You Decided

You Decided
Penerimaan



Setelah sekian lama menimang-nimang keputusan, akhirnya Alice memberanikan diri untuk menemui Alvino. Apapun akan dia lakukan untuk ibu, termasuk menjatuhkan harga dirinya untuk meminta bantuan seperti itu.


“Maaf mengganggu waktumu. Tapi aku benar-benar tidak bisa mengatakannya lewat telpon.” Ragu-ragu Alice berbicara pada inti pertemuan mereka. Alvino yang memiliki segudang kesibukan ternyata mau meluangkan waktu hanya untuk menemui dirinya.


“Jangan sungkan, aku tidak merasa terganggu. Lagipula waktuku memang sedang luang.” Alvino menelaah keadaan, sepertinya bibir Alice sedikit gemetar. Entah apa yang akan disampaikan yang jelas dia mau menjadi pendengar yang baik. Pikirnya.


Apanya yang luang! Kau membatalkan beberapa pertemuan penting Tuan Muda! James.


“T-tapi..” Sekilas melirik James yang berdiri seperti manekin, dua langkah di belakang Alvino.


“Tidak apa, anggap saja dia tidak punya telinga.” Langsung mengerti apa yang Alice maksud.


Mmh.. Alice hanya mendesah gusar. Mengutarakan niatnya kepada Alvino saja rasanya ia tidak mampu, apalagi James berdiri seperti itu.


“Kau boleh tunggu diluar, James.” Perintah itu terdengar pelan, namun jelas. “Apa kau benar-benar tidak punya telinga?”


“Eh.. Iya Tuan, saya akan duduk di meja samping.”


“Diluar, James.”


“Baik, Tuan.”


Setelah di hadapan mendiang Bianca, kini di hadapan gadis itu. Kegagahan James selalu di buat menciut. Tapi tak apa, yang penting Tuan Mudanya kembali waras. Hanya dengan gadis bernama Alice itu dia mau banyak berbicara lagi. Sebelumnya, Alvino selalu irit mengeluarkan suara.


"Ada apa? Kau tidak perlu sungkan, Alice."


Tinggal mereka berdua yang ada di sebuah cafe, tidak ada lagi James yang akan menguping pembicaraan mereka.


Lalu detik selanjutnya Alice mengutarakan apa yang dia maksud, meminta bantuan kepada Alvino tentang biaya pengobatan ibunya.


"Aku berjanji akan mengembalikan itu secepatnya."


Malu luar biasa ketika Alice berhasil mengucapkan kalimatnya, mungkin sekarang wajahnya seperti kepiting rebus yang kemerahan. Tapi tidak apa, semuanya demi ibu. Dia sudah berjanji akan melakukan apapun.


Sejenak Alvino terdiam, bukan masalah besar tentang bantuan yang Alice minta. Tetapi dia seperti kembali ke masa lalu, saat dirinya membantu pengobatan nenek Bianca namun berakhir dengan kepergian orang tersebut.


"Jangan menunda, kau harus segera mengobati ibumu." Teringat kembali bagaimana nenek Bianca harus berpulang karena telat mendapatkan penanganan, tiba-tiba Alvino merasa merinding. Jangan sampai itu terjadi juga kepada ibu Alice.


"Terimakasih Al, aku berhutang padamu."


Jiwa kemanusiaannya seperti kembali setelah berbulan-bulan menjadi orang gila.


Hiks.. Alice menangis.


Meskipun ibunya sudah mendapat penanganan tetapi kondisinya belum baik-baik saja. Wanita paruh baya yang dimiliki Alice satu-satunya, kini harus berjuang antara hidup dan mati.


Jangan sampai Alice kehilangan ibu. Dia tidak punya siapapun lagi…


"Menangislah.. tapi jangan sampai kau kehilangan harapan untuk ibumu. Kau harus yakin bahwa dia akan kembali berada di sampingmu." Tangan Alvino refleks meraih jari-jemari Alice. Alis memang sedang tidak baik-baik saja, ada tidak bisa memaksa agar gadis itu berhenti menangis. Biarkan saja, agar dia tenang. Pikirnya.


Berpura-pura kuat saat sedang lemah itu menyakitkan..


"Aku tidak mau kehilangan ibu, hanya dia yang aku punya."


Diam, Alvino hanya diam. Namun tangan mereka masih saling menggenggam tanpa mereka sadari.


Seringkali orang yang berkeluh kesah dan menumpahkan kegundahannya, mereka hanya membutuhkan orang yang menerima mereka. Membiarkan mereka dengan perasaan yang sedang berantakan.


Penerimaan saat kita merasa tidak baik-baik saja, itu sangat tak ternilai. Kadang kala kita sedang berkeluh kesah (curhat) bahkan sampai menangis, orang yang menjadi tempat kita mengadu justru merasa tidak nyaman. Lalu kita berusaha berhenti menangis, agar orang tersebut kembali merasa nyaman. Padahal tangis kita belum usai.


Begitupun Alvino, dia membutuhkan orang seperti itu di masa masa sulitnya kemarin. Hanya saja dia terlalu dipaksa untuk kuat. Oleh sebab itu, dirinya merasa seperti hampa. Perasaannya belum usai tentang kesedihan.


Dan karena merasa diterima dan mendapatkan orang yang tepat untuk menumpahkan segala keluh kesahnya, Alice melakukan itu di hadapan Alvino. Tanpa sadar.. ia hanya merasa nyaman.


"Pejamkan matamu, rasakan semua rasa yang bersarang dalam dirimu. Sedih, sakit, kecewa, benci, dendam dan semuanyaaa, ajak mereka berdamai. Jangan kau lawan, terima saja. Jangan biarkan dukamu, kau pikul di bahu. Membiarkan dia sendirian seperti kau yang takut di tinggal sendirian."


"Terimakasih Al, perasaanku sudah jauh lebih baik. Maaf jika…"


"Menangislah jika memang ingin menangis, menangislah seapaadanya. Luangkan waktu sejenak untuk memberi ruang kepada diri merasakan segala rasa. Luka batin yang tidak kunjung pulih salah satunya karena sering tertawa berpura-pura, menahan tangis sampai se-begitunya. Belajarlah dari anak kecil yang tertawa dan menangis penuh kemerdekaan. Menangis bukan berarti dirimu lemah, luka itu akan perlahan sembuh seiring keringnya air mata yang kamu tumpahkan."


Sungguh.. apa yang Alvino lakukan dan katakan mengalir begitu saja. Dirinya seperti menjadi orang yang sebenarnya dia butuhkan juga. Alvino membutuhkan orang yang bisa menerima dirinya.


"Terimakasih.. apa yang kau lakukan bukan sekedar bantuan, kau sudah memberi ku kekuatan." Senyum tulus itu muncul, Alice merasakan hatinya kembali menghangat. Kesedihan dan masalah-masalah yang sebelumnya dia pendam sendiri, kini mulai memberikan kesan lega.


"Sama-sama.. Tapi aku harus pergi sekarang, sampai berjumpa lagi nanti malam. Aku akan menjemputmu."


Bersambung~