas lega mengira bahwa Alvino memintanya datang bukan untuk membahas masalah Laura. “Tapi…. Siapa yang sedang sakit?” bergumam dalam hati. Sudahlah. Kau lihat saja nanti, tidak perlu terlalu dikhawatirkan.
Sam kemudian dibawa dua bidy untuk pergi menuju rumah sakit dimana sebenarnya lelaki muda itu akan menghadapi masalah yang tidak terduga. Sam tidak akan menyangka bahwa tentang laura lah yang menjadi alasan Alvino memanggil dirinya. Sam juga akan semakin tidak menyangka bahwa selama ini dia terjebak dalam hubungan terlarang. Ya. Hubungan Sam dengan Laura jelas-jelas terlarang. Mereka adalah sama-sama adik sambung Alvino. Meskipun tidak memiliki hubungan sedarah, tapi sudah jelas hubungan itu sangat menentang. Terutama bagi Ken. Lagipula Sam juga belum tentu mencintai Laura jika dia mengetahui bahwa gadis itu adalah adik Alvino, terlebih sekarang Sam juga sudah sangat dikecewakan oleh apa yang Laura lakukan.
Masih dengan percaya diri, Sam melangkahkan kakinya dengan perasaan biasa saja. Seolah tidak ada masalah yang perlu dia khawatirkan. Mungkin ini hanya kerikil kecil, mungkin Sam datang kesana hanya diminta untuk menjenguk orang yang sakit. Tapi siapa?
Masih di ruangan Bianca..
Reaksi obat penenang itu belum juga habis. Sudah berjam-jam namun Bianca belum juga terbangun dari tidurnya. Alvino dan Rose masih setia menemani disana, sambil menunggu kedatangan Sam yang juga sangat lama untuk tiba. Waktu terasa begitu lambat berjalan.
Krek!! Pintu dibuka. Lelaki muda yang ditunggu-tunggu oleh Alvino itu akhirnya datang juga.
“Kak?” Sam langsung mengernyitkan dahi. Tidak mengerti dengan pemandangan yang ada disana. Kenapa Rose dan Alvino ada disana? Dan siapa wanita yang sedang terbaring itu? Sam tidak mengenalnya sma sekali.
“Sam.. Kemarilah.” Alvino menyambut hangat kedatangan Sam dengan senyuman tipis.
“Ada apa ini? Aku kira kau memintaku datang untuk hal yang penting. Siapa wanita ini?” Pelan tapi pasti Sam melangkahkan kakinya untuk menghampiri Alvino dan melihat wanita yang terbaring di atas brankar dari jarak dekat. Tapi sama saja, meskipun sudah melihat dari jarak dekat, Sam sama sekali tidak mengenali siapa wanita itu.
“Dia wanitaku.” Alvino menyahut pertanyaan Sam.
“Wanitamu? Maksudnya?” Sam mengernyitkan dahi lagi. Tidak mengerti maksudnya apa. Memangnya kenapa jika wanita itu adalah kekasih Alvino? apa Alvino memerintah bidy sampai sebegitunya hanya untuk memberitahu soal ini? bahkan hari sudah hampir pagi, kenapa tidak menunggu siang hari saja. Tidak penting.
“Kau akan mengerti nanti.” Alvino hanya tersenyum lagi. Tahu jika Sam belum memahami situasi disana. Sam juga pasti belum tahu tentang siapa Laura, dan Alvino akan menjelaskan semuanya saat itu juga. “Rose.. maaf mengganggu waktu istirahatmu. Aku dan Sam harus pergi sebentar, bisakah aku menitipkan Bianca kepadamu?” Alvino kini menoleh ke arah Rose. Teman kecilnya yang selalu bisa hadir dalam segala situasi.
“Tentu saja.”
“Kau tidurlah, ada beberapa bidy yang berdiri di luar. Jadi jangan terlalu khawatir.”
Selalu ada ruang kosong di setiap bangunan, kini Alvino membawa Sam untuk menuju rooftop. Membawa Sam untuk membicarakan hal yang penting berdua.
“Apalagi ini Kak? Apa kau ingin kita menyaksikan matahari terbit.” Lagi-lagi Sam menggelengkan kepalanya samar, tidak habis pikir tentang apa yang sebenarnya Alvino inginkan. Untuk alasan seperti inikah dirinya sampai harus menemui Alvino di pagi buta begitu.
“Apa kabarmu?” sudah sampai di rooftop. Sama-sama berdiri dan melihat sekeliling dari ketinggian. Alvino memasukan satu tangannya ke dalam saku, kemudian menoleh ke arah Sam.
“Ba-baik.. seperti yang kau lihat.” Sam tersenyum canggung.
“Kau pasti bertanya-tanya kenapa aku membawamu kesini kan?” Alvino menarik napas dalam, kemudian menghembuskannya seperlahan mungkin. Mencoba rileks dan bicara baik-baik dengan adik lelakinya.
“Aku kira ada sesuatu yang darurat.” tersenyum canggung lagi. Ayolah kak, langsung saja! Aku ingin pulang.
“Siaga satu?” bertele-tele. Ayolah katakan saja, jangan menambah bintang yang berputar-putar di kepalaku.
“Bagaimana hubunganmu dengan Laura sekarang?” Nah Sam, kakakmu sudah to the point. Kau tentu sudah menyiapkan jawaban bukan? Sayangnya tidak.
“L-laura? Hm kami..” Gulp! Sam menelan ludahnya sendiri. Ternyata topik pembicaraan itu memang ingin membahas Laura. Meskipun sangat janggal kenapa harus mereka bahas disana dalam waktu yang begitu mendadak.
“Aku pernah sangat membenci dia, kau pasti ingat bukan ketika aku yang paling depan menentang hubunganmu dengan wanita itu.” Alvino tersenyum simpul. Satu persatu misteri teka-teki itu terbuka dengan sendirinya. Dulu Alvino sangat membenci Laura karena gadis itu membawa pengaruh buruk untuk Sam, selalu menjerumuskan Sam kedalam hal-hal terlarang. Mungkin itu salah satu bagian dari rencana Evelyn untuk membalas dendamnya. Membabi buta dan ingin menghancurkan keluarga Lucatu dari berbagai arah.
“I-iya, tentu saja aku masih ingat itu.” Setengah mati Sam merasa gugup. Alvino pasti sudah tahu tentang pencurian berkas yang dilakukan oleh Laura, dan dia, Sam belum menyiapkan jawaban apapun untuk itu.
Apa yang harus aku lakukan? Sam gusar sendiri.
“Apa kau sudah tahu siapa Laura sebenarnya?” Alvino menatap ke arah Sam, memperhatikan air muka adik lelakinya sambil menunggu jawaban. Semoga saja Sam mengatakan tidak, mana mungkin dia masih melanjutkan hubungan itu jika dia sudah tahu tentang siapa Laura.
Gulp! Sam menelan ludahnya sendiri. Langsung merasa gemetar tidak karuan. Bagaimana ini? “Kak..” takut-takut Sam juga menoleh ke arah Alvino yang lebih dulu menatapnya.”Maafkan aku, sumpah demi apapun aku tidak tahu jika Laura berani melakukan itu.” Minta maaf duluan meskipun titik masalahnya belum muncul. Sam mengira pertanyaan Alvino itu merujuk soal berkas-berkas yang dicuri, Sam tidak mengetahui yang lain.
Berani melakukan itu? melakukan apa? Maksudmu menghilangkan calon bayiku? Alvino tersenyum miris.
Apa Sam benar-benar sudah tahu soal siapa Laura? tapi kenapa dia masih saja meneruskan hubungan itu?. Tidak habis pikir.
“Tapi aku berhasil menggagalkannya, aku menggagalkan penawaran itu dan kembali mendapatkan berkas-berkasnya.” Sam segera meluruskan, demi Tuhan dia tidak mengetahui apapun soal kejahatan Laura. Yang jelas setidaknya dia sudah berhasil menggagalkan hal yang akan sangat merugikan Lucatu. Sudah jelas jika itu terjadi akan ada perang dunia antara Ken dan Alvino.
Gagal? Menggagalkan apa? Jelas-jelas itu semua sudah terjadi!! Sekarang Alvino yang mengernyitkan dahinya tidak mengerti. “Berkas apa yang kau maksud?”
“Berkas Lucatu. Aku menggagalkan Laura melakukan penawaran kerjasama dengan Brandon Group. Entah apa sebabnya Laura melakukan itu yang jelas sekarang aku kehilangan jejaknya.” Sudah, lebih baik jujur saja. Katakan semuanya yang memang kau ketahui. Daripada menimbun dan menyebabkan masalah baru.
“Apa maksudmu? Bagaimana mungkin Laura menemui Brandon Group dan melakukan penawaran tentang Lucatu? Itu sangat tidak mungkin.”
“Kak.. jangan bermain-main, sebenarnya kau tahu soal ini kan?” Sejak tadi kenapa bertele-tele. Bukankah Alvino membawanya untuk membahas soal Laura, lalu apa lagi yang menjadi poin bahasan jika bukan soal pencurian berkas itu. “Aku bahkan belum menyiapkan jawaban untuk ini, aku tidak berhasil menyimpulkan soal ini. Aku tidak tahu siapa yang membantu Laura melancarkan aksinya. Dia tidak mungkin melakukan ini sendirian.”
Evelyn.. Apalagi yang kau lakukan? Tingkahmu sudah sangat keterlaluan! Tapi syukurlah jika itu berhasil digagalkan.
“Aku akan membahas ini nanti, James akan segera menemui Brandon Group untuk meluruskan soal itu. Tapi apa kau sungguh tidak mengetahui yang lain soal Laura? Soal siapa dia sebenarnya?”
Yang lain? memangnya apalagi?
“Saat aku menemukan Laura bersama perwakilan Brandon Group, dia langsung kabur. Gadis itu menguap entah kemana. Aku tidak bisa menemukannya untuk bertanya soal semuanya.”
“Sam.. Laura dia adikku. Dia Evelyn Mahendra.”
Hah? Sam menatap tidak percaya sambil terkekeh kecil. Guyonan macam apa itu? tidak mungkin.
“Dia berada di ruang darurat sekarang. Laura sudah melakukan banyak hal, termasuk menyebabkan wanita ku terbaring lemah. Dia sangat membenciku, mungkin lebih dari saat aku masih membencinya dulu.”
“Jangan bercanda kak. Ini bukan waktu yang tepat untuk melakukannya. Mana mungkin Laura adalah adikmu juga. Bukankah kau belum menemukan dia?”
“Tapi itu kenyataannya Sam. Laura memang adikku. Dia adalah Evelyn yang selama ini aku cari.”
Tidak, ini tidak mungkin. Masa iya Laura adalah Evelyn. Mana mungkin, mana mungkin aku menjalin kasih dengan Aaaaaaaa ini tidak mungkin!
Bersambung!