
Setelah pertemuan tidak diduga saat di rumah sakit jiwa itu, seketika Alice masih terpikir bagaimana Sam bisa berada disana. Dari mana Sam bisa tahu dan bisa mengikuti Alice sampai disana? Sedangkan tidak pernah ada yang tahu soal hal itu.
Sudah berada di kantor lagi, Alice menatap sekeliling tempat ia bekerja. Ada sesuatu yang rasanya sangat mengganjal. Apa ini salah satu teka-teki kenapa ia bisa bekerja ditempat mewah tanpa mengeluarkan tenaga sedikitpun? Diperlakukan berbeda dan lumayan istimewa meskipun tidak memiliki jabatan khusus. Tunggu. Apa Sam yang berada di balik ini semua? Alice menerka-nerka karena Alice memang tahu keluarga Sam bukan orang-orang sembarangan. Tapi jika benar memang Sam, apa tujuan Sam sebenarnya? Kenapa masih melakukan hal-hal yang menyangkut dirinya sedangkan tahu bahwa Alice mati-matian berusaha menjauh.
Jika iya itu perbuatan Sam, Alice tidak mungkin akan tinggal diam. Jangan sampai kebaikan lelaki itu kembali meluluhkan hatinya. Memulai kembali usaha Alice dari awal untuk melupakan Sam yang memang sangat sulit sekali.
“Sam.. Andai saja kau tidak memiliki wanita lain, mungkin aku tidak perlu berusaha menjauhimu. Andai saja kau tahu bahwa sebenarnya hatiku juga berdetak untukmu.” Gumam Alice berbicara sendiri. “Alice.. hentikan! Usir jauh-jauh pikiranmu. Jelas-jelas Sam mencintai kekasihnya dan memilih dia dibanding kamu.” Dilema. Alice dilema.
Salahkah ia jika bersikap seperti itu? Bersikap seolah tidak menginginkan Sam padahal ia sangat ingin. Alice hanya menjaga hatinya agar tidak terluka, ia tidak bisa jika harus melihat Sam berbagi cinta. Mendua dengan sangat terang-terangan.
“Kenapa rasanya rumit sekali..” Baru pertama Alice melabuhkan diri untuk menyukai lawan jenis, merasakan apa itu jatuh cinta kepada lelaki yang selalu membersamainya, tapi bukan hanya keindahan yang ia rasa, ternyata Alice juga harus merasakan apa itu patah. Jatuh cinta dan patah hati yang terjadi dalam waktu singkat. Pertemuan dan perpisahan itu terjadi begitu cepat, sementara kenangan manis itu masih tertinggal cukup dalam di dasar hati.
Haruskah Alice juga jatuh cinta kepada lelaki lain agar luka tak kasat mata itu bisa sembuh? Bukankah obat dari patah hati adalah jatuh cinta lagi. Tidak. Alice tidak yakin bisa mencintai lelaki lain. Apalagi saat jantungnya jelas-jelas berdetak untuk Sam.
“Alice.. bisakah kau menemui klien dan memberikan berkas ini?” Elena datang dan membuyarkan Alice yang masih termenung sendirian memikirkan kisah percintaannya. Membuat gadis itu gugup dan mengatakan iya tanpa persiapan.
“I-ya.. Tentu saja.”
Ah.. Kenapa kau mengatakan iya? Pekerjaan seperti itu kan bukan bidangmu! Tapi tunggu, siapa yang tahu jika klien yang akan kau temui itu adalah Pierce. Masih ingatkah kau kepadanya? Lelaki berkacamata yang pernah memboncengi di atas kuda besi? membelah ramainya jalanan kota di malam hari? Aha~ iya. Bisa jadi kan jika kau banyak menghabiskan waktu dengan Pierce, cinta untuk Sam juga bisa habis. Bukannya cinta untuk Sam juga timbul karena kau terlalu banyak menghabiskan waktumu untuk lelaki itu?
Tapi kan Pierce juga sudah menghilang. Lelaki itu menguap bagai embun dan tidak tahu kemana rimbanya. Tidak pernah bertemu lagi atau sekedar saling menghubungi?
Apa yang kau pikirkan Alice? Jangan membohongi perasaanmu sendiri. Sampai kapanpun kau tidak akan bisa menyingkirkan Sam dari hatimu. Siapapun tidak akan bisa masuk ke dalam hatimu jika disana ruang untuk Sam begitu besar.
“Alice?” Elena kembali memanggil ketika Alice justru malah kembali melamun. Ya memangnya apalagi pekerjaannya, setiap hari memang seperti itu kan.
“I-iya.. Maaf.. Aku sedang dibebani pikiran. Hehe.” Alice tersenyum canggung kemudian berdiri untuk menerima berkas-berkas dari Elena. Bersiap untuk pergi ke tempat yang sudah ditentukan untuk dirinya bertemu dengan klien
Berlari jauh untuk menghindari masalah yang kau alami bukanlah pilihan yang tepat. Sejauh apapun kamu berlari, masa yang belum selesai dan rasa sakit itu pasti masih akan mengejarmu. Menyusulmu kemanapun kau berlari. Berlari, berlari, berlari.. Namun tiba-tiba, kemudian kamu kembali jatuh dan merasakan sakit hati yang lebih lagi. Kau mau berlari kemana? Rasa sakit dan gundah itu ada di dalam dirimu. Jika kau tidak sembuh dari dalam, kau tidak akan sembuh dimanapun, Kau tidak akan pernah bisa lari dari apa yang ada dalam dirimu.
Jangan berfikir untuk mencintai yang lain jika jelas-jelas cintamu masih untuk Sam. Meskipun mengandung luka, tapi biarkan luka itu sembuh dulu. Karena.. Perasaan yang muncul nantinya hanyalah rasa sementara. Bukan cinta yang sesungguhnya.
Terima.. Maafkan..
Jangan sampai balik menyakiti, atau menyalahkan keadaan. Berkacalah. Sebab serapuh-rapuhnya kamu, hanya dirimu sendiri yang mampu menolongmu dalam kegundahan yang menguasai. Percaya saja jika Sam memang bukan untukmu, kau akan tiba di masa saat dimana bertemu dengannya atau tersebut namanya, hatimu merasa biasa saja.
Tauk dah, Author nya juga lagi melow hiks :((((((