
Laura pulang menemui ibunya Chyntia, mengisahkan bahwa ia telah gagal tentang ambisinya menghancurkan Alvino dan juga Lucatu. Gadis manis itu menangis pilu karena tidak berhasil membalaskan dendam untuk ayahnya.
“Sudahlah Eve, jangan menangis. Lagi pula siapa yang memintamu untuk membalaskan dendam? Itu hanya ambisi mu.” Chyntia mengelus rambut putrinya yang sedang menumpahkan diri dan menjadikan pahanya sebagai tempat ia menangis. Meskipun sejak awal mengatakan bahwa yang Eve lakukan akan sia-sia, tapi ambisi gadis muda itu tidak bisa ditahan. Mirip ayahnya Alfian yang terlalu berambisi, namun berakhir dengan ia sendiri yang jatuh ke dalam neraka yang di gali sendiri.
“Tidak, bu. Sampai mati aku tidak akan bisa menerima apa yang telah para keparat itu lakukan terhadap ayah dan kita.”
“Ayah justru akan bersedih jika melihat sikapmu seperti ini, karena Alvino adalah kakakmu, anak ayah juga. Mengertilah, ibu sudah sering menjelaskan meskipun mereka memang kejam tapi itu semua memang kesalahan kami.” Cynthia menatap dan mengelus lembut putrinya dengan penuh kasih dan kelembutan. Masih berusaha menyadarkan Eve bahwa apa yang selama ini ia lakukan adalah salah.
5 tahun lalu..
Saat Alfian masih hidup..
Keluarga kecil itu hidup menderita dengan segala keterbatasan yang mereka miliki di sebuah desa kecil dan juga terpencil. Mereka tidak bisa pergi atau merubah nasib mereka untuk keluar dari sana karena kuasa Ken. Hidup mereka benar-benar dipenuhi derita. Bahkan untuk memberikan kehidupan layak untuk putri kecil mereka, mereka tidak mampu.
Hingga akhirnya suatu ketika ada seseorang yang mendatangi rumah mereka dan memberikan penawaran agar mereka bisa keluar dari desa terkutuk itu. Melangkahkan hidup untuk lebih baik namun memiliki persyaratan juga. Siapa yang akan melewatkan kesempatan emas seperti itu? Tentu saja mereka menerima. Mereka mau.
Alfian, Chyntia, dan Evelyn akhirnya bisa bernafas lega saat mereka tiba di kota setelah bertahun-tahun hidup di desa terkutuk. Mereka semua mengganti identitas agar kepergian dari desa itu tidak terendus siapapun apalagi Ken. Itu sebabnya nama Evelyn menjadi Laura.
Bertahun-tahun Laura diajarkan bagaimana cara menghadapi hidup di kota, menerapkan kebiasaan baru untuk melanjutkan hidup yang baru. Dan perlahan-lahan Eve mulai mengetahui kenapa hidup mereka bisa semenderita itu di pengasingan. Semua itu disebabkan oleh mantan istri ayah dan suami barunya. Mereka yang membuat mereka menderita. Mereka adalah orang yang tidak punya hati nurani.
Hingga puncaknya adalah saat Alfian harus pergi menghadap Tuhan karena suatu penyakit yang ia derita, dan di ujung nafasnya, lelaki itu malah menyebutkan nama mantan istri dan anak tertuanya. Alfian bahkan tidak menyebut nama Evelyn dan Chyntia di sisa nafas itu. Membuat Eve terkadang sakit hati.
Harusnya Alfian lebih mencintai Eve dan Chyntia yang jelas-jelas adalah keluarganya. Yang menemani dalam suka duka perjuangan mereka bertahan hidup. Bukannya malah mengingat para penjahat itu.
Eve menggila, saat Alfian pergi ke hadapan Tuhan justru Eve malah menggila. Selain depresi karena ditinggal mati, tapi hatinya terluka atas apa yang Alfian perbuat di ujung hidupnya. Eve bahkan sudah berniat mengakhiri hidupnya yang penuh derita tiada akhir, tidak tahan untuk menerima derita-derita lain yang berikutnya akan menimpa dirinya dan juga Chyntia.
Hingga akhirnya Bianca dan tantenya menghentikan tindakan Eve, berusaha semaksimal mungkin agar gadis dengan ribuan beban mental itu mengurungkan niatnya. Disitulah semuanya bermula, Eve dan Bianca pergi menuju kota dimana Lucatu berada. Dua gadis yang sama-sama punya beban mental karena masalah yang diciptakan oleh orang tuanya mengadu nasib untuk meluruskan niatnya masing-masing. Eve ingin membalas dendam kepada Alvino dan Lucatu, sementara Bianca ingin membalas dendam kepada orang tuanya dengan menghancurkan hidupnya sendiri.
Eve menjadi Laura dan Bianca menjadi Bianca si penari malam yang menghibur para lelaki hidung belang. Entah apa yang para gadis itu pikirkan yang jelas hati yang terluka itu menutup mata mereka untuk melihat sebuah kebaikan.
Namun nahas, baru saja akn mencapai puncak hasil kerja kerasnya selama ini, kebusukan tentang dirinya justru harus terbongkar oleh Sam. Tinggal satu langkah lagi Eve melangkah, maka hancurlah Lucatu serta hubungan antara Lucatu dan Alvino.
“Sialan! Kenapa nasib sial selalu menimpa kita, bu?” Laura bangun dan menatap ibunya dengan sangat berantakan. Tidak terima dengan takdir yang sudah digariskan untuknya.
Hiks.. Chyntia malah ikut-ikutan menangis. Mungkin itu yang dinamakan hukum karma. Selama ini ia yang mengusik dan ingin membuat hidup Ken dan Monica menderita, tapi niat buruk itu malah berbalik kepada hidupnya sendiri. “Hentikan ambisimu untuk membalas dendam Eve.. Kau tahu kenapa ayahmu sangat mencintai Alvino dan ibunya? itu semua karena ayahmu menyesal telah membuat mereka menderita. Ayahmu yang membawa luka untuk Nino, hingga akhirnya Mister Ken menggantikan posisinya sebagai ayah Alvino dan memberikan semua yang tidak pernah bisa ayahmu berikan. Waktu dan kasih sayang. Ayahmu juga ingin memberikan itu untuk putranya.”
Chyntia kemudian menceritakan bagaimana kisah dibalik layar itu, bagaimana riwayat kehidupan yang mengisahkan mereka bisa bersama-sama dan menjadi sepasang suami istri. Alfian dan Chyntia. Bahkan hubungan itu memang terjalin dari niat yang sama-sama jahat. Chyntia juga menceritakan bagaimana kisah hubungan antara Alfian Monica dan juga Alvino. Menceritakan sebesar apa penyesalan yang menghantui Alfian hingga akhir hayatnya. “Ayahmu bahkan tidak pernah tahu keberadaan Nino didunia ini, ambisi untuk gila yang dimiliki ayahmu justru membuat dia terjerembab ke dalam neraka yang tidak bisa diduga. Kami yang bersalah Eve..”
“Tidak mungkin!! Ini semua tidak mungkin!! Ibu pasti berbohong agar aku berhenti membalaskan dendam, iya kan?” Laura terkekeh seperti orang gila, mana mungkin kenyataan yang sesungguhnya adalah seperti itu. Tidak mungkin ayahnya adalah seseorang yang jahat, jelas-jelas mereka yang disiksa dan menderita.
“Biar saja dia membalas dendam! Sudah terlalu banyak kehidupan yang hancur gara-gara manusia seperti Ken! Dia memang pantas untuk hancur.” Seorang wanita yang sudah tua namun tetap modis tiba-tiba menyela obrolan antara ibu dan anak yang sedang membahas masa lalu. Itu adalah Keely, ibunya Ken.
“Cukup! Sudah cukup kau mencuci otak putriku untuk membalas dendam yang sebenarnya adalah milikmu! Jangan merasa berkuasa karena kau berhasil mengeluarkan kami dari pengasingan itu. Ini semua sudah cukup!” Chyntia bangun dan menatap Keely. Orang yang sebenarnya berambisi untuk membalas dendam kepada anaknya sendiri. Wanita tua itu tidak juga sadar bahwa permusuhan dirinya dan Ken adalah disebabkan oleh dirinya sendiri. Wanita matrealistis tanpa kasih sayang.
“Jangan lupa apa yang kau inginkan sejak dulu, Chyntia! Kau juga menginginkan Ken bukan? Kau juga menginginkan Ken hancur dan membuat Lucatu menjadi milik kita.” Wanita angkuh tanpa kasih sayang itu berujar dengan santai. Seolah yang akan dihancurkan adalah seekor semut.
“Tidak cukupkah kepergian Ken dan Emily yang melupakanmu sebagai ibu membuatmu sadar? Apa harta Lucatu lebih besar dan lebih banyak dari kasih sayangmu sebagai ibu untuk anak-anakmu? Sadar Keely!! Bahkan seekor macan masih menyayangi anak-anaknya dan melindungi mereka dengan jiwa raga, tapi kau! Iblis macam apa dirimu?” Marah. Chyntia akhirnya marah setelah sekian lama hanya mengikuti alur permainan yang dibuat oleh ibu Ken. Tapi hari ini, hari ini juga chyntia akan menghentikan itu semua.
Plakk!! Satu tamparan keras Chyntia dapatkan. Membuatnya bahkan hampir tersungkur. Chyntia kemudian menatap Keely lagi. Menatapnya penuh benci karena sebenarnya dia lah yang menyesatkan hidupnya. “Jika kau tidak mau berhenti, aku yang akan menghentikanmu! Aku sendiri yang akan mengatakan kepada Ken bahwa kau lah dalang dari segalanya.”
JENG..JENG..JENG!!!