You Decided

You Decided
Selamat Jalan



Semua takdir sudah tertulis, tinggal kita jalani saja..


Perbaiki apa yang ingin diperbaiki..


Kejar apa yang ingin dikejar..


Habis gelap terbitlah terang..


Dengarkan suara bening dalam hatimu..


Jangan pernah bandingkan dirimu dengan orang lain..


Apapun kamu, siapapun kamu, kau berhak bahagia..


Berdamailah dengan dirimu, terima saja semuanya..


Karena Tuhan selalu punya banyak cara untuk menempa kita agar menjadi pribadi yang lebih pantas..


Ketika ragamu letih, dan hatimu menjerit lirih, bersandarlah kepada yang Maha Pengasih..


 


Alvino berusaha tegar menghadapi apa yang semesta gariskan untuknya. Dengan setelan serba hitam lengkap dengan kacamata yang menutupi wajahnya. Menyaksikan bagaimana tubuh wanitanya ditimbun oleh tanah. Hari itu menjadi hari perpisahan yang amat menyakitkan, separuh jiwa Alvino bahkan seperti ikut ditimbun bersama jasad Bianca. Alvino sudah kehilangan selera untuk melakukan apapun. Air mata rasanya sudah kering untuk meratapi segala kemalangan itu.


Rindu memberontak, benak hati begitu terasa sesak, sakit hati begitu menyeruak.


“Dimana James?” ujar Ken yang ikut dalam prosesi pemakaman itu kepada Alex. Setelah mendatangi rumah sakit bersama Monica, mereka justru menemukan hal yang tidak terduga. Selain kematian wanita yang katanya adalah kekasih Alvino, tapi mereka juga tidak menyangka ada benang rumit yang melibatkan Alvino dan adik tirinya. Kenapa sekretaris Alvino itu tidak ada disana, tidak menemani Alvino dalam keadaan seperti ini.


“Sedang dalam perjalanan, Mister.” jawab Alex yang memang sudah menghubungi James. Lelaki robot itu baru kembali dari rumah Cynthia, sudah mengantarkan Cynthia ke rumah sakit dimana Eve berada kemudian segera menuju pemakaman Bianca.


“Bawa dia untuk segera menghadap.” Ken membalikan badan kemudian pergi dari kerumunan itu. Tidak habis pikir Lucatu bisa berkabung dengan hal seperti itu, terlalu banyak yang Ken lewatkan, terlalu banyak yang Ken tidak ketahui. Untuk itu dia meminta James agar menghadap dan menceritakan segalanya dengan detail.


Bukan hanya Alvino yang berduka, orang-orang terkasihnya juga. Ken, Monica, Fam, Sam, Rose, Emily, Johan, Steve, mereka juga ikut hadir dalam prosesi pemakaman itu. Ikut berduka untuk kepergian kekasih Alvino yang sebetulnya baru mereka ketahui. Hanya James yang absen disana, lelaki itu masih dalam perjalanan.


“Al.. Mamy ikut berduka.” Monica mengusap pundak Alvino lembut. Putra sulungnya itu pasti sangat amat lemah dan terluka. Bukan hanya kabar duka kekasihnya yang harus Alvino telan, ternyata Alvino juga baru mendapat kabar duka soal kematian ayahnya. Duka itu datang dalam waktu bersamaan.


“Tinggalkan aku sendiri.” Ujar Alvino sambil menatap tanah merah yang baru ditaburi bunga-bunga segar. Menatap tanah merah yang menjadi pemisah antara dirinya dengan Bianca.


Monica hanya menarik nafas panjang. Itu semua pasti tidak mudah untuk dihadapi. “Kau harus tegar..” Monica mengusap Alvino lagi, kemudian mundur selangkah demi selangkah. Biarlah putra sulungnya mendapatkan waktu untuk menenangkan diri terlebih dahulu.


Satu persatu anggota keluarga menyampaikan bahwa mereka ikut berduka atas apa yang terjadi, dan jawaban yang Alvino berikan lagi-lagi sama. Lelaki itu meminta agar semua orang pergi dan meninggalkannya sendirian disana.


“Aku tidak menyangka Bianca akan senekat ini.” hanya Rose yang bertahan disana. Gadis itu tidak ikut pergi bersama yang lain, lebih memilih menemani Alvino karena memang hanya dirinya yang dibagi masalah detail tentang itu semua.


“Rose.. Tinggalkan aku.” Alvino masih tidak bergeming dari posisinya. Dia tidak mau mendengar atau melakukan apapun. Yang dia mau hanya berdiam diri menatap kemalangan itu.


“Kau harus kuat, kau harus tegar. Biarkan Bianca beristirahat dalam damai.” Alvino diam. Tidak menyahut.


Bibirnya terasa kelu untuk berucap, jiwanya seakan ikut terbang, hatinya seperti ikut mati bersama Bianca, bahkan mata yang ditutup dengan kacamata pun tidak berkedip sejak tadi.


“Daddy mu pasti tidak akan tinggal diam, Uncle Ken pasti mengusut ini semua sampai ke akar.” Rose mengingatkan. Memberitahu Alvino bahwa bencana besar yang baru sudah akan tiba. Ken tidak akan semudah itu mengerti dan menerima apa yang telah terjadi.


Pasti. Bagaimanapun Eve menghindar, dia pasti mendapatkan hukuman. Tidak akan semudah itu Eve lepas dari dosa yang telah dia perbuat.


“Rose.. kau pergilah kesana. Temani Eve dan jaga dia dulu. Aku benar-benar masih ingin disini sendirian.” Pinta Alvino. Meskipun Eve memang harus mendapatkan ganjaran, tapi Alvino tidak akan terima jika Ken yang memberikan hukuman itu. Biarlah ini semua Alvino yang selesaikan sendiri.


“Baiklah kalau begitu, kau tenangkan dulu hatimu. Jaga dirimu baik-baik.” Rose tersenyum kemudian ikut mengundurkan diri dari sana. Meninggalkan Alvino sendirian bersama kabut duka yang menyelimuti. “Awasi Tuan Muda, jangan sampai dia melakukan hal yang buruk!” Bisik Rose kepada Bidy yang setia berdiri di kejauhan.


“Bee..” Alvino mengusap nisan Bianca juga mengusap potret gadis itu. Masih tidak menyangka bahwa wanitanya sudah pergi meninggalkannya sendirian. “Kau bilang takut aku meninggalkanmu, tapi nyatanya kau yang meninggalkanku.” Datar. Alvino mati rasa. Rasa sedih yang teramat sudah menghisap pori-pori bahagianya. “Kini gelap sekali di sini. Tidak ada sepercik cahaya pun di sekelilingku. Karena cahaya berpendar dari dirimu. Tetapi jika kamu mau pergi, pergi saja. Istirahatlah dengan damai, Aku akan mengingatmu. Aku akan mengingat semua orang yang telah meninggalkanku. Aku mencoba ikhlas pada sebuah kehilangan, dan tersenyum dari sebuah kesakitan.”


Beberapa jam kemudian..


Waktu terus berjalan, langit yang biru sudah berubah keemasan. Bergerak maju menuju malam yang akan menggantikan. Duka ditinggal orang terkasih untuk selamnya memang pasti menyisakan kesedihan yang teramat. Namun..


Kehidupan akan terus berjalan meski air matamu jatuh sendirian..


Bumi akan terus berputar walau sesedih apapun dirimu..


Detik akan terus bergerak maju meskipun kamu selalu mengutuk keadaan..


Sesedih apapun dirimu, kau tidak harus tenggelam didalamnya..


Dunia tidak akan mengerti..


Waktu bergulir namun Alvino masih terjebak didalam waktu. Alvino masih tertinggal disana.


~


James baru saja tiba di pemakaman Bianca. Setelah melakukan perjalanan panjang akhirnya lelaki robot itu tiba juga. Dan betapa kagetnya James ketika mendapati Bianca ternyata sudah menghadap Tuhan. Gadis yang akan dia selamatkan itu ternyata sudah mengakhiri hidupnya sendiri.


“Tuan.” James menghampiri Alvino yang masih berada disana. Meskipun pemakaman sudah berlangsung berjam-jam yang lalu, tetapi lelaki yang diselimuti kabut duka itu masih saja berada disana.


“James.” Alvino hanya menoleh kemudian menyebut nama James. Baru saja akan beranjak dan pergi dari sana, Alvino justru mendapati kehadiran James. Padahal kemarin dia sudah mengusir James dan melarang lelaki robot itu untuk kembali menampakkan batang hidupnya.


“Saya turut berduka, Tuan. Maaf tidak berada disamping anda.” James menyampaikan belasungkawanya sambil menunduk. Lagi-lagi tertinggal hal besar yang terjadi kepada Tuan Mudanya.


“Tidak apa. Kau pergi karena aku yang meminta.” Alvino tersenyum simpul. Gelagatnya tidak se-marah saat mereka terakhir bertemu. “James.. terima kasih, karena kau aku jadi mengenal Bianca.”


“Tuan..” Ahh.. James jadi merasa bersalah jika diingatkan itu. Merasa bersalah juga atas sikapnya kepada Bianca selama ini. Teman bertikainya itu pergi menghadap Tuhan tanpa pernah mereka saling memaafkan satu sama lain.


“JAMES!” panggil seorang lelaki dengan begitu dingin. Itu adalah suara Alex, kaki tangan Daddy Ken. “Permisi Tuan Muda, saya akan membawa James menghadap Mister.” Alex menunduk sopan sambil mengutarakan maksud tujuannya datang kesana. Setelah menunggu cukup lama untuk kehadiran James, akhirnya James tiba juga.


“Untuk apa? Kenapa daddy ingin bertemu James?”


“Saya tidak tahu, Tuan. Mister hanya memerintah saya untuk membawa James menghadap.”


“Tidak apa, Tuan. Mungkin Mister hanya ingin memberi arahan untukku menjagamu kedepannya.” Ujar James mematahkan kebingungan Alvino yang memang belum bisa berfikir jernih. Tubuh dan otaknya sudah benar-benar sangat lelah. Berhari-hari dia tidak tidur dan terus dipusingkan dengan hal-hal yang tidak terduga.


“Baiklah.. “ Tidak ingin bertanya lebih banyak lagi, Alvino hanya ingin pulang dan mengunci pintu kamar. Berada di ruang kesedihannya untuk menikmati rasa itu agar mudah untuk pulih. Monica yang mengajarkan itu. Monica selalu mengatakan bahwa kita jangan pernah menghindar dari perasaan, jangan menipu diri dan hati untuk berpura-pura. Terima itu semua, bersahabatlah dengan segala rasa yang ada.


“Kalau begitu kami permisi.” Dua orang itu menunduk kemudian melangkah mundur dan pergi meninggalkan Alvino sendirian lagi.


Alvino kemudian menatap tempat peristirahatan Bianca lagi, berpamitan untuk pulang.


Senjaku merenung sepi


Senja berwarna keemasan itu akan segera berganti malam


Entah kenapa udara itu terasa sangat menyesakkan dada


Dalam pesona sinar jingga


Muara kasih yang pernah menyapa


Telah pudar bersama takdir yang membawamu pergi dan tak pernah kambali


Menyulam rindu di jiwa dalam sunyinya lara


Merajut serpihan kenangan


Menyusun memori kebersamaan kita


Ingin ku ulang waktu


Mengulang cerita indah yang telah berlalu


Senjaku kini terganti


Senyummu terpatri dalam benak malamku


Dalam bilik-bilik jiwa


Datangnya bayangmu di balik khayalan


Dibalik tirai yang menerungku dalam bias-bias mimpi


Meski terlelap,terpejam mata ini


Jelasku lihat indah senyummu


Menggiring pada rindu yang tak pudar walau terajam masa


Meski waktu terus bergulir


Tetap tak mampu hapuskan rindu di celah relung dimensiku


 


Antara ada dan tiada


Aku mengejarmu dalam ilusi


Terpisah antara nyata dan fana


Dalam tabir bayang-bayang


Bayangmu hadir menyapaku


Terukir senyum di wajahmu


Dalam hati aku bertanya


Ini ilusi atau nyata


Aku terjebak dalam khayalku


Duniaku penuh akan ilusi yang menerobos imajinasi


Meski hidup tak seindah mempiku


Ku coba bangkit meskipun sulit


merajut asa yang tertunda.


"Selamat Jalan, Bee.. Tenanglah disisi-Nya. Semoga aku bisa berjalan melewati duka ini."


~


Hi readers, udah eps 100 ajanih..


Makasih yang udah membersamai author sampai sejauh ini. Dan makasih yang udah inget kl author udah di titik 100 eps hehe.


Sorry to say buat kalian kecewa dengan ketidakadaan Bianca, Author sengaja menghilangkan Bianca untuk melanjutkan alur yang selanjutnya. Yang jelas Author gak akan menyandingkan Alvino sama Alice. Karena sepertinya aku bakalan nulis lebih lama di novel ini, mengisahkan satu persatu tokoh yang memang terlibat. Karena Alvino yang menjadi peran utama, untuk itu author lebih fokus buat bikin strugle yang dia lewatin. Stay tuned aja yaaa. Aku selalu berusaha memberikan yang terbaik. Semoga kalian masih mau menikmati apa yang aku suguhkan.


Do’ain abang Al biar selalu kuat ya menghadapi ujian dari Author hehe. Semoga setelah gencatan senjata ini keluarga Lucatu bisa bahagia tanpa konflik. Semoga anak-anak Ken dan Monica bisa segera mendapatkan cinta sejati seperti yang didapatkan oleh Ken dan juga Monica.


Slow down, harapan memang tidak selalu sama dengan ekspektasi.


Luvh u all..({})