
James segera pergi ke apartemen Bianca, ikut bersama polisi untuk menyelidiki kasus yang terjadi disana. James meminta salinan data cctv yang ia pasang khusus di ruangan itu, entah suatu kebetulan atau memang sudah diatur skenarionya oleh Author, perkelahian antara dua gadis itu terjadi tepat dimana cctv itu dipasang. Ya. Hanya di ruangan itu cctv dipasang, mana mungkin di segala penjuru.
James menyimak dengan baik bagaimana adegan demi adegan terjadi. James bahkan melarang matanya sendiri untuk berkedip. Sedetik pun James tidak mau melewatkan apapun. Di cctv itu terekam jelas sejak Alvino bahkan masih berada disana, kemudian pergi meninggalkan Bianca sendirian. Lalu tidak lama kemudian datang Laura dengan menekan tombol pintu berulang kali. James menyaksikan dengan jelas bagaimana saat Bianca ketakutan dan tidak berani membuka kan pintu untuk Laura. Hingga akhirnya pintu itu dibuka dan Laura di biarkan masuk. Masih baik-baik saja, mereka saling berpelukan kemudian sama-sama duduk di sofa. Dan pertikaian itu bermula saat Bianca memberikan segelas air untuk Laura, Gadis yang datang dengan tangisan itu tiba-tiba berubah menjadi angkuh. Menepis tangan Bianca dengan angkuh kemudian terjadi adu mulut disana. James melihat dengan jelas ketika bagaimana Laura menampar Bianca, kemudian Bianca mendorong Laura dan Laura menampar lagi.
“Hsss..” James sedikit bergidik ngeri ketika menyaksikan bagaimana dua orang itu saling bertikai. Berkelahi dengan gaya khas wanita. Saling menjambak dan juga berteriak, saling menampar saat ada kesempatan. Bianca yang lemah di sana, gadis itu kalah. Bianca ditindih oleh Evelyn dan dipukul secara membabi buta. Evelyn bahkan duduk tepat di atas perut Bianca. Mungkin itulah penyebab Bianca harus kehilangan bayinya. Dan puncaknya adalah ketika Bianca sudah tidak tahan lagi. Tidak bisa mengelak dari serangan-serangan yang diluncurkan oleh Laura. Lalu sedetik kemudian tangan Bianca refleks mengambil sesuatu yang ada di sampingnya untuk memukul Laura agar dia berhenti.
Bugh!! Bianca menghantam Laura tepat di kepalanya. Membuat gadis yang membabi buta itu tiba-tiba terdiam dan menjatuhkan diri ke atas tubuh Bianca dengan lunglai.
Seram. Lebih dari adegan horor, pikirnya.
“Police!” James menghampiri para polisi yang masih sibuk hilir mudik di apartemen Bianca. “Jangan mendatangi para gadis itu dalam waktu dekat, aku yang akan bertanggung jawab. Aku akan membantu kalian dalam penyelidikan ini.” Ujar James kepada para polisi. Kekuasaan Lucatu memang lebih tinggi dari apapun, bahkan lembaga pemerintahan pun masih berada dibawahnya. Para polisi hanya bisa mengiyakan, karena menyelidiki kasus yang melibatkan Lucatu memang selalu menyulitkan. Terkadang definisi uang berada di atas segalanya memang sebuah realita.
James akan meluruskan masalah ini sebisa mungkin, Tidak ingin membuat Alvino kecewa dan malah lebih marah lagi. Untuk menebus kesalahan itu James siap untuk melakukan apapun yang terbaik, seperti seharusnya.
Dari rekaman cctv itu jelas sekali bisa Bianca yang akan menjadi tersangka, adegan bagaimana Bianca memukul Laura itu terekam dengan jelas sekali. James tidak boleh membiarkan itu. Dengan segala upaya yang ia mampu, kali ini ia akan melindungi Bianca.
~
Alvino masih sabar menunggu Bianca terbangun, lelaki yang juga sama sedang merasa lelah itu bahkan enggan untuk beranjak kemanapun. Yang dia inginkan saat ini hanyalah Bianca membuka mata dan memastikan gadis itu baik-baik saja.
“Al.. Istirahatlah.. Biar aku yang menunggu Bianca disini.” Rose menghampiri lagi Alvino yang belum juga bergerak sejak tadi. Meskipun lelaki itu berantakan tapi ia masih setia menunggu Bianca disana, itu sudah cukup membuktikan bahwa Alvino memang benar-benar mencintainya. Rose hanya tersenyum.
“Tidak, Rose. Aku akan menunggu dia bangun, aku ingin menjadi orang pertama yang dia lihat ketika matanya terbuka.” Masih menggenggam tangan Bianca, Alvino tidak henti-hentinya merapalkan do’a. Berharap wanitanya bisa bangun dan dikuatkan olehnya meskipun dia juga sama sedang rapuh. Mereka sama-sama memiliki duka masing-masing, tapi kehilangan calon bayi itu adalah duka mereka berdua. Alvino tidak akan membiarkan Bianca menanggung itu sendirian.
“Dia sangat histeris. Dia mengira kau akan sangat marah dan meninggalkannya. Aku sangat sedih melihat keadaan Bianca.”
“Terimakasih sudah menemaninya, Rose.”
“Apa kau tidak ingin menemui adikmu? Mm maksudku Laura, Mm Evelyn. Dia masih berada di ruang darurat.” Selain kasihan kepada Bianca, Rose juga merasa kasihan kepada Alvino. Lelaki tampan teman kecilnya yang sempat ia cintai itu begitu banyak menanggung kesedihan belakangan ini. Rose tidak bisa melakukan apapun, ia hanya bisa mendukung dan mendampingi mereka saja.
“Baiklah..”
“Rose.. Apa Bianca mengatakan sesuatu kepadamu saat aku belum tiba?” Alvino menoleh, menatap lawan bicaranya yang berdiri berseberangan dengannya.
“Tentu saja. Bianca mengatakan banyak hal kepadaku. Tapi intinya dia sangat terpukul setelah kehilangan bayinya. Dia juga sangat takut kau marah dan meninggalkan dia. Berjanjilah padaku Al, kau tidak akan tega melakukan itu kan?” Tidak. Alvino tidak akan mungkin jahat seperti itu. Rose sangat yakin Alvino tidak akan membuat luka Bianca semakin banyak. “Aku tau kau pasti kecewa karena mendengar berita duka ini tanpa tahu sejak kapan Bianca hamil. Bianca sudah akan mengatakan tentang ini, tapi kau sedang berduka tentang ayahmu. Dia bahkan sudah merencanakan kejutan kecil untukmu, sebelum akhirnya Adikmu datang dan semua ini terjadi.” Rose memberikan sebuah kotak berwarna putih yang tadi diambil oleh James dari apartemen Bianca. Sebuah kejutan yang tadinya akan Bianca berikan saat lelakinya sudah kembali. Berharap kabar kehamilan itu bisa menjadi obat untuk segala kemalangan yang menimpa Alvino.
Alvino menerima kotak yang masih tertata rapi dengan aksen pita yang senada, menatap lekat kemudian membukanya pelan-pelan. “You’re going to be daddy.” Emoticon tersenyum dan juga sebuah benda pipih yang menampakan hasil garis dua.
Nahas, kejutan yang disiapkan Bianca belum Alvino terima saat kejadian itu berlangsung. Bayi itu gugur lebih dulu sebelum Alvino mengetahui keberadaannya.
“Dia adalah korban, dia adalah korban adikmu sendiri. Adikmu sangat marah kepada Bianca karena Bianca memberitahumu segalanya tentang apa yang kau cari.”
Alvino menegapkan dadanya. Begitu hebatkah dendam yang melekat di hati Evelyn sampai-sampai ia tega berbuat seperti itu? Dan apakah dia sudah merasa puas setelah apa yang terjadi sekarang?
“Bidy!” Panggil Alvino.
“Iya Tuan.”
“Bawa Sam kemari. Segera!”
“Baik Tuan.”
Dan mari kita lihat apakah Sam mengetahui tentang ini semua? Apa Sam tahu bahwa selama ini dia 'Terjebak dalam cinta terlarang' ?
Bersambung~