You Decided

You Decided
Kesal



Beberapa hari kemudian..


Keadaan Sam berangsur semakin baik, dan kabarnya hari ini Sam diizinkan untuk dirawat dirumah seperti yang Monica dan Ken inginkan. Alice yang mendapatkan kabar tersebut segera bersiap menuju Rumah Sakit, wanita itu tidak ingin kehilangan momen


sedetikpun selama masa pemulihan Sam.


"Astaga!! sepertinya aku terlambat." Alice buru-buru keluar dari unit yang ia tempati. Berlari dengan sangat tergesa-gesa ingin segera sampai ditepi jalanan untuk mencari taksi yang akan mengantarkannya menuju rumah sakit. Namun saat masih berada di lobby tiba-tiba saja Alice menabrak seseorang. BUGH!! "Maaaff aku tidaaaaakk, kak Alvinooo?" Baru saja akan mengatakan permintaan maaf Alice justru mendapati orang yang ditabrak adalah Alvino.


"Ayo.. Kau hampir terlambat. Sam sudah menunggumu." Ujar Alvino dengan santai. Namun meninggalkan tanda tanya yang begitu besar bagi Alice.


Kenapa dia kemari? Apa dia sengaja menjemputku?


Sudahlah.. daripada terlambat mending Alice langsung saja berangkat tanpa banyak bertanya. Yang terpenting adalah ia segera sampai di rumah sakit.


"Terima kasih Kak lagi-lagi kau menolongku." Alice mengulum sebuah senyuman yang diberikan untuk Alvino saat mereka sudah tiba di parkiran rumah sakit.


"Sudah kubilang jangan pernah sungkan Alice." Alvino membalas senyuman itu. Namun saat memperhatikan Alice, Alvino mendapati raut lelah di wajah gadis itu. Garis di bawah mata Alice bahkan sedikit menghitam.


"Kalau begitu lebih baik kita segera turun dan menemui Sam."


"Tunggu.. tapi sepertinya kau sedang lelah." Alvino segera menanyakan hal yang mengganjal menurutnya.


"Haiya.. aku memang sedikit lelah, tapi sudahlah itu hanya sedikit saja.. Ayo.. kita turun sekarang." Tidak mungkin Alice mengatakan yang sejujurnya, bahwa semalam ia bekerja paruh waktu sebelum mendapat pekerjaan tetap kembali. Demi untuk menghasilkan uang. Meskipun Alvino memberinya uang tapi Alice tidak mungkin melulu meminta atau menunggu diberi oleh lelaki itu.


Alvino tidak bertanya lagi dan langsung saja ke dua orang itu masuk ke dalam rumah sakit, menuju ruangan dimana Sam berada.


Benar saja, mereka, Ken Monica dan Sam sudah menunggu kedatangan Alvino dan juga Alice. Tapi... Kenapa mereka datang bersama-sama?


"Maaf aku terlambat." Gadis itu menatap satu persatu orang diruangan, dan berujung melemparkan senyuman kepada Sam. Lelaki itu tampak lebih baik sekarang, selang dan kabel yang terhubung ditubuhnya satu-persatu berkurang. Hanya ada beberapa alat yang masih menempel karena tulang Sam belum sepenuhnya sembuh.


"Alice.." Sam tersemyum lebar dan seolah memberi isyarat meminta wanita itu untuk mendekat.


"Saam.. kaaaaau?" Alice tercengang tidak percaya ketika kembali mendengar suara Sam setelah berminggu-minggu. Bahkan beberapa hari lalu, Sam belum bisa mengeluarkan suaranya.


"Sam sudah bisa mengeluarkan suara, namun belum bisa berbicara banyak." Monica menyahut memberitahukan kondisi Sam saat ini.


"Kau akan segera sembuh, aku tahu itu." Alice menggenggam tangan Sam dan menatap lekaki itu penuh binar. Sementara yang lain hanya menyaksikan dan ikut tersenyum tipis.


Aaaaaa~ rasanya aku ingin kembali muda hehe. Ken.


Lalu tanpa berlama-lama lagi proses pemindahan Sam pun berlangsung. Alice kembali ikut dimobil Alvino, sementara Ken dan Monica dimobil yang lain. Sam berada dimobil khusus bersama dokter dan juga perawat yang nantinya akan mengontrol perkembangan Sam dirumah.


"Dimana Fam dan Rose? aku tidak melihat mereka sejak tadi?" Alice berbasa-basi ketika mobil itu kembali melaju dalam keheningan.


"Mereka sedang kuliah." Jawab Alvino datar. Pandangannya masih menatap lurus ke depan sana.


"Owwh... Kemana kita akan membawa Sam? apa kerumah onty Monica?" Alice bertanya lagi.


"Ke rumahku."


Eh.. kenapa dia jadi dingin seperti itu? hmmm.. Mungkin Alvino sedang tidak ingin mengobrol.


Sejurus kemudian suasana kembali hening, tidak ada sahutan obrolan atau apapun. Hingga akhirnya mereka tiba ditempat tujuan. Terlihat beberapa orang sudah menyambut mereka disana.


Berbagai pengecekan alat medis sudah dilakukan, semuanya berjalan lancar hingga Sam bisa berbaring dengan nyaman diranjangnya. Meskipun suasana masih seperti dirumah sakit, tapi berada dirumah rasanya Sam merasa lebih baik.


"Iya, Em.. Terimakasih sudah menjenguk Sam." Monica menyahut dan tersenyum.


"Aku titip Rose kepadamu, kak. Dan kepadamu juga Al. Gadis itu tidak mau pulang bersamaku." Emily menatap Monica dan Alvino bergantian.


"Tidak apa.. Rose aman bersamaku." ujar Alvino.


"Akujuga tidak mau pulang, Mom. Aku ingin bersama kakak beberapa hari lagi. Aku merindukan Rose.." Steve, adik sambung Rose ikutan menyahut.


"Steve.. tapi sekolahmu?"


"Aku sedang dalam masa libur, Mom. Hanya beberpa hari, boleh kan?" Lelaki berusia 16 tahun itu kukuh dengan kemauannya.


"Biarkan saja Em.. Steve jauh dari Rose cukup lama, dia pasti merindukan kakaknya." Monica menyahut lagi.


"Aaaa. Aku jadi selau merepotkan kalian tentang anak-anakku." Emily sedikit terhenyak.


"Tidak apa, onty. Ohya dimana uncle Jo?"


"Dia sedang mengurus sesuatu dan menungguku dibandara."


"Kalo begitu James bisa mengantarmu kesana."


Dan setelah perbincangan basa-basi itu, Emily benar-benar berpamitan dan pergi dari rumah Alvino. Menyisakan Steve untuk menginap beberapa hari ke depan. Ken juga sudah kembali sibuk dengan urusannya, dirumah Alvino kini hanya ada Sam, Alice, Monica dan beberapa pengawal.


Alice masih setia berada di samping Sam, sementara Monica dan Alvino sedang berbincang santai setelah mengantar Emily sampai mobil.


"Akujuga harus pergi Mam, ada pekerjaan yang harus aku selesaikan dikantor." Kini Alvino juga ikut-ikutan berpamitan untuk pergi dari rumah itu.


"Pergilah Al, Mami tau kamu sibuk. Maaf Mami terlalu membebanimu dengan banyak hal. Mami sangat banyak berterimakasih.."


"Jangan sungkan, itu semua sudah menjadi tanggung jawabku." Alvino mengulum senyuman lebar untuk wanita yang paling ia cintai dimuka bumi. "Aku akan melihat Sam sebelum pergi."


Alvino kemudian mengayunkan kakinya menuju ruangan di mana Sam berada. Diikuti Monica yang mengekorinya dari belakang. Namun saat mereka sampai di depan ruangan itu, mereka tidak langsung masuk, mereka hanya membuka celah pintu sedikit dan menyaksikan pemandangan yang ada di dalam sana. Sam dan Alice nampak sedang bercanda ringan dan saling tertawa kecil, membuat Monica jadi ikut-ikutan tersenyum tipis.


"Gadis itu sepertinya sangat mencintai Sam." Monica setengah berbisik.


"Tentu saja, mereka kan sepasang kekasih." Alvino berujar datar. Entah kenapa dia jadi tidak terlalu suka melihat Sam dan Alice seperti itu. Alvino justru seperti menginginkan ada di posisi Sam dan bercanda bersama wanita itu.


Ough shiit! Apa yang kau pikirkan Alvino!


"Sepertinya aku tidak ingin mengganggu mereka, lebih baik aku pergi sekarang." Alvino berbalik badan dan mengecup kening Monica sebentar. "Aku pamit dulu, Mam. Jika ada sesuatu kau bisa langsung menghubungiku."


"Iya.. kau berhati-hatilah, Al."


Dengan lumayan tergesa-gesa Alvino segera bergegas menuju mobil. Alvino berjalan dengan sikap angkuh, ia bahkan tidak memperdulikan para pengawal yang menyapa dirinya. Alvino bahkan tidak membutuhkan supir untuk mengantar dirinya, Alvino segera masuk ke dalam mobil dan memutar kemudi.


Handle seluruh pekerjaanku hari ini, James!


Alvino mengirimkan pesan kepada James, dan semakin cepat membelah jalanan dengan mobil sport miliknya. Entah apa yang Alvino rasakan. Seperti ada gejolak yang memburu didalam dada. Seperti rasa kesal, namun entah apa sebabnya. Alvino yang semula akan menuju kantor justru jadi berubah pikiran. Dan mobil itu kini malah menuju apartemen Bianca.


Bersambung..