
Sam yang sudah bisa melakukan aktivitas seperti biasa, hari ini akan pergi ke kampus untuk mengurusi ketertinggalan karena insiden kecelakaan yang dialaminya. Yaa. Harusnya satu bulan yang lalu ia sudah magang di sebuah perusahaan. Bukan perkara sulit, Padahal mudah saja kan, Sam tinggal mengajukan magang itu ke perusahaan keluarganya sendiri. Perusahaan raksasa Lucatu.
Namun aturan yang ditetapkan untuk Alvino, berlaku juga untuk Sam. Mereka merahasiakan identitas Lucatu dibelakang nama mereka. Untuk itu, mereka harus berusaha sedemikian rupa agar bisa memenuhi persyaratan dari kampus. Tidak terlalu terang-terangan bahwa mereka bisa mendapatkan apapun dengan mudah.
"Kenapa bibirmu mengerucut seperti itu?" Mwah. Sam mendaratkan sebuah kecupan dibibir Laura. Sejak semalam gadis itu terlihat badmood dan selalu menekuk wajahnya.
"Mood ku sedang tidak baik." Jawab Laura singkat.
"Aaaa kau pasti merindukan traveling. Bersabarlah.. tunggu aku selesai dengan kuliahku." Mwah. Sam mengecup Laura lagi. Berlalu menuju walk in closet untuk bersiap-siap pergi ke kampus.
"Memangnya hari ini ada kelas?" Laura mengikuti Sam dengan seringai malas, seolah memberi kode bahwa ia tidak mau ditinggalkan.
"Aku akan mengurusi soal magang. Aku sudah tertinggal." Jawab Sam sambil mencari sepatu yang matching dengan outfitnya.
"Magang? Apa kau akan masuk Perusahaan Lucatu sekarang?" What? Secepat inikah? Laura berbinar dalam hati.
"Tidak, beyb. Mana mungkin aku bisa memasuki Lucatu sebelum kuliahku selesai?" Sam yang sudah selesai dengan ritualnya segera menghampiri Laura dan menarik gadis itu kedalam pelukannya. "I have to go now." Cupp!! Cupp!! Cupp!! Sam mencium kening Laura berulang-ulang.
Aaaa aku harus menunggu sampai kapan lagi untuk mebuat Sam menguasai perusahaan itu~
"Aaaa tubuhmu sangat hangat." Ujar Laura sambil mempererat pelukan mereka.
"Haha come on, beyb. Jangan membuatku membuka pakaian yang baru saja aku kenakan." Sam tertawa kecil diiringi Laura yang malah semakin dalam membenamkan dirinya dipelukan itu. "Aku janji akan kembali nanti malam. Menemanimu ke pusat perbelanjaan."
"Aku tidak mau shoping, aku ingin dirimu."
"Forever i'm yours." Sam mengecup Laura lagi. Kemudian melepaskan pelukan itu. "See you." Pamitnya sambil berlalu dan melambai kecil.
Sam kemudian pergi ke kampus untuk menyelesaikan urusannya, kemudian memanggil salah seorang bidy untuk meneruskan dokumen-dokumen itu ke anak perusahaan Lucatu.
Masuk ke perusahaan Lucatu sebenarnya adalah sebuah keajaiban, ribuan orang berlomba-lomba untuk masuk kesana. Tapi Lucatu bukanlah perusahaan yang bisa disinggahi sembarang orang, mereka harus melewati seleksi yang cukup rumit.
"Semuanya sudah selesai, Tuan. Anda bisa masuk hari ini." Ujar seorang bidy yang tadi diperintah oleh Sam.
"Hari ini? Memangnya tidak bisa besok saja? Aku bahkan tidak membawa pakaian khusus." Sam mengedikkan bahunya sambil menatap pengawal itu.
"Tentu sudah saya siapkan, Tuan."
"Ooo.. oke. Simpan saja dimobilku. Aku akan kesana satu jam lagi."
"Saya akan mengantar anda, Tuan."
"Tidak perlu! Jangan memperlakukan ku dengan spesial. Nanti orang-orang akan mencurigai identitasku. Ini.. pergilah.."
Sam kemudian memutuskan untuk melipir dulu disebuah kafe, kafe yang jaraknya tidak terlalu jauh dari kampus, kafe yang menjadi tempat pertemuan pertamanya dengan Alice. Gadis manis yang kini mati-matian menghindari dirinya.
"Kopi anda, selamat menikmati." Ujar seorang wanita berbaju pelayan saat menghidangkan secangkir kopi untuk Sam.
Aaaa pangeran kuda putih itu kembali lagi~
"Terimakasih." Sam tersenyum kecil tanpa melirik ke arah pelayan yang selalu terpesona dengan senyumannya. Lelaki itu sibuk dengan ponsel.
"Tuan, apa anda mau yang lain?" Pelayan itu bertanya lagi. Mencoba mencuri perhatian lelaki tampan yang memikat setiap gadis yang melihatnya.
"Tidak, terimakasih." Jawab Sam singkat. Namun sedetik kemudian, Sam menoleh juga.
Diaaa? Rasanya tidak asing.
"Kalo begituuu, sayaaaa--
"Sepertinya aku pernah melihatmu." Sam menerka-nerka. Selain karena memang merasa mengenal gadis itu, namun jiwa buaya kepala merahnya mendukung Sam untuk berkata demikian.
"Aurora, aku pelayan disini."
Yatuhan, tampan sekali.. Diakan lelaki yang sering diceritakan oleh Alice, apa Alice juga menyukainya? tidak apalah, aku wanita normal. Siapapun yang melihat lelaki ini pasti bereaksi sama sepertiku.. Lagipula Alice sudah memiliki kekasih kan? lelaki yang dia ajak untu menjengukku. Batin Aurora.
"Kau sangat cantik. Senyummu begitu manis." Rayuan maut si buaya kepala merah keluar lagi. Sam tersenyum dibarengi Aurora yang kini pipinya merah padam.
Aaaaa katanya aku cantik, apa dia menyukaiku?
"Aku ingin pindah ke smoking area, apa kau mau menemaniku?" Sam menatap Aurora dan tersenyum kecil lagi.
"Tapi Tuan, ini jam kerja."
"Tidak masalah, Biar aku yang bicara kepada atasanmu."
Aaaaa ternyata Alice benar, lelaki ini benar-benar sangat berkuasa. Apa dia akan mengubah hidupku seperti dia mengubah nasib Alice?
"Apa kau tidak mau menemaniku?" Sam bertanya lagi ketika Aurora malah mematung.
"MAU!!!" Aurora menjawab spontan dan lumayan kencang. Membuat beberapa pasang mata melirik ke arahnya. "Hehe, maaf." Aurora menempatkan tanganya dibibir sambil tersenyum kecil.
Bagaimana dengan magang mu Sam?