You Decided

You Decided
Ancaman



Takdir berkata lain, Nenek Bianca justru menghembuskan nafas terakhirnya sebelum tranplantasi jantung itu dilakukan. Membuat Bianca menangis tidak berdaya, kini malah jantungnya yang terasa ditikam.


Kali ini Bianca bersedih sungguhan..


"Jangan menangis.." Alvino tidak tega melihat Bianca seperti itu. Bingung harus berbuat apa karena Bianca benar-benar terpukul sekali.


"Hikss.." Bianca menangis, sungguh hatinya sangat terluka meratapi kepergian nenek. Satu-satunya orang yang ia miliki didunia ini.


Bianca bahkan tidak menolak pelukan Alvino, ia membiarkan tubuhnya direngkuh erat sambil menangis.


Sedetik pun Alvino enggan untuk pergi dari sisi Bianca. Alvino bahkan jadi banyak melupakan pekerjaan dikantor, fokusnya saat ini hanya untuk seorang Bianca.


~


Kediaman Bianca..


"Apa yang kau lakukan terhadap Tuan Muda ku hah? kau membuat dia sangat berantakan sekali!" James berbisik dengan suara penuh emosi yang tertahan.


"Aku tidak melakukan apapun Tuan, aku bersumpah." Bianca masih lemah, suaranya pun keluar tanpa berdaya. Meskipun nenek sudah pergi beberapa hari yang lalu, namun luka itu masih belum hilang.


"Tidak melakukan apapun bagaimana? kau membuat Tuan Muda lupa semua pekerjaan. Bahkan dia menghabiskan uang jutaan dollar untukmu! Kau harus membayar itu Bianca!" Suara James benar-benar penuh pengancaman. Membuat Bianca jadi menciut ketakutan.


"Aku tidak punya uang sebanyak itu untuk membalas semua yang diberikan Tuan Muda mu..


"Kau akan membayar semuanya dengan seluruh hidupmu! kau harus melakukan apapun yang diminta Tuan Muda tanpa membantah. Kau juga harus membuat dia bahagia! Pekerjaan Tuan Muda sudah sangat menumpuk, Bianca. Jika terus begini hidup Tuan Muda juga akan hancur!"


"Hancur? maksutnya?" Bianca tidak mengerti.


"Jika dia lalai dalam bekerja, maka Tuan Muda akan kehilangan segalanya.. Dan jika itu terjadi, kau menjadi orang pertama yang akan lebih aku hancurkan!" Ucapan James sungguh sarkas, namun sepertinya ancaman itu bukan main-main.


"Oke.. aku akan melakukan apapun untuk Tuan Muda. A P A P U N!!." Berani-beraninya dia mengancam. Sialan.


Puas kau hah? Lihat saja James! Sebentar lagi kekuatanmu tidak akan ada apa-apanya!


"Bagus! Tunggu disini dan jika Tuan Muda datang kau harus berhasil membuat dia tersenyum dan semangat lagi untuk bekerja." James akan beranjak dari sana, namun Bianca tiba-tiba menahan langkah James.


"Jangan membantah! lakukan apapun yang kau bisa! Termasuk memberikan tubuhmu juga! Jangan harap kau bisa menerima kebaikan Tuan Muda dengan cuma-cuma. Aku akan mengawasi dirimu!" James menatap tajam ke arah Bianca sebelum akhirnya benar-benar pergi.


James jadi penuh penekanan terhadap Bianca. Satu sisi James senang karena Tuan Muda nya memiliki tambatan hati, tapi kenapa harus Bianca? James memiliki firasat bahwa wanita itu bukan wanita baik-baik.


"Bee.." Alvino baru saja keluar dari toilet.


"Ada apa? kenapa tersenyum seperti itu?" Alvino merasa heran dengan mimik muka Bianca. Tersenyum namun seperti dipaksakan.


"Tidak Al.. Hmm,, Mari duduk." Bianca mempersilahkan Alvino untuk duduk lalu tanpa aba-aba langsung menyetuh kedua bahu Alvino untuk dipijatnya. "Kau pasti lelah.. Maaf sudah merepotkanmu."


"Jangan sungkan Bee.." Alvino rasanya jadi ikutan tersenyum kecil.


"Owh iya, beberapa hari ini kau selalu menemani aku.. Apa kau tidak pergi bekerja?"


"Aku akan menemanimu sampai kau baik-baik saja." Alvino meraih tangan Bianca yang sedang bermain dibahunya.


"Aku baik-baik saja Al, jauh lebih baik setelah ada kamu yang selalu menemaniku."


"Kemasi barang-barang mu Bee, kau tidak boleh tinggal ditempat ini lagi." Tangan Bianca digenggam oleh Alvino. Dan tatapan mereka kini bertemu.


"Apa maksutnya?" Bianca menatap tidak mengerti.


"Aku memiliki apartemen dan juga rumah. Tinggallah disana, kau bebas memilih ingin tinggal dimana." Kepada yang dicintai, lelaki memang ingin selalu memberikan yang terbaik.


"Jangan berlebihan Al, aku masih bisa tinggal dirumah ini."


"Jangan menolak Bee. Kau hanya memiliki aku sekarang." Alvino menatap Bianca penuh ketulusan.


Jangan menolak? yaaa. Jangan menolak. Kau harus melakukan apapun tanpa membantah. Ya,ya,ya.


Bianca menyimpulkan senyuman palsu. Setelah masa kecilnya yang hancur kali ini hatinya menjerit merutuki nasib. Kenapa takdirnya harus se-pilu ini. Sebatangkara dan harus menjadi budak. Tapi tak apa, kau sudah menentukan untuk melakukan itu semua Bianca. "Terserah kau saja." Pasrah.


"Jangan merasa terpaksa Bee. Aku hanya ingin membuatmu senang." Alvino tersenyum sambil menangkup wajah Bianca dengan satu tangannya. Pandangan mereka bertemu dan saling menatap dalam satu sama lain. "Kau kekasihku, kau ingat?"


"Aku mencintaimu Bianca." Cup! Refleks Alvino menempelkan bibir miliknya dengan milik Bianca. Melakukan ciuman pertama bagi Alvino juga Bianca. Mungkin lebih tepatnya kedua, karna mereka pernah melakukan ini. Hanya saja saat itu mereka sedang mabuk. "Maaf aku lancang." Alvino tersadar dengan apa yang baru saja ia lakukan. Kenapa Alvino bisa terbuai sih.


"Tidak apa Al, berciuman untuk sepasang kekasih adalah hal yang wajar bukan." Bianca tersenyum manis.


Cup! Kini Bianca yang memulai adegan itu. Sudah cukup membuat Alvino merasa bersalah pikirnya. Bianca harus berusaha mencintai lelaki itu. Dan percayalah, pada akhirnya mereka saling menikmati pagutan itu. Bahkan sepertinya adegan itu menuntut sesuatu yang lebih.


Alvino juga tidak malu lagi untuk sekedar berciuman dengan Bianca. Keduanya kini saling membalas satu sama lain dan semakin lama ciuman itu menjadi kian panas. Dan lagi-lagi mereka melakukan penyatuan itu, meskipun sudah pernah melakukan hal itu sebelumnya, tapi bedanya kali ini Alvino tidak mabuk. Mereka melakukan semuanya dengan hati.


Bersambung~