You Decided

You Decided
Sakit Hati



Seperti biasa, dimanapun Alvino berada disitu pasti ada James juga. Lelaki itu sedang bersandar di kap mobil, menunggu Alvino yang katanya ingin pergi ke suatu tempat. “Nona, apa yang anda lakukan disini?” James menghampiri Rose yang tiba-tiba ada disekitaran gedung flat milik Bianca.


“Aku ingin menemuimu.”


“Eh.. Menemuiku? Untuk apa?”


“Ada yang ingin aku bicarakan.” Meskipun sedikit gugup tapi Rose bebrbicara cukup lantang. Ia ingin menepati perkataanya yang ingin membantu Fam dengan menemui James. Susah payah Rose mencari tahu keberadaan lelaki itu, dan saat sudah berhasil menemukannya, Rose tidak ingin kehilangan kesempatan.


“Bicarakan? bicara tentang apa?” James mengernyitkan dahi, tidak mengerti apa yang Rose inginkan. Jika menginginkan sesuatu, kenapa harus datang kepadanya? Bukankah para wanita itu juga punya bidy khusus. Dan darimana Rose tahu keberadaanya saat ini?


“Mungkin bagimu hal sepele, tapi bagiku ini penting. Apa kau tidak keberatan?” Rose menatap penuh harap, meskipiun sebenarnya sedikit bergetar karena tahu James itu manusia seperti apa.


“Aku sedang sibuk, Nona. Jika kau memerlukan bantuan kenapa tidak meminta kepada para bidy?” James masih menatap  Rose. Gadis yang parasnya cukup cantik dengan lesung pipi yang menambah keanggunan. Eh. Apa yang kau pikirkan James?


“Aku memerlukan bantuanmu, kumohon.”


“Memangnya kau menginginkan apa? Katakan saja, agar nanti aku bisa menelpon bidy untuk membantumu.”


“Hanya kau yang bisa membantuku, James.”


Sepersekian detik James terdiam, kenapa gadis itu sangat keras kepala dan memaksa. Memangnya ada hal sepenting apa hingga harus dirinya yang turun tangan.


“Aku ingin membicarakan soal---


“Rose.. Sedang apa kau disini?” Suara Alvino tiba-tiba terdengar begitu dekat, menghentikan Rose yang barusaja akan mengatakan apa yang ia ingin katakan kepada James. Dan tiba-tiba lidahnya terasa kelu, tatkala melihat seorang wanita melingkarkan lengannya di lengan Alvino. Dia? Siapa wanita itu?


“Rose.. Kau baik-baik saja bukan?” Alvino bertanya lagi.


“Eh a-aku.. aku baik-baik saja. Aku sedang menunggu temanku yang katanya tinggal disekitaran sini. Dan aku tidak sengaja melihat James, jadi aku menyapanya.” Rose tersenyum canggung. Sakit hati tiba-tiba menelusup kedalam jiwanya. Wanita disamping Alvino itu pasti kekasihnya kan? Terlihat sekali bagaimana wanita itu bermanja menggelayuti lelaki yang ia cintai.


“Kenapa kau sendirian? Dimana Fam? Apa tidak ada bidy yang menemanimu?”


“Bidy, hm bidy ku sedang membelikan sesuatu. Dan aku menungggu disini.”


Yatuhan harus sesakit inilkah? Dihari ulang tahunku, kenapa aku mendapatkan hadiah yang seperti ini? hati Rose tersayat.


“Kalau begitu hati-hati. Segera pulang jika urusanmu sudah selesai.” Alvino melemparkan senyuman yang malah membuat hati Rose semakin sakit. “Bee, kenalkan. Dia Rose.. Teman kecilku.”


Teman kecil?


“Hai, Rose.. Namaku Bianca.” Bianca tersenyum sambil menguliurkan tangan.


“Senang bertemu dengan mu, Rose.” Bianca tersenyum lagi.


Tapi aku tidak senang bertemu denganmu!


“Aku harus pergi, kau tidak apa kan menunggu bidy mu sendirian?” Alvino bersuara lagi.


“Eh.. iya.. tentu saja.”


“Kalau begitu selamat tinggal.”


Alvino dan Bianca kemudian masuk kedalam mobil. Sementara James yang sudah selelsai mempersilahkan Tuan dan Nona nya masuk kedalam, menatap Rose lagi. Ia merasa Rose memang membutuhkan pertolongannya meskipun entah apa. “Aku harus pergi, Rose. Jika kau ingin mengatakan sesuatu hubungi saja nomorku.” James memberikan Rose sebuah kartu nama yang berisi nomor lelaki itu.


“Tentu. Nanti aku akan menghubungimu.” Rose menerima kartu nama itu.


Sejurus kemudian James pun ikut masuk kedalam mobil, berada dibagian kemudi untuk membawa Alvino ke tujuannya. Meninggalkan Rose sendirian disana. Aaaah~ Melihat raut Rose yang tiba-tiba bersedih rasanaya membuat James sedikit tersentuh, mungkin gadis itu benar-benar sedang membutuhkan pertolongannya. Pikir James.


Maafkan aku Al, memang seharusnya aku tidak memiliki perasaan lebih untukmu. Ini salahku sendiri~ Rose menatap kartu nama sekaligus mobil yang perlahan meninggalkannya.


“James, kau tahu kita akan pergi kemana?” Suara Alvino begitu berbinar. Dan James yang memang belum tahu kemana mereka akan pergi hanya ikut tersenyum tipis. Tuan Mudanya sudah kembali dengan mood yang baik, Tuan Mudannya sudah tidak marah lagi. James tidak perlu takut lagi atau memikirkan hal terburuk yang akan terjadi pada dirinya.


“Saya akan membawa anda kemanapun anda ingin pergi, Tuan.” Jawab James dengan tersenyum lagi tanpa menghgilangkan fokusnya yang sedang mengemudi.


“Hahaha.” Alvino tertawa kecil. Rasa bahagia itu tidak bisa ia tahan. “Akhirnya aku menemukan apa yang selama ini aku cari James.”


“Benarkah? Apa maksudnya kita akan pergi ke tempat nona Eve?” James yang tahu apa yang selama ini Alvino cari dengan mudahnya menebak. Setelah bertahun-tahun mencari akhirnya mereka tiba juga di hari ini.


“Kita mendpatkan lokasi tempat tinggal ayahku, dan kita akan kesana saat inijuga.”


“Waah, aku ikut senang mendengar kabar ini, Tuan.”


Cih!! Kenapa dia bisa lembut seperti itu saat berbicara? Semacam buaya yang hanya tunduk kepada pawangnya, hanya kepada Alvino dia bersikap baik. *Bianca.


“Lebih cepat lagi, James. Aku sungguh tidak bisa bersabar lagi!”


Dan kau, sayang. Kenapa kau sangat antusias sekali? Aku yakin kau pasti kecewa dengan apa yang kau temukan nanti. Maaf tidak bisa memberitahukan segalanya kepadamu sekarang, tapi aku berjanji akan melindungimu jika Laura benar-benar ingin menyakitimu.


Bersambung~