
Cuih..!! Alfian meludah. "Jangan buang waktu, Ken. Bunuh aku sekarang juga."
"Apa kau marah karna aku menyentuh wanitaku? apa kau bangga memiliki dan membela wanita bekas pakai ku?"
"Ayo.. Ken.. lakukan apa yang kau bisa.."
"B i a d a p!! bersainglah secara sehat. Monica mencintaiku dan dia adalah milikku. Bertarung secara jantan jika kau memang laki-laki."
"Tidak! aku tidak akan kalah. Dia tidak akan pernah bisa untuk memiliki Monica. Karena dia milikku!"
"Apa kau ingin menikmatinya juga? heh.. Silahkan! kau suka memakan bekas ludahku ternyata."
Mirip seperti Alfian yang masih bisa angkuh dan sombong di hadapan Ken yang siap memberikan hukuman untuknya, semakin menantang dan menguji kesabaran begitupun yang Laura lakukan. Gadis itu benar-benar mewarisi sifat ayahnya. Lihatlah bagaimana dia berhasil membuat Sam semakin naik pitam dan ingin membunuhnya saat itu juga.
“MATI KAU WANITA SIALAN!” Sam mencekik Laura yang sejak tadi menguji kesabarannya. Bukannya merendah dan mengakui kesalahan, gadis durjana itu malah semakin menyulut kemarahannya.
Uh.Uhuk. Laura terbatuk seiring tekanan yang dia dapatkan di lehernya. “Bagus Sam, ayo buat aku mati sekarang juga.” Gumam Laura dalam hati. Lebih baik dia mati daripada menerima penderitaan tiada akhir yang akan menimpanya setelah ini.
“TUAN!! Apa yang anda lakukan?” Perawat yang akan melakukan pengecekan dibuat kaget melihat Laura sedang dicekik di atas brankarnya. Buru-buru menghampiri pasien dan menghentikan Sam yang mencengkram leher gadis itu dengan sangat kuat. “Hentikan!!” Perawat itu memukul-mukul Sam sambil menekan tombol darurat agar security datang kesana. Menghentikan Sam sebelum kemungkinan terburuk terjadi. Dalam kondisi lemah seperti itu, pasien malah dicekik. Apa jadinya.
Sam menarik tangannya yang melampiaskan kemarahan dengan mencekik Laura. Tersadar dari amarah yang menguasai diri kemudian mundur beberapa langkah. Menatap tangannya sendiri yang sudah menerkam Laura dengan sangat brutal. Untung saja wanita itu tidak mati.
“Kenapa kau menolongku? Biar saja aku mati!” Laura yang masih terbatuk menghardik perawat yang membuat Sam berhenti mencekiknya. Kan tanggung sakit iya, mati kaga. Hahaha.
“Dasar wanita gila!”
Security masuk ke dalam ruang darurat itu, membuat keadaan jadi lumayan runyam. Sam dipaksa keluar karena kegaduhan yang dia perbuat. Sementara Laura yang sudah sangat ingin mati memberontak seperti orang gila. Gadis itu merabut semua selang yang terhubung di tubuhnya. Untuk apa alat-alat itu. Tidak berfungsi. Alat-alat penopang hidup itu tidak berguna, Laura ingin mati.
“Biarkan saja dia mati!” Sam masih menerkam Laura dengan tatapannya. Membuat security terpaksa menyeretnya keluar.
“Aku bisa sendiri!” Sam melepaskan tangan-tangan yang ingin menyeretnya keluar, kemudian keluar sendiri dengan amarahnya. Sial. Sial. Sam sungguh sangat menyesal bisa mencintai gadis ular seperti Laura, memberikan ruang besar di hatinya selama bertahun-tahun. Banyak hati wanita yang Sam sakiti karena wanita itu. Dan sekarang Sam yang merasa tersakiti.
Buaya kepala merah mendapat karmanya!
Secepat kilat, Kegaduhan itu sampai di telinga Alvino yang masih berada diruangan Bianca. Membuat Alvino dan Bianca yang masih ngobrol panjang lebar harus berhenti saat itu juga. Alvino harus segera melihat kegaduhan macam apalagi yang terjadi. Adik tirinya itu benar-benar membuat kepala Alvino rasanya akan pecah.
“Tunggu sebentar, aku akan menemui Eve.” wajah Alvino begitu sendu, meskipun sudah berusaha meyakinkan bahwa dia baik-baik saja tapi tetap saja gurat kacau dan kecewa itu masih bisa terlihat dengan jelas.
“Al..” Tatapan mereka bertemu. “Peluk aku.” Pinta Bianca.
Sedetik kemudian Alvino menuruti kemauan wanitanya itu, memeluk Bianca meskipun hatinya masih bergetar entah merasakan perasaan bernama apa. Memeluk kemudian mengelus lembut, ditutup dengan kecupan di kening Bianca cukup lama.
Bianca memeluk erat tubuh Alvino, melingkarkan tangannya di tubuh kekar itu. Menikmati detik demi detik seolah itu adalah pelukan yang terakhir. Tidak, Bianca sudah tidak meragukan lagi cinta lelakinya itu. Bianca bisa merasakan betapa Alvino mencintainya. Buktinya Alvino masih mau memeluknya meski sedang diselimuti kekecewaan. Yang Bianca takutkan bukan Alvino yang akan meninggalkannya pergi, Kini yang Bianca takutkan adalah bahwa dia tidak akan pernah bisa memberikan kebahagiaan untuk Alvino. Setelah kesedihan-kesedihan yang Alvino dapat belakangan ini, Bianca justru malah menambah kesedihan Alvino dengan hal yang lain.
“Beristirahatlah.. Setelah menemui Eve aku akan kembali.” Alvino melepaskan pelukan itu kemudian menangkup wajah Bianca, mengisyaratkan lagi bahwa semuanya akan baik-baik saja.
“Semoga Eve mau mendengarkanmu, aku selalu berdoa untuk kebahagiaanmu.” Bianca mengguratkan senyuman manis di wajah pucatnya. Menatap dalam kepada Alvino seolah itu adalah pertemuan terakhir mereka.
“Semoga.” Alvino kemudian merebahkan tubuh Bianca ke tempat semula. Menyelimuti gadis itu agar nyaman dalam istirahatnya. Dan sejurus kemudian Alvino pun pergi untuk menemui Evelyn.
Di ruangan Evelyn..
Krek!! Pintu dibuka. Perlahan Alvino masuk dan melangkahkan kakinya perlahan tapi pasti. Mengatur nafasnya serileks mungkin untuk menghadapi suatu yang harus segera dia luruskan.
“Tinggalkan kami.” Titah Alvino kepada perawat-perawat yang ada disana.
Hanya Alvino dan Evelyn yang ada di ruangan itu. Anak dari satu ayah itu sma-sama terdiam dan belum memulai percakapan. Masih ambigu untuk memulai segalanya, masih melawan kenyataan bahwa sebenarnya mereka adalah kakak beradik.
“Evelyn Mahendra.” Setelah membuang nafas berat akhirnya Alvino berucap juga. Menatap adik tirinya yang pernah sangat dia benci dulu. Membenci Evelyn sebagai Laura yang membawa keburukan untuk adiknya yang lain, Sam. “Apa kau sudah mendapatkan apa yang kau inginkan?” To The Point. Alvino tahu jika adiknya itu memiliki dendam yang teramat, lalu setelah apa yang terjadi sekarang apa dia sudah merasa cukup.
Evelyn diam. Hanya menatap Alvino penuh dengan kebencian. Apa Alvino bertanya seperti itu karena mengejek dirinya yang gagal menghancurkan Lucatu?
“Aku kemari sebagai kakakmu. Namaku Alvino Mahendra, kita memiliki nama belakang yang sama bukan?” Alvino mendekat, menghampiri Evelyn yang hanya bisa menatapnya dengan angkuh. Alvino mencoba bersikap lembut untuk menyadarkan adiknya dari jalan setan yang menyesatkan. Meskipun ada rasa sakit hati dengan apa yang sudah Evelyn lakukan.
“Bagaimana keadaanmu?” Masih Alvino yang mendominasi percakapan itu.
“Jangan berlaga baik. Bunuh aku sekarang juga.” Gadis angkuh itu menyahut juga.
“Aku mencarimu selama ini, mana mungkin aku membunuhmu setelah aku menemukanmu.” Alvino duduk disamping brankar Evelyn. “Apa kau begitu membenciku?”
“Pergilah! Jangan membuang-buang waktu menjadi so baik seperti itu. Aku tidak punya kakak dan kau adalah penjahat! Selamanya kau adalah penjahat!” Evelyn beringsut sedikit menjauh, tidak ingin berada di jarak sedekat itu dengan orang yang sangat dia benci.
“Memangnya apa yang telah aku lakukan?” Alvino mulai memancing Evelyn lagi, meskipun gadis angkuh itu dalam gelagat marah tapi biarkan saja. Biar dia mengatakan apa yang menjadi alasan perbuatannya.
“Apa? Kau bilang apa? Bahkan kau tidak merasa bersalah sedikitpun!”
“Maka beritahu aku dimana letak kesalahanku.”
“Kau dan Lucatu adalah satu. Dan Lucatu adalah penyebab penderitaan kami. Kau bahkan masih tidak tahu malu menyebutku sebagai adik, menyebut ayahku sebagai ayahmu juga!”
Jadi itu.. Itukah alasan Evelyn sampai membencinya?
“Eve.. Bukan tanpa sebab Lucatu memberikan hukuman itu kepada ayah, ayah memang bersalah. Mengertilah..”
Hahaha.. Evelyn malah tertawa. Tawa menyedihkan. “Kau bahkan masih membela mereka! Kau akan sangat menyesal membela Lucatu jika saat itu kau melihat bagaimana Ayah meregang nyawa!”
“Kau akan mengerti jika kau sudah melihat apa yang akan aku tunjukan. Masa lalu ayah dan para orang tua sangatlah pelik. Kita sebagai anak tidak akan bisa menyelam dalam masalah itu.”
“Aku tidak peduli Alvino! Aku tidak peduli tentang masa lalu seperti apa yang terjadi. Apapun itu kalian tetaplah penjahat dan aku akan selalu membenci kalian sampai aku mati!”
“Jika kau membenciku, lampiaskan rasa benci itu padaku Eve. Kau sudah menghancurkan Lucatu melalui Sam dan aku. Dendammu itu tidak bertuan. Dan kau sudah menyakiti orang-orang yang harusnya tidak terlibat.” Alvino mulai risau, Evelyn sangat keras kepala ternyata benar adanya.
“Kau sudah berhasil membuat kehancuran dalam hidupku, kau membuat Bianca kehilangan bayinya. Kau membuatku kehilangan bayiku. Aku sudah cukup hancur oleh ini, apa kau puas?”
Bianca? Bayi? Maksudnya?
“Lihatlah kehancuran yang terjadi akibat dendam itu Eve, janin yang tidak berdosa pun ikut menjadi korban. Kau ingin seperti apa lagi?”
“Apa maksudmu Bianca hamil?”
“Sempat hamil, tapi pertikaian kalian di apartemen membuat bayi itu gugur.”
Hah~