
Alice dan Alvino sudah berada didalam mobil yang sama. Mobil yang hanya cukup memuat dua orang itu melaju meninggalkan halaman rumah sakit. Untuk sementara keheningan tercipta diantara mereka, belum ada yang mampu berucap untuk memecah keheningan itu.
Hingga akhirnya mobil itu sudah membelah jalanan selama sepuluh menit. "Dimana rumahmu?" Alvino akhirnya bertanya setelah sejak tadi mengemudi mobil yang ia tidak tahu kemana tujuannya.
"Hm Aku.. A-ku.. sebenarnya." Gugup Alice menjawab. Apa yang harus ia katakan sekarang? apa ia harus mengaku sebagai wanita gelandangan yang tidak punya pekerjaan juga tempat tinggal. Hah. Akan disebuat apa Alice sekarang, benalu kah?
"Ada apa? sepertinya sejak tadi kau selalu gugup dan gelisah." Alvino melirik sebentar. Sejak tadi wajah Alice memang selalu penuh kecemasan.
"Tidak. Mending aku turun didepan sana saja, kak. Eh maksudku Tuan Alvino." Ah kenapa Alice jadi bingung sendiri. Ia bahkan tidak bisa mengontrol apa yang akan ia ucapkan.
"Hehe.. Tidak apa. Kau boleh memanggilku kakak." Alvino tersenyum ramah untuk mematahkan ke-kakuan diantara mereka. Sudah beberapa kali bertemu namun mereka belum se-akrab seperti anggota keluarga yang lain. "Aku lapar.. kau tidak keberatan kan jika kita makan malam sebentar?"
"Makan malam?" Alice mengulang kalimat Alvino dan Alvino mengangguk mengiyakan.
"Yaa.. tidak ada salahnya bukan?"
Alice tidak menjawab dan hanya mengangguk samar. Entah kenapa Alice tiba-tiba merasa gemetar.
Alvino bukan orang jahat kan?
Sudah selesai makan malam..
Astaga. Kemana aku harus pulang? Aurora, apakah aku harus menginap disana untuk sementara waktu? tapi... ini sudah sangat larut.
Meskipun sudah tidak terlalu canggung kepada Alvino setelah makan malam tadi, tapi pikiran Alice masih berlarian kemana ia harus pulang sekarang. Gadis itu sudah tidak punya pekerjaan ataupun kamar kos, bahkan Alice juga tidak punya uang sepeserpun.
Lagipula kenapa kau bergantung kepada Sam hah? kau bukan gadis manja Alice! kau terbiasa mandiri! Lihat sekarang.. kau bingung sendiri kan jadinya.
"Alice.." panggil Alvino.
"I-iya kak?"
"Kenapa kau diam sekarang? eh iya. Diamana rumahmu? sejak tadi kau tidak menjawab." Alvino menoleh sekilas dan lagi-lagi ia mendapati pemandangan sebelum makan malam. Alice yang kaku dan gelisah.
Apa aku harus mengatakan yang sejujurnya?
"A-ku.. hm aku.." Alice gugup. Meskipun sudah banyak berbincang saat makan malam tadi, rasa tegang itu kembali menghampiri sekarang.
"Apa kau ingin mengatakan bahwa sebenarnya kau tinggal bersama Sam?" Alvino menebak secara acak. Karena menurut penuturan salah satu pengawal, gadus itu memang sering menghabiskan waktu di apartemen Sam.
Huh.. Alice menghela nafas. Bagaimana Alvino bisa tau, pikirnya. "Kau tau tentang itu?" Alice menoleh ke arah Alvino yang sedang mengemudi.
Hehe. Alvino tertawa kecil. Memangnya apa yang tidak bisa ia ketahui? apalagi jika menyangkut keluarganya. "Apa kau tidak punya tempat tinggal?"
Gawat! harus menjawab apa sekarang!? Rasa gugup Alice kini bertambah level. Sudahlah, lebih baik jujur saja.
"Duluuuu... dulu aku seorang pelayan di kafe, namun setelah kami berkenalan, maksutku aku dan Sam berkenalan dan cukup intens.. Sam memintaku untuk berhenti bekerja dan tinggal bersamanya. Dia bilang dia akan menanggung biaya hidupku." Salah tidak yaa aku berkata seperti ini, hati Alice masih berkecamuk.
Lagi-lagi Alvino hanya mengulum senyuman sambil menggeleng samar. Tidak menyangka bahwa adik bungsunya sudah sejauh itu.
"Jadi kau ingin kembali ke apartemen Sam?" tanya Alvino. Tapi Alice justru diam seribu bahasa. Apa yang harus ia jawab?
Hening seketika..
"Kau boleh menggunakan apartemen itu."
Hah? apa? Alice menatap tidak percaya. "Kak?"
"Sam memintamu tinggal disana bukan? aku tidak bisa menghalangi jika dia memang ingin seperti itu, unit itu miliknya dan dia yang berhak atas apapun."
"Sungguh? kau tidak bercanda bukan?"
"Apa kau melihat raut bercanda di wajahku?"
Astaga.. Kenapa mereka sangat baik kepadaku? apa dunia sudah berdamai dengan hidupku. Mimpikah ini?
Hampir dua puluh satu tahun Alice hidup didunia, tapi kehidupannya selalu pahit dan ketir. Tidak ada kebaikan yang bisa Alice cerna selama ini. Sementara Alvino, lelaki itu tidak merubah airmuka. Seolah serius dengan ucapannya. Baru pertama mengobrol dengan Alice, rasanya Alvino sudah merasa amat sangat dekat. Entah kenapa.
Perjalanan itu berlanjut dengan hening, tidak ada lagi percakapan antara Alice dan Alvino. Hingga akhirnya mobil itu berhenti, tepat di gedung apartemen milik Sam.
"Ini." Sam memberikan sebuah card access system kepada Alice.
"Sepertinya malam ini aku lebih baik menginap dirumah temanku kak, aku tidak bisa tinggal disana selama Sam tidak ada." Alice hanya menatap kartu itu, sama sekali tidak berminat mengambilnya.
"Jangan sungkan, Alice. Sam yang memintamu tinggal disana bukan? Sam juga sudah membuatmu kehilangan pekerjaan. Mana mungkin aku membiarkanmu." Didalam keadaan mobil yang terparkir dan suasana yang cukup gelap itu mereka saling menatap.
"Aku tidak ingin menjadi seorang benalu yang menumpang hidup, kalian baik terhadapku itu sudah lebih dari cukup."
"Sudahlah.. Dua atau tiga hari lagi kau akan kembali kepada Sam bukan? Aku tidak mau dia mengira kau jadi terlunta-lunta karena_nya." Alvino menyodorkan kartu itu kembali. Dalam hati kecil Alvino, ia seperti diharuskan untuk menolong gadis itu. Gadis yang sebenarnya asing, gadis yang sudah beberapa kali ia lihat namun baru kali ini bisa mengobrol. "Satu lagi, ini uang milik Sam. Gunakanlah untuk keperluanmu.."
Astagaa.. Alice menelan ludah sendiri, semakin bingung bagaimana harus bersikap. Senang karena ada orang berhati malaikat, namun satu sisi Alice juga sangat malu.
"Ini sudah malam, aku harus beristitahat. Ambilah.." Entah keberanian darimana tiba-tiba Alvino meraih tangan Alice dan meletakan kartu juga beberapa lembar uang di tangan gadi itu.
"Kak, terimakasih... Aku.....
"Iyaa.. selamat beristirahat." Alvino mengulas senyuman sambil menarik tangannya dari tangan Alice yang diraihnya tadi.
"Terimakasih banyak.." Alice kembali berterima kasih sebelum akhirnya ia benar-benar turun dari mobil. Gadi itu kemudian masuk kedalam gedung dengan rasa masih tidak percaya atas apa yang terjadi sekarang.
Alvino kemudian memutar kemudi untuk kembali kerumah. Dan saat membelah jalanan tiba-tiba ia mengulas memori yang barusaja terjadi.
Kenapa aku menyentuh tangannya tadi? Alvino berfikir sendirian. Dan sedetik kemudian tiba-tiba ia mengingat wanita yang belakangan ini tidak ia perhatikan. Biancaa~